Sastra Kelautan di Tengah Materialisasi Budaya

Sekapur Sirihpinang dari Loteng
Riki Dhamparan Putra
Bali Post, 25 Agu 2013

SETELAH KUPANG yang terasa makin bergairah beberapa tahun belakangan, kini matahari sastra mulai bersinar di Flores Timur. Itulah yang bisa dikatakan selepas mengikuti Temu Sastrawan Indonesia Timur (TSIT) selama tiga hari di Larantuka, 8 – 10 Juni 2013 lalu. Seperti judulnya, kegiatan ini memang dimaksudkan untuk menjdi ajang sharing dan silaturahmi kalangan sastra yang berdiam di kawasan Indonesia bagian Timur. Sayang sekali karena keterbatasan anggaran, panitia hanya sanggup mendatangkan para peserta yang berdomisili di propinsi NTT (Kupang, Manggarai, Ende, Adonara, Larantuka, dan Maumere). Walaupun demikian para peserta rata-rata menyatakan sangat gairah mengikuti pertemuan ini hingga akhir acara.

Sesuai tema acara ‘’Menggali Akar Tradisi Maritim Sebagai Lokus Sastra Indonesia Timur’’, soal-soal yang dibahas memang terkonsentrasi pada upaya pengenalan dan penggalian khazanah kelautan. Menurut Bara Pattyradja, aktivis Lembaga Sastra Timur Matahari yang menjadi pelaksana kegiatan ini, aspek maritime selama ini masih belum banyak dieksplorasi ke dalam karya-karya para penulis di NTT. Padahal, katanya, baik geografi dan budayanya, NTT merupakan wilayah yang didominasi lautan. Selain itu, ia melihat masalah-masalah sastra di kawasan ini pun mempunyai karakter sendiri yang membedakannya dengan masalah-masalah kesastraan di wilayah lain. Untuk itulah, ia bersama sejumlah jaringan komunitas sastra di Flores mencoba membuka ruang dialog bagi melakukan identifikasi terhadap persoalan-persoalan sastra yang terkait isu maritime itu.

Tak keliru memang, tema kelautan sangat cocok untuk digali oleh kalangan penulis di NTT. Kawasan ini, selain memiliki keindahan lautan yang luar biasa, warisan-warisan budaya praneolitik, dan spesies-spesies kepulauan langka, memiliki pula sejumlah tradisi maritime yang unik. Yang turut membentu kekayaan bahasa, toleransi, dalam mindset budaya yang heterogen.

LATAR BELAKANG seperti itu, menurut penyair Yoseph Lagadoni Herin, yang tampil sebagai pembicara pada kegiatan tersebut, mendorong munculnya gagasan mitis mengenai ‘’Hari Jadi Bota Dewa’’ (nenek moyang pertama yang dilahirkan lautan) yang eksistensinya setara dengan ‘’Ile Jadi’’ (Nenek moyang dari gunung).

Budaya laut di Flores Timur mencakup hampir keseluruhan aspek kehidupan masyarakatnya. Meskipun diikat oleh satu nation yang disebut Lamaholot, aspek keberagaman yang tercermin dalam mitologi asal-usul, bahasa, sejarah dan ras masyarakat wilayah ini tak pupus sampai sekarang. Flores Timur, sesungguhnya adalah miniatur masyarakat global purbakala yang merepresentasikan persilangan berbagai ras, bahasa dan kebudayaan dunia yang telah memadu dalam suatu pergaulan budaya. Perpaduan itulah yang terekam dalam benang merah mitologi asal-usul tentang manusia gunung dan manusia lautan. Dalam konteks yang meliputi prasejarah dan sejarah itulah, gagasan untuk melirik kembali wahana kelautan perlu dirayakan. Mengutip pernyataan Radhar Panca Dahana yang juga menjadi pembicara pada kegiatan ini ‘’Sudah waktunya kita melepaskan ikatan imajinasi ‘daratan’ yang selama ini membelenggu pandangan kebudayaan kita…’’

SASTRA TAK SENDIRIAN dalam hal membangkitkan kesadaran kelautan ini. Belakangan, pemerintah (melalui program pariwisata) juga gencar mempromosikan Indonesia Timur ke dunia internasional melalui festival-festival berbasis kelautan atau budaya kelautan. Namun realitanya, festival-festival kelautan yang menghabiskan dana besar seperti Banda, Sail Komodo, festival Bunaken dan lain-lain festival itu, belum tentu berdampak positif bagi kebudayaan itu sendiri. Bahkan cenderung hanya menjadi proses materialisasi budaya. Dan pada gilirannya akan mendorong masyarakat untuk bersikap pragmatis terhadap warisan budaya mereka.

Dr. MARSEL ROBOT, pengajar dari UNDANA, pada kesempatan yang sama mengatakan, materialisasi dan pragmatisme budaya menjebak masyarakat dalam kepalsuan mental. Dalam proses materialisasi budaya itu, orang pada dasarnya tidak bekerja untuk kebudayaan. Melainkan menggunakan kebudayaan untuk memenuhi nafsu-nafsu material mereka. Itulah kenyataan tradisi kita. Sastra, katanya, berpeluang melakukan desakralisasi dan aktualisasi atas tradisi yang sudah dimaterialisasi itu.

PADA TAHAP INILAH SASTRA mengambil peran sebagai penyeimbang. Sastra yang dalam dirinya membawa watak batiniah dan kemampuan untuk mentransendensi gejala-gejala material akan melengkapi proses-proses budaya yang ada. Sehingga kebudayaan itu dapat berjalan pada koridornya sebagai haluan bagi masyarakat.

Dijumput dari: http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberitaminggu&kid=18&id=79172