Cultuurtaal Aspek Ekstralinguistik

Saifur Rohman *
Seputar Indonesia, 19 Okt 2008

JAUH-JAUH hari sebelum Sutan TakdirAlisyahbana menuliskan peribahasa ”Bahasa adalah jiwa bangsa” (dalam Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia, 1957: 109) dan ungkapan ”Bahasa menunjukkan bangsa” tulisan M Jamin yang menjadi sangat terkenal dalam pidato kongres pemuda I pada 1926, seorang Belanda bernama GF Pijper telah menulis tentang bahasa dalam Het Boek er Duizend Vragen (1924). Continue reading “Cultuurtaal Aspek Ekstralinguistik”

Keindonesiaan dalam Diri Affandi

Warih Wisatsana *
Kompas, 19 Okt 2008

SUDAH pasti, ditimbang dari sudut bobot, buku tentang Affandi kali ini tak tergolong ringan. Bayangkan saja, berat ketiga jilid dari seri bertajuk singkat Affandi ini adalah tak kurang dari 9 kilogram.

Namun, syukurlah, buku ini tak hanya berat secara fisik, isinya pun terbilang fenomenal. Tak hanya memuat ratusan gambar orisinal dari karya Affandi, melainkan juga menghadirkan sejumlah telaah dari pakar seni, Continue reading “Keindonesiaan dalam Diri Affandi”

Teto

Arie MP Tamba
Jurnal Nasional, 19 Okt 2008

DUNIA militer terbilang mendapat banyak sorotan dalam novel-novel Indonesia. Di samping nuansa penuh konflik dan dramatisasi nilai heroisme yang dikuakkannya, boleh jadi dunia militer ini bahkan terkesan memiliki keunikan nilai tertentu, dibandingkan karier-karier sosial lainnya, seperti wartawan, guru, pedagang, dokter, peneliti, mahasiswa, aktivis politik, dll. Continue reading “Teto”

Hasan Tiro, Nietzsche, dan Aceh

Nezar Patria *
Kompas, 19 Okt 2008

HASAN Tiro dalam keadaan galau. Dia berada pada situasi batas eksistensial. Terpaku pada satu rak di toko buku di Fifth Avenue, New York, matanya tak lepas mengeja karya filsuf eksistensialis Jerman, Friedrich Nietzsche. Dia terbenam dalam aporisme Thus Spoke Zarathustra. Saat itu, September 1976. Beberapa hari lagi Hasan harus membuat keputusan penting: ke Aceh menyalakan pemberontakan bersenjata atau tetap hidup di New York sebagai pengusaha. Continue reading “Hasan Tiro, Nietzsche, dan Aceh”

Bahasa »