Merumuskan Visi Baru Pendidikan Islam

Imadi Daimah Ermasuri *
http://www.lampungpost.com/

SEIRING perkembangan zaman dan kompleksnya persoalan, dunia pendidikan agama Islam dituntut membuat strategi ampuh untuk menjawab berbagai tantangan.

Oleh karena itu, menjadi sebuah keniscayaan bagi pemerintah untuk merumuskan kembali visi dan strategi perencanaan bagi masa depan pendidikan Islam secara nasional. Kenyataan ini perlu dicermati dari gambaran umum tentang mutu pendidikan Islam yang belum memenuhi harapan sebagai benteng moral bangsa.

Belum terpenuhinya harapan itu setidaknya dipengaruhi tiga faktor: pertama sumber daya guru, kedua pelaksanaan pendidikan agama Islam, dan ketiga evaluasi dan pengujian tentang pendidikan agama Islam di sekolah.

Langkah strategis itu bagi masa depan pendidikan Islam secara nasional yang layak ditawarkan meliputi pemantapan visi dan misi yang berangkat dari penguatan pemahaman terhadap wold view Islam, islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer, dan perbaikan sistem pengelolaan lembaga pendidikan Islam.

Perubahan Sosial

Merujuk kepada pemikiran Syed Muhammad Naquib Al-Attas terkait dengan pendidikan Islam, tujuan pendidikan Islam adalah menciptakan manusia beradab secara menyeluruh meliputi kehidupan spiritual dan material. Orang terpelajar dalam pandangan Islam adalah orang yang beradab, yaitu orang yang menyadari sepenuhnya tanggung jawab dirinya kepada Allah, memahami dan menunaikan keadilan terhadap diri sendiri dan orang lain dalam masyarakat.

Berangkat dari pemikiran di atas, ada dua misi yang harus ditempuh dalam pendidikan Islam. Pertama, menanamkan pemahaman Islam secara komprehensif agar peserta didik mampu mengetahui ilmu Islam dan mengamalkannya. Pendidikan Islam tidak semata-mata mengajarkan pengetahuan Islam secara teoritik sehingga hanya menghasilkan seorang islamolog, tetapi menekankan pada pembentukan sikap dan perilaku islami. Kedua, memberikan bekal kepada peserta didik agar dapat berkiprah dalam masyarakat serta mampu menghadapi tantangan melalui cara-cara yang benar.

Untuk itu, pendidikan Islam harus mampu mengakses perubahan sosial di masyarakat. Pendidikan Islam tidak boleh mengasingkan diri dari realitas kehidupan yang terus berubah sejalan perkembangan peradaban. Oleh sebab itu, dalam kerangka ini dituntut strategi dan taktik dalam mengelola pendidikan Islam. Strategi ini mutlak harus disiapkan agar pendidikan Islam tidak terlibas hegemoni perubahan itu sendiri.

Orientasi pendidikan Islam tidak boleh semata-mata menekankan pada pengisian otak, tetapi juga jiwa, akhlak, dan kepatuhan menjalankan ibadah. Di samping itu harus dipikirkan upaya menciptakan manusia yang kreatif, inovatif, produktif, dan mandiri sehingga tegar menghadapi tantangan. Visi pendidikan Islam harus mengintegrasikan berbagai pengetahuan yang terkotak-kotak ke dalam ikatan tauhid. Di samping itu pendidikan Islam harus mampu memberikan filter dan arahan dalam penyerapan ilmu pengetahuan yang tidak sesuai dengan kaidah Islam.

Ide islamisasi ilmu pengetahuan atau lebih tepatnya islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer berangkat dari premis bahwa ilmu pengetahuan kontemporer tidak bebas nilai dan tidak universal.

Pemaduan Ilmu

Menurut Al-Faruqi, islamisasi dapat dicapai melalui pemaduan ilmu baru dalam khazanah Islam dengan membuang, menata, menganalisis, menafsirkan ulang, dan menyesuaikannya sesuai nilai dan pandangan Islam. Cakupan islamisasi ilmu di atas menunjukkan bahwa islamisasi ilmu utamanya adalah urusan epistemologi dan metodologi. Bekerja menciptakan ilmu baru melalui penggabungan ilmu dengan cara tertentu berdasar pada sumber-sumber Islam.

Kemudian dihasilkan melalui metode riset dan teori yang membangun usaha. Semua ditujukan untuk memulihkan kegiatan saintifik secara umum dan sains sosial khususnya, untuk memperbaiki jalur penggabungan antara wahyu dan observasi nyata. Langkah ini bukanlah proses penambahan dan pengurangan secara sepele, melainkan sebuah proses penyandingan kreatif yang serius.

Telah dimaklumi bahwa problem utama dari ilmu pengetahuan kontemporer adalah problem wold view. Adopsi pengetahuan modern tanpa memperhatikan aspek wold view jelas akan menghasilkan keterkikisan. Istilah wold view menurut Alparslan Acikgence sebagaimana dikutip Hamid Fahmi Zarkasyi diartikan sebagai asas yang melandasi setiap aktivitas manusia termasuk aktivitas ilmiah dan teknologi.

Sedangkan Islamic wold view adalah pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang tampak oleh mata hati dan menjelaskan hakikat wujud. Dari wold view inilah akan lahir ilmu pengetahuan. Penguatan wold view berarti penguatan pemahaman terhadap Islam dalam arti seutuhnya. Islam dijadikan tolok ukur dalam setiap aktivitas dan gerakan. Islam sebagai landasan berpikir, bertindak dan beramal, termasuk sebagai landasan menjelajahi pengetahuan. Dengan ini pengetahuan yang diperoleh adalah pengetahuan yang terarah sesuai dengan visi dan misi Islam.

*) Kandidat Magister Pendidikan Agama Islam IAIN Raden Intan Lampung / 12 January 2012