Quo Vadis Sastrawan Digital

Nafi’ah Al-Ma’rab *
Riau Pos, 25 Agu 2013

‘’Puisi tidak lagi sederet huruf dan kumpulan kata yang bermakna tetapi sudah menjadi sebuah animasi-bentuk yang bergerak, berwarna, berbunyi, dan berlatar belakang lukisan atau foto (Budianta, 2004:191,Soewandi, 2004:248, Ridwan 2004:253)’’

Memahami Sastra Cyber

Perkembangan arus informasi teknologi internet telah memunculkan banyak perubahan cara berkomunikasi dan pernyajian berbagai bentuk hal dalam kehidupan. Termasuk salah satunya adalah kepada sastra itu sendiri. Tidak bisa ditampik, munculnya berbagai layanan komunikasi jejaring sosial di internet seperti facebook, twitter, miling list dan sebagainya telah mendorong kemunculan sastrawan digital dari berbagai kalangan dan usia. Seolah sastra telah kian membumi, dimiliki dan diminati oleh siapapun dan tidak lagi menjadi sesuatu bahasan yang ekslusif di tengah kehidupan maya yang sangat global dan universal.

Perkembangan teknologi digital telah mendorong kelahiran apa yang sekarang santer dibicarakan orang dengan istilah sastra cyber. Istilah cybersastra, dapat dirunut dari asal katanya. Cyber, dalam bahasa Inggris tidaklah berdiri sendiri, melainkan terjalin dengan kata lain seperti cyberspace, cybernate, dan cybernetics. Cyberspaceberarti ruang (berkomputer) yang saling terjalin membentuk budaya di kalangan mereka. Cybernate, berarti pengendalian proses menggunakan komputer. Cybernetics berarti mengacu pada sistem kendali otomatis, baik dalam sistem komputer (elektronik) maupun jaringan syaraf. Dari pengertian ini dapat dikemukakan bahwa cybersastra adalah aktivitas sastra yang memanfaatkan komputer atau internet. (Endraswara, 2006:182-183).

Kehadiran sastra cyber telah mampu memberikan ruang segar bagi para sastarawan mula yang selama ini terbelenggu dengan ruang ekslusifme dunia sastra. Para pemula telah mendapatkan ruang khusus untuk mampu menunjukkan eksistensi diri mereka di tengah jejaring komunikasi global tanpa batas yang telah menghilangkan jarak dan sekat antara sastrawan mula dan sastrawan senior. Ini merupakan indikasi positif yang paling digadang-gadang para kalangan muda. Generasi mula seolah mampu menjebol dinding pemisah yang selama menjadi kendala mental para sastrawan mula.

Di satu sisi, kehadiran cyber sastra justru memunculkan kegelisahan pada banyak kalangan. Salah satunya adalah produktifitas yang tidak dibarengi dengan penekanan kualitas terhadap karya-karya yang dilahirkan para penulis mula di dunia maya. Bukan hanya itu, dunia industri penerbitan pun terancam mengalami kerugian finansial yang tak sedikit. Banyak orang lebih memilih menikmati sebuah puisi melalui layar handphone dan laptop dibandingkan dengan harus membeli sebuah buku puisi.

Sebenarnya yang menjadi peranan strategis sastra cyber menurut Theora Aghata adalah bahwa sastra cyber merupakan wahana berkreasi yang mampu mengupdate karya secara singkat sehingga menunjang produktivitas dan mendorong perkembangan sastra selain juga mengembangkan wacana kritis dan asah kemampuan maupun pemikiran. Peran awal hanyalah sebatas penunjang produktivitas, selebihnya kualitas diri akan terpulang kepada bagaimana cara seorang pemula tersebut menyikapi dirinya.

Sastra Cyber dan Komunikasi

Salah satu ciri karya sastra yang sangat penting adalah fungsi komunikasi. Memang benar karya sastra dihasilkan melalui imajinasi dan kreativitas sebagai hasil kontemplasi secara individual, tetapi karya sastra juga ditujukan untuk menyampaikan suatu pesan kepada orang lain sebagai komunikasi. Secara garis besar komunikasi dilakukan melalui: a) interaksi sosial, b) aktivitas bahasa (lisan dan tulisan), dan c) mekanisme teknologi. (Ratna, 2007:297-298).

Pada lingkup pemahaman peran sastra di atas, maka keberadaan sastra cyber memunculkan fungsi menarik tersendiri. Sastra dunia maya telah mampu menghasilkan peran komunikasi yang maksimal secara lahiriah kepada para konsumennya di dunia maya. Bukan hanya itu, dalam tulisan yang dibuat oleh Rulli Nasrullah berjudul ‘’Cyber Culture’’ yang dimuat di Harian Padang Ekspres pada 6 Mei 2007 yang lalu, menurut Rulli keberadaan internet telah mampu membentuk sebuah kultur baru dimana batas-batas geografis, demografis, etnisitas, ras, dan agama, hingga budaya menjadi tersamarkan. Kultur baru tersebut merupakan perwujudan dari keinginan para netter untuk hidup secara demokratis. Tanpa ada intervensi, sikap egois, ingin menyamakan kehidupan dunia maya seperti dunia nyata.

Sastrawan Cyber dan Eksistensi

Ada banyak sekali alasan orang memilih media cyber sebagai tempat untuk melahirkan karya-karya. Beberapa diantara hal yang sering kita temui adalah keinginan para penulis untuk menemukan model baru dalam menjalankan kreativitas. Kejenuhan terhadap tradisi lama di dalam dunia tulis menulis sedikit akan terkurangi dengan adanya dunia maya. Cybersastra akan lebih mewakili keinginan dan daya juang kreativitas, karena masih terbatas yang berminat kearah situ. Daya saing merekapun masih terbatas, sehingga karya seperti apa saja akan semakin diakui eksistensinya.

Ada pula sekelompok orang yang memilih sastra cyber dengan alasan yang sangat dangkal. Mereka ada yang ingin segera mencari popularitas. Lewatcybersastra yang terbatas komunitasnya, sebaliknya diri pengarang dapat mudah tersebar ke seluruh penjuru dunia, nama mereka tak perlu harus melewati ‘wisuda khusus’. Nama penulis akan terangkat dan segera terkenal ke seluruh jaringan cyber.

Sebuah kesimpulan penting dari uraian sastra cyber bagi seorang sastrawan sebenarnya terpulang pada bagaimana kemampuan seorang sastrawan mula dalam menyikapi eksistensinya. Idealisme penulis merupakan hal penting yang menjadi modal eksistensi seorang penulis pada media apapun ia dilahirkan. Bagaimana kemampuan seorang penulis dalam menjaga kualitas dari karya-karyanya merupakan garis tengah dari persoalan yang ada.

Hal ini sekaligus menjadi keuntungan tersendiri bagi seorang penulis. Sesungguhnya seorang penulis merupakan objek utama yang tak pernah harus bingung dengan kondisi media apapun yang sedang berkembang dan banyak diminati saat ini. Asalkan ia memiliki sebuah idealisme kualitas dalam berkarya, maka dimanapun ia akan mampu tumbuh dan berkembang. Baik di dunia maya maupun dunia nyata. Penulis bukan lah pihak yang harus memikirkan soal kerugian finansial seperti yang dialami para pengelola industri literasi, mereka hanya lah pihak yang seharusnya mutlak meningkatkan kualitas diri dalam melahirkan sesuatu. Maka dengan kesimpulan ini, sudah cukup jelas uraian Quo Vadis (kemana perginya) Sastrawan Digital? Tak lain terpulang kepada sejauh mana idealisme membangun kualitas diri yang dimiliki setiap individu.

*) Nafi’ah Al-Ma’rab, Ketua Forum Lingkar Pena Wilayah Riau.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/08/quo-vadis-sastrawan-digital.html