Bayu Agustari Adha
Riau Pos, 9 Juni 2013

KURANG lebih seperempat abad yang lalu, pemimpin tertinggi spritual Iran Ayatollah Khomeini mengeluarkan fatwa mati terhadap Shalman Rusdhie. Sastrawan Inggris kelahiran India ini dikecam karena novel ‘’Satanic Verses’’-nya yang dianggap menghina umat Islam. Akibat fatwa ini, terjadi suatu gejolak berupa kericuhan.

Pihak Barat yang menyaksikan tidak bisa memahami kenapa umat Islam begitu marah oleh karena hanya suatu ekspresi Seni Sastra. Hal ini makin menyudutkan Islam karena media Baratpun hanya menyorot kekacauan yang ada. Tak ada berita tandingan seperti pertemuan Ulama 45 negara Muslim di Kairo yang tidak sepakat dengan fatwa mati ini kecuali Iran sendiri. Selain itu Orientalis, Edward Said, yang pembenci dominasi barat dan pembela Palestina juga tidak mendukung fatwa ini. Beliau mengatakan tidak semua yang mengutuk novel ini benar-benar membaca novel ini. Berarti jelas Said menekankan untuk pembacaan sastra yang komprehensif.

Akibat kehebohan fenomena ini terciptalah wacana yang mengambang dan penuh keragu-raguan. Shalman Rusdhie tak kunjung mati dan fatwa juga tak kunjung dicabut, malahan jumlah uang bagi yang bisa membunuh Shalman semakin meningkat. Itu terjadi apabila isu-isu lain yang mempunyai kemiripan dengan kasus Shalman mencuat ke permuakaan. Seperti karikatur Nabi Muhammad ataupun yang baru-baru ini terjadi, film amatir ‘’The Innocence of Moslem’’. Iklim politikpun di sini terlihat kental hanya antara Iran dan Inggris. Peristiwa diberikannya gelar kehormatan Knight kepada Shalman Rusdhie oleh Ratu Elizabeth II atas dedikasinya di bidang Sastra menyulut kemarahan Iran. Tak tanggung-tanggung hubungan diplomatikpun langsung diputus dan Dubes Inggris di Iran diusir. Menjadi semakin rumit untuk mengambil sikap sebagai khalayak akan apa yang seharusnya diperlakukan terhadap Shalman Rushdie.

Apabila kita memandang dari kacamata ekspresi seni, Karya sastra bukanlah suatu upaya pembenaran melainkan hanya suatu penawaran sudut pandang pada hal tertentu sehingga tak mungkin ada kebenaran absolut di dalamnya. Di sana terdapat representasi dan bukanlah refleksi. Apa yang ditawarkan Salman Rusdhie merupakan upaya membuat tesis terhadap masalah yang menyebabkan keterbelakangan Islam dewasa ini. Tesis itu adalah keterbelakangan dikarenakan adanya ayat-ayat yang diselewengkan oleh sang penyalin tulisan ke dalam kitab sehingga muncullah ayat-ayat yang dianggap menyesatkan. Namun substansi sebenarnya adalah masalah fanatisme atas nama agama yang menjadi pusat perhatian oleh Shalman Rusdhie. Karena apabila kita runut sampai sekarang, nyatalah terlihat bahwa Salman Rushdie adalah seorang demokrat liberalis pembenci fundamentalisme. Hal itu dapat terlihat dalam karya-karyanya yang selain bernuansa poskolonial, juga terdapat kebenciannya akan fanatisme dan otoriternya Negara Timur dan tentu juga penawaran idenya yang mendambakan demokrasi.

Tepat dua tahun setelah hebohnya ‘’Satanic Verses’’, pada tahun 1990 Shalman Rushdie kembali menerbitkan novel dengan judul ‘’Haroun and the Sea of Stories’’ (Terjemahan: ‘’Harun dan Samudra Dongeng’’). Sekilas memang tampak tidak sesangar ‘’Satanic Verses’’ karena hanya kisah seorang anak yang berpetualang ke dunia fantasi. Namun apabila dilihat mendalam, dalam novel ini Rushdie masih menyorot kenyataan miris dunia ketiga, impiannya akan demokrasi dan kebenciannya akan kediktatoran. Ketiga hal tadi direpresentasikan oleh tiga setting atau latar yang ada dalam novel ini yakni kota Alifbay, Ghuppee, dan Chupwala.

Kota Alifbay adalah tempat nyata latar dari cerita ini. Alifbay digambarkan sebagai kota yang menyedihkan. Penduduk miskin sangat banyak dan terdapat sedikit orang kaya hidup dengan sangat nikmatnya. Para politikus di kota inipun juga sangat korup sehingga tak dipercayai oleh rakyat. Harun, tokoh utama di sini adalah anak dari Rasyid, seorang tukang dongeng. Rasyid adalah pendongeng yang hebat yang ceritanya seperti terus mengalir tanpa sekat. Rakyat kecil banyak menyukai cerita-ceritanya. Untuk meraih simpati pada pemilu, politikus menyewa Rasyid untuk berdongeng agar rakyat memilih mereka.

Namun selain itu juga ada yang apatis mengenai pemahaman terhadap dongeng ini, itu terlihat dalam diri tetangga Harun yang mengatakan ‘’Apalah guna dongeng-dongeng itu, hidup ini serius, untuk apa menghabiskan waktu pada hal-hal yang tidak nyata’’. Para politikus sendiri sebenarnya juga tidak menyukai dongeng karena dongeng hanya dianggap sebagai suatu alat perayu rakyat.

Dari ringkasan cerita mengenai Alifbay sangat jelas sekali bahwa ini adalah potret negara dunia ketiga yang sangat tumpang tindih. Kesenjangan yang begitu nyata terjadi antara si kaya dan si miskin. Rakyat miskin tak punya hiburan selain dongeng oleh dari si raja dongeng. Para politikus yang belum matang dan masih bersifat feodal menggambarkan gagapnya kehidupan demokrasi di negara ketiga. Sikap yang apatis terhadap dongeng memperlihatkan situasi literasi di dunia timur yang tidak begitu membaca memahami makna dalam suatu rekam seni. Kondisi ini diperparah karena diperlihatkan oleh pihak atau kaum menengah. Sementara itu dari kalangan akar rumput terlihat menghargai ini walaupun kecendrungannya adalah sebagai hiburan. Akan tetapi sesungguhnya ini adalah suatu upaya pelarian psikologis dari masalah yang terus menghimpit kalangan bawah dalam kehidupan timpang tindih negara ketiga.

Kemudian kota Ghuppee adalah kota fantasi dari pertualangan Harun. Di kota inilah terdapat samudera dongeng, dimana ceritanya ayah Harun Rasyid mendapat pasokan cerita dari sini. Di tempat ini setiap waktu selalu terang sampai pada batas tertentu. Penghuni di kota ini dikenal sebagai penggosip dan pendebat. Di sini juga dikenal dengan kerajaan perpustakaan di mana nama-nama perangkat kerajaan ada halaman, jilid, dan yang tertinggi kitab jendral. Pada masa tersebut kota ini mengalami ancaman dari kota Chupwalla. Putri kerajaan yang gemar bernyanyi dengan suaru jelek diculik. Kemudian samudera dongeng juga dicemari oleh kerajaan Chupwalla sehingga ceritapun menjadi berubah-ubah karena adanya pencemaran tersebut.

Dari gambaran tersebut dapatlah kita lihat bahwa inilah impian seorang Salman Rushdie akan dunia demokrasi di mana setiap orang memiliki hak berbicara dan berpendapat. Nama-nama perangkat kerajaan jelaslah mengindikasikan kota yang berilmu pengetahuan dan menjunjung tinggi intelektualitas. Gambaran kehidupan seperti inilah sesuatu yang ideal bagi Shalman Rusdhie. Penduduk yang dikenal penggosip ini sebenarnya hanya menunjukkan bahwa di sana tidak terdapat suatu tirani untuk merepresi keinginan seseorang berbicara. Secara tidak langsung memang Shalman Rusdhie menyindir apa yang telah terjadi padanya dimana haknya berkarya dianggap sebagai sesuatu tidak wajar oleh dunia timur. Kecintaan Guppee terhadap samudera dongeng adalah suatu wujud penjagaan literasi leluhur yang harus diperjuangkan. Sesuatu yang telah hilang dalam diri orang timur yang memiliki kekayaan literasi namun tak pernah merasa memiliki sehingga teracuni oleh ketamakan pihak berkuasa.

Kota ketiga di novel ini, Chupwalla, digambarkan sebagai raja kesunyian dan bayangan. Semua penghuni tak ada yang berbicara dan setiap waktupun adalah kegelapan sehingga yang terlihat hanyalah bayangan. Sang raja kota ini sangat membenci kota Guppee dan menjulukinya sebagai kota omong kosong yang selalu ribut. Usahapun dilakukan dengan mencemari samudera dongeng dengan cairan hitam dan menculik putri kerajaan kota Guppee. Terdapat seorang tokoh bernama Mudra si pendekar bayangan yang berpihak kepada Guppee dan membantu menyerang Chupwalla untuk mengembalikan sang Putri. Ketika berperang para pasukan terlihat berkelahi tak tentu arah karena nyatanya mereka berkelahi dengan bayangannya sendiri. Tentara Chupwalla yang terbiasa diam dan menyimpan rahasia membuat mereka tak kompak sehingga terjadi perpecahan antar mereka dan saling curiga membuat Guppee dengan mudah menang.

Potret ini sangat nyata sekali merepresentasikan negara atau pemerintahan otoriter dan diktator di mana tak ada suara dan kebebasan. Hal ini tentunya mengacu pada keadaan dunia ketiga ataupun Timur Tengah yang banyak dipimpin oleh diktator dan tak adanya demokrasi di sana. Bangsa yang dipimpin diktator rakyatnya hidup dalam kesadaran palsu. Kenyataan dan apa yang di dalam sanubari mereka berbeda. Hal ini dapat dilihat saat mereka seperti bertarung dengan diri sendiri yang jelas menyiratkan suatu konflik batin. Jika dilihat pada negara yang masih bertahan dengan diktator sekarang lebih dikarenakan kesejahteraan yang ada sebagai penghasil minyak. Seperti halnya Qatar, Arab Saudi, UEA, Bahrain. Namun jika kita lihat negara yang tak begitu memiliki kekayaan, keadaannya hancur berantakan, sebut saja Afganistan. Kemudian juga ada negara pasca diktator yang hancur dan bergejolak seperti Mesir, Libya, Suriah yang berada antara diktator dan mencoba demokrasi.

Dari gambaran tersebut bisa jadi karena memang sepertinya Shalman Rusdhie tak jauh berbeda dengan penulis lainnya yang menilai kebebasan sebagai hal yang hakiki. Selanjutnya fundamentalisme dan fanatisme yang diktator di dunia timur harus segera dihilangkan. Ide yang didukung oleh pihak Barat terhadap penulis dunia ketiga di samping kepentingan oleh pihak Barat itu sendiri. Khaled Hossaini dan Orhan Pamuk, contoh dari beberapa penulis yang konsen dalam ketidakadilan dan kehancuran yang ada di dunia Timur mendapat sambutan dan apresiasi oleh Barat. Sampai sekarang, fenomena fatwa mati ini masih mengambang dan Salman Rusdhiepun tak jelas statusnya. Hal ini tentu saja disebabkan oleh lemahnya fondasi fatwa itu sendiri dan faktor politis dalam menanggapi fatwa ini. Secara aplikasi memang fatwa hanya sekedar pendapat yang tidak terlibat langsung dalam eksekusi. Apalagi yang diberi fatwa oleh Petinggi Iran adalah warga negara luar dari negaranya.

Bayu Agustari Adha, Alumni Sastra Inggris UNP
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/06/masih-halalkah-darah-salman-rusdhie.html

Categories: Esai