Teks Suroboyoan

Beni Setia
Kompas, 9 Nov 2012

Catatan Rainy MP Hutabarat, ”Koaya Roaya” (Kompas, 7/9/2012), jernih menandai dua gejala berbahasa. Pertama, masuknya sisipan u di suku kata awal satu kata, yang secara lisan menandakan ada peningkatan level kuantitas serta kualitas makna (kata) awal.

Setahu saya, cara itu dipinjam dari tradisi berbahasa lisan di Surabaya, subdialek bahasa Jawa. Secara teknis, peningkatan makna (kata) enak dilakukan dengan menyisipkan partikel u ke suku kata pertama (vokal e) dan bukan suku kata berikutnya (nak). Hingga secara tekstual tertulis uenak, meski orang sering memakai versi transliterasi lisan uee-nak.

Pilihan meletakkan sisipan u sebelum vokal menyebabkan ba-nyak jadi bua-nyak, can-tik jadi cuan-tik, ka-ya jadi kua-ya. Sekaligus lu-ar (biasa) seharusnya tertulis luu-ar (biasa), meski pelafalan meleburkan u tambahan dan l jadi panjang.

Deskripsi itu sekaligus menandakan dua penyimpangan Rainy MP Hutabarat: (a) tak ada peningkatan makna dengan sisipan o karena yang baku itu u, dan (b) yang dipakai sebagai acuan penulisan itu bahasa Indonesia, bukan bahasa Jawa.

Menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Jawa Huruf Latin yang Disempurnakan, Balai Bahasa Yogyakarta, 2011: apa yang tertulis a di suku kata berujung vokal terbuka harus dibaca o. Tresna jadi tresno. Dengan imbuhan jadi katresnan bukan katresnoan. Karena itu, a dari ka-ya jadi ko-yo—dan transliterasi lisan setelah mendapat sisipan partikel u menjadi kuoyo ruoyo, bukan kooyo rooyo, meski sama-sama tertulis kuaya ruaya.

Karena itu, kedua, Rainy menandai gejala peningkatan makna (kata) berdasar pola pemakaian ragam lisan berdasarkan transliterasi pelafalan bukan konsekuensi teks secara tertulis. Maknyus jadi mak-nyuss—bila diberi sisipan u hanya jadi muak-nyus. Atau top diperpekat maknanya jadi top markotop, dengan acuan kebiasaan orang Madura, yang menekankan laku identifikasi dengan menyingkat kata di suku kata terakhir, lantas mengulang seluruh kata, sehingga hitam jadi tam hitam. Meski top itu mendadak diberi partikel marko yang entah berasal dari mana.

Transliterasi yang mengandalkan pendengaran memicu anomali teks, padahal penulisan dengan acuan pedoman membuat transliterasi jadi baku. Meski orang Surabaya punya ekspresi berbahasa unik, yang tegas menandai komunitas Surabaya sebagai Suroboyoan. Acuan baku seharusnya Surabayan, dari Surabayaan, sebab ada peleburan a ganda. Sesuai sikap yang cenderung egaliter, tak mementingkan kesantunan berbahasa.

Kangen pun diapresiasi sebagai laku sengaja yang dikangeni, bukan perasaan rindu. Widodo Basuki menandainya deskripsi Suroboyoan dalam puisi ”Ketemu ing Surabaya”:

diamput, koen ketok lemu/ wis makmur, ya!/ gak matek, tah/ anakmu wis pira/ awak dewe isih kere, cuk (> sialan, kamu terlihat gemuk/ sudah sejahtera, ya!/ tak mampus, toh/ anakmu sudah berapa/ diriku masih kere, cuk).

Ekspresi sayang dihadirkan via makian. Perjumpaan diawali teriakan cuk dari dianc*k, meski terkadang jadi lembut dalam idiom lur, dari dulur—setara bro, dari brother.
Unik, sesuai laku egaliter suatu komunitas yang terbuka.

https://rubrikbahasa.wordpress.com/2012/11/09/teks-suroboyoan/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*