Sihir Tongkat

S Prasetyo Utomo
Suara Merdeka, 18 Maret 2012

LELAKI kecil, kurus, menyeret-nyeret tongkat berukir kepala burung. Di pipinya leleh air mata. Ia ingin memusnahkan tongkat itu. Ingin menceburkannya ke sungai. Biar hanyut ke laut. Baru saja Kakek mendera pantatnya dengan tongkat itu. Masih terasa pedih menyengat pada pantatnya. Nyeri. Meremuk tulang ekornya. Continue reading “Sihir Tongkat”

Kitsch, Membongkar Konvensionalitas Estetika Puisi

Ribut Wijoto

Karya sastra puisi dalam genre sastra menempati posisi yang istimewa, dianggap sebagai bentuk sastra yang paling sastra. Bahasa estetik yang ditampilkan paling padat, sublim, dan indah. Sebutan penyair menjadi amat populer bila dibanding cerpenis, novelis, atau dramawan. Apakah kondisi ini masih aktual? Untuk menjawab problem, gejala kitsch pada puisi Indonesia patut diketengahkan. Continue reading “Kitsch, Membongkar Konvensionalitas Estetika Puisi”

Yeats

Hasif Amini
Kompas, 19 Feb 2006

Mitologi adalah satu sumber ilham terbesar puisi, dan puisi modern bukanlah perkecualian. Memang, tak sedikit penyair modern yang menganggap masa silam sebagai semacam kungkung dan karena itu berusaha lepas darinya. Tetapi tak kurang pula jumlah mereka yang mencoba menggali peninggalan lama dan menampilkannya kembali dalam wujud baru. William Butler Yeats (1865-1939) adalah salah satu tokoh utamanya. Continue reading “Yeats”

PENGAJARAN SASTRA DAN POLITIK KEBUDAYAAN

Aprinus Salam [1]

Abstrak

Buku-buku pengajaran (pelajaran) sastra (SMP dan SMA) menghadapi masalah serius, yakni ketika kurikulumnya tidak memiliki paradigma dan basis politik kebudayaan yang cukup jelas. Materinya bahkan terlihat sangat subjektif berdasarkan selera pengarang dan masih berkutat pada persoalan teknis yang menyebabkan sastra seolah berupa hapalan struktural dan kognitif. Hal itu menyebabkan asumsi lama bahwa sastra merupakan persoalan “seni estetis” yang tidak berhubungan dengan realitas kehidupan masih cukup dominan. Continue reading “PENGAJARAN SASTRA DAN POLITIK KEBUDAYAAN”

Parfum

Sunlie Thomas Alexander
Koran Tempo, 18 Maret 2012

RASANYA ia berharap waktu membeku di dalam tenda kecil yang sedikit gerah itu. Sekali saja, agar ia bisa menikmati aroma parfum itu sepuas-puasnya.

Tidak. Kamu sama sekali bukanlah orang yang suka memakai parfum. Kecuali sesekali. Itu pun cuma parfum murahan yang kamu semprotkan sekenanya pada selembar kaos atau kemeja yang sudah tergantung berhari-hari di balik pintu kamar. Continue reading “Parfum”

Bahasa »