Literasi Sastra Membangun Karakter Siswa

Muhlasin *
Tribun Jateng, 28 Feb 2017

Ada yang baru dengan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) SMA tahun ini. Jika tahun-tahun sebelumnya peserta menempuh enam mata uji, kali ini mereka hanya menempuh empat mata uji. Tiga mata pelajaran sebagai mata uji wajib, yakni bahasa Indonesia, matematika, dan bahasa Inggris, dan satu mata uji pilihan sesuai program studinya. Sedangkan dua mata pelajaran (mapel) khas jurusan lainnya yang tidak dipilih dalam UN akan ditempuh bersama mapel lain dalam Ujian Sekolah Bersama Nasional (USBN).

Kebijakan baru ini kabarnya demi memfokuskan siswa pada fakultas atau program studi yang akan dipilihnya di perguruan tinggi kelak. Namun, apakah kebijakan ini benar-benar akan menguntungkan siswa dan bagaimana dampaknya?

Di kelas program Ilmu Bahasa, sastra Indonesia merupakan mapel khas jurusan. Hanya saja di beberapa SMA, mapel ini nyaris tidak ada yang memilih menjadi mapel UN April nanti. Menurut siswa, sastra Indonesia paling sulit di antara mapel jurusan lain, yakni antropologi dan bahasa asing. Opsi jawaban dalam sastra Indonesia sering membingungkan karena tidak ada jawaban pasti. Mereka pesimistis dengan nilai yang bakal diraihnya. Selain itu, menurut mereka, sastra Indonesia dinilai kurang prospektif di perguruan tinggi nanti.

Alasan seperti itu tidak sepenuhnya salah. Bahkan ketika membahas soal-soal yang berkaitan dengan kesastraan, para guru sering berbeda pendapat. Lain halnya dengan soal-soal yang berhubungan dengan kebahasaan.

Di sekolah yang memiliki Program Ilmu Bahasa, untuk mengajarkan mapel sastra Indonesia ternyata tidak semua guru bahasa Indonesia merasa sreg. Secara ekstrem, istilah mereka, kalau sudah menyangkut apresiasi puisi dan arab melayu membuat tubuh panas dingin. Maka tidak heran jika dalam proses pembelajarannya, kesastraan yang porsinya sudah sedikit itu semakin terpinggirkan.

Padahal, jika kita menengok sejarah sastra nusantara, dunia kesastraan pernah menjadi perhatian besar dan serius dari penguasa dan masyarakat kala itu. Karya sastra yang lahir dari para empu, pujangga maupun sastrawan menduduki posisi terhormat. Lewat sastralah peradaban manusia dibangun. Melalui karya sastra, masyarakat tidak merasa sedang digurui, tapi dengan sukarela dan gembira mereka belajar bagaimana menyerap dan menerapkan nilai-nilai moral, sosial, religi, politik, dan edukatif dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pelaksanaan pendidikan karakter yang didengung-dengungkan saat ini, sastra Indonesia mampu memberikan sumbangsih yang tidak dapat dianggap enteng. Dalam kegiatan menulis puisi, cerpen, atau teks drama misalnya, siswa dididik menjadi kreatif, bekerja keras, dan jujur. Sedangkan dalam kegiatan apresiasi sastra, siswa dididik dapat menghargai karya orang lain dengan penuh tanggung jawab.

Upaya Menyiasati

Lantas bagaimana cara menyiasati kondisi seperti itu? Apakah siswa tetap dibiarkan untuk tak peduli terhadap sastra Indonesia? Kita jelas tidak boleh membiarkannya, tapi juga tidak dapat terlalu memaksa mereka untuk memahami kesastraan jika mereka memang tidak meminatinya di bangku kuliah kelak. Upaya kita adalah bagaimana karakter siswa dapat terbina melalui kegiatan bersastra.

Meski semakin terpinggirkan di sekolah, tapi tetap ada harapan bahwa sastra akan tetap hidup. Hal ini dapat dibuktikan dalam kegiatan literasi sekolah. Sepanjang pengamatan penulis, cukup banyak siswa yang senang membaca novel, kumpulan cerpen, atau cerita rakyat. Mereka tetap bisa merangkum atau membuat sinopsisnya.
***

Di kelas Ilmu Bahasa, siswa lebih antusias diajak memproduksi karya ketimbang membicarakan sastra. Menulis cerpen berdasarkan pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain kemudian secara kelompok menjilidnya menjadi kumpulan cerpen, siswa merasa senang. Menulis puisi kemudian secara klasikal membuatnya dalam kumpulan puisi atau antologi puisi, para siswa juga tertarik. Apalagi mereka harus mewujudkannya menjadi antologi yang layak pajang di perpustakaan sekolah.

Dalam pembuatan antologi puisi ini, mereka tidak sekadar mengumpulkan puisinya beserta profil singkat penulisnya. Mereka juga harus menyepakati judul antologi, merancang cover, dan memberikan kata pengantar. Untuk menentukan judul antologi saja mereka sebenarnya sudah belajar untuk tidak menonjolkan egonya, tapi benar-benar dapat berpikir jernih dan penuh tanggung jawab.

Lantas apa peran guru sastra dalam mewujudkan karya mereka ini? Jika karya mereka sudah siap, guru dapat memberikan pengantar dalam antologi puisi ini. Dengan demikian, karya mereka tidak hanya berhenti di meja guru, tapi tetap terdokumentasikan dengan baik dan bisa menambah isi koleksi perpustakaan sekolah.

Sebenarnya bukan hanya guru bahasa dan sastra Indonesia saja yang berperan dalam kreasi bersastra siswa ini. Hal ini bisa dilakukan juga oleh guru bahasa Inggris dan bahasa Jawa sehingga para siswa tetap akrab dengan dunia sastra. Siswa akan terpacu daya kreasinya dan tetap tidak kehilangan hati nurani.

*) Muhlasin,S.Pd adalah Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA N 3 Salatiga
http://jateng.tribunnews.com/2017/02/28/literasi-sastra-membangun-karakter-siswa?page=2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*