Tukang Pijat

Tita Tjindarbumi
http://www.lampungpost.com/

PEREMPUAN bertubuh semampai itu memang tak seperti perempuan yang berprofesi sama dengannya. Penampilannya agak berbeda. Dilihat dari bodinya, jelas ia bukan tukang pijat biasa. Penampilannya rapi dengan dandanan yang pasti membutuhkan waktu cukup lama, Tatiek diduganya tukang pijat plus-plus.

Tubuhnya yang langsing dan beraroma menyengat itu, membuatnya sempat berpikir lain. Apa Ijah tak salah panggil?

Sudah berganti-ganti tukang pijat datang ke rumah Ong Liana. Mereka tak ada yang serapi ini dalam berpakaian. Mereka juga tak bertubuh langsing. Tukang pijat langganan Ong selama ini semuanya bertubuh subur. Dan keringatnya asam.

Tukang pijat ini, Tatiek, sempat membuat Ong geram. Sebagai tukang pijat plus-plus dia merasa punya saingan baru. Tubuh sintal Tatiek pasti akan mengalahkan penampilannya, meski masih banyak lelaki yang meneteskan air liur melihat kulitnya yang putih dan lekuk tubuh yang sebetulnya tak seindah bertahun-tahun lalu.

Ong tak hanya menjual keahliannya sebagai tukang pijat plus-plus tetapi juga menyiapkan tungsi*, jamu ala Ong berbentuk Kristal. Kristal-kristal itu yang membuat langganannya, cukong-cukong bertambah vitalitasnya dan berasa melayang saat dipijat oleh Ong. Dengan pelayan extraordinary Ong pun bersedia membawa cukong-cukong itu terbang ke surga.

“Pijatnya pakai minyak saya? Atau ibu punya?” Pertanyaan Tatiek membuyarkan lamunan Ong. Tukang pijat baru itu menatapnya tanpa berkedip.

“Sampeyan pake minyak apa?” tanya Ong agak gelagapan. Padahal sudah jelas dia tidak pernah menggunakan minyak lain. Ong biasa menggunakan minyak zaitun yang konon punya khasiat mengencangkan kulit.

“Minyak biasa, Bu,” jawab Tatiek melirik minyak zaitun yang sudah disiapkan Ijah di meja rias perempuan keturunan Tionghoa itu.

Tatiek tak berani banyak bicara. Ia hanya berani menebak-nebak seperti apa perempuan yang akan dipijatnya kali ini. Biasanya, setiap kali memijat, Tatiek sesekali mengajak bicara pelanggannya. Tujuannya supaya mencairkan ketegangan di antara ia dan yang dipijat.

“Tubuh Ibu masih kencang,” ujar Tatiek setelah begitu ia mulai menyentuh tubuh Ong. Tukang pijat itu berharap Ong merasa senang dengan ucapannya. Bayangkan, di usianya yang sudah kepala lima masih ada yang bilang tubuhnya masih kencang.

“Ya, tentu. Saya selalu menjaga kesintalan tubuh saya,” jawab Ong, tetapi hanya dalam hati.

“Masak sih? Sampeyan bisa saja. Umur saya sudah lima puluh lebih!” jawab Ong dengan suara tertahan. Ia dalam posisi tidur tengkurap. Dalam posisi begitu ia dapat menyembunyikan ekspresi wajah riangnya.

Siapa yang tidak suka dipuja? Ia pun memperlakukan hal serupa pada pelanggan-pelanggannya. Apalagi mereka rata-rata cukong-cukong berduit yang memakai jasanya tak sekadar ingin dipijat. Tetapi diperlakukan lebih. Ong tidak segan-segan memuji setiap lelaki yang dipijatnya dengan kalimat-kalimat yang melambung. Ia juga memuji lelaki berperut gendut yang memakainya demi mengeruk duit sebanyak-banyaknya.

“Koko akan jauh lebih seksi jika mau mencoba jamu istimewa ini,” ujar Ong sambil mengelus-elus perut lelaki tambun pemilik showroom mobil terkenal.

Lelaki tambun itu dengan cepat menarik tangan Ong yang halus dan pijatannya lembut membangunkan saraf-saraf sahwat. Lalu sambil membelai-belai tangan Ong laki-laki tambun itu menarik turun tangan halus itu bergeser lebih ke bawah.

Ong memamerkan senyumnya yang paling manis. Ia tahu apa yang diinginkan lelaki tambun itu. Dengan sigap pula ia berdiri dan membelai dada lelaki itu.

“Sebentar, Ko,” katanya masih dengan senyum penuh arti.

“Saya cuci tangan dulu. Bau minyak,” kata Ong dengan suara manja sedikit mendesah.

Lelaki tambun itu tak tahan, jakunnya bergerak-gerak. Perutnya juga seperti ada gempa. Menjalar sampai ke bawah.

“Please sayang… jangan lama-lama,” teriak lelaki tambun itu dengan suara tertahan. Kepalanya berdenyut-denyut terimbas dari saraf-saraf di tubuhnya yang sudah telanjur kesetrum tangan Ong.

Di dalam kamar mandi Ong sengaja berlama-lama. Ia harus melakukan sesuatu agar lelaki tambun yang darahnya sudah sampai otak itu semakin penasaran. Ia harus membuat lelaki itu klepek-klepek sampai akhirnya ia dengan leluasa memasarkan tungsi yang selalu ia selipkan di spon bra yang dipakainya. Lelaki mana yang tidak tergiur dengan aroma tubuh perempuan?

Malam itu Ong berhasil membuat lelaki tambun itu terpesona dengan dirinya. Setelah yakin situasinya aman, Ong memeriksa pintu kamar hotel dengan fasilitas lux yang di-book lelaki tambun itu.

“Koko mau minum apa?” tanya Ong dengan suara manja. Meski usia lelaki tambun itu sudah tak muda lagi, panggilan “Koko” akan jauh lebih mesra dibandingkan “Engkong” atau panggilan lainnya.

Tanpa menunggu jawaban Ong sudah mengeluarkan sebotol air mineral dan membuka gelas yang masih dibungkus rapi dengan kertas bertulis nama hotel. Lelaki tambun itu tidak protes saat Ong menyiapkan peralatan yang akan dia pergunakan untuk mengisap tungsi. Dalam hitungan detik asap sudah memenuhi ruangan kamar hotel. Aromanya harum.

Lalu dengan manja Ong membimbing lelaki tambun itu mengikuti gerakannya memegang alat-alat tersebut. Dalam hitungan menit lelaki tambun itu merasa badannya lebih segar. Imajinasinya melayang terbang membayangkan tubuh molek Ong yang hanya menggunakan celana pendek dan kaus tali satu tanpa lengan. Sengaja Ong membiarkan tali kutangnya balapan dengan tali kaus. Lelaki tambun itu dengan leluasa dapat melihat kedua bukitnya yang membusung.

Ia sudah tak tahan. Sementara Ong masih mengulur waktu. Menunggu saatnya yang tepat untuk menyebutkan apa yang dia mau dari lelaki itu. Menunggu lelaki itu tak kuat menahan gelisah syahwatnya. Menunggu lelaki itu mengeluarkan buku cek dan tanpa diminta menuliskan sejumlah angka yang dahsyat dan bisa ia cairkan dengan segera. Setelah itu baru memberikan servis istimewa pada lelaki tambun yang sudah di ambang batas klimaks.

Ong tahu pasti dengan tungsi hampir semua lelaki tak tahan menahan libidonya yang membuat seluruh sendinya bergetar. Membuat saraf-saraf otaknya memicu imajinasi semakin meliar. Sementara Ong juga tahu, tak banyak lelaki yang bisa bertahan lama di atas ranjang jika dalam pengaruh jamu gila itu. Ia sangat tahu dan berpengalaman dalam soal yang satu ini.

Jika tidak….

“Maaf…,” tiba-tiba suara Tatiek membuyarkan lamunan Ong. Tangan perempuan tukang pijat itu sudah sampai di bagian pantatnya. Di titik di mana banyak lelaki yang tergila-gila pada miliknya itu. Ong selalu menjaga agar pantatnya tetap berisi dan kenyal. Sehingga setiap lelaki yang memakai jasa pijat plus-plusnya akan gemas saat tangan mereka berada di bagian itu berlama-lama.

“Saya selalu pingin punya bodi seperti ibu,” ujar Tatiek kalem. Tangannya tidak memijat, tetapi mengelus. Ong ingin marah tetapi cepat diturunkan emosinya.

“Harus rajin fitness, Mbak.”

“Gak nututi duitnya, Bu,” jawab Tatiek tanpa sadar menekan pantat Ong dengan tenaga kudanya. Ong kaget karena kesakitan.

“Maaf Bu… kekerasan ya?” Tatiek nyengir. Ia iri melihat pantat milik perempuan setengah tua itu masih kencang. Pantat dia enggak ada apa-apanya.

“Saya dulu memijat dari hotel ke hotel. Ngeladeni siapa saja yang memanggil,” ujar Tatiek tanpa ditanya. Perempuan pemijat itu lalu bercerita. Ia kawin cerai sudah tiga kali. Suaminya yang pertama cemburu berat jika ia menerima pijat panggilan ke hotel-hotel. Tatiek tak bisa menolak tawaran itu karena hanya dengan memijat ia bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Itu pun pas-pasan. Suaminya sejak di-PHK dari mandor bangunan, sampai mereka punya anak belum juga mendapat pekerjaan. Tepatnya tidak mau mencari kerja. Malas.

Ia hanya mengantar Tatiek ke hotel tempat di mana sudah menunggu pejabat yang sedang dinas luar kota. Tatiek bisa menarik hati pejabat itu. Setiap bulan sekali pejabat itu entah urusan apa selalu menghubunginya dan memintanya datang ke kamarnya.

“Saya enggak tahan dengan sikap suami. Lalu saya minta cerai dan menikah lagi.”

Ong membiarkan Tatiek bercerita tanpa menyela.

Lalu Tatiek bilang, suami keduanya tidak cemburuan. Cenderung mendukung pekerjaannya. Semakin banyak yang memanggilnya ke hotel semakin banyak juga uang yang dibawa pulang. Semakin banyak juga jatah yang ia minta dari Tatiek. Kerjanya mabuk-mabukan.

“Saya enggak tahan. Setiap pulang dalam keadaan mabuk. Bikin rusuh kalo keinginannya begituan tidak diladeni. Saya malu dengan tetangga yang suka ngupingin keributan kami.”

“Lalu?”

“Ya dengan terpaksa saya ladeni meski rasanya mau muntah setiap mulutnya mencium bibir saya. Bau minuman! Saya juga sudah capek, Bu… kan baru ngeladeni tamu saya yang pejabat itu. Dari pejabat itu saya dikasih tips lumayan banyak. Pulang bisa naik taksi, enggak ngojek atau naik angkot!”

Ong batuk-batuk. Tidak ada bedanya denganku, pikirnya. Tukang pijat rumahan ini pun menerima panggilan dan melakukan hal sama seperti yang Ong kerjakan. Perbedaannya, jika Tatiek mendapatkan uang tambahan dari jasa pijat plus-plus awalnya karena terpaksa dan memang hanya itu cara dia mencari uang untuk hidup, sementara Ong—dia harus memasarkan barang dagangannya yang hasilnya jauh lebih besar dari sekadar menjual desah dan lekuk tubuhnya.

Sebagai bandar narkoba ia tak bisa melakukan transaksi bisnisnya secara terang-terangan. Perjalanan hidup rumah tangganya berantakan. Keluarga suaminya tak pernah menghargai keberadaannya sebagai istri anak mereka. Bahkan karena ia berasal dari keluarga miskin, setiap hari hanya hinaan dan hujatan saja yang ia terima. Suaminya pun tak pernah membelanya. Ia terlalu takut tak mendapat warisan keluarga. Sementara dalam perkawainannya Ong sudah telanjur punya anak. Ia tak punya pilihan lain kecuali membesarkan hatinya dan melakukan sesuatu yang dapat mengangkat harga dirinya.

Dunia narkoba menjanjikan itu. Dengan daya tarik wajahnya yang cantik dan postur tubuhnya yang proporsional ia melaju pesat di komunitas pemakai hingga ke pucuk perbisnisan barang haram itu. Sampai ia menjadi perempuan simpanan seorang bos besar yang menjadi pohon uang baginya. Ia mengubah penampilan. Untuk mengelabui petugas, ia rela menjadi tukang pijat panggilan. Dengan profesi itu ia lebih leluasa memasarkan barang-barang haram itu.

Pijatan Tatiek sebenarnya tak enak. Badannya malah sakit dan memar karena tangannya menekan sekuat tenaga kuda. Ia ingin menghentikan pijatan perempuan itu. Tetapi Ong membatalkan. Sebagai sesama tukang pijat tidak boleh saling menyinggung perasaan. Ia membayangkan bagaimana rasanya jika saat memijat tiba-tiba disuruh berhenti dan marah-marah. Meskipun hal tersebut tak akan pernah terjadi. Cara memijatnya berbeda.

Ong menunggu tekanan tangannya melemah. Tatiek sudah berhenti bercerita. Dia sudah lelah. Ong menunggu sampai Tatiek benar-benar menghentikan gerakan tangannya. Di benaknya sudah ada rencana akan memberikan bayaran lebih banyak dari tarif biasa. Setidaknya setelah mendengar cerita Tatiek tadi Ong merasa lega. Ternyata tak hanya dia yang menjadi tukang pijat gadungan. Ia merasa punya teman.

/22 April 2012