Dicari! “Guru Sejati”

Tangguh Pitoyo *

Guru, belakangan sebagai profesi yang sering mendapat sorotan dari masyarakat. Ada karena gajinya naik dua kali lipat akibat tunjangan profesional yang diraihnya. Ada menyorot sebab kinerjanya kurang bagus, moralitasnya merosot, dan lainnya. Pokoknya guru sedang naik daun saat kini. Guru, merupakan profesi terlama di dunia ini. Disadari atau tidak, ketika manusia diturunkan ke bumi menjadi khalifah, sebenarnya esensinya jadi guru. Pemimpin dalam tanda petik ini guru. Mengapa? Karena, pemimpin yang baik pada dasarnya teladan yang baik, dan guru yang baik itulah teladan yang baik.

Negara kita mengalami krisis kepemimpinan dalam arti yang betul-betul jadi teladan bagi yang dipimpinnya. Hampir pada setiap lapisan elemen di negeri ini, ada penyimpangan. Bukan hanya guru, semua pemimpin secara hukum positif yang ada di Negara Indonesia, semuanya pernah ada yang mewakilinya mendekam di jeruji besi. Ini gambaran betapa jeleknya moralitas bangsa kita, hingga pada kebingungan mencari pemimpin dan figur yang bisa diandalkan sebagai teladan. Terlebih belakangan, adanya kasus pertikaian antara KPK, Polri dan kejaksaan. Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi, tidak lepas dari isu ’ketidakbersihan.’ Semakin nyata krisis kepemimpinan di negeri ini.

Siapakah sebenarnya guru bangsa ini? Ketika seorang berada pada komunitasnya bekerja dengan baik dan jadi teladan di dalamnya, sebenarnya dia telah menjadi guru yang sebenarnya. Ketika pak lurah dengan santun, telaten, sabar penuh pengertian melayani rakyatnya yang membutuhkan, disadari atau tidak, sudah menciptakan dirinya menjadi guru yang baik bagi masyarakatnya. Bukan hanya itu, semua orang yang berinteraksi denganya telah berguru padanya pula, karena interaksi akan membekas kepada orang yang melakukannya.

Tukang bangunan yang berakhlak mulia, kerjanya bagus, jujur, sebenarnya dia menjadi pemimpin dan teladan bagi yang pernah berinteraksi dengannya termasuk majikannya. Tak peduli sesama teman, orang yang meminta tolong kepadanya atau siapapun yang pernah berinteraksi dengannya. Demikian juga tukang gali sumur, ketika kerjakan pesanan sumur sesuai standar, tidak menipu dan berperilaku baik, sebenarnya telah jadi guru dan pemimpin bagi orang lain tanpa disadari olehnya. Maka, ketika semua orang bekerja baik, punya moralitas baik, dan tinggi dedikasinya terhadap pekerjaan yang ditekuni, dialah guru yang baik. Kita sering menukil pendapat orang Barat, tentang suatu kebaikan, termasuk di majalah Dinamika sendiri, sebenarnya itu sama juga kita berguru kepada mereka.

Sekarang pertanyaannya, sudahkan kita kehilangan figur pemimpin? Ternyata tidak. Para pemimpin, pejabat, pekerja, pun apa saja profesinya, masih banyak yang bisa dijadikan teladan dalam hidupnya. Hanya orang yang baik, jarang nampak di permukaan, karena cenderung low profil, tak mau perlihatkan kebaikan yang dimilikinya. Lain dengan yang ingin dianggab baik, mereka selalu menampakkan kebaikannya walau itu sangat sedikit, jika dibandingkan keburukan dan kejahatan yang dilakukan. Inilah cara sederhana paling gampang, untuk membedakan orang yang baik dengan yang tidak baik. Kalau orang cenderung menonjolkan apa yang sudah dilakukan dan dianggap kebaikannya, sebenarnya dia hanya bisa berbuat itu saja untuk kebaikan, atau belum banyak berbuat kebaikan, tapi justru sebaliknya, lebih sering berbuat jahat.

Bagaimana guru yang baik? Di Undang-undang Pendidikan, sudah jelas indikatornya. Guru yang baik punya kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian, dan kompetensi profesional. Kemampuan pedagogiknya bisa dipertanggungjawabkan; mampu mendidik, mengajar para siswanya di sekolah dengan baik. Bisa mencipta pembelajaran yang inovatif, kreartif dan menyenangkan bagi siswa. Kalau sudah bisa berbuat itu, berarti secara pedagogik telah bisa dikatakan guru yang bisa ditiru.

Kompetensi sosial ialah yang berguna bagi masyarakat sekitar, bukan hanya di sekolah dan di dunia pendidikan, lebih luas jadi ‘aktifis’ dalam masyarakat. Harus aktif dalam kegiatan sosial dimana berada. Jangan sampai ada guru yang hanya tidur di hari minggu. Maka, harus jadi teladan dan panutan di masyarakat.

Kompetensi kepribadian. Guru yang baik jelas terang kepribadianya, bisa dipertanggungjawabkan pada masyarakat sekitar. Punya kepribadian luhur, dengan ukuran norma yang ada di masyarakat, serta agama yang dianutnya. Ketika tidak banyak melanggar norma sosial pun hukum dan ajaran agama yang dianut, sebenarnya guru tersebut telah meraih jenjang berkepribadian mulia.

Dan kompetensi profesional. Dalam hal ini guru harus kembangkan profesinya. Menulis seperti ini, sarana mengasah profesionalitas guru. Di sinilah, tujuan cukup berat dirasakan guru. Profesi apapun ditandai pertanggungjawaban terhadap profesinya. Sebagai pengemban ilmu, menulis ialah sebuah tuntutan bagi guru, sehingga ketika ada guru melakukan plagiat dibidang tulis-menulis, apalagi dia menerima pesanan tulisan, makalah, laporan PTK, dan penelitian lain, sebenarnya itu kejahatan terberat dilakukan guru sebagai ilmuwan. Dan kesalahan yang satu itu, tidak patut dimaafkan.

Maka, marilah para guru instropeksi diri; pernahkan kita melakoni kejahatan akademis tersebut. Kalau sudah melakukan, segeralah taubat dan kembali ke jalan benar. Termasuk para pelaku yang menerima pesanan para guru. Dosamu gedhe Pol.

Di sini jelas, bagaimana guru harus berbuat, berpikir dan berperilaku dalam lingkungan sosial dia berada. Kalau keempat hal tadi sudah dilaksanakan penuh tanggungjawab; maka, siapakah guru sejati bangsa ini? Siapakah pemimpin sejati? Siapakah tauladan sejati? Semua bisa dijawab secara jelas, gurulah jawabannya. Kalau semua tadi terjawab dengan baik, cemoohan terhadap profesi guru, tidak bakal terjadi. Dan guru pemimpin sejati; dialah yang menciptakan pemimpin bangsa ini sampai presiden sekalipun. Namun sebaliknya, ketika seluruh elemen bangsa ini bobrok, guru ikut menyumbang andil untuk itu. Maka semoga tidak demikian yang terakhir ini. Jayalah Guru. Majulah bangsaku.

*) Drs. Tangguh Pitoyo, S.Pd, M.Pd., Pengawas Pendidikan Menengah, Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo.
Sumber: Majalah Dinamika PGRI Ponorogo