Bagian 23: Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia

(kupasan kedua dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)
Nurel Javissyarqi

Saya tidak tahu, wallahualam bissawab. Setelah diperjalankan dari Lamongan ke Jombang, Kediri, lalu berhenti di dataran bumi Reog Ponorogo, saya lanjutkan kini. Kenapa disebut ‘diperjalankan?’ Lantaran langkah kaki ini kehendaknya damai di tanah kelahiran, tapi air hayati menghempaskannya. Kurang lebih sebelum 5 April 2012, saya seakan menghadapi canangan nasib, namun setelahnya diringkus takdir besar berbeda. Mungkin ini ‘terapi’ tersingkapnya Kun Fayakun walau sekelumit. Di dalam periode tersebut, perangainya bisa dilihat bagian XX (4 Juni 2012), XXI (25 Juli 2012), XXII (14 Agustus 2012) serta sekarang.

Sisi lain, saya yang pengelana kurang pantas mengurai paparan penalaran, apalagi dengan buku tebal. Setelah diraba, sejenis terjadi sebab-akibat alam semesta. Tulisan senada bisa ditengok di sini http://sastra-indonesia.com/2009/06/bahasa-kausalitas-yang-rahmatan-lil-alamin/ Hukum kausalitas menaungi sepantulan dari kebuntuan para kritikus sastra yang tahu kejahiliaan dibiarkan, setanggul air tak mengalir merubah warnanya hingga pembusukan. Dan kegiatan inikah segerak menjebol tanggul angkuh guna dialirkan airnya, demi peroleh tenaga pelestarian nilai yang mempat? Maka terpancanglah pembangkit tenaga alamiah.

Atau seyogyanya kritikus pendukung Sutardji jua menghardik kesalahfatalan terjadi pada teksnya, tapi lantaran bungkam, sunnatullah diperjalankan. Saya tiba-tiba menulis kritik panjang lebar tak lebih sepantulan energi dari kritikus malas mengkritisi, sungkan menegur SCB jadi kebodohan kian tampak parah depan mata. Ini perihal ketersumbatan; banjir besar atau ribuan semut hitam kata-kata atas kehendak keseimbangan. Seombak memecahkan keheningan malam atau gerhana bulan dua kali teralami dalam tahun ini saksinya.

Saya yang bercita-cita jadi pelukis, karena cat mahal dan oleh pilihan sudah dimatangkan di tahun 1999, lantas meyakinkan diri menghadapkan jemari memegang pena menyetiai menulis. “Apakah saya penulis, penyair atau sastrawan?” Itu tidak penting, dan tak perlu membuat plakat depan rumah atau belakang nama semisal dokter gigi. Setidaknya saya tak sebarkan gosip, tekslah yang bicara. Umpama saudara tak paham, sekali lagi saya maklumi, karena membedakan ‘kata kerja’ dan ‘kata benda’ tak mampu, dalam kasus SCB menyoal Kun Fayakun yang diselewengkan?

Lansung saja, baca ulang kutipan saya; paragraf Aguk Irawan Mn bagian sebelum ini. Lalu masuk petuah Al-Ghazali: “Barang siapa yang hendak berbicara tafsir Al-Qur’an dan takwil hadits, pertama-tama wajib menguasai bahasa Arab, ilmu nahwu, ilmu i’rab, dan ilmu sharaf, karena ilmu bahasa merupakan tangga dan jembatan bagi semua ilmu. Barang siapa tidak menguasai ilmu bahasa, maka tidak akan berhasil memperoleh ilmu. Barang siapa hendak meningkatkan prestasinya, pertama-tama, hendaklah membentangkan jembatan, baru kemudian melintasinya. Ilmu bahasa adalah jembatan paling utama dan lintasan paling pokok. Pencari ilmu mesti mengetahui segenap hukum bahasa.”

“Pemulaan ilmu bahasa adalah pengetahuan perangkatnya yaitu: kosakata atau muffradat (vocabulary), susunan kata kerja dan lainnya. Orang yang belajar bahasa Arab harus mempelajari syair-syair Arab. Syair-syair Arab yang pertama kali harus dipelajarinya adalah syair-syair jahiliah, karena syair-syair jahiliah itu akan membantu menghapus keraguan pada suatu makna kata.” (Al-Risalah Al-Laduniyah, penerjemah M. Yaniyullah, terbitan Hikmah, cetakan II, Juli 2003).

Kutipan di atas sedikit banyak pembaca bisa merujuk bagian XVI yang memuat uraian alat baca (nahwu shorof) mengenai Kun Fayakun. Dan jumputan kedua saya tambahkan tulisan Imam Al-Ghazali di buku yang sama berikut ini:

“Ilmu itu zatnya sendiri sudah mulia tanpa harus memandang obyeknya. Termasuk ilmu sihir, zatnya sendiri mulia sekalipun batil. Hal ini dikarenakan ilmu itu merupakan kebalikan dari kebodohan. Kebodohan pasti disebabkan oleh terhalang /terdinding. Keterhalangan disebabkan oleh diam, sedang diam itu lebih dekat kepada ketiadaan. Kebatilan dan ketersesatan berada pada posisi ini. Jika kebodohan masuk ke dalam hukum ketiadaan, maka ilmu masuk ke dalam hukum keberadaan. Tentunya keberadaan (ada) lebih baik dari ketiadaan. Hidayah, hak, dan cahaya, semuanya masuk pada level keberadaan.”

Pengarang Kitab Ihya’ ‘Ulumuddin memperkuat landasannya berdasar Al-Qur’an, Surah al-Fathir (35), ayat 19. Setahu saya, banyak disertasi menganalisa ajaran Islam yang menghindari pengambilan ayat-ayat kitab suci, karena hal itu saklek tak terbantah. Lalu para guru besar menyarankan mencari rujukan lain, guna menyegarkan khasana dialektika. Namun rasanya saya curiga, mereka tak berani mengambil resiko di jalan ijtihat. Lebih parah menghindari lantaran kurang menguasai, terlebih akrab petuah para intelektual dari Barat sejenis. Padahal Al-Furqan kitab sucinya yang wajib dipercaya dalam meneliti soal kehidupan yang dilakoni, demi menggapai kejayaan akhirat.

“Keterhalangan disebabkan oleh diam, sedang diam itu lebih dekat kepada ketiadaan.” Ingat SCB mengganti makna kata ‘Kun’ yang seharusnya ‘Jadilah’ dipandang sebagai ‘Jadi’ atau kata benda, lalu diulang-ulang demi meyakinkan ke pembaca bahwa jalurnya sudah tepat. Namun ternyata malah menyeru ke laluan kegelapan, lepas dari prosesi kerja. Mematung kayak puisi konkret atau sajak jahiliah pra-Islam di tanah suci Makkah yang ditempel di dinding Ka’bah. “…syair-syair jahiliah itu akan membantu menghapus keraguan pada suatu makna kata.” Ingat pula perkataan paragrap kedua IK, esai yang saya kupas ini dan di ‘Pidato Penyerahan Anugerah Sastra Chairil Anwar 1998’ “Puisi adalah alibi kata-kata.” Maka inilah jawaban paragraf IK 5 dan 6. Saya berharap pembaca tak malas berbolak-balik mecernanya, demi peroleh keadaan sebenarnya!

***

Sebelum jauh saya tulis catatan perjalanan terlebih dulu. Saya diperjalankan kembali oleh laku hidup, dari Ponorogo ke Cabean, Jogjakarta, lalu malam kini berada di Watucongol, Muntilan, Magelang. Lintasan kali ini seakan menghimpun bulir-bulir renungan sepuluh tahunan lalu, yang berlalu tak terasa. Atau begitulah hayat diobang-ambing angin kesadaran, terkadang bayu keterlepasan atas hawa sejuk melenakan pun lain. Semua serentak menghimpun satuan waktu setali-temali luput terkadang menjerat langkah, naik-turun seair laut bergelombang. Dan yang terpahat sekarang, memberi pekerti di hari kemudian.

Terpetik ungkapan Al Imam Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdurrahman Al Hamdaany dalam kitabnya “As Sab’iyyaatu fil Mawaa’idhil Barriyyat” yakni ‘Kuda diciptakan dari angin.’ Saya tidak sedang berkuda dalam setiap perjalanan, namun teringat itu, dan tertera petuah Al-Ghazali pada buku yang saya rujuk dimuka, yaitu ‘Badan bukanlah tempat ruh dan tempat hati, badan hanyalah alat ruh dan perangkat hati serta tunggangan jiwa.’ Ya, ruh serta hati saya sedang menunggangi tubuh dan diperjalankan searah hawa keganjilan. Takdir entah tiada tahu pasti ketika sudah berada di atas uap dari api tungku menyala-nyala. Air hayati dipanasi menaikkan uap menempel di kaca cermin berupa bintik-bintik bening tak terkira, nikmat patut disyukuri meski dalam gugusan suwong.

Begitu menggetarkan Al-Ghazali terus mewedaran ujarannya, ‘Kebodohan itu masuk dari kemestian jasmani, dan ilmu itu masuk dari kemestian jiwa.’ Yang berada atau diantara tulisan ini sejenis reaksi kimiawi jiwa memenuhi bebidang kajian, atau saya dalam pergumulan perasaan penalaran lembut. Mengolah bahan pertimbangan batin sebelum menempati ruang penentu, putusan dari kematangan sesudah dilakoni syarat-syarat untuk peroleh pengetahuan. Ialah perluasan kesadaran denyar cahaya, sepijar jantung gerakkan tubuh, sedang hati manaungi seawan mengembarai titian rindu. Pada gilirannya menjatuhkan bebulir hujan sejukkan pelataran, kemuncul kuncup kembang rindu bermekaran. Serbuk-serbuk menerangi seperasaan pertama, meski berkali-kali tiba waktunya. Ini mengingatkan Mbah Shalih:

Di antara murid Sunan Ampel, hanya Mbah Shalih punya peristiwa misteri; mengalami mati sembilan kali, sehingga kuburannya pun sembilan. Menurut riwayat, Mbah Shalih salah satu murid Sunan Ampel merangkap tukang sapu masjid. Pekerjaannya memuaskan Sunan Ampel dan semua orang, menyapu lantai masjid sangat bersih hingga yang sujud tanpa sajadah tak merasa ada debunya. Setelah Mbah Shalih wafat dan dimakamkan di muka masjid, baru terasa oleh Sunan Ampel serta orang banyak, yaitu tiada seorang pun mampu menyapu lantai masjid sebersih sapuannya. Lebih-lebih para santri tak bisa rutin menyapu, akibatnya keadaan masjid sering kotor. Melihat demikian, berucaplah Sunan Ampel, “Seandainya Mbah Shalih masih hidup, tentulah masjid ini menjadi bersih.” Tiba-tiba di pengimaman nampak Mbah Shalih sedang menyapu, lantai masjid pun bersih kembali, semua orang keheranan melihat Mbah Shalih hidup kembali. Beberapa bulan kemudian wafat lagi, dan dimakamkan di sebelah timur berdampingan makamnya yang pertama. Sepeninggalnya kedua, keadaan masjid kotor lagi. Atas kekaromahan Sunan Ampel mengucapkan kata-kata sebagaimana dahulu, dengan ijin Allah Swt. Mbah Shalih hidup kedua kalinya. Demikian kejadiannya beberapa kali wafat dan hidup kembali. Sesudah kuburan Mbah Shalih genap delapan, Sunan Ampel tiba kewafatannya. Sepeninggal Sunan Ampel, Mbah Shalih pun wafat sehingga kuburannya sebanyak sembilan, kuburan akhir berada di ujung timur. (Kisah Wali Songo, disusun oleh Baidhowi Syamsuri, 1995 penerbit Apollo Surabaya).

Dalam karangan saya ‘Kitab Para Malaikat’ tertuang berikut, “Ia tak pernah menjatuhkan vonis kematian kedua kali, kecuali kau naik banding, serupa mati surinya pemegang sapu lidi di makam Ampel (II: I).” (Hukum-hukum Pecinta II: I – CXIII, terbitan PUstaka puJAngga, 2007). Membersihkan bidang perasaan, menyapu debu perjalanan demi khusyuknya pertemuan. Maka uraian lanjut saya menunggu kedatangannya, kehadiran inspirasi nan dinanti. Bekal tertanam kini, semoga menyeruak segetaran nasib menuruti peta sudah tertera jauh, sebelum saya hidup di bumi.

***

“Abu Mas’ud ‘Uqbah bin Amrin al Anshari al Badri r.a. mengatakan; Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya, salah satu ucapan kenabian yang pertama yang diketahui oleh umat manusia adalah apabila engkau tidak malu, maka lakukanlah sekehendakmu.” (H.R. Bukhari). Hadits Riwayat dalam “Kitab Syarah Hadits Arba’in” karangan Al Imam Yahya bin Syaraf Al Nawawi, tersebut diperkuat Q.S. Fushshilat: 40, yakni bentuk larangan atau ancaman dipermanis, istilah Jawa-nya ‘dibombong’, semacam ‘dipangku’ dalam perkara akrasa Jawa berarti ‘mematikan’ pada kalimat “…apabila engkau tidak malu, maka lakukanlah sekehendakmu.”

Maaf, bagian ini tergambar kurang terkait langsung kajian, karena mengungkap catatan perjalanan, tetapi Insyaallah terpaut seirama gerak, lantaran teks saya tuangkan tak lebih cermin hati bergetar oleh cobaan menimpa. Dengan melayarkan jemari menjatuhkan pilihan demi mengisi reruang jiwa beserta nikmat tak terkira dari-Nya yang memberi wewaktu luas bersuntuk meskipun dalam kepayahan batin tengah didera musibah mengepung bak gulungan ombak menggelombang. Semogalah sampai ke pantai keyakinan; dambaan laku dari peneliti yang diombang-ambingkan hidup dalam percepatan imbang, “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (Q.S. Al Qamar: 49).

Dari ayat tersebut, Al Nawawi mengurutkan ke hadits Nabi diriwayatkan Ibnu Abbas r.a., “Ketahuilah bahwa seandainya sekelompok orang bersepakat untuk memberikan manfaat kepadamu, maka tentu mereka tidak akan dapat memberikan kepadamu  manfaat, kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah. Sebaliknya, manakala sekelompok orang bersepakat untuk mencelakakanmu, maka mereka tidak akan dapat mecelakakanmu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah. Pena untuk menulis, takdir telah diangkat dan lembaran-lembaran buku catatan takdir pun telah habis.”

***

Setelah diiperjalankan dari Gunung Pring (Watucongol, Muntilan, Magelang), ke Cabean (Yogyakarta), ke Ngelipar (Gunung Kidul), diantar lima veteran ke Ponorogo, lalu ke Menturo (Jombang, ke makam ibunda Emha Ainun Nadjib; Hj. Chalimah yang meninggal pada tanggal 1 September 2012), kemudian ke Langitan (Tuban), ke Makam Sunan Drajad (Lamongan), menuju Pasuruan serta Ponorogo lagi, kini saya lanjutkan.

***

Mungkin lebih sebulanan tak teruskan di atas, selain dinding tebal menjulang persoalan menghadang juga berkali-kali menempa. Tepatnya sesuaikan hawa prosesi tulisan, guna tetap pada kesatuan, atau ‘bendelan’ dapat ditarik pengertian di hari kemudian. Anggap gaya seolah tak terkait ini pertemuan kebetulan saya ketengahkan, saudara membaca tentu berbeda esainya IK bertitel “Sastra Indonesia dan Saya, Sebuah Perjumpaan, Untuk Leo Kleden, Mengenang 23 Juni 1979.” Sebenarnya saya tidak perlu repot menyoroti, hanya jika ada anggapan ceriwis atau bolehlah menebalkan keyakinan ke muka. Toh saya tak mengharuskan diterima, mungkin hanya ‘maaf’ yang terucap, jika saudara sayang tidak meneruskannya.

Ini kali agak malas, namun rindu berkata-kata. Boleh jadi raginya kumparan gugusan pandang terlewat, dan saya asyik mencengkeramai diri mengenai kebenaran teryakini, pun perihal patut digaris bawahi. Tulisan atau hidangan ini sisi lain terapi, jika ditengok beban menimpa, sejalan tulisan menyehatkan badan-jiwa. Setidaknya dengan kualitas yang ada bisa menjurus perampokan, tapi Alhamdulillah diri ini terhanyut ketampanan para pemikir, keuletan peletak dasar penalaran dari perwujudan wahyu sampai sihir. Sehingga disibukkan suara-suara kedalaman, lalu menganggap ringan hidup hanya untuk mencari keselamatan.

Kini 15 Dulkaidah 1945, Senen Pon menurut kalender Jawa, saya balik di Perumahan Patihan berbentuk aula menghadap ke utara, di depan terhampar lapangan selalu sunyi. Sebelah barat dan timur masing-masing tak ada lima puluh langkah bangunan masjid, keduanya tidak terlalu besar jika dibanding masjid-masjid di wilayah Pantura. Saya sedang tak banyak baca buku tetapi menyerapi bacaan telah lalu, serupa melilitkan benang-benang jiwa menghitung hati berkaca diri. Sesekali menghela nafas panjang kini berkeadaan pelahan, sepelan merasakan timbagan hampir mendekati seimbang.

Dalam ruangan luas, sebelah barat berderet buku-buku cetakan karya Bapak Sutejo, calon doktor penemu teori Etnosufistik pada disertasinya “Trilogi Novel Syaikh Siti Jenar Karya Agus Sunyoto.” Di atas deretan buku, lukisan karya Andry Deblenk dan Sugeng Ariyadi. Kadang ditemani kicauan beburung prenjak juga beburung lain bebas tidak terkurung sangkar bikinan manusia. Sebelah selatan letak saya tempati terbentang pesawahan menghijau meski musim kemarau, terbersitlah karena bagusnya pengairan di Ponorogo. Mungkin hanya di sini bisa tenangkan diri, setidaknya tak balik ke Tegalsari pun di Pesantren Joresan, lantaran jika lama di sana batin ini tertekan kenangan terdekat di hati.

Teman-teman lukis pun kawan-kawan penulis kerap datang di sebelah waktu sepi, seperti pagi ini serta pagi-pagi terlewat, pula malam-malam tanpa bayangan, sunyi mencekam, saya tenggelam dalam renungan laksana patung sendirian. Nyanyian bebacaanlah menghibur, ruh orang-orang dahulu mampir menyambangi, datang beraroma harum sejelas kedekatan diri keakraban pribadi mengenalnya. Lantas menjelma harmoni menemani tapak hidup mengudar pengertian senggang, serasa wewarna anyar kejadian peleburan di atas karakter pelbagai rupa drajat keadaannya.

Melodi ini rasanya berbekas pembacaan “Balada di Bukit Pasir Prahara” minggu lalu di kampus. Kini saatnya mengedarkan ingatan pada bebagian lalu, pula catatan ini demi menggenapi kisah. Jikalau ada mengira ini tegur sapa dangkal, maka meski terlambat; ‘Selamat datang wahai pengembara yang perluas kemungkinan terhampar rahmat-Nya bagi penempuh jalan kesunyian.’

Di bagian XVI saya sebut Kun Fayakun terdapat di penghujung Surat Yaasiin ayat 82, penghujung Surat An-Nahl ayat 40: “Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “kun (jadilah)”, maka jadilah ia.” Dan “Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.”

Setelah menelusuri, ternyata ada di beberapa ayat pada surat lainnya dalam al-Qur’an,

Al Baqarah: 117 : “Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.”

Al An’aam: 73 : “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.”

Al Mu’min: 68 : “Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya bekata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia.”

Maryam: 35 : “Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia.”

Ali ‘Imran: 47 : “Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.” Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia.”

Ali ‘Imran: 59 : “Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah dia.”

Bayangkan, atau kata lain saya tak paham kaidah berbahasa, namun siapa tahu malah jadi masukan berharga di tempat berbeda? Dan bayangkan kata ‘Jadi’ kepunyaan SCB sebagai kata konjungsi (kata penggabung) dalam paragrafnya:

“Pada mulanya Tuhan Sang Maha Penyair berfirman, “Jadi, lantas jadilah!” Itulah kata paling utama dari puisi di mana kata adalah benda adalah ikhwal adalah makna adalah diri ekspresi adalah eksistensi. Kesanalah penyair menuju-sebagai pedoman-mencoba meraih kata yang adalah makna itu sendiri” (Sambutan Sutardji Calzoum Bachri Pada Upacara Penyerahan Anugerah Sastra Mastera, Bandar Seri Begawan 14 Maret 2006, ‘Isyarat’ hal 20).

“Pada mulanya Sang Maha Penyair berucap, “Jadi maka jadilah!” Itulah kata yang paling hakiki dari puisi. Kata adalah makna itu sendiri. Jadi adalah Jadi itu sendiri. Dalam dan pada Jadi itulah dunia dan makna menghadirkan diri. Ke sanalah penyair menuju, terobsesi mencoba meraih kata yang makna hakiki itu sendiri” (“Bukan” Sutardji Calzoum Bachri -Pidato Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau 2000-, “Bentara” Kompas, 11 Januari 2003, ‘Isyarat’ hal 22).

Pada beberapa kejadian, peristiwa dalam suatu nuansa, aura atau kurung letak tertentu, kata ‘jadi’ dalam kebahasaan Indonesia tidak berarti atau tidak otomatis bermakna ‘ada, wujud,’ tetapi kehadirannya sekadar ‘kata penghubung.’ Sisi lain wewarna perlambang dari kata-kata sama, namun berbeda makna serta berlainan fungsinya, yang tertemukan kadang kuatkan kalimat, menyamarkan pula mendangkalkan peristiwa diboyongnya. Di sini, tantangan sastrawan menyuntuki rupa terkandung sedalam bahasa yang dipunyai.

Maaf, saya agak geli lantaran seolah-olah guru bahasa, namun tak apa. Misalkan dalam kalimat ada kata ‘jadi’ yang tidak bernilai ‘ada, atau wujud’: “Sebab SCB berpendapat ‘puisi adalah alibi kata-kata’, jadi puisinya asal-asalan.” Demikian contoh kata ‘jadi’ yang tidak dimaksudkan ‘wujud atau ada,’ namun sekadar ‘kata sambung.’ (Bunyi “puisi adalah alibi kata-kata” terdapat dalam esainya SCB, “Pidato Penyerahan Anugerah Sastra Chairil Anwar 1998,” pada Catatan Kebudayaan, Horison, XXXII/5/1998, dan buku “Isyarat,” kumpulan esai Sutadji Calzoum Bachri, IndonesiaTera, hal 14).

Sebelum rambahi soal, saya turunkan bayangan di papan kemungkinan. Di beberapa perkara kata ‘jadi’ yang tidak hanya bermakna ‘wujud atau ada,’ hampir setara kata konjungsi ‘maka,’ yang dipakai menghubungkan anak kalimat dengan induk kalimat, pun antar kalimat. Seperti: “Karena kedinginan, jadi memakai jaket,” dan “Sebab kehujanan, maka badannya menggigil.” Ini bisa dikembangkan setampan penalaran pelakunya. Apakah termasuk sudah baku? Mengenai baku atau tak, diterima langsung pun tidak, saya serahkan ke pembaca. Setidaknya di sini menduduki perkara membuka perihal sudah berlaku yang masih dicurigai. Misal hanya mengikuti aturan saja, padahal lainnya berlari lincah pula melesat ke ujung setara dan lebih.

Kelenturan kata ‘jadi’ juga kekakuannya menampilkan tekanan kokoh, dibanding kata ‘maka’ yang sepintas melahirkan perangai hampir sama antara kalimat yang disambungnya atau sedikit imbang. Sedangkan kata ‘jadi’ menyerupai penghakiman terhadap peluang yang diketengahkan sebelumnya. Hukum ini berlaku lantaran kata ‘jadi’ sanggup memoles parasnya membentuk ‘kata’ tidak melempem, umpama ‘menjadi’ berbeda ‘makanya,’ itu pun dapat diserap ke tubuh ‘jadi,’ menjelma kata ‘jadinya.’

‘Kejadian’ ini. Nah, kata ‘kejadian’ pula berangkat dari kata ‘jadi,’ sedang kata kunjungsi ‘maka’ tidak sanggup menampilkan perihal demikian mewah. Kejadian tengah terunggah ini setidaknya sudah mewarnai juga mewabah di masyarakat, dan kerja penyair menggeluti nada irama menggelinjak pada ruh pencipaan karyanya. Tinggal menyadarinya luas, atau berpatokan nasib pada aturan senyatanya berselisih paham antara karya ilmiah atau tak, misalkan.

Bandingkan kata ‘makanya, olehnya, dengannya’ dengan ‘jadinya,’ yang seakan sudah meringkus peristiwa yang sedurungnya disampaikan. Inilah kelebihan sekaligus kekurangan kata ‘jadi.’ Mungkin, Sutardji termasuk penyair cerdas, namun kelewat batas menggulirkan perkara yang mencoba merombak kata ‘kun’ dari Kun Fayakun, dan ‘kun’ dimaknai ‘jadi.’ Padahal dalam kebahasaan Arab, kata ‘jadi’ ialah ‘kana’ bukan ‘kun.’ Soal ini saya kira ahli bahasa pendukungnya bisa jawab lebih lapang, andai saya keliru.

Apakah para pakar bahasa sudah merambahi kata ‘jadi’ yang disampaikan Sutardji? Saya tidak yakin, sebab hadirnya buku tipis saya yang sebelumnya dianggap ringan. Maka diri ini mensyukuri karena bisa berhadapan langsung meluas ke jangkauan yang tak sempat mereka pikir. Ini bola bekel memantul terbentur dinding karang, yang pasti keropos oleh desakan ombak berulang. Di waktu keheningan saya lihat bola tersebut bekerja, meski saya nyenyak tertidur pulas bersama tarian gelombang pemikiran yang selalu mengukir tahap kebenaran juga mengeroposkan jari-jari mitos kesusastraan yang ada.

Secara umum kata ‘maka’ sering digunakan bersamaan kata ‘jika,’ contoh “Jika ia datang, maka saya senang.” Bandingkan, “Jika ia datang, jadi saya senang,” dan “Jika ia datang, saya jadi senang.” Tidakkah kata ‘jadi’ di sana begitu elok dapat ditaruh sebelum-sesudah kata ‘saya.’ Ini akan fatal kalau diganti, “Jika ia datang, saya maka senang,” yang tampak lucu bin wagu!

Almarhum kritikus Umar Junus, lahir di Silungkang, Sumatera Barat, Indonesia 2 Mei 1934, meninggal di Kuala Lumpur, Malaysia, tanggal dan bulan sama kelahiran saya ‘8 Maret,’ namun di tahun 2010 kemarin. Junus menulis Sutardji (bukunya “Dari Peristiwa Ke Imajinasi, Wajah Sastra dan Budaya Indonesia,” bagian 16: “Puisi Yang Mantra Di Indonesia: Suatu Interpretasi,” Penerbit Gramedia, Cetakan 2, April 1985), mementingkan unsur bunyi daripada arti dalam puisi-puisi SCB, pun tak sempat mendedah keteledoran fatal pidato kebudayaan Mastera 2006 dan DKR 2000. Mungkin kata-kata “Jadi, lantas jadilah!” dan “Jadi maka jadilah!” Sutardji, dianggap memiliki kekuatan bunyi yang menyamai kata kerja dalam kata ‘jadi,’ maka alam susastra masih terselimuti pekabutan mitos paling pekat.

Junus seperti Dami, banyak mengusung referensi dari luar demi mendukung ‘keserampangan’ Sutadji, dengan abai atau menekan kekurangan manusiawi pada diri penyair diandalkan. Lewat menaikkan pamor menjulang kekaryaan SCB; seakan kehadirannya sangat berjasa untuk kemajuan sastra Tanah Air. Sekali lagi tengok siapa saja, apa pula bunyi jadi patokan, lalu bandingkan paham para tokoh lain yang terbukti telah menggerakkan nalar peradaban!

‘Jika tak mementingkan arti, tapi bunyi,’ maka contoh kata sambung atau penghubung, atau apa saja dapat saudara gandeng menerus, bolak-balik jempalitan tanpa harus repot mencari maknanya dari proton sampai neutron segala. Lewat kaca mata sederhana, para pendukung kekacauan itu semakin kacau. Dan kita tak peroleh apa-apa selain ketakjuban nalar tak berfaedah, sebab kerja daripada puisi sangatlah berbeda daripada bom atom misalnya!

Usah jauh mengkritisi kebesaran Chairil, Sutadji, tengok ‘kengawurannya’ jika ingin kedewasaan sejarah sastra Indonesia. Mengedepankan boroknya ‘tinimbang’ pamor bikinan pesona seolah-olah. Atau rasa-rasanya melebihi kupasan firman-firman-Nya, sehingga orang-orang seperti saya tidak hadir bersemangat beringas. Dan saudara layak mendapatkan jika masih berkutat pada kata-kata tanpa manfaat sesama, kecuali pentas sulapan depan mereka yang haus hiburan malam dengan tepuk tangan panjang.

Katanya, “mantra itu -sesuatu yang utuh, yang tak dapat dipahami melalui unsur pembentuknya,” dan – “sesuatu yang tak komunikatif dengan manusia, sehingga bersifat esoteris dan misterius, karena ditujukan kepada sesuatu yang gaib, merayunya, kemudian memerintahkannya untuk melayani kehendak yang mengucapkan mantra.” Sayang, Junus tak banyak menebar contoh menerangkan, sambil membanding puisi-puisi Sutardji yang menurut saya terbesar sulapan. Bagaimana kita mempelajari ‘yang tak dapat dipahami melalui unsur pembentuknya?’ Tentu dengan misal dan saya telah nyatakan seperti perusakan Ka’bah di bagian lalu. Lantas dengan apa, para kritikus yang kini bertengger di singasana kekuasaan membetulkan dari kerusakan dalam memaknai Kun Fayakun, yang dilakukan sastrawan jempolannya?

Karena mereka menerangkan ‘kemegahan’ yang dikritisi, pantas pula pertahankan yang saya ajukan! Sehingga tak seperti ungkapan Junus sendiri, ‘indah kata dari rupa,’ atau indah berita dari kenyataannya. Sekali lagi saya suka penyair pula kritikus yang pandai menghipnotis dari dugaan ke realitas, dan yang kesadarannya terlambat jatuhlah kecewa. Di sini saya mensyukuri keterlambatan mengenal kritik sastra Indonesia. Karenanya berkewaspadaan bertingkat tidak langsung menelan mentah yang diterangkan para pendahulu tanpa curiga. Padahal kekritisan ialah suatu pertahanan dalam sebuah bangsa sedang krisis!

Jadi atau maka (sambil mengingat perkara sebelumnya) kita hanya mengenal ‘politik belah bamboo,’ mikul dhuwur, mendhem jero.’ Yang silap diabaikan, yang terlihat menguntungkan diperkarakan ke sidang pembaca. Lalu kapan terjadi pertaubatan besar-besar, kekacauan melebar, lebih tragis bungkam?!

Sesaat menopang puisi-mantra Sutadji, Junus sampai menuangkan kalimat, “Komunikasi bahasa pada bentuknya yang paling hakiki dilakukan dengan menggunakan bunyi bahasa.” Bagi saya juga peneliti lawas, mantra tak lebih doa. Saya tidak memungkiri perwujudannya sejenis ‘komunikasi satu arah.’ Karena bagaimana pun doa tidak sekadar kata-kata, tapi adanya ruh hakikat yang disampikan ke hadirat Yang Kuasa. Kekuatannya tidak mementingkan bunyi yang tersampaikan saja, tetapi makna terkandung di kedalamannya.

Saya teringat ceramah Gus Najib -Denanyar, Kyai Ghofur pesantren Sunan Drajad, serta para kyai lain yang kisahkan dirinya bertemu kyai sepuh, lalu peroleh amalan berbahasa Arab (dari Al-Qur’an). Atau menceritakan kyai kampung dikala mengimami di mushola, yang dalam pembacaan doa-doa dalam sholat tidak fasih, namun Kyai Ghofur dan Gus Najib sangat segan kepadanya. Sebab bukan bunyi diutamakan (pengucapan bahasa Arabnya lebih kental logat Jawa), tetapi makna yang diresapi kyai sepuh sampai ke tulang sumsumnya keyakinan. Bukan bunyi bahasa yang hakiki, kesadaran terdalam dari suatu yang diucap itu menjadi penggerak dinaya mantra, doa.

Ada cerita lain terdengar dari guru saya sewaktu di bangku Ibtidaiyah; satu keluarga kota masuk kampung terpencil menikmati hari libur melepaskan penat melonggarkan benang-benang kesibukan di kepala. Keluarga itu tersesat oleh jalannya berlika-liku naik-turun gunung, bertanyalah mereka pada penduduk setempat akan jalan ke kota. Sebelum diberitahu, pemilik pondokan mempersilahkan tamunya nyeruput wedang, camilan serta makanan, sebagai tanda bahagia ada orang kota mampir ke rumahnya.

Kala menikmati suasana melegakan, orang kota melihat-lihat rumah bambu sederhana yang disinggahi. Pandangannya tertuju pada burung di dalam sangkar yang kicauannya merdu hingga terpikat. Orang kota dengan ringan ucap ingin membelinya, tapi tuan rumahnya keberatan. Singkat cerita si pemiliknya belum berkenan, entah oleh harga ditawar atau menanti kesepakatan anggota keluarga lain yang masih di ladang. Tetapi memperbolehkan memilikinya jikalau benar-benar suka, dengan syarat di hari minggu depannya. Lantas balik rombongan itu, sambil membayang minggu depan mempunyai burung yang diimpikan.

Pada hari ditentukan, orang kota beserta keluarganya ke kampung nan pernah diampiri. Sambil menyetir mobil, hati-pikirannya berbunga-bunga, karena kan menambah koleksi burung menghiasi rumahnya, yakni burung bagus bulu-bulunya dan indah kicauannya. Jalan dilewati kanan-kiri menghijau, menambah sedap senandung batinnya sumringah, sementara tuan rumah persiapkan masakan terlezat untuk tamunya. Antara yang datang pun menanti sama terjerat gulungan masa betapa mewah. Kabut turun pelahan laksanan kesopanan gadis sedari titian panjang sehabis mandi di sendang. Kembang bermekaran menebari pesona, halus disapa kerlingan mata, penciuman santun sebelum memetiknya.

Sampailah perjumpaan dinanti. Tuan rumah persilahkan tamunya menikmati hidangan yang disuguhkan. Selepas itu orang kota bertanya mengenai burung di minggu kemarin yang diimpi jadi kepunyaannya. Semenjak datang sampai habis makanan, dirinya tidak tenang, karena burung pernah dilihatnya sering berkicau. Dalam pikirannya, burung tersebut ditaruh di belakang rumah atau sudah dipersiapkan untuk dibawanya pulang. Namun apakah yang terjadi?

Dengan tenang si pemilik burung bercerita kalau makanan yang dihidangkan barusan ialah burung kemarin yang ditanyakan. Kagetlah orang kota seakan-akan tidak percaya kejadian teralami. Ia kecewa berat, menyesali ‘kebodohan’ (keluguan) orang desa yang ditemui, sehingga mukanya murung berat menerima realitas yang menimpanya. Orang kampung mengira orang kota kembali karena masakan yang pernah disediakan minggu kemarin, lantaran waktu itu jua memasak daging burung. Sementara orang kota datang sebab terpikat kicauan serta paras ayu bulu-bulu melekat pada burungnya.

Saat cerita di atas dihubungkan kritikus DJ (Dami dan Junus). Yang satu menekankan penelitian ke suara, satunya bentuk puisi SCB. Junus lebih condong bahwa terpenting dari puisi-mantra ialah bunyi bahasa, dan Dami ke perwujudannya, jadi mendekatkan kajiannya ke bentuk puisi konkret. Keduanya sama tak peroleh apa-apa yakni kecewa! Saya teringat tulisan Gus Dur (Abdurrahman Wahid) yang bertitel ‘Islam Kaset dan Kebisingannya,’ Tempo, 20 Februari 1982. Atau putar saja rekaman kicauan burung tanpa harus memeliharanya!

Lebih jauh huruf-huruf Abjad, Latin, Sansekerta, Hijaiyah, Ibrani, Yunani, Rusia, Kanji, Jepang, Jawa &st… mengalami perpecahan atau mengaliri anak-anak sungai berbeda. Berasal dari akar kepahaman atas nenek moyangnya yang menghiasi dinding-dinding goa tempatnya dulu sembunyi dari binatang buas. Di lembaran lontar, pahatan-ukiran kayu, relief di bebatuan, dan tersebar di ingatan manusia senantiasa mengalami prosesi kebermaknaan pada kulit (coraknya) juga isi (artinya). Oleh merawat kesadaran bersama demi mencapai komunikasi seimbang sampai menanggulangi selisih pendapat, paham yang bisa berujung tajamnya tombak peperangan.

Tenunan pemaknaan lebih diutamakan daripada bunyi, seumpama bebangsa tersebar di seluruh dunia ialah spesies beburung berkicau, maka keselarasannya di dalam belantara pemahaman. Demikian bahasa mantra menempati bilik sunyi di ruang kebahasaan itu, yang kehadirannya dapat dimaknai bagi benar-benar memperdalam menyinauhi. Maka hanya peneliti tanggung melihat bentuk pula bunyiannya saja? Analogi ini menjawab kritikus DJ yang tak merunut ke muasal mata air aksara-akrasa dikajinya. Yang di sana kehadiran maknanya bisa dimengerti secara sadar sebagai kelanjutan perjalanan panjang anak-anak manusia, bukan sejenis beralibi sebangsanya!

Perkara penelusuran sampai satuan huruf di antaranya bisa dibaca ulang bagian XVI pada karya Ibnu ‘Arabi, atau lihat kekaryaan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, al-Hallaj. Pula karya-karya para mufassir, pensyarah, penakwil, ahli bidang perbintangan sampai rajah. Di sinilah nafas-nafas permenungan, penghayatan bertemu keseimbangan antara mereka, yang memunculkan hukum tertentu bagi syarat lakunya. Di samping pengujian dari pelbagai penganalisaan, yang membentuk kaidah umum untuk generasi setelahnya.

26 Oktober 2012, Jum’at Sukra Masehi,
10 Besar 1945, Jemuwah Pon Jawa,
10 Dzul Hijjah 1433 Hijriah,
Ponorogo – Lamongan, Tanah Jawa.

Dijumput dari: http://pustakapujangga.com/2012/12/bagian-23-membongkar-mitos-kesusastraan-indonesia/