Melihat Budaya Maritim Lewat BWCF

Iwan Kurniawan
Media Indonesia, 27 Okt 2013

MEMASUKI usia kedua, Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) seakan membuat perhelatan untuk melihat titik tolak dalam membawa festival ini menjadi ajang yang kuat ke depannya. Tidak hanya dari sumber daya manusia sebagai pemateri, tetapi ada pula bahan atau khazanah budaya yang ditampilkan.

Pada pergelaran tahun ini, sedikitnya 250 penulis, sastrawan, dan sejarawan hadir di kompleks Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, 17-20 Oktober. Kali ini BWCF mengusung tema Arus balik: memori rempah dan bahari Nusantara, antara kolonial dan poskolonial.

Kekayaan alam berupa rempah-rempah yang pernah jaya di negeri bahari ini menjadi pembahasan para pembicara. Kami mengangkat budaya maritim karena laut Indonesia yang penuh dengan sejarah baharinya, tutur Direktur BWCF Yoke Darmawan di sela-sela perhelatan.

Lewat ajang tersebut, Yoke pun berharap masyarakat dapat merayakan kembali kekayaan sejarah dan menemukan kembali keunggulan serta kekuatan jiwa melalui peradaban bahari. Jangan sampai kekayaan bahari itu sirna. Ada tradisi dan budaya maritim yang dikaji secara mendalam, jelasnya, santai.

Pada BWCF, ada berbagai acara yang di­sajikan, mulai dari wacana rempah (pesta kuliner), panggung seni, pesta buku, hingga pemberian Sang Hyang Kamahayanikan Award. Ajang ini semakin menunjukkan geliat karena hadir para pakar hingga seniman dengan reputasi yang sudah diakui.

Berbagai pembahasan mengenai harta karun di laut, kapal karam di laut, dan kemampuan maritim Nusantara dikaji secara ilmiah. Salah satu atraksi khas Nusa Tenggara Timur, yaitu penangkapan ikan paus dengan cara tradisional di Lamalera, pun dibahas terperinci.

Dalam BWCF, ada 30 pembicara utama. Mereka di antaranya Gusti Asnan (sejarawan), Remy Sylado (novelis), Daud Aris Tanudirjo (arkeolog), M Ridwan Alimuddin (pelaut Mandar), Bondan Kanumoyoso (sejarawan bahari), Tan Ta Sen (sejarawan Singapura), Romo G Budi Subanar (rohaniawan), Susanto Zuhdi (sejarawan), Horst H Liebner (antropolog Jerman), Nick Burningham (sejarawan Inggris), dan Bona Beding (penombak ikan paus).

Budaya maritim masa lalu dan masa sekarang masih cukup relevan. Tentunya, dari hasil festival ini diharapkan dapat dirangkum dalam sebuah buku, jelas budayawan Mudji Sutrisno.

BWCF merupakan sebuah festival untuk mempertemukan para penulis, khususnya penulis yang hanya menggali seni dan budaya Nusantara. Tujuannya ialah agar para seniman dan juga sastrawan dapat berbagi pengalaman.

BWCF pertama dilaksanakan pada Oktober 2012 dengan sukses. Saat itu, hadir 350 penulis cerita silat dan sastrawan seperti Arswendo Atmowiloto dan Seno Gumira Ajidarma.

Saya kira ini menarik karena ada sebuah pemahaman dari para budayawan hingga penulis untuk mengangkat khazanah bahari Indonesia, jelas Mudji.

Merasa terharu

Di penghujung BWCF, almarhum Adrian Bernard Lapian, ilmuwan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, meraih Sang Hyang Kamahayanikan Award. Adrian (1929-2011) dinilai laik dan pantas menerima penghargaan pada festival yang memasuki tahun kedua itu. Pasalnya, semasa hidup, ia memberikan banyak sumbangsih demi pengembangan kajian bahari di Indonesia.

Keluarga besar terharu karena almarhum masih dikenang hari ini. Saya berharap kajian tentang bahari kita tetap diminati generasi muda sekarang, ujar adik kandung almarhum, Albert J Lapian, seusai penerimaan penghargaan pada malam puncak BWCF yang digelar di Yokyakarta, Minggu (20/10) malam.

Albert mengaku penghargaan itu bukanlah yang pertama bagi mendiang. Ia pernah mewakili keluarga untuk menerima secara langsung dua penghargaan lainnya yang cukup bergengsi. Salah satunya Habibie Award. Dengan adanya penghargaan ini, banyak yang akan melihat lebih jauh tentang budaya laut kita yang sangat luas. Mulai dari Sumatra hingga Papua, jelasnya.

Juri penghargaan Sang Hyang Kamahayanikan 2013 antara lain Mudji, Dorothea Rosa Herliany (penyair), Taufik Rahzen (budayawan), dan Susanto Zuhdi (sejarawan).

Adrian merupakan salah satu perintis sejarah bahari. Semasa hidupnya, ia dinilai setia dan gesit dalam me­ngarungi kajian bahari Nusantara. Salah satu diserta­sinya yang sering diperbincangkan para ilmuwan berjudul Orang Laut-Bajak Laut-Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX. Disertasi itu dinilai sebagai salah satu karya ilmiah maritim terbaik.

Adrian menjadi guru besar sejarah di Universitas Indonesia hingga wafat. Atas pengabdian dan komitmen yang tinggi dalam kajian sejarah maritim, ia kemudian dijuluki sebagai nakhoda sejarah maritim Asia Tenggara.

Taufik mengaku penghargaan tersebut diputuskan dengan pertimbangan khusus tim dewan juri atas kepedulian sang tokoh dalam dunia sejarah bahari.

Pengetahuan yang bisa dipetik yaitu semasa hidup, almarhum bisa memaknai kesucian yang dilakukan lewat jalan sunyi. Penghargaan ini berpatok untuk sosok yang tidak ternilai dengan materi, pungkasnya.

Pada malam penutupan BWCF, aksi kelompok seni kontemporer Senyawa mampu menghadirkan syair dan lagu yang cukup menggema. Sayang, sebelum Senyawa menutup instrumen terakhir, sound system mengalami gangguan. Dua personel pun langsung turun tanpa sedikit kata perpisahan kepada seluruh tamu malam itu.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/10/tifa-melihat-budaya-maritim-lewat-bwcf.html