Dengan Musik, Puisi Menjadi Kokoh!

Sihar Ramses Simatupang
Sinar Harapan, 5 Mei 2012

“Jika puisi dimusikalisasikan maka puisi itu akan semakin kokoh di mata penikmatnya. Puisi menjadi gagah, terutama bila si pemusik tak mengunyah betul kata-kata itu,” papar Ane Matahari mengulang ungkapan mendiang Fredie D Arsie.

UNGKAPAN putra pertama mendiang yang juga pentolan kelompok musik Deavies Sanggar Matahari itu dilontarkan dalam diskusi yang digelar di Teater Kecil, di acara bertajuk “Parade Puisi Memoriam Papa”, Minggu (29/4). Diskusi ini merupakan kelanjutan dari kegiatan kongres yang digelar di Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Rawamangun (27-28/4).

Selain Ane, budayawan Ahmadun Yosie Herfanda mengatakan bahwa keberadaan musikalisasi puisi dapat dilihat sebagai gerakan untuk memasyarakatkan puisi secara musikal. Untuk itu, pemerintah dan lembaga lainnya diharapkan dapat menerima musikalisasi puisi ini sebagai bagian dari penyajian seni.

“Mungkin kita usulkan kepada pemerintah agar musikalisasi puisi dimasukkan dalam materi cabang lomba, juga disertakan dalam festival dan lomba seni nasional. Gerakan musikalisasi puisi terasa masih kurang hingga saat ini,” kata Ahmadun yang dalam diskusi didampingi juga Arie F Batubara.

Berbeda dengan kritikus sastra khususnya kritikus puisi, yang terkadang tunduk pada penyair sebagai si kreator puisi dan terkadang tidak, menurut penyair Jamal D Rahman, seorang musikus justru sebaiknya tak tunduk pada penyairnya. Lebih jauh lagi, Jamal mengungkapkan bahwa si musikus harus tunduk hanya pada puisi yang dia bawakan dan bukan pada penyairnya.

Seusai diskusi, acara juga sempat dilanjutkan dengan Parade Musikalisasi dan Pembacaan Puisi itu, dihadirkan juga Sutardji Calzoum Bachri, Fikar W Eda, dan Kompi dari berbagai wilayah di Indonesia.

Kompi (Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia) yang telah menunjuk Fikar sebagai Ketua Umum itu, telah menggelar kongres sehari sebelumnya (28/4), sehingga sebagian besar Kompi dapat mengisi acara di Teater Kecil baik lewat pertunjukan atau ucapan untuk mendiang Freddie yang kerap mereka sapa “Papa” atau “Opung” itu.

Kami Mengenangmu!

Nama lelaki pencinta musikalisasi puisi dan kerap bertandang ke tiap wilayah di Indonesia memasyarakatkan musikalisasi puisi itu adalah Fredie D Arsie yang bernama lengkap Amirsyah Siregar bin Amir Hassan Siregar. Lelaki kelahiran 10 Juli 1944 di Binjai Sumatera Utara dan wafat 16 Oktober 2011 di Perum Citra Indah Jonggol, Jawa Barat itu banyak meninggalkan kesan di antara para anggota Kompi dan seluruh pencinta puisi terutama pencinta musik di Nusantara.

Selain itu, di momen tersebut juga sempat diluncurkan buku berjudul Mengenang Bapak Musikalisasi Puisi H Fredie Arsi yang diterbitkan oleh Kompi. Di antara para penulis di buku ini, ada nama teaterawan Harris Priadie Bah, yang katanya, “Bang Fredie, kami mengingatmu sesampai kini, tenang, tenang, tenanglah di rumah abadimu. Lewat musik-musik bersyairkan puisi yang kami dengar, kami mengenangmu.”

Begitu pun ketika penyair Irman Syah mengungkapkan pandangannya di buku itu. Dia mengulik “hubungan yang kental” antara puisi dan musik: “Begitulah proses serta urutan pencapaian komunikasi karya sastra dalam bentuk puisi dengan dinamikanya. Melalui musikalisasi puisi, sosialisasi karya jadi terbantu dan puisi kian melebar penikmatnya. Usaha semacam ini bukanlah sesuatu yang mudah, tapi bukan pula berarti sesuatu yang tak mungkin dilakukan.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2012/05/dengan-musik-puisi-menjadi-kokoh.html