Sastra Profetik dalam Lembata sebuah novel

Catatan atas Literature Khatulistiwa Award
Hengky Ola Sura
ophye-mof.blogspot.com

Tulisan ini merupakan apresiasi atas Literature Khatulistiwa Award yang dimenangkan oleh Lembata sebuah novel. Juli 2008 lalu, penerbit Lamalera menerbitkan sebuah novel yang ditulis oleh sastrawan dan jurnalis senior Indonesia, F. Rahardi, dengan judul Lembata. Catatan pengantar dari penerbit menulis, mengapa Lembata dan mengapa sebuah novel? Pertanyaan tersebut sebenarnya menempatkan dimana suara kenabian (profetik) Gereja Katolik yang telah berada di Lembata sudah seabad lebih ternyata belum menunjukan ada perkembangan berarti yang dialami masyarakat Lembata. Masalah kemiskinan berujung pada masalah- masalah sosial lainnya, seperti pendidikan, sanitasi dan moral masih akrab membelit masyarakat. Lebih buruk lagi, di tengah pusaran kemiskinan itu pemerintah yang sudah (terlanjur) didewakan sebagai motor pembangunan justru dengan seenaknya mengkampanyekan kemiskinan Lembata kepada para cukong pembangunan (pengantar penerbit hal v dan vi). Rahardi menggores sesuatu yang ‘beda’ dalam pelesirnya ke Lembata. Lembata adalah eksotika bagi Rahardi untuk mencoba membahasakan suasana Lembata yang menggeliat dalam pandangan pro dan kontra seputar tambang. Lembata yang punya potensi untuk ditata secara lebih anggun.

Ketika membahas novel ini bersama kawan- kawan di Bengkel Sastra, ada yang memuji kepiawaian Rahardi menggores penanya dalam cerita tentang tempat-tempat di Lembata (latar). Rahardi seolah menjadi seorang putera asli Lembata. Ada yang berkomentar Rahardi terlalu memojokan perempuan lewat kebinalan Luciola sebagai seorang perempuan yang gila dengan ketampanan dan intelektualitas dari tokoh pujaannya, Romo Pedro. Ia seorang imam diosesan keuskupan Larantuka teman sekelas Luciola yang berhasil menggodol titel sarjana Ekonomi pada Universitas Atmajaya dengan predikat terpuji. Ada lagi yang membandingkan Pedro dan Luciola mirip Wisanggeni dan Laila dalam novel Saman- nya Ayu Utami. Cuma ada sedikit perbedaan antara Saman dan Lembata. Dalam Saman, Laila berhasil memperkosa Wisanggeni yang kemudian melepaskan imamatnya dan berganti nama menjadi Saman. Sedangkan pada Lembata–nya F. Rahardi, Luciola yang kesengsem berat pada Romo Pedro harus kecewa dan nyaris tak punya tujuan hidup setelah perjuangannya mendapatkan Romo Pedro sia-sia. Luciola perempuan cantik yang memiliki segalanya itu bahkan sampai menelanjangi dirinya agar bisa bercinta dengan Pedro. “Baik aku akan telanjang bulat Pedro. Sekarang kita hanya berdua. Kamu sudah bukan imam lagi. Apa masih takut kamu pada uskup? Tidak ada urusan lagi bukan? Pedro, sekarang aku akan serahkan tubuh ini padamu, seperti dulu Yesus menyerahkan tubuhnya ke Laskar Romawi untuk dicambuk, dan disalibkan. Pedro, salibkan aku. Pentanglah tangan dan kakiku, paku dan pukullah dengan palu yang keras di dua tepi bed itu Pedro. Tusuklah aku dengan tombakmu Pedro, aku siap mati ditanganmu. Pedro kamu tidak impotent bukan? Kamu sudah ereksi bukan? Ayo Pedro”, ungkap Luciola dengan memelas. …(hal 208). Pedro adalah seorang tokoh imam dan agamawan sejati yang sadar bahwa imamatnya adalah sebuah tugas profetik yang mulia. Kemuliaan imamatnya tidaklah boleh dicemarkan dengan meladeni kebinalan dan rasa kesengsem berat dari seorang perempuan yang jatuh hati padanya. Ia harus menjadi imam yang politis. Rela tinggal dan bekerja sebagai pastor pembantu di Paroki Santa Maria Pembantu Abadi Aliuroba (Lembata, sebuah novel,hal. 22). Imamatnya adalah sebuah solidaritas yang menuntut perhatian untuk terlibat dalam rencana tambang emas di pulau yang bernama Lembata. Imamatnya adalah juga semacam pencerahan dari keragu- raguan sikap LSM lokal yang demikian bernafsunya menolak penambangan emas, tetapi tidak pernah secara serius memikirkan bagaimana mengatasi masalah kemiskinan yang merupakan derita rakyat banyak. Sebelum ada emas pun mereka sudah menderita (hal 71). Keberpihakannya terhadap orang kecil, bukan hanya pada soal tambang tetapi bagaimana berjuang menyuarakan agar tuak dan jagung titi menggantikan posisi hostia dan anggur yang harganya melonjak, jauh dari masuknya derma setiap hari Minggu (hal. 112). Sampai pada usahanya ini membuat berang uskup (hal 119) dan diserbu massa ke pondok persembunyiannya, tetapi si Pedro selamat gara- gara nyenyak di lubang tidurnya (hal. 183).

Pedro tetaplah Pedro, ia pejuang sejati, agamawan yang setia pada imamatnya meski tak lagi harus merayakan kurban misa. Ia adalah sebuah suara profetik dari horizon Rahardi tentang bagaimana meredefenisi seruan profetik yang lama dikekang atau terlalu berada jauh di atas menara gading, masih tuli, kaku dan apatis.

Tidak sejalan dengan Pedro, seorang rekan imamnya Pater Bona justru menikmati tubuh bugil Luciola di rumah penginapan saat berziarah bersama ke Lourdes. Meskipun tidur sekamar dan bercinta dengan Pater Bona, hati Luciola tetap untuk Romo Pedro (hal 83& 85). Semua lelaki yang dikencaninya sebenarnya adalah pelarian dari rasa kecewa akibat tak pernah meluluhkan keagamawanan dan imamatnya seorang lelaki impian bernama Pedro. Pedro bagi Luciola adalah seorang yang yang telah meluluh- lantakan segala perjuangan dari cintanya yang egois. Dari cinta yang egois Luciola akhirnya pulang pada sebuah kesadaran bahwa keinginan untuk mencintai terlebih keiginan untuk bersetubuh dan menikmati puncak orgasme bersama lelaki pujaan bukanlah hal yang utama. Ini menyata dalam permintaan Luciola kepada Pedro untuk berjuang bersama demi kemanusiaan. “Melalui gereja, aku mau membantu orang –orang susah, apa pun bangsa dan agamanya. Tapi jelas, aku mau konsentrasi di Indonesia, bukan di Peru, bukan di Zambia. Kamu masih tetap mau membantu aku bukan? Pedro,cinta, terlebih seks, ternyata memang bukan hal yang utama ya?” (hal 256).

Pedro pada akhirnya berhasil mengarahkan Luciola pada sebuah bentuk perjuangan cinta yang ‘beda’. Luciola adalah seorang yang mewakili individu- individu masyarakat modern, yang mengalami kekosongan, kesepian dan kecemasan. Kekosongan merupakan kondisi dimana individu tidak lagi mengetahui apa yang harus diinginkan dan tidak lagi memiliki kekuasaaan tarhadap apa yang terjadi dan dialami. Kekosongan jiwa telah mengubah Luciola seorang individu modern menjadi individu yang outer- directed, yaitu individu yang mengarahkan dirinya kepada orang lain dalam rangka mencari pegangan atau petunjuk bagi penentuan hidupnya. Itulah Luciola, ia memiliki kekuasaan dan kekayaan, sayang ia tidak berdaya dan selalu merasa asing. Kesepian yang dialami Luciola merupakan akibat langsung kekosongan jiwa, keterasingan dari diri sendiri dan maupun dengan sesama Akibat dari semua itu melahirkan kegelisahan dalam diri Luciola. Kota- kota besar tempat persinggahannya, Darwin, Singapura, Milan, Montreaux – Lavaux dan kota – kota lainnya hanyalah perjumpaan yang sementara dan hanya berlangsung sementara. Semuanya mengantar Luciola pada hidup yang materialistis dan hedonistis. Ia akhirnya pulang pada sebuah kesadaran akan sebuah nilai ‘lebih’ bila bersama Pedro berjuang untuk orang- orang Lembata dalam misi kemanusiaan dan bukan pada urusan kelamin. Lembata sebuah novel karya Rahardi merupakan karya humanistik nan dramatis yang melibatkan ekspresi tertinggi nilai- nilai kemanusiaan, keindahan dan moral. Novel ini menyuarakan nilai – nilai kemanusiaan dan layak dikategorikan sebagai sebuah karya sastra profetik.
***