Menelisik Tradisi Intelektual di Tanah Minang

Dian Wahyu Kusuma *
Lampung Post, 8 Des 2013

SEPERTI tak ada habisnya membicarakan khazanah yang ada di Tanah Minang, mulai dari lezatnya rendang, hingga eloknya pemandangan di kampung Siti Nurbaya ini.

Tapi tak hanya itu yang membuat Minangkabau ini terkenal, banyaknya penyair dengan karya berkualitas yanng tak lekang di makan masa pun menjadi daya pikat tersendiri. Juga bejibunnya cendekiawan dan negarawan yang lahir di sana. Semua tak lepas dari tradisi yang tumbuh di sana.

Tradisi liasan dengan segala petatah petitih dan keelokan bahasa membuat masyarakat Minang piawai berpantun dan bersyair. Disusul dengan tradisi menulis yang sudah ada sebelum mesin cetak ada di negeri rumah gadang ini.

Inilah di antara sebab yang membuat dari tanah Minangkabau banyak dilahirkan tokoh besar, baik wartawan, seniman, cendekiawan, ulama yang terkenal di masanya. Di antaranya Mochtar Lubis, Agus Salim, Hamka, Tan Malaka, Rohana Koedoes, Dja Endar Moeda, dan Datuk Sutan Maharadja. Surat kabar pun telah bermunculan sebelum tradisi tulis baca ramai di daerah lain, seperti Soenting Melaju, Pertja Barat, Al-Moenir, dan Oetoesan Melajoe.

Semua itu dirangkai dengan apik oleh Sastri Sunarti dalam buku Kelisanan dan Keberaksaraan dalam Surat Kabar Terbitan Awal di Minangkabau (1859-1940-an), yang semula disertasi semasa menyelesaikan program doktornya. Buku yang sarat informasi tentang perjalanan dunia tulis di Minangkabau ini menjadi pilihan dalam Bincang Buku Lampung Post putaran ketiga yang diadakan secara roadshow di ruang dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Intan Lampung.

Peran pers itu membentuk dan membuat sejarah. Hal ini pun disadari betul oleh tokoh-tokoh intelektual di Tanah Minang. Hal ini yang dilakukan pula oleh Tan Malaka, maka ia menuangkan ide-ide komunisnya melalui media.

?Surat kabar Pelita Kecil, bahkan menjadi koran pertama berbahasa Melayu di Minangkabau,? kata Aan Arizandy, peserta Bincang Buku Lampost, Rabu (4/12).

Menurut Aan, Lampung pada masa itu tidak memiliki tokoh besar seperti Minang, karena masyarakat Minangkabau lebih melek intelektual, mereka lebih dahulu menyuburkan surat kabar di daerahnya sebagai sarana mengasah dan mengaktualisasikan ide-idenya.

Menurut dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Intan Damanhuri, tradisi oral (berbicara) dan written (menulis) di Padang, Sumatera Barat, sudah ada sebelum ada alat percetakan. Ini yang mendorong tokoh besar banyak lahir. Di Indonesia, kata Daman, mayoritas budaya lisan mendominasi. Bahkan sampai saat ini pun budaya bincang lebih banyak daripada budaya tulis.

Sedangkan menurut Ali Murtadho, peserta diskusi lain, yang menarik dari buku ini, selain harganya murah, buku setebal 309 halaman juga tema bukunya menarik.

Pada bagian lain di buku ini disebutkan mesin cetak pertama ada di Bengkulu. Saat itu Moko-moko, Jambi, dan Kerinci masih dalam satu kerajaan. Lebih dari itu, pada 1819 bahkan William Robinson dalam bukunya Sumatera Misson Pers, menyebutkan di Sumatera Barat sudah ada pendidikan pola surau yang menguatkan tradisi keberaksaraan.

Dari buku ini kita bisa berkaca pada zaman dulu yang serbaterbatas, tokoh intelektual Padang bisa banyak menulis dan melahirkan sastrawan hebat. Seharusnya sekarang yang zaman lebih canggih, lebih hebat lagi untuk penulisan. Hal ini mengundang kegelisahan peserta diskusi dengan maraknya plagiat di abad yang serbamudah dan cepat ini.

Pada lembar lainnya, buku ini mewedarkan jejak tokoh dan karya-karya yang dihasilkan di zamannya, juga ketekukan mereka menggeluti dunia pers. Sebut saja Rohana Koedoes sebagai tokoh pers wanita pertama di Indonesia yang menjadi Pimred Soenting Melayu. Kerja-kerja panjang para jurnalis di Tanah Minang pun dikupas secara terperinci dalam buku ini.

Bukan hanya kecerdasan para tokoh jurnalis yang membuat buku ini menjadi kaya informasi, melainkan juga berbagai intrik yang dilakukan untuk pemberangusan keintelektualan para tokoh Indonesia oleh Belanda.
***