MENUNGGU CALLING NANA

Sri Wintala Achmad

Fajar hari. Ponsel berdering. Winarko terbangun dari tidur. Menuju meja kerja. Di mana ponsel itu berada. Mengangkatnya. Melihat sejenak nomer pengirim di layar yang belum tercatat di dalam phone book. Memencet key ‘Yes’. Hatinya bergetar. Winarko menempelkan erat ponsel itu di telinganya. “Hallo!”

“Wintala?”
“Bukan.”
“02746623372?”
“Bukan.”
“Maaf. Salah sambung!”

Winarko memencet key ‘No’. Kesal. Meletakkan ponsel di meja. Di samping PC Pentium 2-nya. Kembali ke kamar. Tidak bisa tidur. Gelisah, Menunggu calling dari seorang gadis yang berjanji semalam untuk memutuskan apakah ia menerima atau menolak cintanya.

Bangkit Winarko dari ranjang yang kusut spreinya. Menuju meja kerja. Duduk di kursi. Bukan menghidupkan power PC-nya. Mengaktifkan program microsoft word buat menulis. Winarko hanya mengambil sigaret dari bungkusnya. Menyalakan korek api. Menyulut ujung sigaret. Mengisapnya kuat-kuat. Menghempaskan asapnya lewat lubang hidung dan mulutnya. Winarko semakin gelisah. Menunggu ponsel berdering.

Matahari merangkak. Winarko belum beranjak dari kursi. Pikirannya melambung serupa balon terombang-ambingkan angin di langit lepas. Dadanya bergetar. Ponsel berdering. Bergegas Winarko memungut ponsel itu. Menempel-eratkan di telinga. “Hallo.”

“Menulis?”
“Menunggu kepastian.”
“Tentang?”
“Cinta.”
“Dari siapa?”
“Bukankah kamu Nana?”
“Lina.”
“Penyair?”
“Novelis.”
“Ada apa?”
“Sekadar tanya.”

Winarko memencet key ‘No’. Misuh. Bukan pertanyaan yang dibutuhkan. Pernyataan. Bukan Lina. Tapi, Nana. Janda yang tidak suka novel. Tapi kisah hidupnya menarik dinovelkan. Mantan suaminya berselingkuh dengan perempuan lain. Anak gadisnya hamil dengan kawan sekelasnya. Hingga Nana minggat dari rumah kontrakannya di Jemberan No 20. Dekat POM bensin. Depan terminal lama.

Beranjak Winarko dari kursi. Menuju pintu yang diketuk. Kasar sekali. Di teras, Winarko melihat seorang lelaki bertampang gali. Berkumis tebal. Tatapannya setajam mata harimau mengintai kijang muda. Tato srigala terlihat di lehernya. Di samping bekas luka goresan senjata tajam. Mungkin clurit, pedang, atau pisau lipat.

“Anda Winarko?”
“Benar. Anda?”
“Jonet. Kenal Nana?”
“Nana yang mana?”

“Janda. Berbibir tipis. Wajahnya menyiratkan dendam. Suka melirik saku lelaki. Tai lalat di bawah bibirnya. Rambutnya lurus sebahu. Berkulit sawo matang. Kontrak rumah di Jemberan 20.”

“Anda mantan suaminya?”
“Bukan. Korban.”
“Maksud anda?”

“Aku telah ditipunya. Pelacur itu telah membawa uang dan ponselku. Sesudah semalam tidur denganku di losmen murahan di pantai selatan.”
“Mengapa anda mencari ke sini?”

“Karena anda calon pacarnya. Bukankah semalam Nana calling anda?”
“Mengapa tidak mencari di rumah kontrakannya?”

“Nihil. Kata orang-orang di sana, kontrakannya sudah habis dua bulan silam.”
“Lapor saja ke polisi!”
“Benar. Terima kasih.”

Winarko menghirup nafas. Menghempaskannya. Tanpa berfikir panjang, Winarko membuka phone book. Mencari nomer calling Nana tadi malam. Nomer ponsel lelaki bertampang gali yang telah meninggalkan rumahnya. Sesudah nomer itu ditemukan, Winarko memencet key ‘Yes’. Sial. Tidak ada jawaban. Hanya suara: “Anda terhubung dengan mail box. Silakah tinggalkan pesan.”

Kata babi, anjing, brengsek, pelacur meluncur tidak terkendali dari mulut Winarko. Wajahnya terbakar. Tangannya mencengkeram. Hasratnya seperti rajawali yang ingin mencabik-cabik ular tangkapannya. Iblis berlidah cabang yang menghancurkan jiwanya dengan janji-janji kosong. Tanpa melihat nomer pengirim, Winarko meletakkan ponselnya di meja. Benda itu dibiarkan hingga deringnya tidak terdengar lagi.

Serupa patung garnit, Winarko terpaku di kursi. Di depan PC-nya. Winarko bertanya pada Tuhan. Penguasa semesta yang tersingsal di lipatan sajadah: “Benarkah Kau tidak menciptakan perempuan berhati zamrud, selain Astuti? Gadis belia. Kawan sekuliah filsafatku yang aku tolak cintanya sepuluh tahun silam? Lantaran dia sering melarangku makan sambil jalan? Mengingatkanku untuk selalu berdoa?”

Tidak ada jawaban Tuhan. Hanya dering ponsel yang bergetar dahsyat di meja. Benda itu menggelepar-gelepar seperti ayam yang disembelih. Winarko memungut ponsel. Jantungnya berdegup saat melihat nomer di layar ponsel. Nomer yang dipakai Nana semalam. Winarko memencet key ‘Yes’. “Hallo!”

“Anda Winarko?”
“Benar. Bapak?”
“Polisi. Anda ditangkap.”
“Apa salah saya.”
“Anda terlibat kasus Nana yang melarikan uang Jonet. Nana mengaku, anda menyuruhnya untuk mentransfer uang itu ke rekening anda.”

“Demi Tuhan, aku tidak menyuruhnya.”
“Saya tidak mau tahu. Jangan coba-coba lari. Polisi sudah menjemput anda.”

Winarko menggebrak meja. Bersama pintu yang didobrak dari luar. Dua orang perwira polisi memasuki rumah. Menuju ruang kerja. Di mana Winarko nampak berang di kursi. “Mengapa saya ditangkap?”

“Anda akan dibebaskan. Kalau terbukti, rekening anda tidak mendapatkan transfer uang dari Nana. Sekarang juga, kami akan membawa anda ke bank. Tempat anda menyimpan uang.”

Seperti pesakitan, Winarko naik mobil patroli yang diparkir tidak jauh dari rumahnya. Wajahnya awan menggantung pekat di langit. Ketika melihat tetangga kiri-kanannya melemparkan senyum sinis. Tubuhnya seringan kapas di langit lepas.

Mobil patroli tiba di ruang parkir depan bank. Dua orang polisi bertampang gali itu menyeret Winarko dari kursi mobil patroli. Di dalam ruangan bank itu, pandangan Winarko berkunang-kunang. Melihat rekeningnya telah mendapatkan transfer uang dari Nana. Menjelang pingsan, Winarko mengumpat anjing.

Sanggar Gunung Gamping, 2009
Dijumput dari: http://pondoknaskahcilacap.blogspot.com/2012/04/menunggu-calling-nana-cerpen-sri.html