Menumbuhkan dan Menggodok Tulisan

Bagus Takwin *
Kompas, 06 Jan 2008

PASANGAN dari masterpiece Mortimer J Adler, How to Read a Book: Cara Jitu Mencapai Puncak Tujuan Membaca ini bertutur tentang menulis. “Menulis tanpa guru”. Bisakah kita lakukan?

Frasa ini adalah judul karya Peter Elbow, profesor bahasa dan Direktur Program Menulis di University of Massachusetts. Dilihat dari judul dan isi buku itu, menulis tanpa guru bisa dilakukan. Buku ini tentang menulis dan bertujuan membantu orang untuk belajar menulis. Lebih jauh lagi, untuk menulis tanpa guru.

Menurut Elbow, yang pertama perlu dilakukan untuk bisa menulis adalah menulis. Tuliskan apa saja yang terlintas di benak kita. Ia memberi istilah “menulis bebas” untuk tindak menuangkan apa saja yang terlintas dalam benak melalui tulisan.

Menulis bebas adalah latihan yang bisa membantu untuk membiasakan diri menulis. Dalam latihan ini, orang disarankan untuk menuangkan, dalam bentuk tulisan, apa pun yang ia pikirkan, bahkan tentang ketidakmampuannya menulis. Saat diminta menulis apa pun yang terpikirkan selama 10 menit dan merasa buntu, orang boleh saja hanya menuliskan kebuntuannya, kebingungannya. Dalam menulis bebas, lupakan aturan, lupakan kesalahan. Tulis dan luapkan saja.

Menumbuhkan pesan

Tentu, menulis bebas bukan akhir dari belajar menulis. Elbow juga bicara tentang proses menulis. Ibarat tanaman, bibit-bibit menulis adalah apa yang dihasilkan dalam menulis bebas. Bibit tidak diharapkan jadi bibit selamanya, ia harus tumbuh sehingga potensi-potensinya teraktualisasi. Bibit diharapkan menjadi pohon yang rindang dan kokoh atau jadi perdu yang indah.

Begitu pula bibit tulisan, hasil menulis bebas perlu ditumbuhkan menjadi tulisan yang menggugah, mencerahkan, memberi kenikmatan bagi pembacanya. Menulis dalam tahap ini, menurut Elbow, bukan cara mengirim pesan, tetapi cara menumbuhkan pesan. Seperti pohon, dari batang tulisan yang sudah dihasilkan, ranting-ranting pesan bisa ditumbuhkan. Lalu daun-daun kata menghiasinya, rimbun dan berwarna.

Caranya: Baca ulang hasil tulisan itu, tegaskan topik utama, temukan bagian-bagian yang perlu dielaborasi atau dihilangkan, tentukan alinea-alinea yang perlu diperjelas, rumuskan kalimat-kalimat yang terang, serta pilih kata-kata yang mewakili pikiran dan perasaan.

Seperti apoteker atau koki, penulis perlu menggodok tulisannya. Mengutip Elbow (hal 51), “Pertumbuhan adalah proses yang sangat besar, evolusi seluruh organisme. Penulisan adalah proses yang lebih kecil: pendidihan, penyeduhan, peragian, pembelahan atom.” Dengan menggodok, penulis menggerakkan mesin penumbuh tulisan. Sebuah mesin butuh energi untuk bekerja. Namun, energi saja tidak memadai untuk menggodok, apalagi saat energi yang dimiliki terbatas.

Bagi Elbow, penggodokan lebih tepat dipahami sebagai interaksi antarmateri yang berbeda atau bertentangan. Penggodokan bisa sebagai interaksi antarmanusia, antaride, antara kata dan ide, antara keterlibatan dan perspektif, lebih rinci lagi interaksi antarmetafora, antarmode, antara penulis dan simbol-simbol di atas kertas.

Berbagai pikiran yang dipaparkan digodok dalam tulisan agar menghasilkan ide yang kuat. Ide-ide dipertemukan dan dibandingkan untuk menghasilkan tesis yang tegas. Beragam keterlibatan dan perspektif dipakai untuk menghasilkan paparan komprehensif. Lalu, berbagai metafora, mode penulisan, dan simbol diolah untuk menghasilkan kalimat-kalimat yang bernas.

Rangkaian interaksi

Proses menulis bebas yang dikuti oleh upaya menumbuhkan dan menggodok dapat dilakukan tanpa guru, tetapi tidak tanpa interaksi dengan orang lain. Menulis adalah interaksi dan yang terpenting adalah interaksi antarmanusia sebab dari manusialah unsur-unsur tulisan paling penting berasal.

Menulis tanpa guru berarti menulis secara mandiri, tidak bergantung pada keberadaan guru sebagai pemberi materi, pembimbing, dan pemberi umpan balik. Namun, menulis tetaplah rangkaian interaksi, baik selama penulisan maupun sesudahnya. Pesan yang termuat dalam tulisan ditujukan kepada seseorang, kepada pembaca. Pesan itu juga merupakan tanggapan terhadap pesan-pesan yang pernah diterima penulis.

Keberadaan orang lain tetap menjadi syarat bagi penulisan; lebih tepatnya, berinteraksi dengan orang lain. Menulis secara mandiri bukan berarti menulis dalam situasi yang terisolasi. Alih-alih, menulis secara mandiri mensyaratkan keterbukaan terhadap dunia. Elbow menekankan pentingnya keterbukaan pada seorang penulis, berpikiran terbuka, berjiwa terbuka.

Apa yang dipaparkan oleh Elbow merupakan gugahan kepada pembacanya untuk menjadi penulis melalui latihan menulis secara mandiri. Menulis bebas merupakan usulan cara untuk mengatasi hambatan menulis. Dengan konsep “menulis bebas”, Elbow hendak membantu orang mengatasi keengganan dan ketakutan untuk menulis. Menulis sebagai kegiatan menumbuhkan merupakan cara Elbow membantu orang menghasilkan tulisan yang utuh dan jelas. Lalu menulis sebagai penggodokan menjadi petunjuk bagi kreasi tulisan yang matang, tuntas, dan bernas.

Menulis adalah keterampilan

Elbow secara tersirat tetapi jelas menempatkan tindak menulis sebagai cara belajar menulis. Ini mengingatkan kita kepada ungkapan filsuf dan penulis Iris Murdoch, “Hanya dengan mencintai kita dapat belajar mencintai.” Seperti mencintai, menulis adalah tindakan konkret dan praktis. Untuk dapat memiliki kemampuan itu, orang harus melakukannya. Hanya dengan menulislah kita dapat belajar menulis. Tanpa melakukannya, kita tak akan pernah mampu menulis dengan baik.

Menulis adalah keterampilan. Seperti keterampilan bersepeda, menyetir mobil, atau berenang, tanpa bersentuhan langsung dengan tindakan menulis, kita tak akan bisa menulis. Sebagai keterampilan, menulis bisa dipelajari. Setiap orang mampu menjadi penulis. Bisakah Anda naik sepeda tanpa pernah mencoba naik sepeda?

Kemampuan menulis tidak tergantung bakat. Orang tak berbakat pun bisa jadi penulis jika ia berlatih menulis. Bakat adalah urusan orang-orang terpilih, segelintir orang yang mendapat berkah. Adapun kemampuan menulis diperuntukkan bagi siapa saja, tak kenal kasta, status sosial-ekonomi, tak kenal suku dan agama, tak peduli pemimpin atau bawahan.

Penulis yang baik adalah orang yang mampu menulis dengan baik kapan saja, di mana saja, dan dalam kondisi apa pun. Penulis yang baik tidak hanya mengandalkan inspirasi atau ilham. Juga tidak hanya mengandalkan mood atau suasana hati. Ia menggunakan seluruh pikiran, perasaan, dan tindakan konkretnya saat menulis.

Penulis yang baik juga mampu merangsang dirinya untuk menciptakan suasana hati yang mendukungnya menulis. Ia mampu menyemangati dirinya agar dapat menulis di mana saja dan kapan saja. Ia mengolah pikiran, perasaan, dan tindakan serta dicurahkan dalam bentuk tulisan agar dapat disebarkan kepada orang lain. Penulis yang baik mau berbagi cerita dengan banyak orang lewat tulisannya. Ia adalah seorang dermawan yang mau berbagi pengetahuan dengan siapa saja.

Buku ini memberi petunjuk tentang cara berlatih menulis. Secara rinci dan lancar Elbow memaparkan langkah demi langkah dengan ilustrasi yang menarik. Perumpamaan-perumpamaan yang ia gunakan menjadi daya pikat tulisannya. Contoh-contoh konkret yang ia ambil dari pengalamannya sebagai penulis yang ketakutan dan frustrasi serta sebagai dosen menulis menambah terang petunjuk-petunjuk yang ia berikan. Buku yang matang ini merupakan contoh yang baik dari kegiatan menulis bebas yang ditumbuhkan dan digodok secara sungguh-sungguh. Elbow mengajar menulis dengan menulis tanpa guru.

* Bagus Takwin, Pengajar Fakultas Psikologi UI, Penulis
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/01/buku-menumbuhkan-dan-menggodok-tulisan.html