Berkarya atau Mati! Perihal Semangat

Zalfeni Wimra
padangekspres.co.id

Mengukur semangat berkarya, Syahrazad, tokoh yang dikabarkan pencipta Kisah Seribu Satu Malam yang terkenal itu, sering saya jadikan sosok pembanding.

Mengenang kisahnya, adalah juga membayangkan seperti apa luka hati seorang Sultan Syahriar yang mendapati istrinya berselingkuh dengan laki-laki lain. Hati dan harga dirinya sebagai laki-laki sekaligus seorang raja luluh-lantak; remuk-redam. Hukuman pancung pun dijatuhkan kepada isterinya. Kematian, menurutnya, layak didapatkan perempuan itu sebagai akibat pengkhianatannya. Bahkan, pengkhianatan, sebagaimana juga diyakini Sultan Syahriar, lebih kejam dari pembunuhan.

Sejak peristiwa menyakitkan itu, Sultan Syahriar berganti-ganti mengawini perempuan. Sehabis menikmati malam pertama, ia memerintahkan algojo istana memancung perempuan yang telah dinikahinya itu menjelang siang terang-benderang. Sudah tidak terhitung berapa perempuan yang dikawini Sultan selama semalam dan dibunuh keesokan harinya.

Syahrazad, putri seorang Menteri prihatin melihat ketakutan rakyat terhadap kelakuan Sultan. Ia mengajukan diri untuk menjadi isteri berikutnya bagi Sultan yang ganas karena kecewa terhadap perempuan. Semula, ayah Syahrazad menolak keinginan putrinya yang nekad itu. Namun, karena Syahrazad pandai memberikan penjelasan pada sang ayah, ia pun akhirnya diizinkan menjadi pengantin raja dengan risiko kehilangan nyawa.

Setelah malam pertama Sultan dengan Syahrazad berlalu, apa yang terjadi? Syahrazad mengisahkan sebuah cerita kepada Sultan. Cerita pengantar tidur menjelang fajar menyingsing. Sebab bila fajar menyingsing, Syahrazad, akan dipancung. Tetapi, sebelum fajar menyingsing, Syahrazad menghentikan ceritanya yang belum selesai dan ia berjanji akan melanjutkan sambungan cerita itu di malam berikutnya.

Demikianlah, malam demi malam dilalui Syahrazad dengan mendongengkan cerita bersambung untuk Sultan. Karena penasaran pada kelanjutan cerita Syahrazad, Sultan menunda hukuman pancung baginya. Kisah ini berlangsung, konon, sampai seribu satu malam. Kisah-kisah itu kemudian hari menjadi khazanah sastra klasik di Persia yang paling popular di dunia: Kisah Seribu Satu Malam.

Cerita yang disajikan selama seribu satu malam itu adalah hiburan bagi sang Sultan. Akan tetapi, bagi seorang Syahrazad, si pengarang cerita, adalah pertarungan. Sekali saja Syahrazad kehilangan cerita yang menarik, maka akan hilang pula kepalanya. Setiap cerita adalah upaya memperpanjang nyawa baginya. Mencipta; berkarya bagi Syahrazad adalah masalah hidup atau mati.

Timbul Tanya bagi saya: apakah para pekarya kita hari ini, di sini, selera berkarya mereka seperti Syahrazad? Adakah spirit bercerita Syahrazad mewarnai semangat mencipta karya sastra kita di Sumatra Barat? Jawaban sementaranya, dengan malas, mari kita ucapkan serentak: Entahlah!

Perihal Kecenderungan Tema dan Ragam Eksplorasi

Sahabat saya, seorang penyair, yang tidak mau disebut namanya, ketika akan menulis puisi tentang betapa perihnya luka menyayat jantungnya, barangkali juga seperti yang dialami Sultan Syahriar, ia terlebih dahulu menyayat tangannya dengan silet. Seiring darah mengalir di tangannya, ia pun mulai menulis bait-bait puisi. Ia barangkali menganut keyakinan, daripada menyakiti orang lain, misalnya dengan menjiplak puisi orang lain, masih lebih baik menyakiti diri sendiri. Mencari puisi di urat nadi sendiri.

Sahabat saya ini sebenarnya tengah mengingatkan saya tentang kekuatan makna yang diperas dari sebuah peristiwa puisi. Ada perih yang secara empiris harus dialami sebelum maknanya dapat dipetik atau disuling jadi puisi. Dari luka ke estetika. Dari frustasi ke kontemplasi. Dari perih ke puisi. Dan seterusnya. Dan seterusnya.

Akan tetapi, saya tidak akan melebarkan pembicaraan ke perihal bahagimana memproduksi estetika puisi dari peristiwa kemanusiaan yang sarat makna itu. Saya hanya ingin mendalami satu kata saja yang sangat sering muncul dalam puisi-puisi kita, yakni “luka”. Semesta “luka” adalah “alam takambang”-nya puisi.

Sebentar, puisi yang saya maksud bukan hanya puisi-puisi yang sudah dilabeli dengan sebutan angkatan bagi penyairnya; angkatan 45 hingga angkatan 2000. Bukan pula puisi-puisi yang telah terkumpul di buku-buku atau koran-koran. Puisi yang saya maksud adalah setiap kata yang telah diasah mata maknanya. Sekalipun ia hanya muncul dalam percakapan sehari-hari; berkelindan dalam rak-rak pustaka; dalam pepatah-petitih seorang datuk; melintas di halaman website; di lirik lagu pop daerah; di kardus barang impor; pada dinding bus kota; berkumandang melalui pengeras suara masjid-masjid; atau dari mulut seorang bintang iklan layanan di televisi.

Pengertian semacam ini saya niatkan untuk memperkukuh bahwa di sini, di lingkaran budaya Minangkabau, puisi adalah pusaka. Sungguh, jangan heran, puisi bertebaran di mana-mana. Puisi berjumpalitan dari mata ke mata kita. Puisi diciptakan setiap saat. Tidak ditentukan secara khusus siapa penciptanya. Siapa pun boleh dan bebas mencipta makna. Pun tidak ditentukan temanya. Apa pun temanya, halal untuk diolah dan dikonsumsi.

Tidak terkecuali terhadap luka. Kebudayaan kita, dilihat dari satu aspek kata yang sering muncul dalam bahasa lisan ataupun tulisan, rupanya, sangat akrab dengan luka; dengan pedih; dengan sakit; dengan iba; dengan ratap; dengan galau. Lidah kita fasih mengucapkannya. Simaklah dendang dan lagu-lagu kita: ratok padi ampo; galau ati nan luko; rinai pambasuah luko; padiah diseso janji; dll. Jangankan terhadap keindahan, terhadap pemberontakan, dengan luka pun kita mesra. Asal jangan dipelesetkan, bahwa kreator kata-kata adalah para pedagang luka yang mengincar luka hati masyarakatnya lalu menjualnya ke pasar setelah didaur ulang atau dieksplorasi ke bentuk puisi/prosa.

Perihal Kesadaran Pasar

Setelah punya semangat dan menemukan ragam eksplorasi berkarya, apa lagi? Ini agak sensitif. Karya diciptakan untuk apa? Kalau tidak untuk “dijual”, tolong tunjuki saya jawaban lain dari pertanyan ini.

Kita sekarang di zaman mesin. Mesin yang tidak pernah dihidupkan akan berkarat dan rusak. Mesin tidak akan hidup kalau tidak ada bahan bakar. Bahan bakar adalah komoditas yang diperjual-belikan. Kira-kira demikian analoginya. Bersitungkin di depan mesin ketik bagi penulis, di depan kanvas bagi pelukis, menenteng kamera bagi fotografer, di atas panggung bagi koreogrfer dan teaterawan, memakan bahan bakar yang tidak sedikit. Biaya mencetak buku 500 eksamplar halaman 200-an bagi penulis paling murah berkisar antara 4-5 juta.

Mestikah urusan ini adalah semata tanggung jawab sarjana ekonomi atau para pebisnis kita semata? Secara profesional, ini mungkin terjadi. Akan tetapi, berguru pada yang sudah, memetik tuah pada yang menang, pasar itu sebuah kesadaran, sebuah iklim yang dibangun. Kita semua bisa menganalisa, seperti apa kira-kira nasib karya seni/sastra kita jika pasarnya belum terbentuk secara baik? Tolong sebutkan kurator yang gigih mengurasi karya lukis dan fotografi kita? Kalangan mana yang bermurah hati menjadi penyandang dana sebuah pertunjukan teater, tari atau produksi film? Mana penerbit yang memperjuangkan penerbitan buku-buku sastra kita? Intinya kita belum punya kesadaran pasar yang baik. Kita hanya punya kesadaran politik yang baik. Sekalipun itu pun berada jauh di luar diri seorang kreator.

Atau begini saja, karena di ranah sendiri kita sering merasa menjadi tamu dan ketika melakukan gerakan perubahan masih tersekat oleh hal-hal yang tidak perlu, marilah merantau, menjarakkan badan dari kampung halaman. Corak migrasi klasik ini sepertinya masih banyak dipilih. Ketimbang merasa jadi tamu di negeri sendiri lalu pada akhirnya mati sebelum berkarya, kita tuntaskan cita-cita di rantau orang seperti telah dicontohkan nenek-moyang kita dari zaman ke zaman. Namun, ini pilihan, diasumsikan menjadi pilihan kreator yang kalah.

Ada lantunan nada pesimis di dalamnya. Yang paling dirindukan oleh masyarakat budaya kita hari ini sesungguhhyna adalah: tagak kampuang, paga kampuang. Merantau fisik sebagai satu-satunya pilihan sudah perlu ditinggalkan. Merantau kini, merantaukan jiwa. Badan harus bertahan di kampung halaman. Dulu (zaman kolonial) ada semboyan dalam memperjuangkan kemerdekaan di kampung halaman: merdeka atau mati. Kini (pasca/postkolonial) kita ganti: berkarya atau mati!

* Disampaikan pada Padang Literary Biennale, 28 April 2012 di Kandang Pedati Pauh IX Padang. Acara ini didedikasikan untuk memperingati Hari Chairil Anwar