Nyai Sobir

A Mustofa Bisri
Kompas, 15 April 2012

RIBUAN bahkan puluhan ribu pelayat dari berbagai kota yang menangis itu, tampaknya tak seorang pun yang datang berniat menghiburku.

Mereka semua melayat diri mereka sendiri. Hanya orangtuaku dan beberapa orang famili yang terus menjagaku agar aku tidak pingsan seperti banyak santri yang sama sekali tidak siap ditinggal almarhum. Continue reading “Nyai Sobir”

Tukang Pijat

Tita Tjindarbumi
lampungpost.com

PEREMPUAN bertubuh semampai itu memang tak seperti perempuan yang berprofesi sama dengannya. Penampilannya agak berbeda. Dilihat dari bodinya, jelas ia bukan tukang pijat biasa. Penampilannya rapi dengan dandanan yang pasti membutuhkan waktu cukup lama, Tatiek diduganya tukang pijat plus-plus.

Tubuhnya yang langsing dan beraroma menyengat itu, membuatnya sempat berpikir lain. Apa Ijah tak salah panggil? Continue reading “Tukang Pijat”

Haji Syiah

Ben Sohib
Koran Tempo, 8 April 2012

KAMPUNG Melayu Pulo tentulah bukan satu-satunya kampung di Jakarta yang dipenuhi haji dan pemabuk sekaligus. Tapi sangat mungkin hanya di sinilah dua pemuda mabuk dan seorang haji bisa duduk di balai-balai yang sama dalam sebuah majelis taklim. Sesungguhnya kata ini tak tepat menggambarkan kegiatan yang sebenarnya. Continue reading “Haji Syiah”

Memaknai Hari Kartini

Asrudin
http://www.suarakarya-online.com/

“Kamu tahu motto hidupku? ‘Aku mau’. Dua kata sederhana ini telah membawaku melewati gemunung kesulitan. ‘Aku tidak mampu’ berarti menyerah. ‘Aku mau!’ mendaki gunung itu.”

Demikian Kartini mengatakan hal itu pada Stella Zeehandelaar (seorang perempuan Belanda) dalam suratnya pada 23 Agustus 1900. Motto ‘aku mau’ bukan tanpa makna. ‘Aku mau’ menunjukkan keinginan keras Kartini untuk merubah situasi dan kondisi Indonesia yang saat itu terbilang cukup memprihatinkan: marjinalisasi terhadap perempuan dan kondisi kolonialisme. Continue reading “Memaknai Hari Kartini”

Perempuan dan Ideologi Familialisme

Siti Muyassarotul Hafidzoh
http://www.suarakarya-online.com/

Peran kaum perempuan masih berada di pinggir peradaban. Kisah-kisah dan gerak-geriknya masih dipandang sebelah dalam sejarah peradaban dunia. Kooptasi kaum lelaki masih begitu tinggi, sehingga gerak perempuan terus dimonitoring setiap waktu. Melangkah selalu dibatasi ruas tradisi yang salah kaprah serta doktrin agama yang ditafsir dengan sepihak dan tendensius. Perempuan akhirnya hanya bisa berkilah dalam setiap geraknya, mencari posisi pinggir, dan terus terkebiri dalam babakan sosial yang dijalani. Continue reading “Perempuan dan Ideologi Familialisme”

Bahasa ยป