Puisi Camp, Feminisme, dan Penghancuran Realitas

Ribut Wijoto
http://terpelanting.wordpress.com/

Alam imajinasi adalah alam tanpa batas. Puisi sebagai teks produksi imajinasi merupakan “hutan lambang” (meminjam ungkapan Charles Baudelaire pada puisi “Perimbangan”) sehingga pembaca berhak membentuk peta perambahan dan nama-nama binatang yang disukai. Pada teks puisi, pada hutan lambang tersebut, seseorang bebas memilih jenis kelamin yang diinginkan. Puisi yang cerdas menyediakan segala menu identitas, dan karenanya, cenderung tanpa kepastian identitas.

Camp, satu dari—setidak-tidaknya—lima idiom bahasa estetik postmodernisme, menandai perlawanan terhadap pemusatan ruang melalui peniadaan batas genre. Strategi teks yang ditawarkan, anehnya, justru mengambil realitas-realitas kecil yang rentan eksistensi. Menurut Susan Sontag, ‘camp’ adalah satu model ‘estetisisme’—satu cara melihat dunia sebagai satu fenomena estetik, namun estetik bukan dalam pengertian keindahan atau keharmonisan, melainkan dalam pengertian ‘keartifisialan’ dan ‘penggayaan’. Jauh berbeda dengan cara pandang estetik modernisme yang bermain dalam realitas absolut (grand narrative). Tetapi mungkin juga, camp sama persis dengan bahasa estetik modernisme apabila tanda-tanda yang diproduksi dipahami sebagai teks simbolis (wakil dari realitas absolut). Esai ini mereduksi pemahaman hanya dalam batasan realitas kecil, dengan harapan sederhana; menghormati “sebuah gagasan melawan absolutisme subyek”.

Puisi-puisi dalam antologi Arsitektur Hujan (karya Afrizal Malna, 1995) sebagai “anak kandung” zaman postmodernisme, tidak terlepas dari pengaruh semangat perlawanan terhadap pusat. Benih-benih camp tumbuh subur dan turut membangun bahasa estetik yang ditawarkan.

Seperti dalam puisi “Liburan Keluarga dan Pipa-Pipa Air” bait pertama berikut: Arsitektur sungai dan sawah, tikus-tikus dan batang-batang pisang menyusun jalan untukmu, warnanya coklat penuh kebimbangan. Tetapi kota tidak diturunkan dari situ, Agus. Jangan bergegas! Kita buat tenda penuh hujan di tengah hutan, sebelum lampu senter mengubah pikiran menjadi kantong-kantong plastik. Sungai ini tidak hanya membawa batu-batu, Agus, tetapi juga softex, bungkusan mie, dan sisa-sisa makan penuh pecahan kulit telur.

Nampak sekali, ilustrasi-ilustrasi yang disajikan adalah realitas-realitas khusus yang dekat dengan kehidupan nyata. Dalam hal ini tidak ada kejadian-kejadian besar—entah itu politik pemerintahan, entah itu keagamaan—yang biasa dimunculkan pada layaknya puisi. Perhatian terhadap realitas kecil (baca: remeh) mengisyaratkan ketidakinginan untuk menjadi pahlawan, sekaligus penolakan terhadap kepahlawanan.

Modernisme Barat (Eropa) yang bermula pada abad-abad Renaisance dan ditandai dengan pelayaran ke benua-benua Amerika Latin, Australia, Afrika, dan Asia melihat diri sebagai masyarakat maju, lebih “bersifat manusia”, dan berkebudayaan. Terhadap masyarakat benua lain, Barat melihatnya sebagai masyarakat terbelakang. Ada keinginan untuk menularkan budaya masyarakat maju. Eropa adalah pusat budaya. Lacur yang terjadi, humanisasi yang dilakukan Barat dirasakan sebagai kolonialisasi oleh masyarakat benua lain. Contoh paling dekat, Indonesia telah menerima proyek humanisasi (baca: penjajahan) selama 350 tahun oleh Belanda. Humanisme, sikap kepahlawanan, pada pihak pendatang adalah kolonialisme bagi pihak penerima. Sikap estetik camp pada puisi “Liburan Keluarga dan Pipa-Pipa Air” dapat diartikan telah membaca resiko kebahayaan dari sikap kepahlawanan, dan karenanya, memilih beroperasi pada realitas-realitas kerdil.

Persinggungan-persinggungan realitas dalam puisi camp mendapat perhatian yang serius. Puisi “Antropologi dari Kaleng-Kaleng Coca-Cola” bait pertama berikut ini dapat dijadikan pijak-bahasan: Holger, di Beerental Weg ini, apatemenmu, aku lihat wayang kulit Jawa, seperti jendela-jendela tertutup itu. Kau sembunyikan juga, Marx dan Budha dalam rak-rak buku. Di manakah manusia kalian temukan, di antara kartu pos, donat, dan serakan tissue. Langit mencium sisa-sisa waktu, pada detak sepatumu, putih melulu, putih melulu.

Realitas (konteks ilustrasi) dalam puisi di atas amat beraneka macam. Dalam satu bait tersebut, aneka realitas kecil dipersinggungkan dengan cepat, tidak ada penjelasan paradigmatis untuk tiap penampakan. Sebuah realitas kecil perlu dijelaskan dengan serangkaian realitas kecil lain. Tetapi, sangatlah riskan mengambil realitas pertama sebagai pusat dari penjelasan, sebab bisa jadi, realitas pertama atau kedua berfungsi menjelaskan realitas ketiga atau yang lain. Pilihan yang lebih bijak, realitas-realitas kecil pada puisi di atas berfungsi untuk saling menjelaskan. Serangkaian realitas yang dimunculkan memutar dan mengulir. Puisi yang menolak alur linier, atau puisi yang menggunakan alur nyaris simultan.

Diksi-diksi pada puisi-puisi yang penulis analisis seakan-akan saling berlewatan, saling bersapa, saling bertubrukan, saling singgung, sekaligus saling meniadakan. Alur puisi demikian jauh berbeda—bertentangan—dengan model puisi epik yang menggunakan alur linier. Pada puisi epik, misalnya puisi-puisi dalam antologi Balada Orang-Orang Tercinta karya Rendra, alur dibangun dengan pola realitas pertama dijelaskan oleh realitas kedua, demikian seterusnya hingga membentuk kisah. Bahkan, seringkali satu puisi berhenti pada satu realitas besar yang mengandung tragedi perilaku. Puisi camp menghindari berhenti pada satu realitas. Menurut Yasraf Amir piliang, camp menjadikan artifisial sebagai ideal. Puisi bukan sosok pahlawan yang hendak menyelamatkan dunia, seperti pada utopia simbolis, tetapi sosok sembarangan yang menghormati perbedaan.

Kepercayaan “bahwa realitas tidak tunggal” menjadi pedoman dalam gerak ilustrasi. Ketika yang disajikan dalam sebuah puisi adalah realitas kerdil, berarti ada pengakuan terhadap keberadaan realitas-realitas. Begitu juga tentang kebenaran, ada kebenaran-kebenaran lain yang berdiri sejajar. Bangsa-bangsa Barat yang berusaha menerapkan konsep humanismenya ke dalam bangsa-bangsa benua lain merupakan satu tindakan yang mempercayai ketunggalan realitas. Demikian juga, perang-perang antar etnis, perang-perang antar agama, serta penguasaan/ pengurasan terhadap kekayaan alam.

Pola camp pada antologi Arsitektur Hujan memberi pula perhatian pada persoalan eksistensi manusia. Hal ini dapat disimak puisi “Masyarakat Rosa” bait kedua berikut: Tetapi Rosa hanyalah penyanyi dangdut, yang menghisap keyakinan baru setelah memiliki kartu nama. Di situ Rosa menjelma, dimiliki setiap orang. Makhluk baru itu kian membesar jadi sejumlah pabrik, hotel, dan lintasan kabel-kabel telpon. Rosa membuat aku menggigil saat mendendangkan sebuah lagu, menghisap siapa pun yang mendengarkannya. Rosa membesar jadi sebuah dunia, seperti Rosa mengecil jadi dirimu.

Pertanyaan kontekstual yang muncul adalah: Siapakah Rosa? Bagaimanakah Rosa membangun keyakinan aktivitasnya?

Pada puisi di atas, tokoh Rosa bermetamorfosis, selalu melihat dan meyakini diri sebagai identitas baru dengan cara meniadakan identitas masa silam. Seperti seorang bayi yang menghancurkan diri untuk meyakini bahwa dirinya telah dewasa. Penghancuran diri, pada kesadaran ego dituntut oleh lingkungan. Apakah sang bayi akan lebih berharga atau berbahagia dalam penghancuran diri, lingkungan yang menentukan, atau lebih tepatnya, kesadaran berlingkungan. Kepemilikan terhadap penetapan dan perubahan diri, menjadi tarik-menarik antara aku dengan lingkungan aku, dan Rosa ikhlas dikalahkan lingkungan. Tetapi, kiranya Rosa tidak sendirian. Di situ Rosa menjelma, dimiliki setiap orang. Gelombang pasang problematika yang dihadapi Rosa, melekat, dan menghantui setiap orang. Menjadi masyarakat yang punya problem homogen, seperti Rosa, menjadi masyarakat Rosa. Puisi berkode bahasa estetik camp adalah yang berhasil memasarkan produksi lokal—problem Rosa—ke dalam universalitas kenyataan.

Puisi “Masyarakat Rosa”, kecuali menghadapi problem penghancuran identitas juga melibatkan problem kapitalis yang lain. Larik puisi makhluk baru itu kian membesar jadi sejumlah pabrik, hotel, dan lintasan kabel-kabel telpon. Rosa, satu individu yang kemudian menjadi wakil dari masyarakat, membesar atau mengubah diri menjadi berciri sama dengan benda-benda. Memang ada persamaan antara manusia dengan benda, yaitu sama-sama punya warna. Tetapi, persoalan identitas dan budaya adalah ciri paling paten dari manusia, sedang binatang pun tidak dapat memilikinya.

Apakah yang dimaksudkan dengan “membesar jadi sejumlah benda-benda’? Rene Descartes merumuskan satu jalur legal menguasai alam, “manusia adalah pusat semesta”. Manusia menciptakan benda-benda dan pabrik pengganda benda-benda. Hal ini melebihi kebutuhan dasar manusia, kebutuhan menyambung nyawa. Karenanya, benda-benda diarahkan untuk membantu kegiatan rutin keseharian. Misalnya memasak, bepergian, kenyamanan tempat tidur, kebersihan halaman, dan periasan wajah. Berkat Rene Descartes manusia dapat menjalani hidup lebih mudah, nyaman, dan manja.

Kiranya, benda-benda mempunyai kebiasaan-kebiasaan tidak terduga. Benda-benda tidak hanya membantu kebutuhan tetapi juga menciptakan kebutuhan. Benda-benda membantu kegiatan keseharian bagi manusia, sekaligus, benda-benda menuntut kegiatan keseharian yang baru bagi manusia. Ketika seorang ibu rumah tangga membeli mesin jahit, kegiatan menyulam yang sangat menjenuhkan dapat diatasi dengan mudah. Sebab, ada mesin jahit. Tetapi sang ibu rumah tangga mesti menjalani beberapa ritual baru; mengganti jarum lama dengan jarum baru, memindahkan beberapa perabot untuk tempat benda baru dan keserasian ruang, menjaga anak lebih cermat agar tidak memutar-mutar roda, dan sang ibu mesti menjaga mesin jahit kesayangannya agar tidak berdebu. Penyesuaian diri, atau lebih kejamnya, pemenuhan tuntutan benda-benda terhadap manusia itulah yang mungkin dimaksudkan dengan “membesar jadi sejumlah benda-benda”. Manusia bermetamorfosis dari mencipta dan menguasai benda-benda, menjadi berbalik, dicipta dan dikuasai benda-benda ciptaannya.

Lebih parah lagi, simbol mesin—pabrik dan lintasan kabel-kabel telpon—mengarah pada kesadaran perilaku manusia. Manusia mengidentifikasikan diri pada cara kerja mesin. Pada akhirnya, mesin diciptakan dengan disiplinan cara kerja yang paten. Apabila seseorang memiliki hutang dan membayarnya tepat waktu yang dijanjikan, ini adalah kesadaran primitif manusia. Tetapi, apabila seseorang mengecat rambutnya dengan warna-warna aluminium dan menyewa manajer untuk menyusun kepadatrumitan jadwal kegiatan sehari-hari; ini adalah terapan “cara kerja mesin pada perilaku manusia”. Rosa membesar menjadi mesin—berperilaku seperti mesin—dan Rosa mengecil jadi dirimu.

Penggunaan cara kerja mesin dalam perilaku manusia, sehingga merasa diri paling getol mengatasi trend zaman, kiranya hanyalah sebuah pengulangan karya sastra. Sebelas butir Manifesto Futuristik—digagas oleh F.T. Marinetti (sastrawan Itali) pada tahun 1909—adalah gejolak keinginan untuk hidup mengandalkan percepatan mesin dan kekuatan berlebih. Salah satu pernyataannya ialah, “Kami bermaksud mengagung-agungkan tindakan agresif, demam begadang, gerak cepat sang pembalap, kemerosostan moral, jotosan dan tamparan”. Periksa Erich Fromm, Akar Kekerasan, Bentang, Yogyakarta, 2000.

Kelanjutan pembacaan puisi “Masyarakat Rosa”, dapat disimak pada kutipan bait terakhir berikut: Hujan kemudian turun bersama Rosa, mengucuri tubuh sendiri. Orang-orang bernama Rosa, menepi saling memperbanyak diri. Mereka bertatapan: … dunia wanita dan lelaki itu, mengenakan kacamata hitam. Mereka mengunyah permen karet, turun dari layar-layar film, dan menyanyi: seperti lagu, yang menyimpan suaramu dalam mikropon pecah itu.

Suatu akhir yang mengenaskan, Masyarakat Rosa hanya mampu meratap, “… dunia wanita dan lelaki sangat kelam, melintir-lintir, jatuh, dan sengak”.

Percik gagasan realitas dari diksi-diksi puisi sangatlah menarik untuk ditelusuri. Paling mudah diawali dengan sebuah pertanyaan. Mengapa perlu memakai “dunia wanita dan lelaki” dan bukannya “dunia manusia” saja? Pemilihan diksi puisi pastilah bukan tanpa sebab, ada latar pertimbangan literer tentunya.

Genre legal manusia, hingga saat ini, adalah wanita dan lelaki (biasanya kata “lelaki” ditulis lebih dulu, sebagai tanda superioritas). Pergulatan kaum feminis menandai adanya kesadaran pada ketimpangan tradisi perlakuan terhadap wanita. Berpusat di Eropa, isu feminisme merebak ke seluruh bumi, termasuk di Indonesia. Di Indonesia isu feminisme menjadi booming pada tahun 1990-an, sangat marak, bahkan lebih mirip dengan keinginan untuk mendirikan negara baru. Sampai-sampai Kris Budiman menengarai tumbuhnya para feminis Tiban, feminis Cangkeman—ungkapan yang lebih patut diberikan kepada Kris pribadi—, orang-orang yang tiba-tiba saja teramat peduli terhadap gerakan feminisme. Periksa Kris Budiman, Feminografi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1999.

Pandangan feminisme selalu melihat wanita ditempatkan pada posisi yang lebih rendah daripada lelaki. Wanita adalah obyek kepuasan seksual lelaki. Wanita hanya dapat menemukan kehadiran melalui metonimi kehadiran lelaki. Puisi “Masyarakat Rosa” menepis jargon-jargon tersebut. Rosa, entah wanita dan entah lelaki, adalah wakil manusia. Rosa bisa menjelma lelaki, atau bisa juga wanita. Yang pasti, dua genre manusia -wanita dan lelaki- dirudung kelam. Sebuah sikap androgini. Sikap yang menjadi ciri karya sastra berbentuk camp.

Karya seni (baca: sastra, puisi) camp, dengan begitu, bukan berarti tidak ingin menyedot perhatian massa. Perlu diingat, camp dicirikan oleh upaya-upaya melakukan sesuatu yang luar biasa, dengan pengertian ingin menjadi berlebihan, spesial, atau glamour. Lebih jelasnya, dapat disimak kutipan puisi “Masyarakat Rosa” bait kelima berikut: Rosa, tontonlah aku. Rosa tidak akan pernah ada tanpa kamera dan fotocopy. Tetapi kemudian Rosa berbicara mengenai kemanusiaan, keadilan dan kemakmuran, seperti menyebut nama-nama jalan dari sebuah kota yang telah melahirkannya. Semua nama-nama jalan itu, kini telah bernama Rosa pula.

Atau, kutipan puisi “Kembang Api di Jembatan Merah” bait kedua berikut: Tetapi ada sejumlah orang merayakan Jembatan Merah, 10 Nopember di Surabaya. Aku hanya ingin melihat penyanyi Neno Warisman, menjeritkan “Merdeka!” di situ, membawa tubuhku hanyut ke sebuah peperangan yang tak kukenal, di antara letusan kembang api, dan lampu warna-warni. Tetapi kantor dan toko- toko menutup diri, menyimpan nasionalisme yang cemas itu. Aku berlari kembali jadi orang ramai, di antara sabun pembersih, dan nasi goreng.

Puisi-puisi dalam antologi Arsitektur Hujan berkeinginan besar—demikian menurut yang penulis tafsirkan—membongkar pusat. Puisi bertujuan untuk meluruhkan narasi-narasi besar, melunturkan angker rezim kekuasaan, lalu diganti dengan tawaran yang penuh ironi dan gelak tawa. Itulah pesona puisi camp!

________Studio Teater Gapus, Surabaya
Dijumput dari: http://terpelanting.wordpress.com/page/11/