Lagu Tanglung Ungu

Beni Setia
Jawa Pos, 12 Feb 2012

GAMBIR tinggi di awang-awang. Orang datang dan pergi di antara jalur rel-rel yang bersirentang mendatangkan serta mesilalukan derap, yang sesaat berhenti untuk memuntahkan yang bersigegas turun atau menyedot orang-orang yang menekah naik. Dan di pagi itu: Aku menggeliat dari pegal, memilih kursi serta merokok—tidak peduli akan ancaman si perda anti- merokok sembarangan DKI Jakarta, karena inti perda itu bukan cuma melarang orang merokok, tapi memfasilitasi si orang yang sangat ingin merokok karena terbiasa merokok. Karenanya, orang bisa aman merokok dan bukan si paranoid takut didenda karena merokok. Menjadi sesuatu yang sangat bersiterang dan dilindungi, tak slinthutan seperti laku korupsi—dan selingkuh—, misalnya.

Tapi, seperti biasa: aku pun akan berselingkuh lagi. Berangkat dengan Bima dari Madiun, lantas menunggu di Gambir sesuai instruksi khusus dari Max: jangan ke luar bangunan stasiun yang berjenjang dan berwarna hijau ini, bersicoba duduk dekat pintu masuk berportir, dan kalau mau ke kamar kecil ambil ketika banyak orang datang dari kereta sehingga stasiun amat ramai dengan saksi. Di penghujung—seusai menekankan: jangan tergoda oleh rayuan calo taksi, terlebih mengambil inisiatif menaiki angkutan umum—, Max berjanji secepatnya menjemput. Dengan bus kota khusus, langsung dari Sukarno-Hatta, setelah penerbangan singkat dari Hongkong: akan datang untuk mengenangkan kebersamaan, meski aku tak mengerti kenapa si Max itu merasa harus terikat hanya gara-gara aku hamil—padahal, setelah lahir: Leo sama sekali tidak mirip Max—, karena itu aku memilih merokok.

Meski geli, aku selalu terpana oleh pesan gombaliahnya: Siapa tahu aku terlebih dulu sampai di Gambir, lalu membuat panggilan pertemuan kalau kau memang naik Bima–si Biru Malam meski kini sudah tak biru lagi, tapi aku selalu naik Bima dengan memesan tiket bolak-balik—, tapi kalau aku belum turun dari pesawat atau terlambat ke Gambir kau harus menunggu dengan acuan…. Dan kini aku mengisap mentol yang hangat di rongga mulut. Apa itu karena Jakarta tidak aman bagi si pendatang, yang tidak aman bagi si pendatang, yang bila tidak ada dibius dan dirampok dengan keramahan welcome drink hotel berbintang, akan merayu agar menaiki taksi atau angkot berkaca film, lalu dirampok, diperkosa, dan dibunuh. Lantas kenapa Max malah mengajak kerkencan di Jakarta dan bukan di Jogyakarta yang cuma empat jam dengan bus atau kereta bumel Madiun Jaya? Lantas kenapa Max masih mengikat aku dengan percintaan akhir pekan, bila dia aman sebab Ie telah punya anak—yang diketerangan legal tertera: anaknya, meskipun ikut marga ibunya-, karena itu tidak ada perlunya dia merayu agar aku hamil lagi?

***

APA Max ingin ada anak lain yang bermarga Han di sini yang bermarga Nio itu, sehingga akses pada aset perusahaan keluarga Nio lebih kuat? Max itu terlalu egois—dengan memilih perjalanan sekejap, misalnya—, padahal kepastian sebagai ayah legal Leo sudah cukup, karena dia memegang truf si yang bakal mewarisi kekayaan Old Nio setelah Ie—ibunya Leo. Meski itu membuatnya jadi si dungu saat berkeras untuk terus mencintaiku—padahal sesuai kontrak TKW itu aku di-backing dana oleh Old Nio agar bisa menyelesaikan kuliah PGSD, setelah lulus jadi guru PNS sebab punya dana lulus testing, meski tidak berkompetensi guru profesional. Tapi, apa semua termin itu perlu? Aku tak tahu. Tapi terkadang Max nggombal dengan bilang , “… tak ingin membuatku sengsara setelah dengan sengaja memisahkanku dengan Leo, setelan Ie tidak membiarkan bertemu dan bercengkerama dengan Leo.” Aku mengangguk. Tahu. Mereka ingin agar Leo—si anak usia sebelas tahun itu—cuma tahu kalau Ie itu ibunya. Seperti perjanjian awal yang diketahui kalau ie itu ibunya. Seperti perjanjian awal yang hanya diketahui aku, Old Nio, Ie, dan pengacara keluarga.

Sebenarnya Ie rela berbagi, tapi Old Nio tak bersikehendak. Jadinya: aku hanya boleh memiliki Max, yang sesekali dipersilakan ke Jakarta via Soekarno-Hatta, lantas pergi ke Ancol dan menginap akhir pekan. Satu momen buat menetralkan masalah emosional Max, yang tak tahu kalau aku dijerat dengan sebuah irasional absurd: beranak dan asumsi aku dihamili Max—dan anak itu diambil Ie supaya marga Nio mempunyai keturunan lelaki dan Old Nio meninggal dengan ketenangan punya penerus klan. Rendezvous semu yang selalu disiharap Max menghasilkan anak, selain Leo, supaya si marga Han punya keturunan dan aku punya pengawal, setelah si bocah Leo itu dimasukan dalam kerangka klan Nio—sesuai kontrak hamil bayi tabung, dan lalu disteril agar mungkin tak hamil.

“Tolong, Nunuk,” katanya mengsihiba setelah mengecek serta mengisi rekeningku, padahal gaji guruku itu tak pernah habis di setiap bulan. Dengan getir aku menolak. Aku telah disterilisasi. Lagi pula, terpikir, bila Max hanya ingin Leo punya saudara seibu yang bermarga Han, dan dia bukan si ujung tak bertunas, si yang terpaksa tak berketurunan sebab anaknya bermargakan Nio.

Tapi, mana mungkin ada si mahasiswi (dulu) serta guru (kini) lajang punya anak tanpa diketahui telah menikah? Aku menolak. Max menelan ludah. Dengan setengah melengos, di ranjang, aku mengatakan, “Hidup di pedalaman Jawa, di lereng Wilis, di pelosok Madiun-Ponorogo, di Ngebel, senantiasa harus dengan acuan moralitas yang menuntut penampakan normatif.”

Max termangu. Bilang, “Mau mengumpulkan uang, bikin perusahaan sendiri, berinvestasi di Jakarta, Sepang, Surabaya atau Batam, lalu bercerai dari Ie dan menikahi aku.” Semuanya, demi punya juntaian keturunan lelaki Han yang tak berakhir di dirinya seorang.

“Kita akan menikah,” kilahnya.

Dahulu aku percaya, optimistik dengan tekad itu—meski berahim, tapi mustahil punya anak karena secara medik aku sudah bukan wanita lagi—, karena itu aku terbiasa mesilesat dengan Mandala atau Garuda dari Solo, menemui Max, lantas pulang pada Minggu malam. Langsung ke Surabaya, lantas naik bus ke Ponorogo supaya pukul 05.30 sudah ada di Ngebel.

Tapi, di tahun-tahun kemudian aku merasa hanya pergi berkencan, seperti orang naik di panggung sinetron—palsu memuaskan instink kewanitaan saja—, karena itu aku memilih pasif: naik kereta api yang lebih lambat, agar cuma sekejap bertemu Max. Itu terutama karena kehabisan kata-kata untuk menolak keinginannya punya anak lelaki.

Aku lelah menggeleng, jemu bilang : di Hongkong aku bisa hamil, aman melahirkan dan mengurus anak sebelum disapih sebab harus pulang saat kontrak usai. Tapi, hamil dan terang-terangan punya anak di luar nikah di Indonesia—tepatnya di Ngebel—? Itu ihwal gendheng mangan semir—kata Tempi si wong Surabaya itu. “Tidak!” kataku—dan rendezvous kami jadi rumit, melelahkan. Tapi, kenapa aku masih juga pergi ke Gambir dengan Bima atau Gajayana dari Madiun, lalu pulang dengan Gajayana, Bima, atau Bangunkarta? Apa itu cinta? Bukan. Aku tak merasa diikat cinta—hanya memuaskan instink biologik. Tapi, kenapa Max selalu merencanakan rendezvous di Jakarta, di akhir pekan meski hitungan bulannya yang acak tidak memastikan selalu ada kencan?

Apa itu cinta? Kenapa tidak memutuskan bercerai dari Ie, mesilepaskan diri dari aset perusahaan keluarga Nio, lantas pindah ke Caruban atau Kare, jadi si WNI Islam yang menikah dengan aku dan dua istri sah lain, yang menurunkan selusin anak lelaki? Apa Max tidak bisa lepas dari fatamorgana, karena Ie itu ahli waris tunggal klan Nio, si pemilik tujuh perusahaan induk di Hongkong, dengan berpuluh anak perusahaan yang menggurita di Singapura, Sanghai, New York, Batam, dan Jakarta?

***

IE—dan Old Nio di latar belakang—memberikan banyak uang dengan sepengetahuan Max—itu mungkin yang membuatnya merasa memilikiku. Tapi, tanpa diketahui Max, aku memiliki 2,5 persen saham tujuh perusahaan induk Old Nio. Kekayaan fantastik yang tak bisa dicairkan selama Leo belum dewasa, dan ketika aku masih memainkan lakon bersihubungan dengan Max—dan tak mungkin punya anak, dengan jaminan teknologi China—, meski semua akan otomatis cair kalau Old Nio meninggal. Hubungan mbulet yang tak tuntas, karena setahun sekali aku bertemu Leo, Ie, dan Max mengatur agar bisa bersua Leo dalam liburan di Jogjakarta, Bali, Manado, Toba, Singapura, dan dua kali di Hawaii. Dengan ada di ruang rekreasi yang sama, bersipotret bersama, dan bahkan tinggal di hotel yang sama—dan meski Leo diperkenankan bicara denganku, Ie tak pernah memperkenankan Leo tidur bersamaku. Tapi, dia memperbolehkan Max tidur denganku. Tapi, untuk apa, kalau semua kerinduan melulu hanya untuk Leo dan bukan Max—yang merayuku agar punya anak dan leluasa melekatkan marga Han?

Terkadang kami tinggal berdua, dan bersibicara dari hati ke hati sebagai sesama perempuan. Ie menanyakan, kenapa aku belum menikah, apa karena takut tidak akan bisa mencukupi kehidupan rumah tangga, atau karena tak ada memiliki calon—lantas Ie berjanji ada subsidi di luar dividen dari yang 2,5 persen itu.

Aku menelan ludah. Bilang, dengan latar belakang si TKW lulus SMA, kepapaan serta hidup di garis kemiskinan merupakan tradisi, sehingga gaji guru—semua dividen dari saham 2,5 persen, sumbangan Ie, dan kasih sayang bertenden si Max dalam rekening—sudah memadai.

“Lantas apa masalahnya?” kata Ie.

Aku menekankan telapak tangan kanan di dada, bilang bila itu berhubungan masalah kontrak yang terkait dengan Leo—fakta aku tak mungkin hamil lagi. Ie menangis. Meminta maaf, serta bilang dia telah lancung marampas kebahagiaan aku.

“Tapi apa yang bisa dilakukan olehku,” katanya—bapaknya, si Old Nio itu, masih kuat mengatur perusahaan, meski sebagian penguasaan manajemen disebarkan ke anak-anak hasil selingkuhnya, tim yang siap mendepaknya sebagai si ahli waris tunggal.

Apakah semua ini bermula dari kemiskinan? Ketika selulus SMA aku ingin bisa kuliah, karenanya mengambil dua kali kontrak @ 2 tahun di Hongkong, sehingga akan ada simpanan yang cukup untuk berkuliah PGSD dan melamar jadi si guru SD—yang setelah jadi PNS bermakna si yang memiliki masa depan. Ambisi itu yang mensibuat aku bersepakat melakukan kontrak dengansi Old Nio—jadi si penerima sperma, dengan bantuan teknologi yang memungkinkanku memelihara janin lelaki utama Nio—, meski secara kasatmata aku memainkan lelakon berselingkuh dengan Max. Diatur Old Nio agar membuat kontrak seksual semu dan transparan dihamili oleh Max, punya anak, lantas menyerahkan anak itu kepada Ie. Pulang dengan dana berlebih buat kuliah—dengan saham legal 2,5 persen—, lalu diurus calo sehingga menjadi si PNS guru SD, dan hidup berkecukupan di Ngebel. Tabungan yang sangat menggelembung—cukup untuk bea politik jadi bupati Ponorogo, Madiun, Ngawi, atau walikota Madiun—, karena itu leluasa dan tuntas menyekolahkan adik-adik ke PT di Surabaya, Solo, dan Malang.

Aku seharusnya melupakan Leo, melupakan si Max—mustahil mempunyai anak bermarga Han—, dan sengaja menikah dengan siapa saja—meski tidak mungkin punya anak. Mungkin terpaksa memiliki anak asuh, dengan mengurus berlusinan anak, membesarkannya dengan dana yang tak terbatas—aku punya hak mutlak saham 2,5 persen warisan legal dari Old Nio yang menganggapku selir tabung yang berhasil melahirkan anak lelaki meskipun secara legal (itu) cucu lelaki. Tapi, aku takut: suamiku tahu kalau aku simpanan miliarder Hongkong—dan aku yakin di Ngebel ini: banyak orang yang tahu—, karenanya memeras sampai tak punya apa-apa lagi. Aku takut tak punya uang, aku takut miskin lagi—seperti Ie takut dengan fakta legal si anak perempuan Old Nio, yang mendapat tunjangan hidup bulanan ketika hak atas semua aset perusahaan marga Nio diambil alih saudara-saudara perempuan tidak resmi, si hasil selingkuh bapaknya itu. Karenanya Ie mengontrak: agar aku hamil, dan Ie punya anak yang tak memakai marga Han tapi Nio—dan Leo memang penguasa muda Nio, karenanya Ie itu hanya si pengasuh Leo, anak lelaki tunggal Old Nio.

Rumit dan absurd. Seirasional “cuma anak satu saja—lelaki atau wanita sama.”

***

DI Gambir—seusai mandi serta berdandan, memesan burger tuna sambil duduk menghadap ke tangga naik—aku menunggu Max. Dia yang akan naik, menjemput, jadi aku tak perlu turun ke tengah bising kendaraan di seputar julang mimpi beku stasiun, dengan pelataran kosong untuk (sekadar) mesitimbang angan. Setiap kali, selalu pepat mencari jawaban atas tanya: apa yang sebenarnya dikejar dalam hidup ini? Kekayaan? Kekerasan homo homini lupus mengsihalalkan segala cara buat meraih kekuasaan dan harta, atau reflektif bersikembali ke dalam diri, lalu melengos dan membiarkan sayap tumbuh di punggung karena ada memunggungi dunia? Terbang!

Dan (kini) aku ingin pulang ke Ngebel, selusupan di beku telaga seperti di masa kecil, bersuci, mengambil wudu untuk melakukan sembahyang tobat di remang petang di tepian. Di batu besar yang katanya tempatnya angker—pusat perewangan yang biasa memanggil orang asing untuk mencebur ke air, lantas membelit kakinya dengan sulur rumput air.

Tapi di masa kanakku itu tidak satu dhemit Ngebel yang kuasa menipu dan lantas membunuhku, mungkin karena berpikiran : aku ini bakal (manifestasi) siluman yang masih jelma utuh jadi manusia. Sang korban kemiskinan, yang nanti tertipu oleh fatamorgana kekayaan dan penguasaan modal tak terbatas. Si seseorang yang akan pol ditelan labirin pesugihan, dengan syarat sederhana: bertega mengorbankan orang lain, dan dengan acuan ilmu politik, semua korban itu—katanya Max—diajak Mao Zedong, bersekongkol untuk menjungkirbalikkan tatanan dengan berbalik menguasai modal sebagai milik bersama, tapi kini aku menguasai sebagian modal dengan berselingkuh dan melulu loyal pada kontrak. Apa kini aku bahagia?

Aku memejam. Tapi, apakah dengan tak mempunyai apa-apa dan tetap miskin itu kita tak bahagia? Aku mengusap wajah. Aku teringat kehidupan yang melarat di masa kecil: Ayah sibuk di ladang dan kami menjadi keluarga subsistensi sebagai si yang tak kelaparan, lantas ibu yang ikut banting tulang sebab kampung menyorongkan impian lain—bersekolah, lulus sekolah, jadi PNS yang tak membanting tulang di ladang. Karenanya, semua anak serentak ke Batam, Jakarta, Jogjakarta, Solo, Surabaya, Malang, dan Madiun untuk jadi si pelayan toko atau buruh pabrik, jadi si TKW dan si TKI di Singapura, Malaysia, Hongkong, Arab Saudi, atau terpuruk ke lokalisasi Madiun, Solo, Surabaya atau apa?

Aku menelan ludah. Apa bedanya aku dengan yang terakhir itu? Si terpuruk itu?

Lelah—aku menjadi sangat lelah—! HP bergetar. Max tiba di halaman parkir—mungkin akan mengajak ke Anyer, atau cuma apartemen di Sudirman—, aku tak menjawab. Aku capai, lelah. Aku ingin pulang, berbaring sebagai si kain yang tersangkut di kedalaman palung telaga Ngebel, damai terpisah dari gebalau dunia, melambai dalam arus dasar lemah, si yang dikitari mujaer, lele, tombro, atau wader. Berbaring di kedalaman, tak terganggu ilusi duniawi apa-apa. Tapi, apa ada tempat bagi orang yang memunggungi dunia dan bersisibuk dengan rohani saat ini?

Max muncul. Kami tersenyum, hambar dalam keletihan rohani. Kami bersitatap dan saling melengos. Tanpa kata kami turun, memilih bus kota ke bandara, dan jalan menuju loket masing-masing dan ke terminal keberangkatan masing-masing. Sepakat—tanpa kata—untuk memunggungi: jemu dan pengharapan sia-sia. Mimpi kosong. Max ke Hongkong. Aku ke Surabaya dengan Batavia Air. Bertekad pulang—untuk melajang dengan seribu anak asuh.

20/09/2011,

larut malam—setelah Balai Pemuda Surabaya terbakar.

Catatan:
Slintutan: secara diam-diam dan rahasia
Bumel: kereta yang berhenti di setiap stasiun
Gendheng mangan semir: secara harafiah bermakna: (laku) tak waras memakan semir, ungkapan untuk menyatakan penolakan atas permintaan yang tidak masuk akal
Mbulet: rumit tidak bisa diuraikan, bagaikan benang kusut
Dhemit dari dhedhemit: roh halus atau jin penunggu tempat angker

Dijumput dari: http://lakonhidup.wordpress.com/2012/02/16/lagu-tanglung-ungu/