Kukang

Boyke Abdillah Bakar
Republika, 12 Feb 2012

SEMENJAK dulu, ayah adalah pribadi pemberang. Kalau marah, ia seperti hantu tanpa kepala. Mendengar suaranya saja membuat ciut nyali kami, belum lagi kalau sudah melepaskan senjata pamungkas, ikat pinggang kulitnya, berubah jadi cemeti. Sudah tertancap dalam benak untuk tidak berbuat apa pun yang membuatnya marah. Aku masih ingat, di depannya, kami menjadi anak-anak manis. Tiga anak perempuan dan dua anak laki-laki seumpama kelinci imut yang penurut. Continue reading “Kukang”

Surat Tanah

Rifan Nazhif
Republika, 26 Feb 2012

DARAHKU mendidih. Tubuhku gemetar. Terasa sekali pandanganku berkunang-kunang. Andaikan aku tengah berdiri, kemungkinan besar tinjuku langsung melayang ke wajah lelaki itu. Kali ini aku memang tengah duduk menunggu azan Maghrib dan sudah mengambil air wudhu. Percuma aku meladeninya sekarang kalau akhirnya wudhuku bakalan batal. Lagi pula, Maghrib-Maghrib tak baik mengumbar amarah. Kuelus dada, mencoba menurunkan tensi darah. Continue reading “Surat Tanah”

Lelaki Tua dan Piano

Ryan Rachman
Suara Merdeka, 26 Feb 2012

DESEMBER yang dingin. Sore yang membosankan. Kuambil sweater yang tergantung di belakang pintu dan kuputuskan untuk keluar dari Manhattan Broadway Hotel. Kulangkahkan kaki menelusuri Broadway. Udara New York sore itu begitu menusuk sungsum tulang. Jalanan sepi. Salju sisa semalam masih menutupi jalan. Aku terus malangkahkan kakiku. Mataku mengembara memperhatikan burung-burung yang terbang berkejaran. Hidungku kembang kempis, memerah menghirup udara yang dingin. Continue reading “Lelaki Tua dan Piano”

Laki-laki Pemanggul Goni

Budi Darma
Kompas, 26 Feb 2012

SETIAP kali akan sembahyang, sebelum sempat menggelar sajadah untuk sembahyang, Karmain selalu ditarik oleh kekuatan luar biasa besar untuk mendekati jendela, membuka sedikit kordennya, dan mengintip ke bawah, ke jalan besar, dari apartemennya di lantai sembilan, untuk menyaksikan laki-laki pemanggul goni menembakkan matanya ke arah matanya. Continue reading “Laki-laki Pemanggul Goni”

Puisi Camp, Feminisme, dan Penghancuran Realitas

Ribut Wijoto

Alam imajinasi adalah alam tanpa batas. Puisi sebagai teks produksi imajinasi merupakan “hutan lambang” (meminjam ungkapan Charles Baudelaire pada puisi “Perimbangan”) sehingga pembaca berhak membentuk peta perambahan dan nama-nama binatang yang disukai. Pada teks puisi, pada hutan lambang tersebut, seseorang bebas memilih jenis kelamin yang diinginkan. Puisi yang cerdas menyediakan segala menu identitas, dan karenanya, cenderung tanpa kepastian identitas. Continue reading “Puisi Camp, Feminisme, dan Penghancuran Realitas”

Bahasa »