Pindahkan Ibu Kota

A Sonny Keraf *
Kompas, 28 Juli 2010

KEMACETAN Jakarta dan sekitarnya, yang menjadi sorotan utama Kompas dalam beberapa hari terakhir, kiranya tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomis (Kompas, 26/0710). Kerugian yang dialami juga menyangkut kerugian sosial dan psikis.

Secara psikis, Jakarta sangat tidak sehat, bukan saja karena terjadi polusi yang parah, melainkan juga karena kemacetan di jalan raya menimbulkan berbagai tekanan psikologis atau stres. Continue reading “Pindahkan Ibu Kota”

Kekuasaan: Adab Pesisir dalam Kuasa Pedalaman

Munawir Aziz *
Kompas, 31 Juli 2010

DALAM sejarahnya, relasi intelektual dengan kekuasaan sering kali memberi kabar getir. Masa depan intelektual Indonesia–sebagaimana masa lalunya—belum bisa luput dari kekangan kuasa. Kisah-kisah intelektual sebagai penghamba kuasa melebihi apa yang disebut Gramsci sebagai intelektual organik. Kaum intelektual asketis sering terpojok ketika rombongan intelektual selebriti hadir dalam genggaman citra dan godaan kuasa. Continue reading “Kekuasaan: Adab Pesisir dalam Kuasa Pedalaman”

Pemikiran Mazhab Frankfurt: Awal Mula Teori Kritis Hingga Habermas

Fernando Rahadian Srivanto *
Jurnal Politik Online, 27 Aug 2010

Pengertian Tentang Teori Kritis dan Sejarah Pemikiran Mazhab Frankfurt

Istilah Teori Kritis sudah lama diterapkan dalam rentang yang sangat luas terhadap beberapa teori dan disiplin ilmu yang berbeda. Dalam arti sempit, Teori Kritis merujuk kepada pandangan yang diusung oleh Mazhab Frankfurt terutama tulisan-tulisan awal yang dibuat oleh Max Horkheimer, Theodor W Adorno dan Herbert Marcuse. Continue reading “Pemikiran Mazhab Frankfurt: Awal Mula Teori Kritis Hingga Habermas”

Pelukis Merupakan Celeng

Nirwan Dewanto
Tempo, Edisi. 40/XXXIV/28 Nov – 04 Des 2005

Datang pada penghujung sebuah pesta kecil ulang tahun, seorang perempuan kulit putih berkata, ”Maaf, saya terlambat karena saya harus meniduri bayi saya.” Saya tahu, sudah bertahun-tahun ia berbahasa Indonesia.

Konon, bahasa kita adalah bahasa yang mudah. Juga bagi penutur asing. Berlainan dengan bahasa-bahasa Barat, bahasa Indonesia—yang tak mengenal perubahan kata kerja berdasarkan kala peristiwa maupun jenis subyek—adalah bahasa yang gampang dipelajari dan diamalkan. Ternyata tidak sama sekali. Lihatlah, misalnya, kiprah awalan ”me-”. Continue reading “Pelukis Merupakan Celeng”

Berumah di Buku

Bandung Mawardi
Koran Tempo, 8 Jan 2012

Orang-orang tergesa meramalkan masa depan buku (elektronik) sebelum rampung mengenangkan masa lalu buku (cetak). Umberto Eco, novelis asal Italia, mengaku sungkan membaca edisi buku elektronik karena bisa membuat mata rabun. Eco justru menghendaki terus menjalani ritus membaca buku cetak. Nostalgia, emosionalitas, sentimentalitas, dan aliran waktu kerap tersimpan di buku cetak. Eco mengandaikan diri menemukan buku masa kecil di gudang. Takjub, haru, dan keajaiban bakal teralami dalam tautan diri, buku, serta waktu. Eco (Tempo, 30 Oktober 2011) mengatakan, “Ada emosi bergerak di situ.” Continue reading “Berumah di Buku”

Bahasa »