Mashdar Zainal, Sastrawan dari Malang

Penerima Penghargaan Nasional Acarya Sastra 2017
Khulda Rahmatia *
radarmalang.id 20 Oct 2017

Di kalangan para sastrawan nasional saat ini, nama Mashdar Zainal sangat diperhitungkan. Sebab, cerpen-cerpennya kerap menghiasi koran nasional. Selain itu, dia juga menjadi langganan juara lomba kepenulisan. Karena produktivitas dan kualitas tulisan sastranya, tahun ini dia menerima penghargaan Acarya Sastra.

Mashdar Zainal tergolong sosok yang ramah dan rendah hati. Saat diwawancarai koran ini pada Rabu (18/10) misalnya, dia terkesan malu-malu menyampaikan kisah suksesnya di dunia kepenulisan sastra. Padahal, pria dengan nama asli Darwanto ini sudah menelurkan sejumlah novel hingga ratusan cerita pendek (cerpen).

Dan, salah satu novelnya yang berjudul Alona Ingin Menjadi Serangga ini baru saja diumumkan sebagai juara I dalam perlombaan penulisan di tingkat nasional yang diselenggarakan Kemendikbud RI. Jadi, penulis sekaligus guru SD Islam Terpadu (SDIT) Insan Permata Kota Malang tersebut akan menerima penghargaan Acarya Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud di Jakarta Sabtu (28/10). Dia diundang khusus dan akan diberi penghargaan langsung oleh Mendikbud saat peringatan Bulan Bahasa yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda itu. Untuk diketahui, Acarya Sastra merupakan penghargaan untuk pendidik yang menulis karya sastra.

Menurut panitia, novel Alona Ingin Menjadi Serangga menang karena dianggap mampu mengambil sudut pandang yang berbeda dan tampak begitu kreatif. Menurut dia, sudut pandang yang diambil adalah cerita memilukan dari tokoh anak-anak.

Ditanya soal kegemarannya menulis, pria kelahiran Madiun, 15 April 1984, ini mengaku sejak kecil tidak pernah bersentuhan dengan karya sastra. Meski demikian, saat ini, dia telah menjuarai berbagai lomba kepenulisan. Tak sedikit pula cerpen-cerpennya dimuat di koran lokal maupun nasional.

Bahkan, karyanya masuk buku antologi bersanding dengan penulis ternama tanah air. Di antaranya, Seno Gumira Ajidarma, Gus Mus, bahkan Agus Noor. ”Mereka sering memberikan motivasi kepada saya. Mereka bilang masih muda, tapi sudah bisa menelurkan karya,” katanya tampak malu-malu.

Beberapa buku juga sudah dia telurkan sebagai hasil ketekunannya dalam menulis. Misalnya ada novel Iktiraf Sekuntum Melati; Salamadani, Grafindo, Bandung (2012); Garnish, dTeens Diva Press, (2016); Dan Burung Burung pun Pulang ke Sarangnya, Quanta, Elexmedia Komputindo (2014); serta Zalzalah (Biarkan Cinta Sampai pada Akhirnya), Semesta, PRO-U Media, 2009.

Selain itu, ada buku kumpulan cerpen berjudul Alona Ingin Menjadi Serangga, UNSA Press (2015), Dongeng Pendek Tentang Kota Kota dalam Kepala, Diva Press, (2017), serta Lumpur Tuhan.

Suami dari Uswatun Hasanah ini menyatakan, ketertarikannya dalam hal sastra dan tulis-menulis sebenarnya baru benar-benar tumbuh saat di perguruan tinggi (UIN Malang). ”Kalau ke perpustakaan, seharusnya nyari buku mata kuliah. Eh, saya malah nyari novel,” ujar alumnus Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah UIN Malang pada 2007 itu.

Mashdar mulai benar-benar menekuni dunia tulis-menulis mulai 2010. ”Waktu galau-galaunya setelah kuliah mau ngapain, di situlah saya mulai menekuni dunia tulis-menulis,” kenang penggemar sastrawan Buya Hamka ini.

Dia menyatakan, kebanyakan karyanya berkaitan dengan anak-anak. ”Rentang waktu saya mulai mengajar dan menekuni dunia menulis itu sejalan,” ujar guru kelas 5 SDIT Insan Permata Kota Malang ini.

Hingga saat ini, dia telah memiliki ratusan karya cerpen, beberapa novel solo, dan puluhan antologi serta buku kumpulan cerpen. Salah satu buku terbarunya yang terbit tahun ini berjudul Dongeng Pendek Tentang Kota Kota dalam Kepala.

Selain itu, cerpennya berjudul Penglihatan berhasil masuk Kumpulan Cerpen Tanah Air Terbaik Kompas pada tahun yang sama. Kemudian Lumpur Tuhan merupakan salah satu cerpen yang masuk buku Kumpulan Cerpen sekaligus Pemenang Sayembara Sastra 2017 kategori cerpen yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jawa Timur.

Konsistensi adalah kunci untuk menelurkan karya-karya sastra. ”Harus ada target dan komitmen,” kata dia menjelaskan prinsipnya. Dia menargetkan, satu minggu harus membuat satu cerpen. ”Itu pun kalau terlaksana, sudah bagus. Sebab, menulis karya sastra itu tidak segampang kelihatannya,” tandas putra pasangan (alm) Karyono dan Wagirah tersebut.

Selain komitmen dan target, salah satu faktor yang menunjang kreativitasnya dalam menulis adalah membaca. ”Menulis dan membaca itu adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan,” ujarnya. Dengan membaca, kata dia, kepala akan terisi dan secara alam bawah sadar akan muncul ide yang seakan berlompat-lompatan. Dia juga menceritakan, awal mula dia mencoba menulis karena kegemarannya membaca. ”Saat gelisah atau sedang merasakan sesuatu, saya menyalurkannya lewat tulisan. Kok rasanya semakin menarik. Akhirnya saya coba-coba kirim karya saya ke media,” katanya.

Tak jarang Mashdar mengalami kesulitan saat menulis. ”Kadang susah ngatur waktu karena ngajar kan full day,” kata pria yang ditinggal mati ayahnya ketika baru berumur satu bulan dalam kandungan itu.

Untuk menulis karya, biasanya dia lakukan pas tengah malam atau sebelum dan sesudah Subuh. ”Saya kalau nulis harus suasanya sepi,” ujarnya.

Saat mendapat ide, Mashdar biasanya langsung menuliskannya di HP atau kertas kecil agar tidak lupa. Menurut dia, menulis itu berarti menuangkan ide. ”Setiap gagasan, pesan, maupun apa pun yang ingin disampaikan, saya merasa bisa menyalurkannya dengan baik melalui karya sastra,” ujar pemenang juara I Lomba Cerpen Nasional HUT Kota Indramayu 2017 ini.

Peraih juara harapan lomba Cerpen Menpora tahun 2013 ini juga menyatakan, kadang menulis itu seperti orang yang mabuk. ”Terkadang saya tidak sadar ketika naskah sudah selesai dan rapi, saya merasa tidak menulisnya,” ujar peserta terbaik kelima penghargaan sastra untuk Pendidik Kemendikbud, 2013 ini.

Sementara itu, dari hobi menulis itu, Mashdar tidak hanya mendapat juara dan penghargaan. Selain pengalaman, dia mendapatkan penghasilan yang banyak dari menulis. ”Saya punya laptop gara-gara menulis. Saya naik pesawat ke luar kota juga karena menulis. Dulu bisa mandiri dan membantu ayah serta ibu juga karena menulis,” katanya.

Dia senang karyanya dibaca orang, apalagi ada bonus honorarium yang didapat jika tulisannya dimuat. Menurut dia, tidak sedikit pembacanya memberi pujian pada tulisan-tulisan dengan nama pena Mashdar Zainal itu. ”Bahkan, karya saya pernah dijadikan bahan makalah,” ungkap Mashdar.

Dari pembacanya, dia tahu kekhasan tulisannya. ”Mereka bilang tulisan saya lembut dan hangat, suka nulis yang sedih-sedih,” ujarnya sembari tersenyum. Meski dia tak merasa begitu, tapi semua komentar itu diserahkan kepada pembaca. Sebab, menurut dia, pembaca berhak berkomentar apa pun tentang karyanya.

Ilmu dan pengalaman yang dia dapatkan selama ini tidak disimpannya sendiri. Di sekolah, dia menjadi pembimbing ekstrakurikuler bernama Penulis Cilik. Di situlah Mashdar memberi motivasi agar anak-anak suka membaca. Lalu, mereka dibimbing dan digembleng agar bakat menulisnya muncul. Dia berharap, anak-anak semakin suka literasi dan terbiasa dengan membaca buku. Dia menekankan jika menulis itu penting. Di sela-sela waktu mengajar, dia juga mengisi pelatihan kepenulisan di tingkat mahasiswa dari berbagai daerah di Jawa Timur. (/c2/lid)

http://www.radarmalang.id/mashdar-zainal-sastrawan-dari-malang-penerima-penghargaan-nasional-acarya-sastra-2017/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*