Novel telah Mendoktorkan Aprinus Salam

Kuss Indarto

SEPULUH buah novel telah mengantarkan Aprinus Salam meraih gelar doktor. Ya, ada novel-novel karya sastrawan asal Jatilawang, Banyumas, Ahmad Tohari yang jadi bahan rujukan utama, yakni Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, Jantera Bianglala, Trilogi Dukuh Paruk, dan Bekisar Merah. Lalu dua novel sejarawan Kuntowijoyo: Pasar dan Mantra Pejinak Ular, Canting-nya Arswendo Atmowiloto, dan novel karya Umar Kayam: Para Priyayi, dan Jalan Menikung (Para Priyayi 2). Continue reading “Novel telah Mendoktorkan Aprinus Salam”

Haruskah “Menunggu Godot”

Sebuah Catatan tentang Geliat Teater Riau
Fedli Azis

Home

Ada pernyataan menarik di kalangan pelaku seni pertunjukan, “semakin miskin senimannya semakin kreatif-lah ia”. Pernyataan ini cukup populer, terutama bagi pelaku seni teater akibat sulitnya mendapatkan sponsor, baik pemerintah maupun pihak swasta. Bahkan seniman teater Riau, sambil bersoloroh mengatakan, ”bagi seniman, mengharapkan sponsor sama dengan Menunggu Godot”. Continue reading “Haruskah “Menunggu Godot””

Penggali Pasir

Mashdar Zainal
Jawa Pos, 11 Maret 2012

DARI atas tanggul, ia memandang lepas deras arus bengawan yang kelam dan bergelombang bagai rambut ibunya. Matanya memicing, memperhatikan luapan air yang perlahan surut. Seperti biasanya, bila luapan air mulai surut, tepian bengawan itu akan dipenuhi kerikil dan endapan-endapan pasir basah, yang bila mengering akan tampak menggunduk seperti bukit-bukit kecil di padang gurun. Continue reading “Penggali Pasir”

Bahasa »