Esti Pramestiari *
Kompas, 15 Mei 2013

Aku bercinta dalam kesunyian yang panjang, dalam waktu yang membunuh detik tanpa pilu, bercinta dengan gemerlap malam, dengan bintang-bintang yang tertindih bulan, dengan nafas kerinduan yang merintih, dengan kata tanpa makna yang aku tak pernah tau…
Aku bercinta dengan diriku, sunyi itu kembali merapat dalam mata yang merindu, aku sedang bercinta dalam damai…dengan jiwaku..
***

Lelaki itu datang menghampiriku, matanya bersinar seperti bulan purnama, aku sibuk dengan laptop di meja kerjaku
“I Love You,” katanya datar padaku sambil berbisik.
Aku tersenyum, dirinya datang kembali ke meja kerjaku
“Pacarku,” katanya sambil menunjukan foto lelaki dengan topi hitamnya.
Aku diam, lalu menjawabnya “pacar apa suami?”
Dia membalasnya
“Suami..hahahaha,” dia tertawa sambil menutup mulutnya.
“Lelaki menikah dengan lelaki?” kataku lagi.
“Nikmat,” jawabnya riang.
“Apanya?” balasku.
“hahahahahaha” Lalu kami tertawa bersama.

Lelaki itu, bercinta dengan dirinya sendiri, dengan rindu yang mungkin tak pernah dia lukis dalam kanvas. Aku menatapnya dari kejauhan perlahan, matanya masih terpaku menatapku, bibirku tersenyum. Lelaki itu bercinta dalam rindu tanpa makna, yang mungkin tak pernah dapat dia rasakan itu dalam dunia nyata…
Dia…
Telah bercinta dengan kerinduannya, keluar dari kodrat yang sesungguhnya..
***

Pagi ini, mentari datang dengan kicauan burung yang menari, aku lupa tadi malam, suara apa yang kudengar kala bercinta, bercinta dalam damai dengan jiwa tanpa kata, yang pasti aku telah mampu melukisnya, meski jejaknya hilang tanpa jeda.

Demontrasi menghadang jalan utama, aku melirik arlojiku, telat satu jam sepuluh menit. Aku melihat para demonstran yang berteriak dengan kata untuk para pemilik tahta.

Mereka telah bercinta, bercinta dengan kerinduan akan kebebasan bersuara, bercinta dengan jiwa-jiwa yang tenang namun berkuasa.

Mereka bercinta, dengan terik matahari pada suara-suara gaduh tanpa peluh. Tanpa nafas yang tercekat dan lelah, mereka bercinta dengan kebebasan, dengan kerinduan akan keinginan dan harapan.
***

Bintang menari-nari dalam pelupuk surya yang tenggelam, tak ada kata, mobil-mobil mewah itu terhenti dalam rumah yang tak lagi mewah.

Di dalamnya puluhan wanita telah bercinta dengan kepalsuan mereka, dengan gincu yang melekat pada bibir yang mendesah dengan peluh, tak ada lagi hasrat, tak ada lagi cinta, karena mereka telah bercinta, dengan kepalsuan tanpa kata-kata.

Suara musik pelipur lara, puluhan wanita itu menggoyangkan pinggul mereka menikmati indahnya dunia. Mereka sadar, bahwa mereka telah bercinta, dengan tangis tanpa airmata.
***

Suara hentakan kaki pada tangga-tangga di pusat perbelanjaan itu, memekakkan telinga. Mungkin bukan telinga mereka atau kita, namun telinga para penjaga yang telah bercinta dengan dinginnya malam dibawah kolong langit tanpa atap.
Bercinta dengan keinginan yang tak perlu, bercinta dengan hasrat yang juga tak pernah ada sebelumnya.
Bercinta dengan lorong-lorong dalam terangnya cahaya, mereka telah bercinta, dalam kemewahan berbalut keinginan tanpa tembok pembatas yang pernah ada sebelumnya.
***

“Permisi” kata perempuan cantik dengan rambut hitam sebahunya.
Lelaki itu menatapnya lalu mempersilahkannya masuk
“Apa kabar?” kata lelaki itu sambil menggoyangkan penanya.
“Baik pak” jawab perempuan itu datar
Mereka terdiam, bercinta dengan pikirannya, dengan kerinduannya yang datang tanpa suara
“Aku merindukanmu” kata lelaki itu berbisik dalam batinnya
“Aku juga” perempuan itu menatap tangan lelaki itu yang terus menggoyangkan penanya.
Mereka telah bercinta, bercinta dalam jiwa yang menari-nari dengan dinding pembatas. Bercinta dengan kata tanpa kejujuran, dengan area yang terlindungi, dengan sisi rasional yang berjalan berdampingan dengan sisi dramatis.
“Aku mencintaimu” nyaris tanpa suara keduanya berkata-kata.
Lelaki itu menyerahkan filenya, lalu perempuan itu berjalan keluar ruangan menuju mejanya.
“Hati-hati” kata si lelaki
Perempuan itu menunduk tanpa kata, menghampiri mejanya, lalu mengambil ponselnya dan mengirimkan sms untuk sahabatnya
To:
Sahabatku
+62816170xxxxx
08: 35 WIB
Aku bahagia,hari ini bertemu dengannya, meski hanya sebentar. Aku bahagia melihatnya bahagia. Aku mengerti ini hasrat yang harus aku hapus, Meski sulit, namun aku yakin aku mampu. Ada hati yang akan tersakiti jika aku maju tanpa jeda. Aku bukan miliknya, Dia bukan milikku. Tuhan tidak mempertemukan kita disaat yang tepat. Aku sadar itu. Apa benar aku harus melangkah pergi?

Perempuan itu menghapus airmatanya, menghapus hasratnya untuk bercinta dengan kerinduannya, dengan jiwa yang mungkin tak termiliki hari ini. Dengan keinginan yang datang lalu tak jua dapat pergi. Perempuan itu telah bercinta, bercinta dengan hatinya, melawan keinginannya.
***

Rindu memanggil dari kejauhan, setitik air turun dari langit membasahi bumi. Perempuan itu menatap lelaki yang terbaring disampingnya.
“Bagaimana kau dapat hidup dengan laki-laki yang tidak pernah kau cintai? Bertahun-tahun… menemaninya… memahami dan merawatnya? “ pertanyaan itu muncul di benak perempuan yang menatap laki-laki yang terbaring disampingnya hingga terlelap tanpa kata.
Tak lama datang seseorang yang sangat dinantikannya…
“Kau..” kata perempuan itu lemah
Lalu lelaki itu tersenyum
“Kemarilah..” lelaki itu menjawabnya, sambil membentangkan tangannya
Perempuan itu datang menghampirinya…memeluknya, mereka terbenam dalam dekapan kerinduan.
“Kemana kau?…” perempuan itu melanjutkan kata-katanya.
“Aku disini, dihatimu, bersama disetiap langkahmu…” lalu mereka saling memandang, terdiam bersama keheningan malam.
Mereka telah bercinta, bersama mimpi-mimpi mereka yang mungkin saja tertunda. Perempuan itu bercinta dengan bintang yang akan menjadi matahari, dengan mimpi yang tak akan menjadi nyata, dengan impiannya. Lelaki itu hanya mimpinya, belahan hatinya, serpihan dari tulang rusuknya yang belum disatukan Tuhan.
***

“Aku butuh kau, sekarang!” perempuan itu menutup ponselnya
Mereka bertemu di kedai kopi, menghirup secangkir kopi panas dengan aromanya yang khas.
“Aku bertemu sayed” kata perempuan itu antusias
“Lalu?” kataku
“Aku lepas kendali, aku membiarkan segalanya terjadi” perempuan itu menatapku dalam.
Airmataku tiba-tiba jatuh…menetes tepat pada secangkir kopi hangat.
“Kau mengerti maksudku?” katanya kemudian
“Hamil?” jawabku
Perempuan itu menggeleng…
“Aku berdosa pada suamiku, namun kau mengerti, aku tak pernah mencintainya!” katanya meyakinkanku
“Rasyid” mataku tertuju padanya
“Anak itu masih terlalu kecil untuk memahaminya” jawabnya datar
“Kau akan memperjuangkannya?” tanyaku menatapnya
“Ya, aku mencintainya, aku akan mengurus segalanya, sayed menungguku hingga segalanya selesai!” jawabnya yakin
Lalu aku tersenyum…
Perempuan itu, mengejar cintanya, dia telah bercinta dengan realita, dengan nyata yang tak mudah dapat diraihnya…
Lelaki itu telah bercinta..dengan cinta yang rumit, tapi dia memperjuangkannya. Dia telah bercinta, dengan realita.
***

From: 0811xxxxxxx
06.35 WIB
Halo
Aku membaca empat huruf itu lalu aku meletakkan ponselku ketempat semula.
Tak lama aku membasuh wajahku, dengan air wudhu. Berkeluh kesah dengan sang Maha Pencipta adalah obat paling mujarab meluapkan rasa. Kerinduan dan kekecewaan…
Aku kembali ke mejaku, melihat layarnya, panggilan tak terjawab.
“Pentingkah orang sepertinya menghubungiku? “ aku bertanya-tanya pada benakku, teriris pilu.
Aku kembali menghubunginya
“ada apa?” kataku datar
“Heiiii” jawabnya
“Iya ada perlu apa?” kataku kembali
“Kok, suaranya gitu!” jawabnya
“Harus bagaimana” aku menjawabnya
“biasanya ramah” dirinya mencoba mencairkan suasana
“ada keperluan apa?” kataku kembali
“Aku ada masalah, bisakah kita bertemu?” jawabnya datar
“Aku di Surabaya, seminggu lagi kembali, masalah apa?” aku masih saja datar.
“Apa anggota keluargaku ada yang menghubungimu?” katanya penuh tanya.
“Tidak” jawabku
“Baiklah, aku akan menghubungimu kembali” kata lelaki itu.
Aku menutup ponselku.
“ Apa lagi yang dia inginkan? Aku bukan siapa-siapa yang patut dia khawatirkan akan merusak hidupnya atau kehidupan rumah tangganya. Aku hanya perempuan biasa yang berjuang hidup untuk keluargaku dan kebetulan hatiku pernah memilihnya” aku berkata dengan diriku sendiri,membenamkan mimpi-mimpiku.
Ponselku kembali berdering..
“Anakku pergi, setelah membaca BBM kita” katanya
“Kita?” aku terbenam dalam pikiranku tanpa suara
“Memang apa yang salah dengan kita, aku tak pernah menggodamu meski dengan kata-kata dalam Blackberry Messanger” aku kembali berkata dalam pikiranku.
“Aku tegaskan sekali lagi, apa keluargaku pernah ada yang menghubungimu!” katanya padaku
Hatiku kembali tergores, kali ini letaknya sangat dalam…
“Paapaaaaa” aku memanggil lelaki itu dari kejauhan
Aku melupakan wajahnya, namun aku tak akan melupakan cintanya, kasih sayangnya.
Lelaki itu memelukku erat, tangannya meraih wajahku
“Aku mencintaimu nak, jaga adik-adikmu, jaga mama, jadilah anak yang baik” katanya perlahan sambil mencium keningku.
Aku melihat punggungnya menghilang perlahan…
Sepuluh tahun silam…
“Aku ingin menegaskan, apa keluargaku ada yang menghubungimu!” katanya kembali membuatku tersentak dari lamunanku
“Tidak” jawabku kepadanya
“memang kenyataannya seperti itu” aku berkata-kata dengan pikiranku sendiri
“Bawa dia pulang,aku yakin kau ayah yang hebat” kataku
“Baiklah… terima kasih ya” katanya sambil menutup ponselnya.
“Sampaikan salam sayangku untuknya” aku berkata dengannya tanpa kata-kata.
“Aku adalah seorang anak pernah merasakan, ayahnya pergi dengan perempuan lain dan tak pernah kembali. Kau tau? Aku tidak akan pernah membuat anak-anak lain merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan..tidak akan!” aku berkutat dengan pikiranku.

Aku menghapus sisa airmata yang menetes tepat jatuh di pelupuk mataku…
Aku menghapus mimpi-mimpiku, bercinta dengan kerinduan dan angin yang menghempas kehadapanku, menyampaikan kabarnya atau sepotong doaku untuknya.
Aku menghempaskan nafasku, bercinta dengan hatiku, bercinta dengan kapas-kapas dilangit yang jika aku menatapnya, aku mampu melihatnya atau bahkan menyentuhnya, dengan hatiku.
Aku telah bercinta…dengan bayangan bahwa dia nyata. Melepas janji-janji yang mungkin tak akan pernah terlupa…
Selamat Jalan cinta..
Mulai saat ini kita bercinta bersama mimpi-mimpi kita di alam yang tak nyata.
***

“Sah!” suara tamu undangan memecah kesunyian
Sepasang insan yang telah dipersatukan tulang rusuknya oleh Tuhan saling menatap bahagia.
Malam telah larut, bintang berpendar, bumi bergejolak..seperti gejolak nafas kedua insan yang telah bersatu dalam keindahan..
Mereka telah bercinta…
Bercinta dalam arti yang sesungguhnya
***

Tamat
Surabaya – GA 323 Mendarat di Jakarta Mei 2013

*) Esti Pramestiari, penulis yang karya-karya diterbitkan di kompas.com antara lain: Perahu Kertas, Wanita Penghibur, Rajawali, Kaki, Surat Cinta untuk Aa, Perempuan dimadu,dll. Dapat dihubungi via email melalui esti.pramestiari@yahoo.com
Dijumput dari: http://oase.kompas.com/read/2013/05/15/23040352/Cerpen.B.e.r.c.i.n.t.a

Categories: Cerpen