You’re My Everything

Yanti Mulatsih *

Anak adalah anugrah terindah yang diberikan Allah pada setiap orang tua. Mereka ingin anaknya berhasil dalam meniti kehidupan dunia pun di akhirat. Firman Allah dalam Al-Qur’an surat At-tahriim ayat 6 berkumandang: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Dari firman di atas, wajiblah kedua orang tua mendidik, mengarahkan langkah anaknya untuk menuju jalan terang. Pada diri anak, banyak hal bisa diambil bagi orang tua; hikmah, inspirasi yang Allah SWT sampaikan melalui dirinya.

You’re my everything

My First, My last, My Everything
And the answer , to all my dream
You’re my sun, my moon, my guiding star
My kind of wonderful, that’s what you are
My everything….

Itulah sepenggal lirik lagu salah satu iklan susu. Lagu lawas tahun 80’an yang dinyanyikan Barry White, mengingatkan pada buah hatiku. Alhamdulillah kini aku dikaruniai dua anak dan suami yang penuh pengertian. Yang pertama Azizah Nur Rafidah, biasa dipanggil Izzah, duduk di kelas 3 SDIT Qurrota A’yun. Kedua Ihsan Izzudin Habiburrahman, biasa disapa Ihsan, duduk di kelas B TKIT Qurrota A’yun. Bagiku mereka inspirasiku. Apapun yang dikerjakannya menarik untuk diperhatikan. Setiap anak punya keistimewaan, tak terkecuali bagi si sulungku. Perkembangannya sejak duduk di SDIT Qurrota A’yun sungguh luar biasa.

Menjelang akhir pelajaran kelas 3 ini, hafalan Mbak Izzah, begitu aku memanggilnya, sudah sampai An Nazi’aat. Di kelas 4 nanti, aku yakin dia bisa menyelesaikan Juz 30. Subhanalloh, hal yang tak pernah kusangka sebelumnya. Aku yang begitu sulit menambah hafalan menjadi terpacu olehnya. Apa yang dikatakan putriku saat aku ngecek hafalannya dengan menyimak Al Qur’an? “Ummi belum hafal ya, kok membaca?” katanya. Kini, aku jadi rajin mengikuti tahsin Al Qur’an, tentu ingin menjadi guru terbaiknya. Sebuah azzam lama yang tertunda dan segera kutunaikan. Begitu pula suamiku, ketika dicek hafalannya masih banyak keliru. Tak ketinggalan Ihsan dengan cedal terbata-bata berusaha mereview hafalannya ketika di sekolah. Semoga mereka jadi hafizh dan hafizdoh pada profesi apapun yang akan mereka tekuni kelak.

Lain kali, putriku mempunyai keinginan kuat qiyamul lail. Sebelum tidur berpesan untuk dibangunkan. Dia menulis pesan pada kertas ditempel di dinding kamar tidur, agar abi sama ummi tak lupa, katanya. Di malam hari, ada rasa tak tega untuk membangunkan, mengingat aktivitasnya yang padat setiap hari, ditambah lagi tidurnya sudah agak larut, akhirnya tak jadi aku bangunkan. Paginya seperti biasa, jika tak dipenuhi keinginannya, dia marah, ngambek. Aku dan suami berusaha beri penjelasan, tapi tetap bersikeras. Besoknya kami berjanji akan memenuhinya dengan syarat dia mau tidur lebih awal, setidaknya setelah sholat Isya’. Dia menyetujui serta berjanji melakukannya.

Esok harinya dia menepati janji. Subhanalloh, dengan sekali sentuh memanggil, dia langsung terbangun, padahal biasanya kalau dibangunkan sangat sulit. Dia menunaikan qiyamul lail, lalu tidur kembali. Terkadang jika waktunya sudah dekat sholat Subuh, dia tunaikan Subuh berjama’ah. Melihat keseriusannya aku jadi penasaran, apa yang melatarbelakanginya? Apa alasan yang membuatnya mudah berbuat dan sungguh-sungguh. Aku cukup mengenali karakter sulungku ini, disuruh pun belum tentu mau kalau tidak dibarengi motivasi yang kuat.

Sebelum tidur malam, seperti biasa kami bercanda dan mereview aktivitas pagi sampai sore tadi. Ku tanya pada sulungku, “Mbak Izzah akhir-akhir ini tambah pinter ya, mau qiyamul lail, minta apa nih sama Alloh?” Kemudian bercerita, dia mempunyai kelompok di kelas yang selalu punya skor bintang tertinggi. Bagi kelompok yang banyak bertanya serta menjawab pertanyaan ustadzah dan ibadahnya baik, akan menambah skor bintang yang dimiliki. Nanti, akhir pertengahan semester dan akhir semester, diumumkan pemenangnya, serta mendapat hadiah dari ustadzah. Saat itu, tiga hari jelang akhir pertengahan semester, skor bintang kelompoknya disalip kelompok lain dan terpaut sedikit, katanya. Teman-teman sekelompoknya sepakat besok semua anggota kelompok harus sholat malam, dan pada hari kamis harus puasa. Esok harinya ketika pengumuman ternyata benar, kelompoknya berskor bintang tertinggi, sehingga mendapat hadiah berupa pensil dan penghapus setiap anaknya.

Aku tertegun sesederhana itu motivasinya, tetapi setelah kupikir tak mengapalah untuk awal pembelajaran sampai menerbitkan kebiasaan. Itu berlaku tidak hanya bagi anak-anak, orang dewasa pun perlu pemaksaan kondisi agar aktivitas yang dilakukan menjadi pembiasaan yang berkelanjutan. Memang belum setiap hari dia mengerjakannya, terkadang semangatnya turun dia tidak melakukan sama sekali. Sebuah tantangan agar terus mempunyai motivasi, terlebih bagi kami yang belum bisa setiap hari bangun malam. Bagaimana memotivasi, jika diri ini belum bisa jadi uswah yang benar-benar. Robbi, kuatkan kami mendidik amanah-Mu dengan baik, menjadikan peningkatan ibadah kami.

Aku punya hobi berjualan, suami dan anak-anak sering kulibatkan; kadang di rumah atau menggelar bazaar. Sering kalau ke mana-mana bawa barang dagangan untuk dijual. Rupanya putri sulungku memperhatikan kebiasaanku. Dia ingin membantuku berjualan. “Kan enak mi, dapat uang bisa beli jajan sendiri” katanya. Sebenarnya, sejak kelas satu keinginan itu pernah disampaikan kepadaku, ingin berjualan ke teman-temannya di kelas. Tapi berhubung ada larangan membawa uang ke sekolah bagi kelas 1 dan 2, maka tidak aku penuhi, dan di kelas 3 ini aku baru membolehkannya.

Jika membeli buku atau alat tulis, sekalian beli 1 lusinan. “Boleh dijual kalau Mbak Izzah mau,” kataku. Kalau ada yang laku, dia terlihat senang sekali. Uangnya disimpan dan dikumpulkan sendiri. “Uangnya buat apa Mbak Izzah?” tanyaku. “Gini mi, di kelasku belum ada kipas angin, sedangkan di kelas lain sudah ada. Kata ustadzah, kalau infaq di kelas banyak, pasti bisa segera beli kipas angin. Jadi buat infaq mi, terus buat jajan sama dimasukkan celengan,” jawabnya. Subhanalloh, semoga bisa mengasah kepekaan berbisnis serta jiwa sosialmu, anakku.

Tentu aktivitas berjualan ini tak berlangsung setiap hari, hanya kadang-kadang, agar tidak mengganggu pelajaran di sekolah. Ihsan juga pingin ikut-ikutan, pingin punya uang sendiri. “Ya bolehlah sekali-kali kalau ada orang beli, yang terima uangnya Dek Ihsan” kataku sambil tersenyum. “Nah, kalau yang ini belum njowo,” kata suami. Ketulusan buah hatiku untuk membantu dan belajar, memberiku motivasi lebih keras dalam mengembangkan bisnis.

Saat sekeluarga sedang makan bersama, anakku berkata, “Ummi ini makannya kok cepat ya, banyak lagi, nanti tambah gendut gimana?” Suami dan anak-anak tertawa bersama. Yah, betul juga yang dikatakannya. Si Ihsan kadang suka memanggilku si gendut. “Capek deh…” kata suamiku. “Aku nggak bilang lho ya, tapi bener tuh kata anak-anak, kalau bisa diusahakan, kenapa nggak di coba?” “Baiklah sayang, ummi mau banyak olah raga dan mengurangi karbohidrat, makan sayur dan buah-buahan, kalau lupa diingatkan ya?” kataku. Trimakasih anakku, kau membuatku bersemangat menurunkan berat badan.

Suatu hari, Izzah bangun paling awal dari yang lain, dia membangunkan seisi rumah. Sholat, mandi, dan keperluan sekolah dipersiapkannya sendiri. Tinggal makan yang belum selesai aku siapkan. “Ummi, besok lagi bangunnya lebih pagi ya, biar aku nggak terlambat masuk sekolah. Ini makannya belum ada. Abi, cepat ya siap-siapnya. Adek, cepet bangun dong,” katanya beruntun. “Kenapa lho mbak, kok buru-buru? Kan masih pagi, belum ada jam 6. Tunggu sebentar, sabar dulu ya,” kataku. “Lha kemarin aku terlambat lho mi, disuruh berdiri di depan kelas, aku nggak mau seperti itu lagi,” jawab Izzah. Jadi begitu, dia tak mau mengulang kesalahan yang sama. Begitu siap, Izzah dan Ihsan langsung meluncur ke sekolah bersama suamiku berangkat bekerja.

Di saat menjemputnya pulang sekolah, kadang aku telat karena suatu urusan. Kala itu hujan deras. Ketika aku menghampirinya, terlihat ada air mata meleleh di wajahnya. Ku tanya ada apa gerangan, dia hanya diam membisu sambil gelengkan kepala. “Baiklah, kita pulang sekarang ya?” tanyaku. Dia hanya anggukkan kepala. Sesampai di rumah, putriku baru mau bercerita. “Tadi aku takut lho mi, temen-temen sudah dijemput semua. Ummi atau abi kok nggak datang-datang. Aku takut ummi atau abi kecelakaan atau kesambar petir, gitu. Di sekolah hujannya deras. Nanti aku sama siapa lho mi, aku takut sendirian. Ummi kalau jemput jangan telat lagi ya, aku bener-bener takut. Kalau ummi sama abi meninggal, aku sama siapa” celotehnya. Terharu aku mendengarnya, sejauh itukah putriku berpikir.

Ya Rabb, betapa aku telah mendzalimi dirinya, membuatnya khawatir sampai dia berpikir jauh karena keterlambatanku menjemputnya. “Ma’afkan ummi ya nak, Insyaallah lain kali ummi berusaha nggak terlambat lagi. Dan kalau terlambat berusaha memberi tahu ustadz atau ustadzah di sekolah, biar Mbak Izzah tidak khawatir,” kataku. Baru kusadari, betapa besar pengaruhnya pada anak, jika kita menjanjikan sesuatu lalu tak bisa menepati, tanpa alasan jelas yang bisa diterima olehnya. Trimakasih sayang, kau memberiku pelajaran baru.

Semoga Allah SWT selalu menyadarkan betapa banyak kekurangan kita sebagai orang tua dalam mendampingi kehidupan anak. Celotehnya, tingkah lakunya yang mencerminkan apa adanya. Yang secara tidak langsung mengajari kita tentang arti hidup yang sebenarnya. Wallahu a’lam bishowwab.

*) Yanti Mulatsih, lahir di Madiun, 11 Maret 1976, adalah Wali dari Ananda Azizah Nur Rafidah (siswi kelas 3-Abu Bakar) dan Ihsan Izzudin Habuburrahman. Alamat sekarang di Desa Karanglo Lor RT 01/RW01 Dusun Kulon Kecamatan Sukorejo Ponorogo. Penulis adalah istri dari Budi Purnomo