Jannus T.H. Siahaan
http://www.lampungpost.com/

SETELAH K.H. Abdurrahman Wahid menjadi presiden, agama yang hak-hak sipil penganutnya diakui negara, bertambah dengan bergabungnya Konghucu.

Ia melengkapi agama yang sudah lebih awal diakui, seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Tetapi sebenarnya masih terdapat begitu banyak agama “lokal”, yang jumlah penganutnya berkisar di angka ratusan. Sebut misalnya Tolotang, Kaharingan, Waktu Telu, dan lainnya.

Inilah jalan-jalan yang jamak ditempuh umat manusia untuk mencapai tujuan hidup. Dalam kenyataan, sebagian penempuh pada setiap jalan agama memiliki pendekatan yang berbeda. Bahkan perbedaan pendekatan itu terjadi di internal masing-masing agama. Untuk memudahkan kategorisasi, menjadi keniscayaan jika lantas muncul ikhtiar mendekati agama dengan beragam alternatif seperti pendekatan in the wall, at the wall, dan beyond the wall dalam pendidikan keagamaan.

Masalah Metodologi

Sudah barang pasti ini hanya masalah metodologi. Dan masih banyak lagi beragam metodologi lain yang tersaji di hadapan kita. Tujuannya nyaris sama; menawarkan alternatif mencapai tujuan akhir. Hanya saja kini muncul pertanyaan kenapa begitu banyak alternatif dari begitu banyak agama? Sejatinya, munculnya perbedaan pendekatan sangat memperkaya khasanah kehidupan keberagamaan di negeri ini. Perbedaan menjadi persoalan karena sering berbeda dikategorikan melanggar dan karenanya divonis keluar dari konsensus.

Tapi konsensus siapa? Tak ada yang benar-benar dianggap sebagai konsensus bersama kalau barkait masalah-masalah “cabang” yang partikular harfiah dan bukan perkara-perkara “pokok” yang non-eklektik menyeluruh. Terlebih, perbedaan pendekatan berakibat pada munculnya perbedaan keyakinan sehingga hal-hal yang cabang justru menjadi alat perpecahan antarummat beragama dan ironisnya juga di internal umat dalam satu agama. Dalam konteks itulah nama Tuhan dibawa-bawa sebagai alasan dan setiap komunitas penempuh jalan agama merasa paling otoritatif mengatasnamakan Tuhan.

Ini semua berawal dari terjadinya perbedaan penafsiran atas teks suatu norma keagamaan. Tetapi harus diakui, semua terjadi akibat, terutama, masih begitu banyak di antara kita yang menempatkan Tuhan di garis finis. Seakan-akan Tuhan tengah berdiri di seberang sana, lalu semua peserta masing-masing agama berembuk menentukan jalan paling aman dan paling cepat sampai ke garis finis. Begitulah situasi yang terjadi di garis star. Padahal perjalanan masih panjang dan diyakini situasi sepanjang perjalanan menuju Tuhan akan banyak yang berada di luar prediksi.

Sebanyak apa? Sebanyak jumlah kepala para pemeluk dan penempuh masing-masing agama. Persoalan semakin rumit karena dalam situasi semacam itu, masih muncul keinginan sekelompok orang yang memaksakan penyatuan pandangan, pendapat, pendekatan, metodologi dan keyakinan. Kalau semata menegaskan identitas diri, tentu tidaklah mengapa. Tetapi memaksakan orang lain mengenakan identitas yang bukan identitas senyatanya dan sejatinya, akan menjadi masalah.

Sangat boleh jadi, di tengah perjalanan akan terjadi gesekan. Dan dalam konteks besar, kerap jalan agama menjadi altar pembantaian. Terhadap siapa? Bukan semata terjadi antara penempuh sebuah jalan agama terhadap yang agama yang berbeda, tetapi tidak jarang justru terjadi antarpenganut satu mazhab dengan mahzab lain, antarpemeluk satu sekte dengan anggota sekte lain dalam sebuah agama.

Situasi ini sangat mungkin terjadi jika masing-masing penempuh jalan memaksakan keyakinannya kepada orang lain. Di sinilah bisa kita temukan kelompok yang eksklusif sehingga memandang agama lain tak lebih hanya buatan manusia, kitab sucinya dianggap tidak asli karena mengalami berbagai penyimpangan sehingga karenanya dianggap bukan wahyu Tuhan yang harus diikuti.

Perjalanan Kebajikan

Keyakinan eksklusif sejatinya pernah dialami semua agama tanpa kecuali. Tetapi, itu masa lalu dan telah menjadi sejarah perkembangan agama-agama dan para penganutnya. Itulah saat-saat di mana perjalanan menuju Tuhan dipersepsi sebagai kompetisi besar sehingga pesertanya harus menghalalkan segala cara untuk mendapatkan “bonus” dan “hadiah” begitu tiba paling awal di garis finis. Perjalanan menuju Tuhan tidak mungkin ditempuh dengan mengabaikan fairness dan prinsip ketulusan. Inilah perjalanan kebajikan menuju sumber segala kebajikan.

Tuhan tidak tengah menunggu siapa yang paling cepat sampai, karena Dia akan setia terus menunggu, hingga mereka yang datang paling akhir sekali pun. Kenapa? Karena Tuhan tidak berada di garis finis. Tuhan meliputi kita semua, menyertai sejak garis star hingga ke garis finis. Tuhan akan terus memegang tanggung jawab atas kehidupan saat ini hingga ke kehidupan yang dijanjikan kelak. Keberagamaan sejati bukanlah berkompetisi untuk hadiah-hadiah. Tetapi, inilah kafilah besar para pecinta menuju yang Dicinta; Tuhan Yang Mahaesa dan Mahapengasih kepada semua.

*) Peminat masalah sosial keagamaan tinggal di Bogor
/11 April 2012

Categories: Esai