Tentang Seorang Perempuan dalam Dunia Kepenulisan

Wuri Kartiasih
Jurnal Nasional, 21 April 2013

KALAU dulu RA Kartini tidak memperjuangkan hak-hak perempuan Indonesia, apa cerita perempuan Indonesia sekarang? Adakah perempuan penulis yang andal seperti Alberthiene Endah?

Alberthiene Endah adalah perempuan penulis. Sebelumnya ia menggeluti dunia jurnalistik di majalah yang jelas-jelas berpihak pada perempuan, Femina. Ia mengatakan sangat menikmati dunia tulis-menulis. Dia kerap mewawancarai narasumbernya dengan intens, karena spesialisasinya kini adalah penulisan buku biografi. Tentu saja sedapat mungkin ia menjiwai tokoh yang ditulisnya.

Kesukaannya membaca sejak kecil mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Alberthine yang keluarganya dari Yogyakarta lahir di Bandung, 16 September 1970. Dia menghabiskan masa hidupnya di Bandung dan Jakarta. Setelah menamatkan SMA ia mengambil jurusan Sastra Belanda di Universitas Indonesia pada tahun 1989. Setamat kuliah pada tahun 1994, ia bekerja di majalah Hidup, sebuah majalah keagamaan, dari tahun 1993 hingga tahun 1994.

Karier jurnalisnya di majalah Femina berlangsung 10 tahun, dari 1994 hingga 2004. Di majalah wanita tertua di Indonesia ini, dia mengalami warna-warni kehidupan seorang jurnalis. Menyebut pengalamannya yang menarik saat menjadi perempuan jurnalis adalah ketika ia mengunjungi Dili tahun 1996. Ia ditugaskan ke Dili untuk menulis di halaman bonus majalah itu. “Pada saat itu Dili sedang bergejolak, dan banyak wartawan yang sudah ada di sana, tapi semuanya laki-laki. Pada saat itu ada wartawan yang mengatakan ke saya ngapain ke Dili, udah sana masak aja, kan majalah perempuan,” ujarnya mengenang saat itu.

“Namun, yang menjadi istimewa ketika akhirnya Uskup Belo mengajak saya langsung untuk berkeliling. Mungkin justru karena saya wanita, sehingga ia secara khusus mengajak saya berkeliling,” ujarnya. “Akhirnya saya bisa menulis tentang Dili sebanyak 30 halaman,” katanya lagi.

Pengalaman lainnya yang tetap membekas adalah ketika ia berjuang untuk bertemu dengan Xanana Gusmau di penjara. Berhari-hari ia berada di depan penjara Salemba, agar dapat bertemu Xanana yang ketika itu menjadi tahanan politik dan ditempatkan di tempat khusus. “Saya menunggu sampai jam 2 dini hari, selama beberapa hari, hingga akhirnya pada suatu saat saya diizinkan masuk dan bertemu beliau jam 12 malam,” ujarnya.

Pengalaman bertemu Xanana yang hanya diperbolehkan selama 15 menit itu sangat berharga, dan menjadi kunci pertemuan berikutnya. “Setelah pertemuan itu, saya jadi mudah ketemu beliau, kapan pun saya datang diterima dengan tangan terbuka,” ujarnya senang.

Hingga sekarang Xanana menjadi sahabat baginya. “Kalau saya ke sana (Timor Leste) pasti ke tempat dia, begitu pun sebaliknya, kalau Xanana ke sini pasti ketemu saya,” katanya menjelaskan tentang persahabatannya yang berjalan sejak tahun 1999 itu.

Kekecewaannya pada dunia wartawan saat melihat wartawan di Eropa dan Australia sangat dihargai dan di sambut, berbeda dengan yang dialaminya di Indonesia. “Terkadang beberapa pihak hanya menghargai wartawan bila ada perlunya, perlakuan mengecewakan masih terjadi di sini,” ujarnya. “Saya ingin wartawan bisa lebih dihargai, baik dalam sikap, maupun salary-nya,” ujar perempuan penulis yang memelihara enam ekor anjing ini.

Perjalanan kepenulisannya mulai dari dunia jurnalistik berlanjut menjadi penulis buku biografi. Sudah banyak tokoh terkenal di negri ini yang dia tulis kisah hidupnya, sebut saja penyanyi Krisdayanti.

“Selama sepuluh tahun kerja tahu-tahu aku ingin membuat cerita panjang dan aku mewawancarai Krisdayanti membuat Seribu Satu KD dan gak tahunya meledak,” ujar Alberthiene.

Setelah keberhasilan menulis buku Seribu Satu KD, ia pun melanjutkan membuat buku tentang Raam Pundjabi, Venna Melinda, Chrisye, Anne Avantie. Semua buku yang ia buat itu hanya dalam kurun waktu tiga tahun. “Dalam kurun waktu tiga tahun itu saya berhasil membuat enam buku biografi dan enam novel, serta beberapa skenario film dan FTV,” ujar penulis skenario film Detik Terakhir ini.

Ia hanya ingin membuktikan ketika kita mau dan memiliki kesempatan, artinya kita menyediakan waktu, dan ketika itu kita punya tekad, “Menulis itu powerfull banget, itu bisa dijadikan money, menjadikan suatu prestasi dan bisa membuat suatu gebrakan juga,” kata wanita yang menikah pada Desember tahun 2005 ini.

Dalam membuat biografi ia mematok waktu paling minim adalah enam bulan. Itu pun menurutnya sudah termasuk buru-buru. “Sebenarnya semakin lama semakin baik, tapi jangan terlalu lama, itu bisa membuat mood turun, kalau sudah turun tulisan kendor, jadi kurang menjiwai,” ujar istri Dio Hilaul ini.

Salah satu novelnya yang berjudul Jangan Beri Aku Narkoba mendapat penghargaan khusus dari Badan Narkotika Nasional dan meraih juara pertama Adikarya Award 2005 dari IKAPI.

Saat ini kesibukannya sebagai penulis terus berjalan, sebentar lagi buku biografi hasil karyanya tentang Sophia Mueller, nama baru dari Sophia Latjuba, akan segera diluncurkan.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/04/artikulasi-tentang-seorang-perempuan.html