Khidmat

Budi Saputra
http://www.lampungpost.com/

MEREKALAH yang tunduk kepada para pendakwah yang berhati baik. Yang ijtihad, bersungguh-sungguh dalam memerangi hawa nafsu yang membelit. Tiap hembusan napas, setan dan bala tentaranya memukul tabuh genderang perang kepada lawan abadinya sejak berada di tempat yang sangat-sangat jauh sebelum masehi. Sebelum adanya Habil dan Qabil, para nabi, kaum Tsamud, kaum Luth, bangsa Romawi dan Persia, bahkan para hobbit Flores yang dikemukakan oleh para ilmuwan. Dan merekalah, yang begitu tunduk pada makhluk yang sempurna dan utama yang diciptakan dari air mani yang busuk, dan berkesudahan kembali menjadi yang berbau busuk: bangkai dalam kubur.

Merekalah, yang dimaksud oleh Syekh Hasan pada para muridnya, adalah makhluk-makhluk yang senantiasa berzikir pada Tuhannya. Seperti halnya sayap burung yang mengepak di udara tanpa ada penghalang, sayap itu juga senantiasa berzikir mulai dari kobar matahari timur hingga terbenam di ufuk barat. Begitu jernih, begitu tampak nyala kesungguh-sungguhan dari Syekh Hasan saat menyampaikan ceramah pencerah pada para muridnya. Dengan sorban putih, gamis putih, dan janggut putih, Syekh Hasan tampak berwibawa dan rendah hati. Hidup dengan kesederhanaan bercermin pada orang-orang terdahulu. Orang-orang suci yang senantiasa menghidupkan malam dengan penuh khusyuk pada Tuhannya.

Ilmu yang dikuasai Syekh Hasan adalah imu-ilmu yang baik. Baik sanad dan baik tujuannya. Syekh Hasan banyak menguasai kitab-kitab hadist dan kitab kuning. Pun butir-butir hikmah yang berisikan kisah-kisah pendakwah, begitu jernih, begitu tampak nyala kesungguh-sungguhan pada mata Syekh Hasan.

Butir-butir hikmah itu, memang, selalu ada rasa takjub tercipta. Antara percaya dan tak percaya. Bahwa dalam kisah-kisah tak sembarangan itu, memang ada keistimewaan di dalamnya. Apakah pada jin, iblis, ataupun pada hewan-hewan masuk surga? Ya, sungguh tak bisa mengatakan bahwa tak ada sangkut pautnya dengan mereka. Merekalah, atau pada mereka yang lain yang tak punya akal dan nafsu seperti manusia. Hanya sebagai makhluk Tuhan yang berkhidmat kepada manusia dan kepada para pendakwah yang berhati baik. Semacam karomah. Ya, karomah yang memang tak sembarangan orang yang mendapatkannya. Hanya orang-orang tertentu sebagai wali. Orang-orang yang bersih wajahnya, baik amalannya, dan selalu menjunjung surga dan neraka di kepalanya.

***

SUATU pagi di Amazon, dua orang pendakwah tampak mandi dan mencuci di sungai yang banyak ditumbuhi ikan-ikan pemakan daging. Mereka itu adalah pendakwah dari negeri jauh yang datang melihat para saudara mereka. Membawa bekal secukupnya, melihat dunia dengan sangat hati-hati. Sangat hati-hati dan tak panjang angan-angan. Sementara di jidatnya, tanda pengabdian itu, sangat jelas terlihat.

“Hah, kenapa mereka tak dimakan oleh ikan?” Dalam bahasa mereka, orang suku setempat seketika terheran melihat pendakwah yang mandi dan mencuci di sungai tulang itu. Sungai yang apabila ada burung yang jatuh dari pepohonan atau bangkai mamalia yang hanyut, maka seketika akan menjadi tulang. Daging-dagingnya ludes seketika di makan oleh piranha, hewan karnivora yang ganas di perairan Amazon.

Sungguh ajaib, pikir mereka. Tapi adalah bisa diterima oleh akal sehat. Amalan-amalan yang begitu ikhlas, membuat ikan-ikan buas itu khidmat kepada pendakwah itu. Sebagaimana halnya orang-orang yang berjalan di atas air saat berdakwah, tanah yang berubah menjadi burung, atau lahar panas yang diusir oleh seorang saleh dengan sorbannya pada zaman terdahulu. Sungguh kadang sulit dipercaya. Tapi begitulah keistimewaan yang didapat para pendakwah yang berhati baik dan menunaikan adab. Keistimewaan yang salah satunya pernah didapat Nabi Sulaiman yang menguasai bala tentaranya dari bangsa jin, manusia, angin, dan juga binatang. Atau pada keistimewaan dari seorang khalifah. Sungai Nil yang pernah suatu ketika tak mengalir, akhirnya kembali mengalir hanya dengan selembar surat yang membuat Sungai Nil taat dan patuh.

Sungguh ajaib. Pemandangan yang mereka lihat itu, membuat mereka terpikat.

“Tuan, kami bersedia mengikuti amalan-amalan Tuan.” Dalam bahasa mereka, orang suku setempat menyatakan ketertarikan dengan ajaran pendakwah itu. Dengan mendengar kebesaran-kebesaran Tuhan di bumi dan di langit, mereka begitu takjub dibuatnya.

“Kami amat bersyukur sekali. Semoga saudara sekalian selamat sampai tujuan sesungguhnya.”

Maka, pendakwah itu dengan rasa syukur atas usahanya berbincang banyak hal dengan orang suku setempat. Berbaur dengan kerendahan hati. Selain bercerita tentang perjalanan dari negeri jauh dan tujuannya di daerah orang suku setempat (tujuan yang mulia di muka bumi yang fana, seperti orang-orang terdahulu yang begitu gigih meski harus korban harta benda, terluka, hingga mati sebagai pendakwah), tentu yang utama sekali mengajari mereka cara berpegang teguh kepada kebenaran. Membekali mereka dengan ilmu-ilmu yang baik sebagai bekal yang amat panjang.

Di suatu kesempatan, pendakwah itu juga bercerita tentang negeri jauh yang lain. Di sebuah celah bumi, di sebuah desa kecil di Jepang, pendakwah ini bertemu dengan seorang penduduk setempat. Awalnya, pendakwah ini tak heran saat dibawa menuju ke sebuah lahan. Namun, saat melihat dereta kuburan, maka bertanyalah mereka.

“Kenapa Tuan membawa kami ke sini?” Pendakwah ini heran saat dibawa ke kuburan. “Ini bukankah kuburan, Tuan. Orang-orang yang telah mati dan tak bisa diajak bicara lagi?”

“Tuan betul. Tapi begitulah, Tuan. Di sini ayah saya, ibu saya, dan saudara-saudara saya dikuburkan. Mereka mati sebelum Tuan datang. Tuan memang terlambat datang terlambat ke sini. Saat negara saya terus-menerus mengirim benda-benda teknologi ke negeri Tuan, seharusnya Tuan juga datang ke sini. Melihat saudara-saudara Tuan yang sama bumi dan sama langit ini. Tapi Tuan, meskipun begitu, saya sangat bersyukur sekali. Datang dari negeri jauh? Oh, sungguh tak terpikirkan oleh saya, Tuan. Jalan yang aneh. Jalan yang tentu sangat mulia bagi Tuan.”

Ya, begitulah para pendakwah dengan mereka. Mereka dalam artian lain merupakan makhluk-makhluk yang memang diciptakan untuk khidmat pada manusia. Di muka bumi, bukankah manusia diciptakan untuk menjadi khalifah? Dulunya, gunung-gunung tak sanggup menerima amanah yang Tuhan ajukan pada mereka.

***

SYEKH Hasan, dengan cara sedemikian halus itu, mengajari para muridnya dengan butir-butir hikmah. Sehingga ceramah pencerah yang disampaikan memang menghujam dalam ke dalam dada para muridnya. Ceramah pencerah yang didengar dengan baik-baik. Tak ada saling berbisik, tak ada yang tidur-tiduran, ataupun memasang wajah seperti meremehkan. Semua begitu hormat mendengarkan sambil memandang wajah Syekh Hasan dengan penuh keseriusan. Karena begitulah adab. Adab yang apabila tak ditunaikan, maka ilmu pun hanya masuk dari telinga kiri dan keluar di telinga kanan. Berkah tak didapat, dan seolah tersisih dan berada di luar bongkahan cahaya terang benderang, yang terhubung dengan langit jauh yang paling jauh.

Dan selalu saja. Selalu saja butir-butir hikmah yang disampaikan Syekh Hasan membuat para muridnya mengucapkan kalimat-kalimat langit yang suci lagi mulia. Ada rasa takjub. Yang membuat hati mereka tertanam semangat yang melimpah-limpah hingga begitu membara. Begitu membara memerangi diri sendiri, hawa nafsu, dan musuh terkutuk sepanjang abad manusia.

Setiap Syekh Hasan memberikan ceramah pencerah pada para muridnya, maka tentang kisah-kisah karomah dan kisah lain yang seakan tak masuk akal memang kerap menjadi sebuah pemantik iman. Sebagaimana Syekh Hasan menceritakan tantang sebuah negeri yang diberkahi. Di negeri itu, penduduknya hanya sekali seminggu melaut. Tapi, meskipun hanya sehari melaut, hasil yang didapat bisa tahan selama seminggu. Konon, ikan-ikan di sana sangat patuh dan mendekat begitu saja untuk ditangkap karena kekuatan amalan-amalan yang ikhlas penduduk sana.

Memang, selain rasa takjub, terkadang kisah-kisah karomah dan kisah lain yang seakan tak masuk akal itu, membuat para murid Syekh Hasan ingin juga merasakan dan menyaksikan secara langsung bagaimana kisah itu terjadi. Sungguh mulianya manusia, pikir mereka. Derajat manusia yang lebih tinggi dari makhluk-makhluk lain yang diciptakan. Betapa di majelis itu. Di majelis yang selalu tumpah ruah dihadiri. Selalu kata-kata itu diucapkan berulang-ulang oleh Syekh Hasan. “Bicarakanlah kebesaran Allah. Bicarakanlah keagungan Allah. Karena itu akan membuat iman kalian menjadi naik.”

Padang, 2012 //27 May 2012