KAUNIYAH DAN HUMANISME DALAM PUISI *

Catatan Kesan atas Antologi Puisi “Pengembaraan Burung”
Ahmad Syauqi Sumbawi

Kehidupan dunia adalah “kawah penyadaran”, dimana manusia berhadapan dengan realitas yang menuntutnya untuk memahami keberadaan dirinya secara luas. Tidak hanya di dunia, pemahaman itu pun melintasi berbagai alam, baik alam arwah maupun alam barzah dan akhirat—serta hal-hal eskatologis lainnya—. Dari keseluruhannya, “proses bersama waktu” merupakan keniscayaan. Karena itu, manusia tidak cukup diibaratkan laiknya “kertas putih” yang kosong, melainkan berisi potensi kemanusiaan—fithrah–, baik jasmani, rasional, maupun spiritual, yang tidak lain merupakan “bekal” manusia untuk memahami hidup dan kehidupannya di dunia.

Lantas, siapakah manusia itu?! Tentunya, tidak mudah untuk menjawab pertanyaan tersebut. Hal ini disebabkan permasalahan kemanusiaan merupakan hal yang kompleks. Tidak hanya mengenai diri sendiri, kompleksitas tersebut juga lahir dari keterkaitannya dengan sesama, lingkungan, serta keberadaan dzat yang dikenal sebagai Tuhan. Begitu juga keberadaan dan hidupnya yang menjadi kauniyah. Karena itulah, “membaca”—sebagaimana wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Saw—merupakan syarat mutlak, sekaligus diperintahkan bagi manusia.
***

Membaca “Pengembaraan Burung”: Keterlibatan Manusia dalam Kauniyah dan Humanisme
Kauniyah dan humanisme, menjadi hal penting untuk dikemukakan terkait keberadaan manusia di dunia, sekaligus menjadi catatan kesan penulis atas puisi-puisi yang terkumpul dalam antologi puisi “Pengembaraan Burung.” Di sini, keterlibatan manusia dengan kauniyah—yang notabene adalah medan inspirasi universal—, menjelma sebagai “moment puitika”. Kemudian dengan “potensi puitika”-nya, manusia menjadikannya sebagai “medan makna” yang indah; bermakna bagi kemanusiaan. Dengan concern yang beragam dari 26 penyair yang hadir , antologi ini tidak lain merupakan hasil dari “pembacaan” manusia terhadap dirinya sendiri dalam seluruh dimensi kehidupannya, sekaligus memproyeksikan humanisme-nya secara universal.

Untuk pembahasan lebih jauh mengenai humanisme dalam konteks “Pengembaraan Burung” yang beragam tersebut, maka perlu bagi penulis berangkat dari konsep-konsep al-Qur’an terkait keberadaan manusia. Di sini, al-Qur’an menyebut manusia dalam beberapa terminologi, yaitu abd Allah, al-basyr, al-insan, al-naas, bani Adam, al-ins, dan khalifah fi al-ardl. Dari beberapa terminologi tersebut, yang kemudian dikombinasikan dengan perspektif filosofis-antropologis, setidaknya didapatkan sebuah kerangka pemahaman atas keberadaan manusia dalam kehidupannya secara luas, yaitu sebagai pribadi atau persona, sebagai hamba Tuhan atau makhluk religious, sebagai makhluk sosial, dan sebagai makhluk lingkungan.
***

“Pengembaraan Burung” dan Manusia sebagai Persona: Proses Bersama Waktu dan Eksistensi Manusia
Ekspresi manusia sebagai pribadi atau persona menjadi bagian terbesar dari puisi-puisi yang terdapat dalam antologi ini. Selain membuktikan antusiasme manusia terhadap diri sendiri, hal ini menguatkan stigma terkait salah satu keunikan manusia, yakni upayanya dalam memahami eksistensinya di dunia. Pada titik ini, tampak bahwa “menjadi manusia” bukan perkara sederhana. Proses kemanusiaan bukan proses yang instans, melainkan proses yang menunjuk pada pengembaraan menuju kesadaran, serta melibatkan seluruh potensi dan segala keterkaitan yang menyertainya.

Dari keseluruhannya, proses bersama waktu menjadi keberadaan penting yang melingkupinya, baik dalam kesadaran maupun ketidaksadarannya. Waktu yang mendesak tanpa ragu dengan kandungan segala musimnya, dimana pada gilirannya melahirkan kenangan, kenyataan, dan harapan. Hingga bumi tak bernama, demikian baris terakhir puisi “Pengembaraan Burung” karya Herry Lamongan, mengisyaratkan akhir pengembaraan di dunia. Dalam posisinya sebagai kauniyah, proses ini juga menjadi sesuatu yang harus dipahami manusia dalam hidupnya.

Melalui pembacaan sederhana, proses bersama waktu di atas dapat kita temukan dalam puisi karya Herry Lamongan—“Kabut di Ubun Usia”—, 2 puisi karya Anis Ceha—“Perjalanan Waktu” dan “Metamorfosa”—, 2 puisi karya Bambang Kempling—“Hampir Pagi” dan “Tak Ada”—, serta 2 puisi Luqman Almishr—“Rayu Embun” dan “Muara Waktu”—.

Kemudian dalam proses bersama waktu itulah, dualitas hidup menjadi keniscayaan yang berkelindan mengiringi historisitas manusia, baik idealitas-realitas, suka-duka, serta berbagai manifestasinya yang lain. Begitu juga dengan harapan dan cita-cita, kegagalan dan penyesalan. Hal ini tampak pada beberapa puisi, seperti karya Anis Ceha—“Kidung”—, puisi karya Pringgo Hr—“Sore Tadi”—, 2 puisi karya Imamuddin SA—“Menggulung Senja” dan “Di Stadion”—, puisi karya Nuruddin Zanky—“Sepasang Tetes Hujan”—, puisi karya Dhilla Lembayung Senja—“Kenangan Daun Pisang”—, dan puisi karya Iis RA—“Aku Ingin”—.

Menyadari kehidupan bukan proses yang sederhana, melainkan berat dan melelahkan, terutama disebabkan oleh “kekalahan hidup”, maka wajar jika pada titik terendah, manusia pun dihantui oleh keputusasaan, sebagaimana tergambar pada 2 puisi karya Bambang Kempling—“Pada Sebuah Pementasan” dan “Dalam Hujan”—, 2 puisi karya Pringgo Hr—“Luka Senja” dan “Sajak Belum Selesai”—, dan puisi karya Luqman Almishr—“Perkabungan”—. Kendati demikian, satu hal yang digarisbawahi bahwa hidup manusia adalah proses yang harus tiba pada waktunya. Kesan ini dapat kita lihat pada puisi karya Herry Lamongan—“Memandang Langit Lepas”—, puisi karya Pringgo Hr—“Stasiun Batu”—, puisi karya Ahmad Shodiq—“Bangun”—, dan puisi karya Nuruddin Zanky—“Lorong Paling Sunyi”—.

Berbagai pengalaman yang hadir dari proses bersama waktu di atas, pada gilirannya melahirkan ruang-ruang reflektif bagi manusia untuk memandang hidup dan kehidupannya. Manusia memahami, menilai, mengambil hikmah dan memberi makna atas keberadaannya di dunia. Pada konteks ini, tidak keliru dikatakan bahwa manusia adalah “pembelajar sejati” dari seluruh peristiwa yang hadir bersama waktu—kauniyah—. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa puisi, antara lain puisi karya Iis RA—“Berguru pada Matahari”, 3 puisi karya Tulus Setiyadi—“Kebijaksanaan”, “Kesadaran Diri”, dan “Pengendalian Diri”—, puisi karya Benningdot—“Sesal”—, puisi karya Abdi Rahmansyah—“Berhias”—, puisi karya Benny Nasrullah—“Kunang-kunang di Batu Nisan”—, puisi karya Suharsono A.Q—Tusuk Jarum—, puisi karya Zuhdi Swt—“Notasi Hidup yang Meredup”—, puisi karya Imamuddin SA—“Ajari Aku Melukis”—, dan puisi karya Saiful Anam Assyaibani—“Cerita Pendek tentang Membaca Cakrawala Pada suatu Adegan Pementasan”—.

Pemahaman terhadap eksistensi manusia secara filosofis dapat kita baca dalam puisi karya Saiful Anam Assyaibani—“Perjalanan di Atas Bukit”, yang menyuguhkan sejarah universal manusia di dunia, puisi karya Imamuddin SA—“Aku Tak Lagi Penyair”— mengungkapkan eksistensi terkait manifestasi diri, puisi karya Benningdot—“Wayang”—menampilkan dimensi batin eksistensi manusia, dan puisi karya Amiruddin—“Kosong”—menggambarkan upaya manusia dalam memahami keberadaan dirinya.
***

“Pengembaraan Burung” dan Manusia sebagai Makhluk Religius: Mengenal Tuhan dan Ragam Spiritualitas
Salah satu kesadaran yang dimiliki manusia dalam hidupnya, yaitu keberadaannya sebagai makhluk religius. Pada titik ini, pengenalan terhadap Realitas Tunggal yang menguasai hidup dan kehidupannya, memunculkan berbagai interpretasi dan ekspresi dinamis atas hubungan manusia dengan-Nya. Proses “pengenalan” juga menjadi “pintu pertama” yang pada gilirannya melahirkan ragam spiritualitas manusia. Hal inilah yang menjadi kesan dalam diri penulis atas puisi-puisi bertema religi dalam antologi “Pengembaraan Burung”.

Sebagaimana diketahui, ragam spiritualitas merupakan realitas yang diakui dalam agama—Islam—. Dalam hal ini, konsep syariat, thariqat, hakikat, dan ma’rifat menjadi bukti dari keragaman tersebut. Begitu juga dengan konsep ma’rifah, musyahadah, mukasyafah, mahabbah. Bahkan Tuhan pun mengenalkan Diri sesuai dengan pemahaman yang dimiliki oleh manusia. Karena itu, tidak salah jika ungkapan dan penyebutan manusia kepada-Nya berbeda antara satu dengan yang lain. Dalam tradisi Islam, Tuhan mengenalkan diri-Nya dengan “99 nama yang baik” atau asmaul husna.

Berkaitan dengan uraian di atas, dapat dipahami bahwa risalah kenabian menjadi keberadaan penting dalam historisitas umat manusia. Tidak hanya memberikan petunjuk tentang Tuhan, tetapi juga dalam membangun keshalihan pada diri manusia serta revolusi masyarakat menuju tata nilai kehidupan yang sesuai dengan tuntunan yang diajarkan-Nya. Dalam episode ini, nabi yang notabene adalah manusia muncul sebagai personal model atau teladan yang baik (uswatun hasanah), yang merupakan konkritisasi dari idealitas-idealitas religius, terutama sebagai insan kamil. Dalam spektrum yang luas, pentingnya sejarah kenabian dapat kita temukan dari puisi karya Saiful Anam Assyaibani—“Nubuat”—, dan puisi karya Ahmad Zaini—“Purnama Tergantung Sendiri”—.
Dalam tradisi Islam, idealitas hubungan antara manusia dengan Tuhannya menunjuk pada ketakwaan, yang secara umum diartikan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Hal ini disebabkan oleh keyakinan bahwa Tuhan Maha Segalanya, yang menguasai seluruh alam semesta, sebagaimana yang diungkapkan dalam 2 puisi karya Ahmad Zaini—“Keremangan” dan “Tertiup Angin Kemarau”—, puisi karya Amiruddin—“Kupinjam Nama-Mu”—, puisi karya Zuhdi Swt— “Yaa Alim”—.

Dinamika religiositas dan ekspresi spritualitas manusia kemudian berkembang sesuai dengan kondisi yang dihadapinya. Keberadaan harapan dan doa kepada Tuhan diungkapkan dalam puisi karya Benny Nasrullah—“Aku Belajar Padamu”—, 2 puisi karya Benningdot—“Cita” dan “Kekasih”—, puisi karya Iis RA—“Ketika Putih”—, 2 puisi karya A. Inuy EA—“Simfoni Sang Penjaga” dan “Di Atas Hamparan Sajadah”—, 2 puisi karya Zuhdi Swt—“Mengintip Dunia di Balik Jeda Aksara” dan “Yaa Bashir”—.

Berikutnya, ungkapan mohon ampun atas dosa dan kesalahan, serta kondisi jauh dari-Nya dapat kita temukan dalam puisi karya Ahmad Zaini—“Simpuh Malam”— puisi karya Benny Nasrullah—“Alif-Mu”—”, puisi karya Abdi Rahmansyah—“Tercurah di Malam”—. Sementara ekspresi religiositas yang dipengaruhi oleh entitas yang lain, baik manusia maupun kondisi, dapat kita temukan dalam 2 puisi karya Thoni Mukarrom IA—“Ziarah I” dan “Ziarah II”—, 2 puisi karya Amiruddin—“Semacam Berdzikir” dan “Bagaimana Sempat”—, serta puisi karya Ahmad Shodiq—“Begal”—.

Dimensi esoteris (sufistik) manusia dalam posisinya sebagai makhluk religius menjadi kesan utama dari beberapa puisi di bawah ini, dimana proses pengenalan kembali, terutama pada tataran hakikat, menjadi pintu yang akan mengantarkan pada hubungan yang lebih dekat dengan-Nya. Tidak hanya antara hamba dengan Tuhan, tetapi menunjuk pada kemanunggalan dan mahabbah.

Pentingnya pengenalan dan pemahaman (ma’rifah) yang berlanjut pada penyaksian (musyahadah), setidaknya dapat kita temukan dalam puisi karya Herry Lamongan—“Memanggil Nama Laut”—. Begitu juga puisi Abill Rahmatullah—“Alamat Cinta”— yang di dalamnya terdapat kutipan salah satu hadits yang sangat populer dalam sufisme, yaitu man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu. Lebih lanjut, ekspresi puitika terkait tasawuf falsafi, yaitu wahdat al-wujud, ittihad, fana’-baqa’, serta hubb-syauq, tampak jelas pada puisi karya Tulus Setiyadi—“Cermin Diri”—, dan 3 puisi karya Abill Rahmatullah—“Jalan Rindu”, “Fatwa Rindu”, dan “Hutang Rindu”—.
***

“Pengembaraan Burung” dan Manusia sebagai Makhluk Sosial: Kedekatan Emosional dan Refleksi atas Realitas Sosial
Prinsip utama dari keberadaan manusia sebagai makhluk sosial, bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa keberadaan manusia lain. Bahkan, penegasan eksistensi manusia sebagai individu yang “unik”, hanya bisa diwujudkan dengan kehadiran sesamanya. Hal inilah yang kemudian melahirkan konsep sosial atau masyarakat, dimana interaksi sosial menjadi bagian penting di dalamnya.

Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial pada konteks “Pengembaraan Burung”, secara umum diproyeksikan oleh kedekatan emosional, baik simpati, empati, maupun kasih sayang, manusia terhadap sesamanya. Pada unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, berbakti kepada orang tua dalam segala manifestasinya, baik ketika masih hidup maupun telah wafat, tidak lain merupakan ekspresi kasih sayang manusia pada posisinya sebagai seorang anak. Di sini, romantisme masa kecil, tidak dipungkiri, menjadi sesuatu yang menggerakkan siklus afektif terkait peran-peran dari hubungan di antara keduanya, terutama ketika seorang anak telah dewasa. Kesan inilah yang tampak pada beberapa puisi berikut yaitu, puisi karya Suharsono A.Q—“Ruang Tamu”—, puisi karya Iis RA—“Ketika Hati”—, dan 2 puisi karya Emi Sudarwati—“Tangis Ibu” dan “Semalam Bersama Bapak”—.

Kedekatan emosional dalam lingkup keluarga, yakni antara suami dan istri, digambarkan oleh puisi karya saiful anam assyaibani—“Rahasia Asin Tubuhmu”—, yang menampilkan makna dan idealitas pernikahan dan rumah tangga, dengan inspirasi kehidupan para “tokoh” dalam tradisi dan sejarah Islam. Pada spektrum yang lebih umum, pemahaman atas diri manusia sebagai “jenis”—laki-laki dan perempuan—, melahirkan kedekatan emosional terhadap lawan jenis yang dikenal dengan istilah “cinta”. Sebagai hal yang manusiawi, maka tak keliru dikatakan bahwa manusia adalah makhluk cinta. Sederhananya, manusia dalam kehidupannya tidak lepas dari permasalahan terkait cinta ini, di mana pada gilirannya menciptakan kisah cintanya sendiri yang unik.

Keberadaan puisi-puisi bertema cinta dalam antologi ini menjadi bukti konkrit dari keberadaan manusia di atas. Berbagai kedekatan emosional terkait hubungan laki-laki dan perempuan bermanifestasi dalam bentuknya, yaitu puisi karya Rialita Fithra Asmara—“Lelaki Penanam Bunga”—, puisi karya Nuruddin Zanky—“Engkau Laut”—, puisi karya Ahmad Shodiq—“Berita Kasih Cinta”—, 4 puisi karya Luthfi Sepat—“Aku Sebulir Nasi”, “Aku Inderamu”, “Renda Gaun Rembulan” dan “Senandung Rumbai Bunga-bunga”—, puisi karya Suharsono A.Q—“Gadis Perbatasan”—, puisi karya Emi Sudarwati—“Menuju Sebuah Jembatan”—, puisi karya Abdi Rahmansyah—“Menggelar Pukat” dan “Sekat Rindu”—, 2 puisi karya Dhilla Lembayung Senja—“Malaikat Tanpa Sayap” dan “Melati Berdarah”—, 2 puisi karya Debby Niken Kartika Witasari—“Bila Cintamu yang Tersesat” dan “Bukan Karena Aku”—, serta puisi karya Thoni Mukarrom IA—“Senja di Pelabuhan Gresik”—. Lebih lanjut, realitas sosial juga menunjukkan fenomena lain terkait hubungan laki-laki dan perempuan di atas, yakni adanya distorsi dari nilai-nilai yang diakui oleh masyarakat, terutama nilai sosial-religius, serta kecenderungan untuk menjadi “jenis” yang anggap lebih mewadahi “kejenisan”-nya. Kesan ini ditunjukkan oleh 2 puisi karya Debby Niken Kartika Witasari— “Perempuan di Bawah Bulan” dan “Alif dan Dada Lelaki”—.

Kedekatan emosional terkait peran sosial, yakni profesi seorang guru, diungkapkan oleh puisi karya Emi Sudarwati—“Sekolah”—. Kesan lain yang bisa ditemukan dari puisi ini, yakni keberadaan manusia yang multiperan, dimana pada kondisi tertentu akan memainkan peran yang berbeda, baik sebagai seorang ibu rumah tangga, seorang guru, maupun peran lainnya, tergantung konteks sosial yang dihadapinya.

Poin penting dari keberadaan manusia sebagai makhluk sosial mengarah pada pembacaan dan refleksinya terhadap realitas sosial di masyarakat. Kedekatan emosional terhadap “kaum marjinal” menjadi kesan utama dari beberapa puisi, seperti puisi karya A. Inuy EA—“Perempuan Tayub”—, puisi karya Nuruddin Zanky—“Wanita Penyedu Laut”—. Sementara kritik terhadap industrialisasi dan pembangunan yang acapkali mengabaikan dampak sosial bagi masyarakat, kecuali keuntungan financial, diungkapkan dalam puisi karya Thoni Mukarrom IA—“Mengunjungi Kotamu”—

Pada konteks ke-Indonesia-an, refleksi terhadap realitas sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara diungkapkan oleh puisi karya Rialita Fithra Asmara—“Negeri Sapu Tangan”—, dan puisi karya Benny Nasrullah—“Wajah Negeriku”—, yang menampilkan kritik terhadap rasa nasionalisme kita sebagai bangsa, terutama kalangan “penjaga”-nya yang seringkali menampilkan perilaku sebaliknya. Kemudian refleksi terhadap sejarah nasional—tokoh—, menjadi inspirasi bagi puisi karya Rialita Fithra Asmara—“Cut Nyak Dien Muda”— dalam menampilkan idealitas terkait berbagai permasalahan yang dihadapi anak bangsa—perempuan—dewasa ini.

Perpecahan di kalangan internal umat beragama—Islam—menjadi kesan penting dari puisi karya Dhilla Lembayung Senja—“Cerita Rembulan”—. Sementara pada konteks global, yakni hubungan antar bangsa, puisi karya Luqman Almishr—“Relief Gaza”— menampilkan empati terhadap nasib kemanusiaan sebuah bangsa (Palestina) yang berada dalam penindasan bangsa lain (Israel).
***

“Pengembaraan Burung” dan Manusia sebagai Makhluk Lingkungan: Rusaknya Lingkungan Hidup dan Kritik Kemanusiaan Kita
Dalam perspektif ekologis-filosofis, hubungan manusia dengan lingkungan hidup merupakan sebuah keniscayaan. Sederhananya, antara manusia dengan lingkungan hidup terdapat keterikatan yang saling mempengaruhi di antara keduanya. Tanpa keberadaan lingkungan hidup, mustahil manusia bisa hidup. Juga, rusaknya lingkungan hidup mengakibatkan rusaknya kehidupan manusia di lingkungan tersebut. Hubungan manusia dengan lingkungan bersifat dinamis. Dari sisi manusia, hubungannya dengan lingkungan merupakan sebuah kesadaran yang termaknai dan menjadi dasar serta inti dari eksistensi dan kepribadiannya.

Hubungan saling mempengaruhi di antara manusia dan lingkungan hidup, memiliki sifat pengaruh yang berbeda dari keduanya. Pengaruh lingkungan hidup terhadap manusia bersifat pasif, sedangkan pengaruh manusia terhadap lingkungan hidup lebih bersifat aktif. Manusia dengan akalnya, memiliki kemampuan eksploratif terhadap alam, sehingga mampu merubah lingkungan hidup sesuai yang dikehendakinya. Di pihak lain, meskipun tidak mempunyai kemampuan yang sama dengan manusia, namun apa yang terjadi pada lingkungan hidup memberikan pengaruh terhadap kehidupan manusia. Perilaku eksploitatif-manipulatif manusia terhadap lingkungan hidup akan mengakibatkan kerusakan langsung kepadanya serta memberikan dampak negatif bagi kehidupan manusia.

Kerusakan lingkungan hidup merupakan masalah krusial secara global yang dihadapi oleh umat manusia dewasa ini. Permasalahan ini tidak hanya ditandai dengan berbagai fenomena alam, seperti tanah longsor, banjir, global warming, climate change, krisis air bersih, dan sebagainya, tetapi juga menunjuk pada penurunan kualitas sumberdayanya. Pada konteks “Pengembaraan Burung”, rusaknya lingkungan hidup ditunjukkan oleh puisi karya Rialita Fithra Asmara—“Surat Kepada Sungai”—, puisi karya A. Inuy EA—“Pesan dari Ibu”—, puisi karya Suharsono A.Q—“Kering”—, dan puisi karya Anis Ceha—“Gugur Daun”—. Kesan penting dari puisi-puisi tersebut menunjuk pada kritik terhadap kemanusiaan kita sebagai makhluk lingkungan. Sementara permasalahan terkait rusaknya sungai akibat perilaku manusia serta kekeringan, tidak lain merupakan gambaran sebenarnya dari perilaku ekologis masyarakat dan kondisi lingkungan yang disaksikan oleh para penyairnya.

Penutup
Dengan lebih mengarah pada content puisi untuk mencari makna umum terkait kerangka konsep yang dikemukakan, yaitu kauniyah dan humanisme, tentunya tulisan ini memiliki banyak kekurangan, serta belum mewadahi seluruh unsur yang terkandung di dalamnya, baik intrinsik maupun ekstrinsik. Lepas dari itu, inilah “Pengembaraan Burung” yang menghadirkan humanisme dari pembacaan atas kauniyah yang hadir di hadapannya.[*]
***

*) Tulisan disampaikan pada Bedah Buku Antologi Puisi “PENGEMBARAAN BURUNG” pada Lamongan Art 2015, di Plaza Lamongan, Minggu 29 November 2015.