Judul: Mazmur Musim Sunyi
Penulis: Sulaiman Djaya
Penerbit: Kubah Budaya, Serang
Terbit: Januari 2013
Tebal: 105 halaman, 14 x 20, 5 cm
Peresensi: Asep S. Bahri *
radarbanten.com Mar 09, 2013

Mazmur Musim Sunyi selanjutnya: MMS) adalah sebuah buku kumpulan sajak pertama karya Sulaiman Djaya setelah sekian lama berkecimpung lama di dunia sastra. Sajak-sajaknya sudah terpublikasikan di media-media lokal maupun nasional. Barangkali, takdir sudah menentukan saya dengan orang-orang yang bergumul dengan sastra menemukan antologi ini.Mula membaca sajaknya pada lembar pertama berjudul “Mula Puisi dari 69” buah sajak yang ada dalam buku MMS. Kekuatan pikiran dari bacaan saya langsung tertuju pada sepenggal larik …,dan foto ibu yang terjebak sebuah pigura kaca,. Apakah larik ini terinspirasi oleh sosok ibu. Saya tidak tahu pasti. Tetapi dalam kumpulan MMS setidaknya ada empat sajak khusus yang dipersembahkan Sulaiman Djaya untuk sosok agung bernama Ibu. Empat buah sajak itu ialah Ibuku dalam Kwatrin (hal 20), Buku Ibuku (hal 38), Memoir untuk Ibuku (hal 40), dan Musim Untuk Ibuku (hal43).

Dalam sajak ‘Ibuku dalam Kwatrin’, saya melihat Sulaiman Djaya berusaha menangkap kejadian yang berkesan pada masa kanak-kanaknya dengan seorang Ibu. Kejadian kecil saat pagi terbangun lalu mendengar suara lantunan Alquran yang dibaca Ibu, membangunkan aku lirik. Di dapur ialah tempat Ibu biasanya lebih sering berada. Juga di saat senja yang mempertemukannya kembali berjumpa Ibu setelah seharian sekolah dan bermain di luar rumah. Berikut ini penggalan dua bait ketiga dan keenam dari enam bait sajak ‘Ibuku dalam Kwatrin’.

Ketika ia melantunkan larik-larik al-Quran
selepas sembahyang subuh,
aku masih terlelap
seperti jutaan kalimat di lembar-lembar buku.

Dan saat kami terbangun di pagihari,
ia pun seringkali telah terlebih dulu pergi,
dan senja membawanya kembali kepada kami
seperti orang asing yang dirundung letih.

Pada sajak kedua tentang Ibu dengan judul ‘Buku Ibuku’, Sulaiman Djaya kembali mengingatkan kisah seorang Ibu yang selalu mengisi hari-harinya dengan memberikan contoh kepada anak-anaknya, tentang suatu pekerjaan atau kegiatan yang bermanfaaat dengan sebaik-baiknya secara dan tidak bosan walau terkadang sebagai anak bisa mencontoh atau pun tidak. Seperti apa yang dituliskan pada sepenggal larik ‘Ibuku punya lembar-lembar halaman buku.’ Saya mengibaratkan semacam kegiatan yang dilakukan Ibu sudah tertata rapi. Juga pada larik selanjutnya ‘yang ditulis dengan hidupnya’ ibarat pekerjan atau kegiatan yang dilakukan sehari-hari, agar dapat dicontoh anak-anaknya kelak.

Hal lain juga terdapat pada penggalan larik /Dan// /kami setiap hari belajar membacanya/ juga larik /yang kadangkala tak sempat kami baca/. Seperti yang tertuang dalam bait separuh pertama dan bait keempat dari kelima bait sajak ‘Buku Ibuku’.

Ibuku punya lembar-lembar halaman buku
yang ditulis dengan hidupnya
Dan kami setiap hari belajar membacanya
meski kami tak segera memahaminya.

Ibuku punya lembar-lembar halaman buku
yang kadangkala tak sempat kami baca
karena ia menuliskannya sewaktu kami terlelap
bersama angin yang berloncatan
di jalan-jalan dan halaman rumah.

Selanjutnya pada sajak tentang Ibu yang ketiga ialah ‘Memoir untuk Ibuku’. Sebagaimana dari kedua sajak di atas pada sajak ketiga kali ini Sulaiman Djaya di sini merasa telah ditinggalkan sang Ibu tercintanya pada saat waktu tertentu terdapat pada larik ‘Kau telah lama tahu, Ibu, kematianmu yang datang’ yang kemudian menjadi kenangan si anak. Sambil berusaha kembali mengikhlaskan takdir walau merasa belum siap ditinggalkan dan dengan penuh doa-doa si anak merindu Ibu itu pun terdapat pada larik berikutnya ‘Kau telah lama tahu, Ibu, usia/ seperti bunga-bunga cuaca,/ sejenak singgah bukan pada waktunya/’ …. dan yang terdapat pada larik tiga terakhir … ‘kapan pun waktunya, kau akan selalu mendengar/ suara lelaki yang lantang berkata:/ aku anakmu, aku anakmu, yang takut pada malam.’

Terakhir pada sajak yang keempat dari judul ‘Musim Untuk Ibuku’. Musim yang disandingkan khusus dengan Ibu daripada sandingan kata hujan dan kemarau pada musim-musing yang wajar. Hal inilah menjadi makna baru ketika Sulaiman Djaya menuliskan ‘Musim Untuk Ibu’. Yakni, sebagai penjelmaanm seorang bocah atau anak teringat pada suatu musim saat bersama Ibu.Sulaiman Djaya mengisahkan kembali dari masa kanak saat begitu dekat dengan seorang Ibu, seperti yang tergambarkan pada bait pertama larik kesatu, dua, tiga, dan empat ‘Sepotong kemarau jatuh/ pada sekancing baju ibuku/ dan seorang bocah sibuk/ meniup terompet ulangtahun.’ Kemudian mengingat permainan sewaktu kecil dan hal-hal yang membuatnya menjadi kesenangan di waktu kecil, tergambarkan pada bait ketiga larik kesatu, dua, dan tiga ‘Ah, kenangan,/ lebih mirip setokoh kartun/ Walt Disney/.’ Pada saat itu masa atau musim yang digambarkan si anak dan Ibu, dari bait akhir yang tertulis ‘Tak ada yang memintaku/ menjadi kicauan burung/ atau siang yang rabun/ ketika gerimis pun/ hanya ingin tertidur.’

Dari 49 sajak yang terdapat pada kumpulan sajak MMS karya Sulaiman Djaya ini memposisikan sosok Ibu sebagai sosok yang agung dan menginspirasi penyair. Sampai di sini kita ingat kisah sahabat yang datang kepada Rasulllah yang menanyakan siapakah orang yang harus saya muliakan dalam dunia ini. Rasulullah menjawab dengan: “Ibumu” sebanyak tiga kali. Dari kisah ini sadarlah kita bahwa Sulaiman Djaya sebagai penyair begitu cinta terhadap ibunya. Ibu yang mengalirkan doa dan menjelma lembut dalam sajak Sulaiman Djaya.

*) Asep S. Bahri, lahir di Tangerang, mahasiswa tingkat akhir di Untirta, Serang-Banten.
Dijumput dari: http://www.radarbanten.com/read/berita/140/9264/Menyelami-Sosok-Ibu-dalam-Mazmur-Musim-Sunyi.html

Categories: Resensi