Novel Sufi Melayu dalam ‘Lelaki Pembawa Kain Kafan’

Oly Rinson *
Riau Pos, 26 Agus 2012

Pada Mulanya adalah kata.

A. Novel Bagus Tanpa Indentitas Penerbit

KEBIASAAN saya membaca buku, pertama kali saya lihat adalah judulnya, siapa yang menerbitkan buku itu, siapa editornya dan cetakan keberapa buku itu?

Kalau dia buku terjemahan, siapa alih bahasanya? Hal-hal itu biasanya selalu mengusik saya.

Dalam buku Griven H Putera dengan judul Lelaki Pembawa Kain Kapan, saya tak mendapatkan itu. Buku ini tanpa indentitas penerbit sama sekali. Dia juga tanpa seorang editor (sehingga terjadi beberapa kali salah penulisan seperti di halaman 29, 98——beberapa contoh).

Ditulis dengan huruf Garamond, ukuran type: 13.5/16.2 dan sudah ada ISBN-nya. Namun yang paling mengganggu adalah tulisan dalam kotak.

Di situ tertulis: Megalomania Sebuah Novel/Griven H Putra. Saya kaget, Megalomania adalah novel Marhalim Zaini, yang begitu sulit saya cerna sampai hari ini. Kita tebak, novel ini mungkin diterbitkan di tempat yang sama dengan novel Marhalim Zaini.

B. Sebuah Novel yang Sangat Kuat Menyuarakan Ideologinya

Apa yang menjadikan sebuah novel menarik dan punya nilai yang berbeda dari novel lainnya. Salah satunya adalah kedalaman emosi, keunikan cara bercerita serta apa yang sedang di-representasikan- oleh novel itu sendiri.

Kalaulah pendapat di atas bisa diterima, maka novel ini punya ketiga unsur itu. Seorang pakar sastra Indonesia pernah mengatakan, sastra yang baik itu lahir dari budaya lokal.

Membaca halaman pertama novel ini kita segera disuguhkan suasana khas sebuah daerah di Indonesia, tepatnya di Riau. Dengan pembukaan yang membumi dan tanpa banyak cerita, Griven langsung menghentak dan masuk ke pokok masalah.

Bunyi tetawak mengaung lantang. Orang-orang kampung berhamburan. Sebagian mereka ada yang tak sadar hanya memakai seluar sempak. ‘’… Panik melanda kampung demikian gebalau.’’

Tanpa basa-basi, tanpa pembukaan yang bertele-tele kita langsung masuk ke isi novel. Ibarat sebuah dinamit, Griven langsung meledakkannya dan kita sadar bahwa kita dalam bahaya.

Dari kalimat di atas, saya tahu, ini novel bertema lokal Riau tanpa perlu ditambahi embel-embel apapun. Sebuah pembukaan yang berhasil.

Kalau kita lanjutkan, novel setebal 115 halaman ini hanya bercerita tentang hilangnya juru penerangan (Jupen) secara misterius dari kampung tempat di mana ia biasa memberi ceramah.

Diceritakan, Pak Jupen tiba-tiba hilang, seluruh isi kampung, sibuk mencari kalau-kalau Pak Kahar (nama juru penerangan), hanyut di sungai. Bahkan beberapa orang dukun sakti malah mencarinya sampai ke daerah dimensi lain yaitu dunia orang bunian.

Padahal sesungguhnya, kepergian Pak Kahar hanyalah karena coba menghindar dari orang-orang sirik yang coba mencelakakannya karena dengki.

Belakangan, Pak Jupen yang disangka sudah mati, tiba-tiba muncul, hanya untuk pamit dan mengambil barang yang tertinggal, kemudian menghilang lagi. Misteri munculnya Pak Jupen kembali itu, hanya diketahui Pak Guru, orang baik hati tempat Pak Jupen menumpang, kalau sedang berkunjung ke kampung. Selebihnya masyarakat hanya tahu, Pak Jupen hilang, dan misteri itu tetap tertutup sampai akhir cerita.

Seperti cerita hitam putih pada umumya, kebaikan akan selalu menang atas kejahatan. Namun di sinilah letak keberhasilan novel ini. Griven mampu mengangkat tema sederhana jadi sesuatu yang besar.

Bukan dengan bahasa bom bastis, alur yang dibuat rumit sedemikian rupa, atau judul sub tema yang digadang-gadangkan untuk membuat kamuflase terhadap pembaca, tapi justru dengan dialog yang lancar, bahasa yang jernih, dan pesan-pesan ke sufian yang sangat tepat sasaran.

‘’… Darinya semua berasal, kepadanya semua berlabuh. Tiada Ilah selain Dia. Dia yang sebenar hak, Dia yang abadi. Hak mati, tiada mati. Di luar di dalam tiada mati. Pandai berkata tiada mati. Kata Allah Hak…! Laa ilaaha illallaah! Muhammad Rasuulullaah.’’ (Hal 106)

Atau.

‘’… Siapa pencipta yang hak. Sejauh mana peran-Nya dalam samudra batin diri dan semesta raya. ‘’… Kekuasaan mahluk yang nisbi penuh keniscayaan. Niscaya hancur, niscaya binasa, niscaya lebur. Kekuatan Dia mutlak.

Tak berganjak mati, tak beralih kayu. Yang lain tak ada dulu, tak ada kini, tak ada masa depan. Dia yang dulu, Dia yang kemudian, Dia yang awal dan Dia pula yang akhir. Ia yang menghidupkan, Ia pula yang mematikan…

Saya merinding membaca kalimat-kalimat ini. Kalau ada novel yang mampu memberi saya pencerahan batin, pertama kali saya menemukannya di novel ini.

Saya percaya novel ini akan menjadi alat dakwa yang luar biasa. Membuat orang sadar akan arti sebuah kecintaan dan rasa takluk pada Yang Kuasa. Angkat topi untuk Griven.

Setelah berhasil mengalahkan musuh-musuhnya satu demi satu, Pak Jupen (Kahar) justru menghadapi perang yang lebih besar. Bukan perang dengan manusia atau jin atau roh kegelapan, tapi ini adalah perang dengan waktu, perang dengan diri sendiri.

Di sini pertanyaan besar itu muncul: Setelah semua keberhasilan telah dicapai, segala hajat terpenuhi, apa sesunggunya yang kita cari dalam di dunia ini? (Hal 108)

Kalau kita sadar, seperti tokoh novel ini (Pak Kahar) bahwa… Kematian itu memang begitu dekat, sama dekatnya dengan hidup (Hal 104). Mungkin kita semua juga akan bersiap ke sana, ketika dunia ini tidak lagi dapat memberikan apa-apa, ketika kita sadar tidak ada yang abadi di dunia ini, ketika kejenuhan seperti puncak gunung dari semua pencapaian kita di dunia, mungkin kita pun akan berkata: ‘’… Waktu, engkau begitu dekat’’ (Hal 114) dan kita pun semua akan merindukan pergi ke sebarang. Melihat rantau kebun (kuburan) seperti taman bunga. Taman terindah yang pernah kita lihat seumur hidup kita (Hal 115).

C. Novel yang Unik Cara Bertuturnya

Seorang guru yang saya lupa namanya berkata: Kalau kau mau ceritamu hidup, tulislah cerita yang begitu kamu kenal. Bukan cerita orang lain, bukan ide orang lain. Tapi ceritamu sendiri, idemu sendiri, masalah yang betul-betul kamu pahami.

Griven berhasil dalam novel ini, karena saya yakin Griven menulis tentang dunia yang ia ketahui (baca: dunia Melayu) dan mengerti masalah serta persoalan yang sedang dihadapinya (saya yakin karakter Pak Jupen terilhami dari kehidupan Griven sendiri).

Hal ini pasti akan beda sekali bila bila Griven menulis dunia lain, masalah lain yang ia tak begitu paham, tak begitu suka.

Dalam hal itu, bahasa yang merupakan kendaraan untuk menyampaikan cerita terasa lancar; tak tersendat-sendat seperti mobil yang kehabisan tenaga ditanjakkan.

Ia menyatu di situ dan menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan sama sekali dari struktur cerita. Ini akan beda sekali bila Griven tak melokalitaskan dirinya dengan tema yang digarapnya.

Sebab dengan begitu, kata-kata lain (baca: kata-kata Melayu) akan terasa sebagai tempelan, atau pelengkap agar cerita itu tampak seperti cerita Melayu.

Namun yang menggembirakan dari semua itu, cara bertuturnya yang halus, tapi terasa begitu pas dan sedap di telinga.

‘’Ngapa abang cemas macam tu?’’

‘’Mengapa pula tak akan cemas. Sekarang sudah hampir pukul dua.’’

‘’Ke tepian Tak?’’

‘’Abang ni baru saja dari sana.’’

‘’Sudah abang tengok Betul-betul?’’

‘’Astaghfirullah. Ngkau ni nyinyir.’’

‘’Heik. Awak pula dicakap nyinyir.’’ (Hal 29)

Itu khas Griven. Hampir semua karyanya berdialog dengan santun seperti itu. Griven tak menggunakan bahasa sastra tingkat tinggi, istilah canggih yang membuat pembaca binggung, tapi dengan bahasa sederhana, sesungguh-sungguhnya, namun itu yang membuat novelnya berkarakter.

Membaca itu, kita seperti terbawa suasana khas kampung Melayu dengan cara bertutur yang lembut dan halus.

Coba kita lihat cara bertutur yang lain:

‘’Dugaan saya begitu.’’

‘’Jangan suka meratah kerang, kerang dipanik menelan cuka.’’

‘’Jangan suka memfitnah orang, orang benci Tuhan pun murka.’’

‘’Kalau bukan dia lalu siapa lagi?’’ (Hal 86)

Saya tak tahu Griven dapat pantun itu dari mana, kalimat itu pas di situ. Seperti topi yang berjumpa kepala yang sesuai. Dia tak seperti tempelan agar kelihatan seperti Melayu, tapi itulah dialog Melayu.

Coba yang lain lagi.

‘’… Pantang jantan tak melawan, pantang lelaki takut mati.’’

‘’Bahkan lebih dahsyat dari pada petir. Lelaki itu menyimpan petir.’’ (Hal 87)

Atau.

Ncik soma tersenyum. ‘’Kalau kaki belum bertaji, gelanggang orang jangan diuji.’’ ( Hal 88)

Sepanjang novelnya yang tipis ini, Griven tak membuang-buang amunisi dengan coba memanjang-manjangkan masalah atau bercerita dengan cara bertele-tele.

Tak ada kalimat yang terbuang percuma. Singkat, padat dan jelas. Griven mencapai satu hal: Pembaca mengerti, dan novel tak kehilangan keindahannya.

Apa lagi yang dicari? Novel-novel bagus kelas dunia pun tak perlu setebal bantal untuk mencapai maksudnya kan? Kalau bisa dibuat ringkas, mengapa dibuat panjang?

D. Alur yang Lancar dan Suspensi yang Tetap Terjaga Sampai Akhir

Dengan novel setipis itu dan alur yang tak rumit, Griven cukup cerdik dengan mengakali novelnya dengan bab yang pendek-pendek serta awal yang mengejutkan.

Pengarang yang kurang cerdas seringkali terjebak di bab awal untuk mengarahkan ke mana maksud cerita yang sesungguhnya. Bahkan seringkali kita sudah membaca hampir separuh buku, kita belum tahu apa maksud cerita itu.

Di sini Griven tak memulai ceritanya dengan garis lurus, tapi dia mulai dari klimaks, dengan memberi pembaca suatu kejutan yang suspensinya tetap terjaga sampai akhir cerita.

Kita disuguhkan suatu kejadian, kehebohan seisi kampung, tapi kita tak tahu hebohnya seperti apa. Kita digiring untuk terus membaca-dan membaca sampai kita tahu, ini lho, penyebab kehebohan itu.

Ibarat mobil yang sedang melaju kencang di jalan lurus, Griven tak memberi kita kesempatan untuk ganti persneling. Ia tanpa belas kasihan terus menggiring kita untuk terus membaca novelnya yang dahsyat ini. Kadang-kadang, untuk mengganti bab satu ke bab lainnya, Griven hanya perlu satu halaman saja (seperti halaman 72, dan 74) tapi meski begitu kita tetap merasa telah menyelam begitu lama di satu bab itu dan tiba-tiba kita sudah berpindah ke bab lain. Kita tak kehabisan napas, sehingga bisa tetap berlari sampai akhir cerita.

Seingat saya tak ada satu bab pun yang membosankan dari 20 bab yang ada. Hal ini tentu saja didorong dengan cara bercerita yang lancar dan memikat, bahasa yang jernih, karakter tokoh-tokoh yang kuat, terutama nampak dalam dialog-dialog, dan yang paling menonjol tentu saja bahasa ke-sufian yang terasa indah dan acap kali mendirikan bulu roma.

E. Plot Terbuka yang Lembut
Satu poin lagi yang perlu kita catat kiranya adalah Griven tak coba menggurui kita atau memaksakan karakter terhadap tokoh-tokohnya.

Ceritanya dibiarkan berkembang sendiri dan kita pembaca diizinkan untuk mengembangkan imajinasi dan penafsiran kita sendiri.

Begitulah seharusnya pengarang yang baik dan sastra yang baik. Ia selalu memberi jawaban berupa pertanyaan, sehingga memancing rasa ingin tahu pembaca secara terus menerus. Dengan itu pembaca diajak jadi cerdas, tak dikungkung dengan teori atau keinginan ‘’otoriter’’ pengarang.

Setelah kejutannya terungkap, suspensinya tersingkap dan rahasia sebab akibat dalam novel ini terbuka seluruhnya, kita disuguhkan suatu drama lain, drama yang kita sendiri yang akan menentukan.

Ke mana tokoh utama sesudah ini, apa yang dilakukannya, mengapa ia memilih jalan itu? Dan ada banyak pertanyaan menggelitik lainnya, yang masing-masing kita punya cara dan interprestasi sendiri dalam menerjemahkannya.

Griven tak perlu repot-repot mengarahkan novelnya dengan misi atau beban berat yang diusung sebuah karya sastra, ia membiarkan novelnya mengalir, bercerita sendiri, dan menyelesaikannya sendiri.

‘’… Di luar tampak buram. Renyaikah yang datang? Ataukah embun yang tiba terlalu dini? Pak kahar mengusap kedua matanya. Barulah ia sadar, Bukan gerimis yang turun diluar sana, tapi matanya yang telah digenangi airmata…’’

‘’.. Di antara sadar dan tidak, di sela-sela sungai kecil yang mengalir pelan di kedua matanya, Pak Kahar melihat rantau kebun seperti taman bunga. Taman terindah yang pernah ia lihat sepanjang hidupnya.’’ (hal 115)

F. Beberapa Catatan

Tentu saja harus kita akui, dengan lokalitas seperti itu Griven pun harus berhati-hati (terutama dalam menggunakan bahasa-bahasa Melayu asli) dalam menulis dan menjaga irama novelnya.

Sebab salah sedikit saja, cerita yang ia tulis bisa lari atau mengambang dari tujuan, sehingga warna lokal secara geografis bisa kabur atau bahkan hilang sama sekali. Dan perlu ditambahkan, dalam novel ini banyak sekali kata-kata asli Melayu yang terasa asing bagi pembaca yang tak mengerti. Sebaiknya penulis memberi catatan kaki, atau kamus sisipan, sehingga pembaca bisa terbantu untuk mengerti.

Akhir kata, kita patut bergembira dengan kehadiran novel ini. Kita percaya novel ini jadi penambah semangat di antara para sastrawan Riau yang sedang membangun kerangka Mazhab Riau.

Dengan novel ini kita diberi kesadaran bahwa dengan menjadi lokal, bukan berarti kita harus kehilangan estetika dan keindahan. Bahkan dalam beberapa hal, menjadi lokal, justru memunculkan suatu pencerahan, di tengah pencarian kita akan keindahan itu sendiri.

*) Oly Rinson, sastrawan Riau yang terbilang produktif menghasilkan karya seperti novel, cerpen maupun esai. Novel-novelnya telah dibukukan dan karya-karyanya dimuat di berbagai media massa, baik lokal maupun nasional. Bermastautin Pekanbaru.
http://cabiklunik.blogspot.co.id/2012/08/novel-sufi-melayu-dalam-lelaki-pembawa.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*