Belajar Menulis Sejak Dini

Hilmi Hasballah *
http://blog.harian-aceh.com/

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keterampilan menulis itu sangat penting dalam meniti aktivitas keseharian. Banyak guru dan dosen yang mengeluh terkendala kenaikan pangkat hanya gara-gara tidak mampu menulis.

Usai mengikuti sebuah diskusi dengan tema Jurnalistik dan Dunia Tulis Menulis dengan sejumlah siswa SMA di Banda Aceh belum lama ini, beberapa siswa menyatakan keinginannya untuk serius menekuni profesi menulis (mengarang).

Soalnya, menurut mereka, jadi pengarang itu enak dan menyenangkan. Banyak penggemar (fans), bahagia ketika tulisannya dimuat di koran atau majalah, dan akhirnya mendapat sekadar uang lelah (honor) dari redaksi yang dapat digunakan untuk menggemukkan tabungan atau mengajak teman sekelas untuk makan bakso bersama di kantin sekolah. Wah, menyenangkan sekali!

Sekarang sudah semakin banyak generasi muda, termasuk di Banda Aceh dan kabupaten/kota lainnya di Aceh yang menyukai kegiatan tulis menulis. Apa saja mereka tulis, ya puisi, cerita pendek, artikel agama, maupun kisah hidup tokoh-tokoh terkenal.

Motivasi para siswa itu pun semakin bertambah, mengingat telah hadirnya berbagai rubrik yang disediakan pengelola surat kabar maupun majalah yang terbit di Aceh. Dengan demikian, aspirasi yang disuarakan generasi muda dapat dikirimkan untuk dimuat di media massa.

Selain itu, kehadiran majalah dinding (mading) serta majalah sekolah yang diterbitkan pengurus OSIS bekerjasama dengan pihak sekolah akan semakin menambah wadah pembelajaran bagi para peminat di bidang tulis-menulis. Begitu pula di jenjang perguruan tinggi. Kini, sudah ada sejumlah media kampus yang terbit sekaligus sebagai wadah menampung karya yang dihasilkan para mahasiswa Aceh.

Pengalaman saya saat dipercayakan menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Gema Madrasah MAN I Banda Aceh (1991-1992), setiap penerbitan media tiga bulanan tersebut sangat banyak menerima kiriman naskah puisi, cerpen, bahkan opini dari para siswa. Di jajaran redaksi, kami sepakat untuk memberikan apresiasi atas animo dari para pengirim naskah. Walaupun tulisan hasil karya siswa itu di sana-sini belum sempurna betul, tetapi dari segi kemauan untuk mengasah potensi diri di bidang tulis-menulis patut diberikan acungan jempol.

Hanya saja, agar ke depan menjadi penulis handal, mereka hendaklah terus belajar dan belajar, serta jangan bosan-bosannya membaca karya penulis-penulis ternama, baik di Aceh maupun tingkat nasional. Melalui proses belajar sejak dini inilah, akan menjadi modal demi suksesnya meniti karier di bidang tulis-menulis. Saya mencatat, untuk konteks Aceh saja, ada beberapa nama penulis yang telah mengasah diri sejak jenjang SMP maupun SMA, kemudian terjun lebih aktif dan selanjutnya menjadi wartawan.

Kata banyak orang, memang, menulis itu gampang-gampang susah. Gampang bagi orang yang sudah terbiasa. Tetapi, terasa sangat sulit untuk kalangan yang baru mencoba berlatih untuk menulis. Bayangkan saja, betapa banyak ide yang terkadang muncul di benak kita. Namun, karena belum terbiasa menulis, terkadang sungguh sulit untuk memulai sebuah tulisan yang baik. Karena itu, kepada para penulis pemula, sering disarankan membaca buku-buku tentang jurnalistik maupun buku mengenai panduan menulis untuk pemula yang kini banyak dijual di toko buku.

Bila Anda tak memiliki banyak uang untuk membeli buku tersebut, boleh pula sering-sering mengunjungi pustaka ataupun membacanya di internet. Hal demikian tentunya sangat bermanfaat untuk membimbing siapa saja yang berminat dan berbakat untuk aktif menjadi calon penulis handal.

Belajar dan belajar. Ya, itulah kata kunci untuk menjadi seorang penulis yang baik. Mencoba berlatih secara kontinyu akan membuat para penulis pemula bakal terus terampil dalam menuangkan ide dan imajinasinya di atas kertas. Selain itu, jangan cepat berputus asa dan menyerah bila karya yang dikirimkan ke redaksi suratkabar maupun majalah, tidak dimuat. Siapa tahu, mungkin karya tersebut masih banyak kelemahan sehingga mengharuskan si penulis belajar dan belajar lagi untuk memperbaiki kelemahan yang ada.

Biasanya para redaktur yang bekerja di media massa akan bersedia pula membimbing para penulis pemula agar ketidaksempurnaan yang ada itu dapat diperbaiki. Jika saja komunikasi timbal-balik antara penulis pemula dengan para redaktur media massa terjalin lancar, maka proses pembimbingan terhadap generasi muda peminat tulis-menulis bakal lebih membawa hasil yang membanggakan.

Cepat menyerah ketika karya kita ditolak redaksi merupakan kegagalan awal yang semestinya tidak terjadi pada penulis pemula. Sebaliknya, saat tulisan gagal terpublikasi ke publik karena dinilai masih ada kelemahan oleh redaksi, maka pada kesempatan lain hendaknya penulis pemula dapat terus berkarya lagi. Coba dan mencoba terus dengan tetap melakukan perbaikan bila memang dirasakan ada yang kurang sempurna terhadap tulisan terdahulu.

Menulis adalah kemampuan mengasah potensi yang ada. Tidak semua penulis muncul karena faktor keturunan, karena misalnya orangtua atau kerabat dekatnya juga seorang penulis lepas ataupun wartawan. Namun, banyak juga di antara penulis yang muncul secara otodidak. Belajar sendiri secara serius.

Bakat yang ada dalam dirinya itu terus dibina, sehingga kelak mampu menghasilkan karya-karya yang bermutu. Dan betapa hatinya senang, ketika karya kita dimuat di koran maupun majalah. Tak jarang, sms, telepon, maupun ungkapan yang bernada pujian datang dari teman-teman sekelas, guru di sekolah, tetangga, maupun orangtua. Hal tersebut tentu saja akan lebih memotivasi para penulis pemula untuk terus berkarya dan berkarya.

Memiliki keterampilan menulis juga merupakan rahmat dari Allah SWT. Sebab, tidak semua orang di dunia ini yang mampu menulis secara baik. Terkadang ada di antara kita yang terkenal pintar berorator (pidato) saja, namun saat hendak menuangkannya dalam bentuk tulisan, ia tidak mampu. Syukur-syukur jika kita mampu kedua-duanya (orator dan menulis). Nilai plus ini akan menjadi bekal berharga bagi pengembangan karier dan masa depan orang tersebut.

Sering kita dengar saat ini tentang keluhan para guru yang terkendala kenaikan pangkatnya karena ketidakmampuan membuat karya tulis ilmiah. Tidak jarang, kemudian ada di antara kalangan cekgu yang terpaksa mengeluarkan rupiah yang lumayan banyak untuk meminta bantuan orang lain membuat karya tulis ilmiah itu. Jadi, sangat berbahagia siapa saja yang mahir tulis-menulis, sehingga tidak selalu bergantung pada orang lain seperti pada contoh yang dialami banyak kalangan pendidik di negeri ini.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keterampilan menulis itu sangat penting dalam meniti aktivitas keseharian. Untuk menjadi penulis yang handal, perlu keseriusan dalam berlatih dan mengasah potensi diri. Kehadiran berbagai suratkabar maupun majalah di Aceh sekarang merupakan peluang yang bagus bagi penulis pemula untuk mengirimkan karya-karya terbaik mereka.

Kepada siapa pun yang berminat mengembangkan bakat di bidang tulis-menulis, berkarya terus untuk kemajuan Aceh tercinta ini. Semoga saja, karya-karya yang kita hasilkan akan memberikan kontribusi dan bermanfaat bagi kepentingan orang banyak. Sebab, melalui jalur inilah, kita juga bisa berdakwah, sebagaimana anjuran Allah SWT dan Rasul-Nya. Teruslah menulis![]

*) Hilmi Hasballah, mantan Pemimpin Redaksi Majalah Gema Madrasah MAN I Banda Aceh (1991-1992), kini CPNS di Pemkab Abdya /6 September 2009