Judul Buku: Humanisme dan Sesudahnya
Penulis: Fransisco Budi Hardiman
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, 2012
Halaman: xi + 90 halaman
Peresensi: Bandung Mawardi *
Lampung Post, 30 Des 2012

HUMANISME masih pantas jadi tema besar di abad XXI. Fransico Budi Hardiman menghidangkan buku mungil ini untuk ingatan tentang perdebatan sengit dan panjang merujuk ke humanisme. Kutipan Blaise Pascal mengenai manusia perlu ditempatkan di halaman awal. Pascal menjelaskan manusia: “Suatu ketiadaan di hadapan ketakterbatasan, suatu keseluruhan di hadapan ketiadaan, suatu pertengahan di antara keseluruhan dan ketiadaan.” Kalimat abstrak tapi mengantarkan kita ke dalil-dalil humanisme di Eropa.

Humanisme sejak mulai adalah tema licin. Kesejarahan humanisme tak sekadar beredar dan meresap di Eropa. Indonesia pun pernah memiliki sejarah pergumulan tafsir dan realisasi humanisme melalui Pancasila. Humanisme diajukan demi mewadahi pluralisme. Kita mengenang di sila kedua Pancasila: “Kemanusiaan yang adil dan beradab.” Perdebatan humanisme telah menular ke Indonesia sebagai paham besar di ranah politik, ekonomi, sosial, kultural. Humanisme turut mengisahkan Indonesia saat mendamba demokrasi berpijak pada kebhinekaan.

Lacak humanisme menghendaki kita berpikiran lentur dan menjauhi fanatisme. Humanisme bertumbuh di Eropa sejak abad XIV sampai abad XVIII untuk menghargai kembali manusia dan kemanusiaan. Manusia di masa itu terdefinisikan dan mengalami represo rasionalitas oleh monopoli tafsiran para pemegang otoritas agama dan negara. Manusia ada tapi kehilangan diri.

Jejak sejarah humanisme di Eropa juga mengisahkan alienasi akut. Manusia menanggung alienasi tanpa janji keselamatan. Semaian humanisme bermaksud menarik manusia dari jerat alienasi dan mengembalikan manusia ke realitas. Manusia mulai bergerak menempuhi jalan-jalan pikiran emansipatif tak dogmatis. Manusia menjelmakan hak-hak dalam iman, identitas, ilmu, politik. Humanisme mirip hajatan fantastis di ruan gelap dan waktu melambat.

Risiko puja humanisme di abad XVIII: sekularisasi dan desakralisasi. Humanisme mengantarkan manusia ke perjalanan girang untuk menjauhi spiritual. Hegemoni simbolik agama dan negara mulai mendapati gugatan. Agenda menjelmakan kodrat-kodrat manusia mengubah Eropa. Humanisme menggelinding di peta pengharapan atas martabat manusia dan kemanusiaan. Humanisme pun mengisahkan pengetahuan, teknologi, birokrasi, profesi, konsumsi. Kita di abad XXI ini masih mendapati warisan-warisan dari humanisme menggelinding sejak abad XVIII.

Tokoh kritis dalam menderaskan humanisme adalah Immanuel Kant. Filsuf moral ini menjelaskan bahwa kehadiran manusia-saleh di Abad Pertengahan membuktikan ketidakberanian berpikir sendiri di luar tuntutan dogmatisme agama dan para pemegang otoritas tafsir. Zaman kepatuhan membuat manusia adalah hamba-berdosa dan abdi-berpasrah. Gairah mengajukan pertanyaan atas situasi dogmatis membuka jalan ke pengalaman kemanusiaan. Humanisme bergerak dengan antologi pertanyaan ke pusat rujukan agama dan negara.

Humanisme terus menjalar ke abad XIX dan XX. Humanisme menabur kisah-kisah tentang gugatan terhadap Tuhan dan institusi agama. Auguste Comte, Friedrich Nietzsche, Jean-Paul Sartre tampil dengan ajaran-ajaran radikal. Sangkalan atas dogma agama dan Tuhan merebak sebagai godaan memuliakan manusia. Kaum filosof membentuk humanisme sebagai ganjaran untuk menemukan-mencipta manusia agung. Dunia memerlukan manusia agung bergelimang otoritas.

Humanisme perlahan juga bergerak ke misi kolonialisme. Praktik kolonialisme Eropa ke Asia dan Afrika menimbulkan diskriminasi, alienasi, marginalisasi, hegemoni. Pikiran-pikiran Eropa menguasai negeri-negeri terjajah. Humanisme justru mengajukan pertanyaan pelik tentang manusia. Kolonialisme mengaburkan pamrih kemanusiaan. Universalitas dalil-dalil humanisme tampak tak meresap ke negeri-negeri terjajah.

Fransisco Budi Hardiman menjelaskan bahwa pelampauan fase-fase dilema humanisme menumbuhkan agenda “membela kembali kemanusiaan”. Penanda besar dalam agenda memikirkan ulang humanisme di abad XXI adalah terorisme: 11 September 2001. Adegan penghancuran dan kematian terjadi di Amerika Serikat sebagai pikat dunia. Humanisme mulai bergerak ke penghampiran spiritualitas. Puja humanisme sekuler telah menodai dan merusak. Ingatan atas rujukan spiritualitas demi mengatasi fanatisme dan konflik. Humanisme mesti mengantar manusia ke pengalaman-pengalaman pluralistik. Humanisme tak bisa memusat ke narasi-narasi besar. Agenda menilik ulang humanisme adalah konsekuensi atas kontradiksi-kontradiksi kapitalisme-globalisasi dan terorisme. Begitu.

*) Bandung Mawardi, Pengelola Jagat Abjad Solo
Dijumput dari:

Categories: Resensi