Teto

Arie MP Tamba
Jurnal Nasional, 19 Okt 2008

DUNIA militer terbilang mendapat banyak sorotan dalam novel-novel Indonesia. Di samping nuansa penuh konflik dan dramatisasi nilai heroisme yang dikuakkannya, boleh jadi dunia militer ini bahkan terkesan memiliki keunikan nilai tertentu, dibandingkan karier-karier sosial lainnya, seperti wartawan, guru, pedagang, dokter, peneliti, mahasiswa, aktivis politik, dll.

Lihatlah figur Teto (Setadewa), yang begitu sukar dilupakan oleh mereka yang sudah membaca novel Burung-burung Manyar karya YB Mangunwijaya. Teto tidak saja fenomenal karena dikisahkan lahir dari seorang ibu keturunan Indo-Belanda, dan ayah seorang ningrat-keraton Solo lulusan Akademi Militer Breda, Belanda. Sang ayah inilah yang mendorong Teto untuk masuk tentara KNIL ketika revolusi meletus.

Novel Burung-burung Manyar merangkai multi-plot yang simultan dihadirkan si pengarang. Namun, secara garis besar, semua sub-plot bisa saja disimpulkan sebagai penegasan atas plot utama: hubungan cinta platonis antara Teto dan Atik (Larasasti). Teto dan Atik sudah berkenalan sejak kecil, dan terus ’menjalin’ hubungan perasaan dari ’jauh’. Tapi, hubungan mereka ini tak pernah terealisir atau berlangsung dengan mulus.

Ketika revolusi berlangsung, keduanya berada di wilayah sosial-politik berbeda. Atik di pihak republik dan menjadi salah seorang staf Perdana Menteri Syahrir, sementara Teto menjadi tentara KNIL. Dan seperti kata Yakob Sumardjo (1983), inilah novel yang berusaha menunjukkan jalannya sejarah secara obyektif, bahkan terkesan lebih berat ke persepsi Belanda. Sementara banyak novel Indonesia sebelumnya, menomorsatukan nasionalisme pejuang yang bersabung nyawa di garis depan.

Meski hanya karena alasan pribadi, Teto demikian benci kepada Indonesia. Merdeka atau berdirinya Republik Indonesia, bagi Teto, adalah identik dengan hancurnya masa lalunya yang indah (dan juga kebanggaannya) di tangsi militer Solo, ditambah penderitaan keluarganya yang keturunan Belanda. Apalagi, menurut Teto, kemerdekaan Indonesia ternyata diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta yang bekas pegawai Jepang.

Kompleksitas nilai semacam inilah, yang membuat novel dengan para tokoh militer menawarkan nuansa berbeda. Seperti apa perjuangan harus dilakukan. Apa makna kemerdekaan. Di mana batas-batas kebangsaan. Bagaimana menempatkan kepentingan pribadi di antara klaim kemerdekaan sosial. Sampai kapan seseorang harus memenuhi kewajiban sebagai pengemban nilai kebangsaan; tanpa pamrih hasrat pribadi.

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini, juga meletup-letup dalam novel Mochtar Lubis, Maut dan Cinta. Muncul sebagai renungan pribadi atau dalam diskusi para tokohnya, ide-ide di balik revolusi dan bagaimana kemerdekaan seharusnya diterjemahkan dalam kehidupan sosial yang adil dan bermartabat, dimunculkan ke permukaan.

Tidak sekompleks plot Burung-burung Manyar, Maut dan Cinta menceritakan kisah seorang mayor intelijen Indonesia, Sadeli, yang diberi tugas oleh atasannya Kolonel Suroso untuk menyelidiki penyelewengan agennya di Singapura, dan menyusun kegiatan baru untuk penyelundupan perlengkapan perang Indonesia.

Cerita dimulai dengan keberangkatan Sadeli membawa gula dengan perahu layar ke Singapura. Pelayaran itu selamat. Lalu Sadeli menyelidiki kebenaran desas-desus bahwa agen Indonesia di Singapura, Umar Junus, banyak menyelewengkan uang negara yang dipercayakan padanya. Umar Junus ternyata memang menyeleweng dan hidup dalam kemewahan.

Sadeli pun memperingatkan Umar Junus agar mengembalikan uang negara yang dipergunakannya. Namun Umar Junus menolak dan memilih keluar dari dinas intelijen Indonesia. Sementara itu, Sadeli terus melakukan ’kontak’ dengan para ’pedagang senjata’ untuk membeli perlengkapan perang untuk dikirim ke Indonesia.

Meski melalui karya fiksi, data ini penting bagi sejarah militer Indonesia. Sadeli ternyata mendapatkan dukungan para penerbang asing, yang bersedia menyelundupkan obat-obatan dan persenjataan ke wilayah Indonesia. Lalu, ketika berusaha kembali ke Indonesia, Sadeli juga menculik Umar Junus agar diadili di Indonesia.

Tapi penyeberangan mereka kepergok patroli Belanda. Terjadilah pertempuran terbuka. Umar Junus menyadari kesalahannya. Ia ikut membantu Sadeli meloloskan diri dari blokade Belanda tersebut. Dan di Indonesia, Umar Junus kemudian mengembalikan kekayaan negara yang sempat diselewengkannya. Sebagai hukuman, pangkatnya diturunkan jadi Letnan Satu.

Dan Letnan lainnya, ingatlah Letnan Mas di novel Siti Nurbaya. Letnan Mas adalah nama baru Syamsul Bachri yang kecewa karena cintanya kepada Siti Nurbaya dirampas Datuk Maringgih. Letnan Mas ingin membalas dendam dengan menjadi tentara Belanda. Kepentingan pribadi tumpang-tindih dengan kepentingan sosial. Celah-celahnya hanya bisa disoroti oleh novel dengan tokoh militer yang bijak. Tak banyak mengumbar mesiu.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/10/oase-budaya-teto.html