Tiga Cerita tentang Lidah

Guntur Alam
http://www.suaramerdeka.com/

1.Kematian si Pahit Lidah
Cerita ini tentang Mak Yun, perempuan berumur yang meninggal petang Sabtu kemarin. Perempuan tua nyinyir yang terkenal tukang ber-ghibah. Gosip apa yang hendak kau tanyakan? Perihal Mang Akem yang baru saja berbini dua? Atau tentang Bi Inar yang telah pisah ranjang selama tiga purnama dengan lakinya gara-gara cemburu buta.

Mungkin pula kau hendak tahu desas-desus yang beredar mengenai Mang Mahmud yang kaya mendadak di Tanah Abang. Oi, tak ada berita yang tak diketahui Mak Yun.
Bila kau dengar cerita darinya lengkap dengan rumor yang tak jelas benar atau salah, asli ataukah telah ditambah-tambah biar sedap, kau akan berkata penuh mufakat: alangkah rincak lidah perempuan tua ini menyusun cerita.

Tapi, bagaimana bila kini ia yang diceritakan orang-orang di Tanah Abang?
Inilah yang tengah ramai dibicarakan orang-orang sedusun laman. Tentang kematian Mak Yun akibat lidahnya. Konon, dari desas-desus yang beredar, sepekan sebelum meregang nyawa, Mak Yun mengeluh lidahnya mencecap rasa pahit yang bukan kepalang. Liurnya terasa seperti bratawali, tanaman obat yang rasa pahitnya Allahurabbi. Pening alang perempuan tua itu mencari obatnya. Menegak bergelas air putih tak mentawarkan rasa pahit itu, bersedok gula pun tak dapat menghilangkannya.

Telah berpuluh rumah dukun kampung ia sambangi, sampai-sampai Mak Yun pun menanggalkan keyakinannya yang enggan menjejakkan kaki di Puskesmas lantaran ia tak percaya akan kemujaraban jarum suntik dan obat-obat pahit beraroma asing. Tapi, tak satupun yang dapat membuat lidahnya kembali seperti semula.

Dan, petang Sabtu yang naas itu orang-orang Dan, petang Sabtu yang naas itu orang-orang dikejutkan oleh lolongan anak bujang bungsu Mak Yun yang menemukan perempuan tua nyinyir itu mati bersimbah darah dengan lidah telah terpotong oleh pisau.
Desas-desus beredar, Mak Yun memo tong lidahnya sendiri karena tak tahan. Ada pula yang mengatakan: Ini pastilah azab dari Allah karena Mak Yun senang meng-ghibah aib orang. Entahlah.

2.Lidah yang Bercerita Tentang Jurai
“Ebak-mu telah mati.” Itulah kata-kata Emak yang ia ucapkan di pagi kelabu padaku, berpuluh tahun lalu itu. Kata-kata yang dulu tak mampu kuurai masalahnya. Kata-kata yang telah menobatkanku sebagai yatim sejak saat itu. Dan, pikiran kanak-kanakku tak peduli. Hingga kelak, aku membenci kematian itu. Kematian yang membuatku merasa lelaki itu seorang pengecut, seenaknya mati dan meninggalkan kami dalam belitan hidup yang rumit.

Kata orang-orang, Emak-lah penyebab kematian Ebak. Emak menyambangi dukun ilmu hitam di dusun seberang dan memintanya merajam lelaki pengecut itu dengan ilmu setan. Hah? Asal saja mulut orang orang menganga! Tidak tahukah mereka kalau perempuan kampung berkulit legam itu sangat mencintai Ebak?
Berkali ia bertaruh nyawa, memerahkan paha, mengejankan anak-anak si lelaki pengecut. Kalau bukan cinta, disebut apa itu? Pun ketika si lelaki pengecut itu menikam jantungnya dengan sebuah pengkhianatan. Pengkhianatan yang membuatnya tak bisa menangis lagi sejak itu sampai sekarang dan pun ketika lelaki itu mati di pagi kelabu.

“Lantaran Ebak-mu kawin lagi, itulah yang membuat emakmu merajamnya.“

Mungkin ada benar apa yang dikatakan orang-orang itu tapi aku tetap tak percaya bila kematian Ebak disebabkan Emak. Emak (mungkin memang) membenci pengkhianatan yang dilakukan Ebak. Siapa pula tak perih ketika lelaki yang ia cintai tiba-tiba mengkhianatinya.
Ebak tergoda janda dusun tetangga. Janda gatal, bermuka tak lebih elok dari Emak. Apa pula yang lelaki itu cari pada janda tak tahu diri itu? Hah, sudah pasti hanyalah masalah birahi! Perihal Emak dan Ebak-ku inilah yang membuat orang-orang membicarakan jurai-ku. Tentang sebuah takdir keturunan yang pasti akan diturunkan secara temurun. Oi, memeningkan sekali orang-orang kampungku itu.
Seenak perut mengangakan mulut, membacakan takdir hidupku seolah-olah mereka telah mengintip tulisan Tuhan terhadap hidupku di kitab Lauful Mahfuz.

Mereka seolah telah berkongsi kalau mereka dapat menterakan takdir seseorang dari jurai-nya. Bisa jadi pula mereka telah membuat semacam kitab perihal ini.

Si Anu, bapaknya juragan getah karet. Berhidung mancung, kulit legam, tukang kawin, rambut keriting dengan bibir tebal. Emaknya perempuan nyinyir yang hobi berdandan, berhiasan seperti toko emas berjalan, tubuh gembrot, dan suara serak karena ngoceh tak berujungpangkal. Pastilah, mereka akan bersepakat, si Anu ini akan jadi tukang kawin pula, hidup foya-foya, dan pemalas. Tentu tak akan jauh-jauh dari perempuan-perempuan nakal, arena judi, dan alkohol murahan. Begitulah mereka menebak-nebaknya dan mereka pula mengaminkannya.

Itu pulalah yang orang-orang dusun bacakan akan nasibku. Ebak-nya mati muda, berbini dua. Sedang emaknya perempuan berkulit legam yang keras hatinya.
Pastilah, ia akan mati muda pula. Doyan perempuan. Nah, nah, tengoklah parasnya yang bulat sempurna seperti Ebak-nya, tak bersisa, tak berbeda. Caranya berjalan pun persis sama, berjinjit seperti jijik. Iih, pastilah ia akan mati muda dan berbini dua.

Sialnya, Ebak-nya Halimah, pacarku itu, mengaminkan pula omongan orang-orang dusun itu.
Lantaran jurai ini pulalah, calon mertuaku itu menolak mentah-mentah niatku mempersunting anak perawannya.

Brengseknya, Halimah serupa gadis-gadis di dusunku.

Tak berkutik akan apa yang Ebak-nya utarakan. Seolah hendak berbakti atau mungkin pula Halimah mendadak ngeri membayangkan akan kumadu, lalu menemukan diriku mati di pagi kelabu, lantas ia menjadi janda seperti yang orang-orang ceritakan akan jurai-ku. Gadis pujaanku itu pun, tiba-tiba tak mau aku temui. Berkurung di dalam bilik, menghindar bila hendak kujumpai.

Inilah yang membuat aku membenci Ebak-ku, membenci kematiannya, membenci perihal dirinya yang berbini dua. Lantaran semua itu, membuat lidah orang sedusun Tanah Abang menceritakan betapa buruk jurai-ku.
Seolah-olah, lidah mereka yang menuliskan ceritakan tentang hidup dan matiku. Aku benci, benar-benar benci mendengar lidah-lidah itu bercerita tentang jurai-ku.

3. Perang Lidah Tukang Cerita
Perang lidah dua tukang cerita di kampungku ini telah berlangsung lama. Sangat lama malah. Orang-orang pun mulai lupa, kapan tepatnya perseteruan memuakkan itu dimulai? Siapa yang menabuh genderang duluan juga tak diingat orang-orang? Pertempuran itu kembali hangat diingatan orang-orang petang Ahad kemarin.

Duel lawas itu dihangatkan di toko kopi Mang Sahlan, antara Cik Lam dan Cik Mim, dua tukang cerita yang sesungguhnya begitu kami sukai. Muasalnya dimulai ketika Mang Han yang memuji-muji Cik Lam, lantaran tukang cerita bertubuh gempal dengan paras yang masih rupawan di usia menjelang senjanya itu, baru-baru ini diajak Kades Lamit ke Muara Enim, memenuhi undangan Pak Bupati untuk bercerita dan mengumpulkan kisah-kisah rakyat yang hendak diarsipkan. “Oi, Mang, mekar hidung orang Tanah Abang tengok Mang Lam ada di TVRI, duduk di kursi depan dan ditanya-tanyai.“

Cik Lam mengangkat sedikit dagunya begitu mendengar ucapan Mang Han, lanang-lanang yang mencaungkan kaki di bangku kayu panjang toko kopi Mang Sahlan itu pun berdengung-dengung. Menimpali katakata Mang Han, kian kempas-kempis saja hidung mancung Cik Lam mendengar semua itu.

“Ceritakan, Mang. Apa yang ditanya-tanya Pak Bupati dan orang-orang di Muara Enim, kita hendak dengar langsung dari Mamang,“ pinta Mang Jamik, yang diaminkan lanang-lanang lainnya.

Cik Lam menegakkan dadanya, baru saja mulut lelaki itu hendak berucap, mendadak saja Cik Mim menyambarnya.

“Haii, baru ke Muara Enim diundang Bupati, lagaknya. Hhmm…,“ dengus Cik Mim menarik sedikit bibir atasnya. Mata Cik Lam mendelik mendengar ucapan Cik Mim barusan. Lanang-lanang di toko kopi Mang Sahlan saling lempar pandang. Cari penyakit saja Mang Mim ini. Mungkin itu yang ada di batok kepala mereka.

“Rupa-rupanya, ada yang iri lantaran tak terpilih oleh Kades. Padahal, sudah berharap setengah mati. Bahkan kudengar, telah mengepak pakaian, meminjam tas dari Sanuri,“ kata-kata Cik Lam barusan langsung mencabaikan muka Cik Mim. Hidung pesek lelaki kurus dengan rambut tak terurus itu mendengus. Beberapa lanang mengaruk-garuk rambut yang tak gatal melihat pertempuran yang pasti akan meledak.

“Oi, aku bukanlah tukang cerita yang suka pamer ke kiri-kanan, bermuka empat belas, berlidah sembilan.

Macam orang santun saja, bermanis mulut di depan khalayak, di belakang ternyata suka an khalayak, di belakang ternyata suka mengumpat. Aku telah banyak mendengar cerita tentang tingkahmu yang menga takan diriku di belakang. Sudahlah, Lam, tak usah sok suci kau di depan orang sedusun.“

“Apa kau cakap?“ geram “Apa kau cakap?“ geram Cik Lam. Muka lelaki itu pun telah berubah saga.

“Oi, kalau tak merasa, tak perlu marahlah. Bila marah, berarti benar apa yang kuden gar,“ Cik Lam tergagap menden gar kata-kata Cik Mim itu, ia yang tadi berdiri dari duduknya pelan pelan mendudukkan kembali pan tatnya. “Jaga lidahmu, Mim,“ desis ik Lam menahan geram yang enggorok-gorok batang lehernya, menggorok-gorok batang lehernya, menusuk-nusuk jantung-hatinya.

Dengungan keributan itu terdengar ke seantora dusun, diterbangkan angin yang senang berbisik, dialirkan mulut-mulut yang tak dapat dikunci. Hingga, berita pertempuran lawas yang tak kenal juntrung itu pecah kembali hinggap di limas kami. “Kau dengarlah itu, Bujang,“ ujar kajut-ku, emak dari bapakku, yang tengah mengunyah sirih, “Kelak, bila kau benarbenar telah jadi tukang cerita. Janganlah kau tiru tua tua bangka bau tanah tak tahu diri di tengah dusun itu.“

Aku mengeryitkan kening mendengar ucapan kajutku itu, apa hubunganku dengan para tukang cerita yang tengah berduel lidah di toko kopi Mang Sahlan itu?
“Seorang suka mencari-cari kesalahan yang lainnya lantaran iri dengki, sebab merasa kalah sinar dengan yang lainnya. Seorang lagi suka pamer sana-sini, membuat yang lain merasa tersisih. Sama-sama tukang mengumpat di depan-belakang. Sayang saja, dua tua bangka itu tak bercermin bersama-sama. Kalaulah meraka berkaca bersama, dapatlah mereka tengok lidah keduanya sama saja, bercabang macam ular.“ Aku senyap dibuatnya.
Sejatinya, aku menyukai cerita keduanya.

“Ingatlah, Bujang,“ Kajut membetulkan susuran sirihnya, “Bila ada perang dua tukang cerita. Tak usahlah kau jadi pendengar salah satu atau pun keduanya, bila itu kau lakukan, alamat kau akan terseret ke dalamnya. Lebih baik kau tulis saja cerita tentang mereka, biar mereka sadar: alangkah memalukan yang mereka lakukan, mereka tak tahu saja, lanang-lanang di toko kopi itu tengah mencibir mereka dan mengolok-olok di belakang.“ Aku tercenung mendengarnya.

Guntur Alam: lahir di Tanah Abang, Muara Enim, Sumatera Selatan, 20 November 1986. Belajar nulis di Bengkel Cerpen Nida, majalah Annida. Cerpen-cerpennya tersebar di berbagai media massa. Kini alumnus Teknik Sipil Universitas Islam “45” Bekasi ini menetap di Bekasi. /22 April 2012