Mimpi Mbah Udju, Pustakawan Kampung

Her Suganda *
Kompas, 27 Maret 2009

IBARAT batu karang, Djudju Djunaedi atau Mbah Udju, selama 20 tahun lebih tak pernah surut dari mimpinya. Setiap hari sepulang bekerja di Perkebunan Karet Gunung Hejo, PT Perkebunan Nusantara VIII, ia berkeliling kampung-kampung di Kecamatan Darangdan, Purwakarta, dengan berjalan kaki. Dengan sabar ia menyambangi penduduk desa, menawarkan jasa meminjamkan buku dan majalah dari rumah ke rumah.

Hasilnya? Ada orang yang mau membaca buku dan majalah yang dibawanya saja sudah untung. Namun, sebagian besar orang desa yang didatangi malah menolak tawarannya dengan berbagai alasan.

”Kayak orang gedean saja membaca buku dan majalah,” ia menirukan salah satu alasan warga.

Bagi mereka membaca bukan kebutuhan. Membaca buku atau majalah dianggap kemewahan, hanya menjadi milik orang kaya di perkotaan. Padahal, Mbah Udju tak menentukan tarif untuk buku dan majalah yang dipinjamkan.

”Asal orang mau membaca saja saya sudah senang,” katanya.

Walau hanya mengenyam pendidikan formal di sekolah rakyat (kini sekolah dasar) dan bekerja sebagai karyawan rendahan, ayah dua anak ini memulai kegiatan dengan meminjamkan buku dan majalah yang sudah dibaca anak sulungnya, Edi Rohman. Sejak umur empat tahun, Edi gila membaca.

”Kalau saya pulang dari mana-mana, yang ditanyakan bukan ole-ole, tetapi buku,” katanya.

Buku dan majalah mula-mula dipinjamkan kepada anak-anak yang ayahnya bekerja sebagai karyawan di lingkungan perkebunan. Mereka diajari membaca oleh istrinya, Heni Saeni. Dua tahun kemudian ia meluaskan wilayah kegiatan ke lingkungan penduduk lain yang masih sekampung.

Desa Gunung Hejo, tempat keluarga ini tinggal, terdiri atas 17 rukun tetangga. Dengan sabar dan tak kenal lelah, selama dua tahun, satu per satu penduduk didatangi. Mimpinya menjadi pustakawan kampung mengalahkan rasa lelah. Dengan menyelendang kantong besar berisi majalah dan buku, ia mendatangi warga Desa Darangdan, tetangga Desa Gunung Hejo.

Desa itu sebenarnya pusat kecamatan. Namun, tak mudah mengubah sikap penduduknya. Selama dua minggu ia mendatangi warga desa, tak seorang pun yang mau meminjam buku dan majalah.

Bahkan, di Desa Sawit, tetangga Desa Darangdan, selama dua bulan Mbah Udju menyambangi warga, juga tak seorang pun yang mau meminjam buku dan majalah. ”Tapi, saya tidak pernah putus asa,” ujarnya.

Tak kenal lelah

Macam-macam cara ditempuh Mbah Udju agar warga desa di sekitar tempat tinggalnya punya minat baca. Ia pernah memberikan majalah, malah diacak-acak, diguntingi untuk kliping salah seorang murid SMP.

”Walau sebelumnya saya sering datang ke desanya, anak itu tidak pernah meminjam buku atau majalah,” katanya.

Untuk majalah yang ”dirusak” itu pun Mbah Udju tak meminta ganti rugi sepeser pun. Sebagai imbalan, ia hanya mengajukan syarat agar anak itu datang lagi dengan membawa teman-teman.

Kiat lainnya dilakukan dengan kerja sama mahasiswa beberapa universitas di Bandung yang sedang melaksanakan kuliah kerja nyata dan praktik kerja lapangan di desanya. Lewat lomba membaca, kegiatan itu diharapkan bisa menumbuhkan minat baca pada anak-anak.

”Hadiahnya seadanya, disediakan secara patungan oleh para mahasiswa,” katanya.

Kecamatan Darangdan terdiri atas 17 desa, tetapi hanya delapan desa yang menjadi daerah operasinya. Desa-desa itu dikunjungi secara rutin. Letak antara satu desa dan desa lain berjauhan. Tak jarang ia harus melewati daerah-daerah sepi yang merupakan perkebunan teh rakyat. Kecamatan Darangdan merupakan salah satu pusat perkebunan teh rakyat. Setiap hari ia menempuh jarak puluhan kilometer dengan berjalan kaki.

Pengalamannya yang tak terlupakan terjadi pada akhir 1996. Pulang dari Desa Nangewer, hujan turun rintik-rintik. Mbah Udju bergegas karena hari sudah senja. Buku dan majalah disimpan dalam buntelan kain, kemudian diselendangkan di bahunya. Tanpa rasa takut, ia berjalan seorang diri melewati tempat sunyi dan jauh dari perkampungan penduduk. Tiba-tiba dari arah belakang muncul sepeda motor yang dikendarai tiga orang berbadan tegap.

Salah seorang di antaranya turun lalu menodongkan senjata tajam. Bungkusannya direbut dan uang Rp 6.500 dirampas. Namun, setelah beberapa ratus meter, bungkusan buku dan majalah itu dilemparkan. Isinya berserakan. Mbah Udju sedih. Mungkin bungkusan itu mereka kira berisi kain atau bahan pakaian yang biasa dijajakan ke kampung-kampung.

Sejak itu Mbah Udju memutuskan, dua desa dia lepaskan.

Hasil sumbangan

Bekerja sampai menjelang malam dan pulang dengan keringat bercucuran, penghasilannya setiap hari Rp 8.000, paling banyak Rp 15.000.

”Kadang-kadang hanya Rp 3.000,” kata istrinya, Heni Saeni.

Pendapatannya yang tak seberapa itu jauh dari memenuhi kebutuhan. Apalagi, anak bungsunya masih kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Maka, ketika ada wartawan setempat seusai mewawancara meminta biaya publikasi sebesar Rp 300.000, Mbah Udju menjawab, ”Uang pensiun saya dalam sebulan saja tak sebesar itu.”

Sejak tahun 2006 Mbah Udju menjalani pensiun. Setiap bulan ia menerima Rp 232.000. ”Hanya cukup untuk beli beras dan bayar listrik,” istrinya menimpali.

Hidup sederhana, tetapi tetap memiliki optimisme menumbuhkan minat baca penduduk desa, sejak 1992 perpustakaannya dinamakan Perpustakaan Saba Desa yang artinya keliling desa. Bangunannya menempati salah satu ruangan rumahnya yang hanya bisa dicapai dengan berjalan setapak di Kampung Ngenol RT 10 RW 3. Di tempat ini buku dan majalah tersimpan rapi dalam rak. Sebagian buku dan majalah masih ditumpuk begitu saja.

Ratusan buku dan majalah itu adalah sumbangan penerbit dan masyarakat setelah mereka membaca permohonan Mbah Udju yang disampaikan lewat surat pembaca. Salah seorang di antaranya, Ny Made Hidayat dari Jakarta, menjadi penyumbang setia sejak 1992.

Mbah Udju mengirimkan surat-surat itu dengan tulisan tangan. ”Boro-boro dengan komputer, mesin ketik saja tak ada,” katanya.

*) Her Suganda, Pengurus Forum Wartawan dan Penulis Jawa Barat.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2009/03/sosok-mimpi-mbah-udju-pustakawan.html