AKU DAN PUISIKU (Sekilas Catatan Proses Kreatif)

Iverdixon Tinungki
iverdixontinungki.blogspot.co.id

Sejatinya, jalan menuju puisi adalah jalan tanpa ujung berhenti. Semacam upaya terus menerus membongkar diri, mencari penghayatan yang dalam dan sublim tentang hidup dan kehidupan. Karena ada yang selalu menarik untuk diburu, ada yang selalu meminta untuk ditulis. Kesadaran dan perasaan ini barangkali yang muncul dalam ungkapan, “puisi yang baik dan indah selalu berupa puisi yang belum ditulis”.

Setiap kali aku menyelesaikan sebuah puisi sebagai titik pencapaian dari pencarianku, selalu terpampang kembali rute lanjutan dengan setangkup keterpesonaan yang baru. Sebab, pada akhirnya seorang penyair akan berusaha menempatkan puisinya dalam situasi yang bebas, dimana ketika penyair mencapai titik kehidupan manusia yang bebas pula, menjadi individu yang memiliki kemampuan impulsif yang serba spontan. Di rute inilah menurutku seorang penyair tumbuh dan berkembang dengan seluruh pengalamannya yang disebut sebagai proses kreatif kepenyairan. Proses kreatif inilah yang barangkali dimaksudkan semiolog Roland Barthes dimana penyair adalah subyek yang terkonstruksi secara sosial dan historis.

Pada kurun awal barangkali seperti pengalaman penyair lain, aku berada dalam konsep bersastra yang paradikmatik. Menulis puisi mengikuti model puisi yang sudah ada baik bersumber pada bentuk-bentuk puisi tradisional, atau mengikuti bentuk-bentuk Mazmur dalam Injil, bentuk-bentuk puisi dalam buku teks pelajaran sekolah yang tersedia. Apa yang ditulis adalah ekspresi paling individual dari emosi yang paling individual yang bersifat spontan. Masih terbatasnya upaya identifikasi tanda (signifier) dan penanda (signified). Pikiran dan rasa belum dikelola untuk mencapai kemampuan maksimalnya sehingga puisi itu punya kekuatan elektis memperagakan kebebasan. Masih bertumpu pada acuan abstrak, berupa impresi-impresi dari obyek tertangkap oleh pikiran dan rasa yang terbatas. Sebagai puisi yang ditulis menurut tangkapan indera dan rasa, maka karya-karya awal ini berisi kekaguman pada alam, manusia, dan peristiwa-peristiwa khusus yang mempesona hati. Apa yang tertangkap oleh indera dan rasa itulah yang tertulis dalam wujud apa adanya. Seperti wujud-wujud obyek yang tertangkap kamera seorang fotografer amatir. Citraan dan diksi yang serba lugu dibangun dalam struktur yang tidak canggih. Tapi puisi-puisi awal yang kutulis semasa SMP dan SMA itu bukan berarti tidak berguna, karena sesederhana apa pun, sebuah puisi adalah karya humanis yang menceritakan hidup dan kehidupannya. Dan dalam proses bercerita itulah sesungguhnya seorang penyair sedang merayakan kehidupannya dengan cara menghargai kehidupan secara keseluruhan.

Apa yang saya alami dikurun awal, barangkali juga dialami penyair lain yakni keterbatasan isi pikiran, keterbatasan rasa, dan keterbatasan tubuh. Padahal setidaknya tiga elemen diri ini perlu dikebangkan mengikuti cara-caranya. Pikiran di mana di tempat itu beradanya kecerdasan perlu diolah atau diisi dengan bacaan-bacaan berupa buku-buku ilmu pengetahuan, dan buku-buku lain yang dipandang penting untuk pengayaan wawasan, juga pengayaan melalui penelitian, wawancara, diskusi-diskusi bahkan bila mungkin lewat studi formal. Demikian pula rasa perlu pengelolaan yang ajek agar kita memiliki kepekaan. Olah rasa ini bisa dikelola lewat latihan-latihan meditasi, yoga, kontemplasi, mendekatkan diri pada alam, lingkungan, atau ikut dalam kegiatan-kegiatan sosial kemanusiaan. Semua itu akan memberikan pengayaan pada aspek rasa. Pengelolaan rasa ini tentu dapat dikebangkan dengan cara-cara lain berlatih menyanyi, memainkan musik, tari, lukis, teater, dan atau membacakan puisi. Elemen tubuh juga mesti mendapatkan perhatian pengelolaannya hingga bisa menopang kepentingan dua elemen lainnya di atas. Di antaranya latihan bersifat penguatan fisik berupa olah raga, gestur, mimik, dan disiplin-disiplin dalam mengikuti ritme hidup keseharian. Juga latihan mengenal sifat dan fungsi tubuh, hingga kita benar-benar mengenal tubuh kita sendiri.

Dengan terkelolanya tiga elemen diri ini setidaknya seorang penyair dapat dibilang sudah punya modal awal untuk menuju terciptanya karya yang baik. Tapi modal awal ini tidak akan cukup bila, kita tidak melatih kemampuan teknis dalam menulis. Ide-ide atau imaji-imaji yang berkelindan dalam pikiran kita akan sulit tertuang menjadi puisi bila kemampuan teknis ini tidak kita latih dengan benar dan sungguh-sungguh. Maka melatih menulis puisi terus-menerus akan menambah terjadinya akselerasi antara pikiran dan rasa yang telah cukup modal itu untuk mewujudkan sebuah karya. Berlatih menulis juga akan mempertemukan kita dengan kemampuan berbahasa. Karena bahasa sebagai media ekspresi dalam puisi tak bisa dicomot begitu saja untuk mengungkap ide, gagasan yang ingin kita tuang dalam sebuah puisi. Proses pemilihan bahasa atau kata (diksi) merupakan hal prinsip dalam sebuah proses penulisan puisi, agar struktur puisi kita terasa kokoh dan canggih atau mencapai bentuknya yang estetik. Karena pada akhirnya sebuah puisi adalah kehadiran bahasa dan kehadiran realitas.

Menurutku, puisi yang baik dan indah itu lahir dari seorang penyair yang tahu apa yang akan ia tulis, mengerti apa yang akan ia tulis, dan memiliki kemampuan teknis untuk menuliskannya. Hal inilah yang disebut sebagai kemampuan impulsif seorang penyair dalam melahirkan puisi secara spontan bahkan kadang tidak disadari sang penyair sendiri. Apa yang kutulis di atas sesungguhnya adalah hal-hal bersifat umum yang mengacu pada pengalaman proses kreatifitasku dalam menulis puisi. Masih banyak hal-hal khusus dan detil yang ikut memberi warna tersendiri bagiku melintasi jalan proses kreatifitas itu.

Rahasia sukses menulis puisi sesungguhnya terletak pada keberanian kita untuk menulis puisi yang pertama. Sebab, ketika puisi pertama lahir, maka puisi-puisi selanjutnya akan memaksa kita untuk dilahirkan. Puisiku yang pertama berjudul: “Bunga Mawar”. Kini aku tidak ingat lagi seluruh isi dari puisi itu karena sudah tercecer entah di mana. Tersisa dari ingatanku tentang puisi “Bunga Mawar” ini adalah isinya berupa doa terindah dari hatiku kepada Tuhan. Suatu doa seindah Bunga Mawar. Dari mana datangnya ide menulis puisi Bunga Mawar? Setidaknya ada tiga referensi utama yang melandasi gagasan puisi ini yakni: Pertama, di halaman rumah kami ada beberapa rumpun bunga mawar berwarna merah tua, dan merah muda. Kedua, keterpesonaanku pada kitab Mazmur yang ditulis Nabi Daud dalam bentuk puisi. Ketiga, kekagumanku pada puisi karya Chairil Anwar berjudul “Doa”. Puisi Bunga Mawar kutulis pada usiaku 13 tahun saat aku SMP kelas 1. Sejak lahirnya puisi pertama ini di tahun 1976, hingga pada saat ini (2016) aku telah menulis sekitar 900-san puisi yang antara lain sudah terdokumentasi dalam 7 buku puisi tunggal, dan beberapa antologi puisi, serta beberapa manuskrip siap terbit. Ada juga seratusan puisi awal yang tercecer dan hilang.

Bila anda yang bertanya, apa tujuanku menulis puisi sebanyak itu? Maka jawabannya adalah, puisi merupakan salah satu hal yang paling membahagiakanku dalam merayakan kehidupan ini. Bukankah hidup adalah karunia Ilahi yang paling berharga bagi manusia? Maka puisi adalah doaku di tengah perayaan hidupku. Dalam perayaan hidup itu, aku merasa ada hal-hal yang patut kumuliakan dan ada hal-hal yang patut kukritisi. Dan puisiku berada di kutub kesadaran memuliakan dan mengkritisi itu.

PERKENALAN PERTAMA DENGAN PUISI

Perkenalan pertamaku dengan puisi modern Indonesia terjadi pada Agustus 1974. Ketika itu usiaku 11 tahun, masih duduk di kelas 5 SD GMIM 3 Manado. Ceritanya, menjelang perayaan dan peringatan hari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus, aku mendapatkan tugas mendeklamasikan sebuah puisi pada acara di sekolah usai upacara bendera. Guru Wali Kelas yang akrab kami sapa Engku Kakumboti memberiku puisi berjudul “Doa” karya Chairil Anwar. Ia menjelaskan pesan yang ada dalam puisi tersebut, katanya, puisi itu berisi doa yang tulus, dan penyerahan diri yang ikhlas dan sungguh-sungguh kepada Tuhan. Puisi itu kuhafal, kemudian kudeklamasikan pada saat acara dimaksud. Aku masih ingat ketika itu teman-teman sekolah dan para guru bertepuk tangan gembira seusai aku mendeklamasikan puisi itu dengan penuh penghayatan sampai meneteskan air mata. Apalagi saat berdeklamasi aku diiringi dengan petikan gitar oleh Engku Kakumboti membawakan sebuah lagu himne perjuangan. Sejak perkenalan dengan puisi “Doa” ini, aku jadi suka dengan puisi. Puisi tersebut akhirnya menjadi materi deklamasiku di mana-mana.

Aku tak dapat membayangkan andai saja Chairil Anwar tidak menulis puisi “Doa”, maka aku tak punya bahan puisi untuk kudeklamasikan diberbagai tempat, bahkan dari gereja ke gereja pada ibadah Minggu siang. Barangkali juga aku tak punya kesan yang mendalam tentang puisi, dan bisa saja aku tak setertarik sehingga saat ini dalam menulis puisi. Puisi “Doa” karya Chairil Anwar telah menjadi inspirasi awal bagiku yang memicu ketertarikanku lebih mendalam pada dunia puisi.

Mengapa aku suka berdeklamasi? Pertanyaan ini tentu cukup penting diajukan, karena di sanalah letak akar lain kesukaanku pada puisi. Ceritanya, sejak kecil ayah dan ibuku suka menuturkan cerita rakyat atau membacakan syair-syair kepada kami –aku dan saudara-saudaraku– menjelang tidur. Bagi anak suku Sangihe, tradisi bercerita itu disebut mebio. Cara kedua orang tua itu bertutur sangat menarik dan ekspresif hingga aku nyaris hafal semua cerita yang pernah dituturkan ayah dan ibu dan sering kututur kembali kepada sahabatku-sahabatku di kampung dan di sekolah. Itu sebabnya, ketika Wali kelasku memintaku mendeklamasikan puisi “Doa” aku langsung menyanggupinya, karena aku amat girang mendapatkan kesempatan mendeklamasikan sebuah puisi di hadapan teman-temanku dan para guru. Lambat laun aku kian tertarik mencari puisi Chairil Anwar yang lain. Aku juga mulai berburu puisi-puisi berbagai penyair. Waktu itu aku bertemu puisi-puisi, Taufig Ismail, Hamid Djabbar, Toto Sudarto Bachtiar, Amir Hamzah, WS. Rendra, bahkan puisi-puisi penyair dunia seperti Wiltman, Hugo, dan masih banyak lagi. Aku terus berdeklamasi dengan puisi-puisi para penyair yang kutemukan itu.

Dua tahun kemudian, terpikir mengapa aku tidak menulis puisi sendiri, hingga aku bisa mendeklamasikan puisiku. Pada 1976 akhirnya untuk pertama kali aku menulis puisi, judulnya “Bunga Mawar”. Puisi itu kudeklamasikan berkali-kali, baru berhenti ketika aku bisa menulis puisiku yang kedua. Sebagai siswa SMP, menulis puisi tentu semata untuk kesenangan saja. Tidak terpikir puisi pertama kedua bahkan puluhan puisi lainnya itu harus disimpan atau didokumentasikan. Biasanya juga hanya ditulis di selembar kertas, isinya dihafal, dan kertasnya tercecer, dan hilang entah ke mana.

Kegemaranku menulis dan mendeklamasikan puisi akhirnya mendorongku bergabung dengan sebuah Sanggar Seni Remaja di Manado pada 1979. Di Sanggar Seni Remaja, aku ikut dikelompok puisi dan drama. Beberapa kali aku tampil mendeklamasikan puisiku dan bermain drama pada pergelaran Sanggar. Pada suatu ketika di tahun 1981, untuk pertama kali aku ikut lomba baca puisi yang diselenggarakan Karang Taruna Manado, bertempat di Maasing, Manado Utara, aku menjadi juara pertama. Puisi yang kubacakan karya penyair asal Manado, Hussen Mulachele berjudul “Makin”. Pada kesempatan inilah kemudian aku mendapatkan perhatian khusus dari seorang juri bernama Kamajaya Alkatuuk. Beliau menemuiku secara khusus saat usai lomba. Kami berkenalan, dan ia memperkenalkan dirinya sebagai Mahasiswa FPBS IKIP Manado. Ia mengatakan kagum dengan caraku membacakan puisi. Ia menanyakan apakah aku juga menulis puisi. Setelah kujawab iya, ia langsung meminta alamatku dan berjanji akan datang ke rumahku untuk melihat-lihat puisiku.

Sejak kunjungan pertamanya ke rumahku, ia langsung gembira membaca puluhan puisiku. Ia bilang aku punya bakat menulis puisi. Kami kian akrab ketika Bung Kamajaya bergabung di Sanggar Remaja Manado sebagai pelatih teater dan puisi. Baik bersama dengan anggota sanggar lainnya setiap pekan ada diskusi teater dan puisi, ada latihan naskah dan baca puisi, ada latihan dasar-dasar teater dan penulisan puisi. Bung Kamajaya yang ternyata seorang penyair dan dramawan yang handal itu juga memintaku untuk mengirimkan puisiku ke koran-koran lokal di Manado, dan ternyata nyaris setiap pekan puisiku muncul di harian-harian lokal. Puisiku juga sempat menjadi juara pertama lomba mengarang puisi tingkat SLTA se Sulut yang diadakan Kanwil Depdikbud. Berkali-kali juga aku jadi juara baca puisi tingkat SLTA dan bahkan tingkat umum. Prestasi-prestasi itu tentu kian memacu kesukaanku pada puisi. Aku memang gemar membaca sejak SD, terutama buku-buku cerita bergambar, atau komik. Kegemaran membaca itu kian tersalurkan ketika aku mendapatkan bimbingan khusus dari Bung Kamajaya. ia mengarahkan buku-buku yang harus kubaca untuk menambah wawasanku diseputar penulisan puisi. Ia memberikan aku sejumlah buku puisi para pesastra mutakhir Indonesia. Aku mulai berkenalan dengan karya-karya puisi Gunawan Mohamad, Sapardi Joko Damona, Adul Hadi WM, Sutardjo Colzum Bachri, puisi-puisi terbaru WS Rendra, dan lain-lain. Ia juga memberikan buku Kajian-kajian sastra, esai-esai, mitologi Yunani, sosiologi, filsafat, sejarah dan buku-buku lainnya mengkaji persoalan-persoalan di seputar masalah-masalah sosial dan politik. Dari sanalah kemudian aku kian gemar membaca buku-buku yang isinya serius lintas disiplin ilmu.

Novel-novel popular dari pengarang Indonesia, novel dektektif dan spionase dari pengarang luar yang gemar kubaca mulai bergeser ke novel-novel sastra karya pengarantg Indonesia dan pengarang luar. Aku melahap nyaris semua novel karya Leo Toslstoy, Fyodor Dostoyevsky dan Puisi serta cerita-cerita karya Kahlil Gibran. Aku juga membaca karya-karya Rembindranath Tagore, Johann Wolfgang Von Goethe, Shakespeare, Mishima, Kawabata, Ignasio Silone, dan sederet nama pengarang popular di Indonesia dan dunia. Aku juga mulai membaca drama-drama karya terjemahan dari para dramawan dunia, selain karya-karya Putu Wijaya, Arifi C Noor, Nano Riantiarno dan dramawan Indonesia lainnya.

Dengan semua bacaan itu, aku merasa mulai menemukan pijakan nilai dan pijakan teknis dalam proses penulisan puisiku, juga drama-dramaku. Mata hatiku yang kugunakan untuk menulis yang awalnya masih meraba-raba dalam gelap ketidaktahuan mulai melihat bintik-bintik sinar yang muncul dalam karyaku.

Ketika Sanggar Remaja Manado bubar di tahun 1982, Bung Kamaja Alkatuuk mendirikan Teater Alit Muara. Aku bergabung di teater ini bersama kawan-kawan dari kelompok teater dan puisi sewaktu di Sanggar Remaja Manado. Teater Alit Muara memiliki kegiatan yang terbilang padat, baik ikut festival, pergelaran, diskusi, dan latihan-latihan dasar teater dan penulisan. Bung Kamajaya juga mengajakku menghadiri diskusi-diskusi di Teater Manado, yang anggotanya para dramawan dan sastrawan senior di Sulawesi Utara. Materi-materi diskusi yang berat dari filsafat hingga sastra mutakhir dan kritik sastra kuikuti dengan perasaan penasaran yang menyala-nyala.

Bila aku tidak mengerti, maka Bung Kamajaya selalu menyiapkan waktu menjelaskannya padaku dengan bahasa yang sederhana hingga aku mengerti. Sifatku yang suka bertanya bila tak mengerti topik-topik diskusi atau penasaran dengan isi suatu buku, membuat aku sering juga berdiskusi secara khusus dengan para senior, seperti Penyair dan Dramawan Hussen Mulachele, Benni M. Matindas, Baginda M. Tahar. Sejak itu aku merasa banyak pengetahuan yang bertambah, selain itu aku mulai akrab dengan kosa kata sastra dan kosa kata ilmiah yang berat-berat itu. Aku membeli kamus sastra dan kamus bahasa Indonesia, untuk mencari penjelasan dan pengertian tentang kosa kata baru yang kudengar. Akhirnya asupan dan tabungan kata yang kuketahui kian banyak, dan itu sangat berguna saat menulis.

Dalam proses kreatif ini aku berkesimpulan dimana seorang penyair adalah seseorang yang berguru pada semua orang, berguru pada semua pengalaman, berguru pada alam, dan sebisa-bisanya belajar semua bidang ilmu pengetahuan. Artinya kepada seorang petani pun penyair akan datang berguru. Saat seorang penyair menemukan makna dalam proses kotemplasinya, maka ketika ide dan gagasan itu akan dituangkan ke dalam puisi, ia akan membutuhkan pengetahuan yang cukup untuk mengusai system yang membentuk makna itu. Bila diandaikan secara sederhana, seorang penyair dalam menulis sebuah karya setara dengan upaya mengurai perjalanan beras menuju kenyang.

TENTANG BUKU KUMPULAN PUISI KARYAKU

Buku Kumpulan Puisiku yang pertama “Sakral” terbit tahun 1987, diterbitkan Alit Muara. Sakral berisi 33 puisi yang kutulis semasa SMA hingga tahun-tahun awal masa kuliah (1982-1985). Ketika buku Sakral terbit, aku mahasiswa semester 4 di Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Politik Merdeka Manado (Stisipol).

Buku kedua “Surat-surat Sunyi” diterbitkan Departemen IPAIT Sinode GMIM, 1994. Buku Kumpulan Puisi ini memuat 72 sajak, yang kutulis dikisaran 1986-1993, ditengah kesibukan kerja sebagai jurnalis dan kuliah. Buku ketiga “Di Tangan Angin”. Kumpulan Puisi ini berisi 96 puisi ditulis dalam kurun 1994-2000, diterbitkan Sanggar Kreatif Manado, 2001. Buku keempat “Aku Laut Aku Ombak” Kumpulan puisi berlatar tradisi Nusa Utara, berisi 61 puisi, diterbitkan Kutub Jokyakarta, 2009.

Buku kelima “Klikitong”. Kumpulan ini berisi 134 puisi berlatar alam, manusia, sejarah dan tradisi Nusa Utara, diterbitkan Teras Budaya Jakarta, 2013. Buku ini penerima Anugerah Puisi tahun 2013 dalam peringatan Hari Puisi Indonesia setelah berhasil meraih Buku Puisi Pilihan pada Sayembara Buku Puisi Indonesia tahun 2013.

Buku keenam “Makatara”. Kumpulan Puisi diterbitkan Teras Budaya Jakarta, 2014, berisi 168 puisi. Buku ini juga penerima Anugerah Puisi tahun 2014 dalam peringatan Hari Puisi Indonesia setelah berhasil meraih Buku Puisi Pilihan pada Sayembara Buku Puisi Indonesia tahun 2014. Buku ketujuh “Kopero”. Kumpulan Puisi diterbitkan Teras Budaya Jakarta, 2015, berisi 175 puisi.

Sejumlah puisiku juga terangkum dalam beberapa Antologi Puisi: Mimbar Penyair Abad 21, diterbitkan Balai Pustaka, 1996. Dua Penyair Sulut, diterbitkan Bengkel Seni Mandiri, 1990. Sasambo, diterbitkan Forum Komunikasi Budaya Satal, 1989. Aceh Berduka, diterbitkan Balai Bahasa Medan, 2004. Duka Aceh Duka Kita, diterbitkan Yayasan Tagonggong, 2004. Pinangan, diterbitkan Teras Budaya Jakarta, 2012. Antologi Puisi “Bersepeda ke Bulan”, diterbitkan Indopos, 2014. Antologi puisi Penyair Indonesia – Malaysia 2015.

TENTANG PROSES PENULISAN

Kesadaran yang mendasari proses penulisan puisiku yakni dimana puisi merupakan cerminan sekaligus kritik atas realitas. Puisi sebagai sesuatu yang berkaitan erat dengan jiwa sebagai resepsi emosi manusia dari realitasnya, juga sebagai representasi realitas, dan ekspresi manusia dalam menanggapi realitasnya. Puisi tak sekadar permainan kata tanpa makna, tapi penggalian dengan diantaranya spirit merevitalisasi ruh ibu budaya dengan wawasan estetik penyair pada konsep puitika yang tak dapat dilepaskan dari ibu budaya yang melahirkan dan membesarkan penyairnya. Menulis puisi menurut aku harus dicapai dengan kesungguhan, kedalaman, dan semangat meraih capaian estetik sebagai bagian inheren dengan proses kreatif penyair.

Sedikit kuceritakan bagaimana aku secara seksama mencermati, merekam, mencatat, dan menumpahkan segala pengalaman hidupku berhadapan dengan realitas keseharian, latar sejarah, kisah dan kehidupan masyarakat ke dalam puisi.

Kadang juga aku menulis karena keterpukauanku pada alam, pada pohon, tumbuhan, burung-burung, pergerakan awan, matahari, bulan bintang. Aku sering terangsang untuk segera menuliskannya sebagai puisi, seperti seorang pelukis yang langsung melukis impresi-impresi itu pada kanvasnya. Aku mempelajari nama-nama tumbuhan, hewan, memperhatikan morfologinya, anatominya, tingkah lakunya untuk bahan-bahan puisiku. Setiap terjadi gejolak dalam masyarakat, aku berusaha untuk memahaminya apa latar belakangnya, faktor apa yang mencetuskannya, apa akibatnya, lalu kucatat dalam puisi.

Dalam proses penulisan tidak selalu kerjapan-kerjapan inspirasi, atau percikan-percikan imajinasi yang kutemui dan kudapatkan itu langsung kutulis menjadi puisi yang selesai. Ada tahapan mengendapan, kontemplasi, dan studi refensi terlebih dahulu, baru menuliskannya menjadi puisi. Tahap akhir adalah melakukan selfcritique atas puisi yang sudah jadi. Tahapan selfcritique merupakan finishing dengan melakukan aktivitas pengeditan dan atau melakukan pertimbangan akhir pendiksian.

Guna penguatan struktur dan stilistika bahasa, pada proses penulisan aku sering membuat kode-kode hermeneutik guna mengokohkan sisi estetika puisiku. Aku juga sering mengambil kosa kata dari bahasa daerah atau bahasa asing tak saja karena pertimbangan musikalitas bahasa, tapi juga karena pertimbangan filosofis guna menopang gagasan dalam pesan. Untuk hal ini dapat saya beberkan salah satu contoh di mana kata “mélanging perahu” pengertian verbalnya “membangun perahu”. Tapi kata “mélanging” dari sudut pandang budaya masyarakat Singihe tidak semata bermakna “membangun atau membuat”. Mélanging lebih bersifat suatu ritual dalam konteks mengadakan sesuatu dengan merujuk pada system nilai dalam tradisi dengan segala tingkatan fragmentasi-fragmentasi ritualnya.

Aku juga mengadopsi model-model kepribadian sebagai kode simbolik untuk menciptakan tanda dan karakter. Untuk hal ini aku pernah penulis dalam satu larik begini: “langit berwarna hadi”. Dalam khasana warna tentu tidak ada warna hadi. Mencampur aduk warna-warna natural dalam cat tetap saja kita tidak akan bersua dengan jenis warna hadi. Lantas dari mana warna hadi dalam larik puisiku itu? Warna hadi adalah model kepribadian. Ceritanya, Hadi seorang sahabat baikku yang menurutku punya sisi karakter dan sifat yang unik. Ia seorang melangkolis, tertutup dan penuh misteri, progresif tapi terkadang cepat putus asa, cerdas tapi penuh pertimbangan. Sifat unik sahabatku ini kemudian menginspirasikan aku menjadikannya simbol warna yakni warna hadi. Sebagai model kepribadian, warna hadi berevolusi menjadi kode cultural lewat proses stilisasi dari representasi realitas menjadi kode simbolik.

Dalam beberapa diskusi, ada peserta yang bertanya mengapa pada setiap kata ulang atau satu kata yang berbentuk jamak seperti kata, “burungburung, atau berkalikali, atau berlikuliku” aku menuliskannya tersambung tanpa mencantumkan garis datar. Pada 3 buku aku yang terbit terlebih dahulu, penulisan kata ulang atau kata jamak masih menggunakan garis datar. Tapi pada 3 buku terakhir, garis datar itu kuhilangkan. Sikapku menghilangkan garis datar itu adalah penyesuaian atas struktur puisiku pasca penelitianku pada struktur mantra dan syair-syair atavisme dalam budaya masyarakat Sangihe Talaud. Saat melakukan pemodelan pada struktur puisiku dengan mengadopsi struktur mantra dan syair atavis itu, maka garis datar pada kata ulang atau kata jamak harus dihilangkan, hingga kata ulang atau kata jamak itu mengalir atau meloncat cepat dengan efek katarsis tersendiri. Di sisi lain, penghilangan garis datar pada kata ulang dan kata jamak juga untuk memberikan efek khas pada rima atau tone. Lewat bentuk kata tersambung itu, aku membayangkan bunyi ombak yang datang sambung menyambung, atau angin deruh menderuh datang menerpa, sebagai efek yang menimbulkan mistika bunyi sebagaimana dalam mantra. Ada juga beberapa kata yang kutulis bersambung semua tanpa jedah, itu merupakan teknik bahasa senafas dalam mantra yang menurutku akan memberikan tone tersendiri dalam puisiku.

Upaya memasukkan kode-kode berserta fungsi yang diembannya, dan konstruk antartekstual ke dalam puisiku didasari pemikiran dimana puisi sebagai teks merupakan sebuah jaringan kutipan yang diambil dari sumber–sumber kebudayaan yang tidak terbilang.

TENTANG IBU BUDAYA YANG MELATARI KEHIDUPANKU

Puisiku-puisiku selalu dilatari nafas lokalitas budaya sekitarku. Menceritakan alam, manusia, sejarah dan tradisi masyarakat Nusa Utara (Sangihe Talaud), dan Sulawesi pada umumnya.

Bila budaya sekitar adalah ibu yang melahirkan seorang penyair, maka meski sekilas pintas akan kuceritakan latar ibu budayaku yang membesarkan aku itu, beserta sedikit biografi hidupku.
“Somahe Kai Kehage, Pantuhu Maka Sasalintiho”, falsafah yang samar-samar kudengar sejak usia 5. Pada usia 7 aku telah menghafalnya dan mengerti maknanya; “Riang Melawan Ombak, Bijaksana Mengikuti Arus”. Itu adalah falsafah purba manusia Nusa Utara (Sangihe-Talaud) yang tertakik dari rahim budaya bahari “Sasahara”.

Di sini, di Nusa Utara, kehidupan laut tampak begitu gemuruh dalam syair-syair tua suku dan anak suku ini. Ini sebabnya orang Nusa Utara dalam sejarahnya disebut manusia yang berumah laut. Sebuah syair atavis bernuansa majis berikut, mengambarkan pandangan terhadap kehidupan laut itu;

Dumaleng Su Apeng Nanging (Berjalan di lautan purnama)
Manendeng mbanuang (Menjunjung hidup)
Mbanuang datu langi (Hidup dititis langit)
Sole tama sole (diguncang tak terguncang)
Buntuang taku makibang (Lapar tak jerah)
I anang, I amang (Sang cucu, sang leluhur)
Magenda putung su hiwang (menimbah api di pangkuan)
Duatang langi (Sang langit)

Dari unsur semantik, bantin syair di atas mengusung tema laut yang diungkap dengan perasaan penuh guruh, dengan nada dan suasana laut yang mengecipak. Orang laut Nusa Utara sangat sadar, di mata ombak tak ada juragan, kelasi atau jurumudi. Semua manusia berderajat sama. Juru Kemudi sejati hanya Ilahi, itulah aspek amanat dalam syair ini. Mereka mau mengatakan di lautlah sesungguhnya mereka menakik api sejati dari ilahi.

Dari unsur sintaksis, syair ini menampilkan irama semacam struktur fisik ombak yang selalu bergerak secara beruntun dan berulang-ulang dalam irama gerak arus. Dari irama yang berulang (paralelisme) itu terbentuklah rima yang indah dengan pilihan kata (diksi) yang sangat memperhitung tone.

Poetic spirit yang teresepsi pada syair itu merupakan ungkapan kerinduan terhadap rumah spiritual yang berada di alam metafisik. Pada syair di atas terasa sebuah kelana transendental untuk bertemu jawaban ideal sekaligus melontarkan antithesis yang tersirat, menyampaikan hikmah kepada kita tentang kenyataan hidup di laut yang sesungguhnya.

Lewat syair di atas kita diajak memasuki hakikat puisi yang bersifat spiritual, karena ia dihasilkan melalui proses kejiwaan yang berbeda dari penuturan biasa. Dengan menggunakan peralatan intuisi dalam memandang, menanggapi dunia dan keberadaannya, dan membangun ungkapan puitiknya dengan menggunakan imaginasi. Pada puisi ini, sifat ungkapan puitik pada dasarnya melambung tinggi mengatasi kenyataan fenomenal dalam ruang dan waktu.

Mari kita lepas dari tolehan sejenak pada syair di atas, dan kembali pada sejarah! Orang Nusa Utara adalah para pembuat perahu dan penjelajah laut yang ulung. Mereka pandai membaca peta bintang, menghitung musim pergerakan arus. Mereka amat menyadari di atas lautlah hidupnya dilarung. Setiap baris potongan bulan dinamai dan diartikan seiring pasang dan surut. Mata angin dipilah-pilah kedalam wujud, nama, dan sifat yang berbeda. Hidup mesti tertaut dan berpaut pada gerak angin. “Boleng Balang Sengkahindo” (Tarik Dayung Bersama-sama) falsafah daya hidup bersama mengajar pantang surut melayar. Itulah Nusa Utara!

Nusa Utara tak lain bentangan kepulauan di bibir Fasifik yang terbancak indah. Di reruntuk itu ayah dan ibuku dilahirkan. Masa kecilku pun dihabiskan di pulau-pulau ini. Di pulau-pulau ini pula aku belajar berenang, berperahu, memanjat pohon pala, pohon kelapa, pohon buah-buahan, membuka makam kerajaan, membersihkan ruang kubur raja-raja, menyusun kembali belulang dan peti-peti hingga keturunan baru wafat bisa dimakamkan bersama.

Sejak masa kecil itu pula aku banyak mendengar kisah-kisah sejarah masa lalu tentang kepulauan ini, tentang para perlaut dan bajak laut, tentang peri-peri darat dan mambang laut, tentang kerajaan dan para raja-ratu yang bijaksana dan yang kejam, tentang peperangan melawan penjajah, dongengan-dongengan menghibur yang ditutur ayah, ibu, kakek dan kakak sebelum aku tidur.

Di sini aku belajar berbagai tari tradisi, menyanyikan syair-syair sastra dari masa para leluhur. Membaca kitab-kitab mantra milik kakek-kakekku. Belajar agama dari masa sundeng, hingga ajaran-ajaran semitik yang dibawa para zending dan ulama. Mengikuti ritual-ritual adat seperti Tulude, Sawakka, Mane’e, dan Menahulending. Ayah juga mengajar aku mengartikan berbagai tanda alam di langit, di laut, di mimpi, juga cara bersahabat dengan hutan. Ibu berbagi ajaran tentang anyam-ayaman daun pandan, menanam umbi-umbian, dan memelihara hewan, menyayangi satwa, dan mengartikan bunyi suara burung di siang dan malam hari.

Pernahkah engkau merasa nikmatnya mencium bau garam yang asin dibawa angin di malam hari. Di waktu yang panjang aku menyerup dan menyesapnya ke dalam paru-paruku. Dari situlah dikumudian waktu, bau yang kueram itu, mendetak ke dalam setiap baris puisi yang kutulis. Bila pada masa kecil aku menari dalam Klikitong, rancak tari itu juga yang merasuk dalam setiap larik metaphor yang kutulis. Di usia sebegitu lugu, di musim-musim angin yang kuat menderu di atas ranjang papan beralas tikar pandan kami diajar menyenandungkan syair-syair tua yang maknanya sungguh samar. Tapi semua itu telah melatih, mengasah kepekaan batin dan kecemerlangan ruhani yang kini mengilhami, lalu kumaknakan kembali pada syair-syair yang baru. Syair-syair yang dipenuhi cinta, juga memar yang tempias di ruang haru dan geram. Itu semua yang sejatinya mendorongku berdialog lewat puisi yang kutulis untuk masa kini. Karena, semua hal yang kutimbah dari masa lalu itu telah menjadi asal dari keyakinanku dimana puisi yang hidup adalah puisi yang menceritakan kehidupan itu sendiri.

Di Biaro ada Lamanggo. Di Ruang ada Maleo, Di Tagulandang ada Minanga, Di Siau ada Bokong Bunu, Di Makalehi ada Tenggohang, Di Sangihe ada Medellu, di Talaud ada Makatara. Betapa indah dan puitis nama-nama tempat dan nama manusia di bentangan pulau-pulau ini yang selalu mencari tempat untuk didiksi.

Pada usia 7, aku sudah diajar cara berladang, mencangkul, dan menanam sayuran, umbi-umbian. Pada usia itu pula aku sudah mahir memilah, memetik buah pala yang ranum. Salak yang masak, atau yang masih sepat. Saat itu juga aku telah menghafal cukup banyak syair-syair tua yang berisi ajaran kearifan. Sasasa…ya ajaran kearifan itu “Sasasa”. Sasasa dituturkan turun-temurun agar menjadi “Sinasa” (bekal) hidup generasi yang baru.

Ayahku lahir di pulau Siau. Ia masih keturunan raja Kansil. Ibuku lahir di pulau Kakorotan, Talaud. Masih kecil sudah diangkat dan dipelihara sebagai anak oleh salah seorang cucu dari Raja Kansil, dan tinggal di Tarorane, Siau, (Kabupaten Sitaro saat ini). Opaku yang di Talaud (kabupaten Talaud saat ini) adalah kerabat kerajaan Siau yang bertugas sebagai penghubung di pulau-pulau Nunusa yang wilayah terjauhnya adalah pulau Miangas. Marga Tinungki yang kusandang berasal dari Opaku yang berasal dari Pulau Bebalang, Sangihe. Opaku yang di Sangihe (Kabupaten Sangihe), seorang pelaut yang bekerja di armada laut Belanda.

Meski aku dilahirkan di Manado, tapi masa kecilku dihabiskan di pulau Siau. Ayahku menjalani masa dinas di ketentaran pada perang Permesta 1953-1961 (Manado-Minahasa). Menjelang peristiwa 65, ayah membawa kami pulang ke pulau Siau. Aku sekolah di SD Ulu I Siau hingga kelas 5. Pada 1974, karena bencana meletusnya gunung Karangetang, kami pindah lagi ke Manado. Kendati begitu, setiap tahun kami selalu berkunjung ke Siau. Pada masa SMA hingga masa kuliah, aku lebih banyak menghabiskan waktu-waktu liburan di kepulauan Sangihe dan Talaud. Aku berkeliling dari satu desa ke desa yang lain memberikan pelatihan teater dan pentas bersama di berbagai desa dan pulau-pulau kecil (Nusa Utara terdiri dari 144 pulau yang menjadi wilayah 3 kabupaten saat ini).

Sejak SMP aku sudah bergiat di Sanggar teater yang dibina Rafles Kainage kemudian oleh Dr. Kamajaya Alkatuuk. Pada masa itu aku kian banyak bersentuhan dengan para sastrawan dan dramawan nasional yang sering datang ke Manado. Hamid Djabar, N. Riantiarno, Ikranegara, Gerson Poyk. Namun aku harus menyebut secara khusus nama-nama berikut ini yang begitu berpengaruh dalam hidup berkesenianku: Hussen Mulachele, Benny Matindas, Eric MF. Dayoh, Reiner Ointoe, Wempy Lontoh. Pada masa kuliah aku sempat mendapatkan kesempatan belajar teater rakyat dalam program Yakoma PGI di Bengkel Teater W S Rendra di Cipayung, Depok.

Aku juga menyempatkan waktu tinggal cukup lama di pulau-pulau. Khusus di pulau Para, Sangihe aku tinggal lebih dari 1 tahun, dan di pulau inilah aku bertemu Adolfina Lusye Damura, gadis yang kemudian menjadi istriku. Kami dikarunia dua orang puteri; Pertama, Adetisye Novelia Tinungki,SS menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi Jurusan Sastra Inggris, dan Cristy Puitika Tinungki, sedang studi di Fakultas Teologia Universitas Kristen Tomohon.

Mertuaku datang dari keluarga nelayan yang punya sejumlah usaha jaring, perahu angkutan laut antar pulau kecil, serta kapal laut untuk angkutan pulau besar ketika itu. Di kisaran pertengahan tahun 1980-an aku menyempatkan diri belajar mengemudikan perahu dan kapal. Lebih dari setahun aku menjadi pelaut aktif baik di perahu dan kapal antar pulau. Sesekali aku pergi dengan perahu berdagang ikan asin ke pulau-pulau lain bahkan ke Manado. Tentang berdagang ikan asin ini sangat kuingat karena uang hasil dagang ikan asin itulah yang kugunakan untuk menerbitkan buku puisiku yang pertama “Sakral” yang terbit di tahun 1987. Di masa inilah aku benar-benar merasakan makna sejatinya “Somahe Kai Kehage, Pantuhu Maka Sasalintiho”. Di waktu yang lain, aku ikut bersama nelayan tradisional Seke menangkap ikan dengan daun janur kelapa di tubir laut saat subuh.

Kian waktu aku terus terhisap untuk berbasah-basah dalam ombak budaya dan sejarah bahari negeriku yang kaya makna itu. Dikurun perjalanan itu hingga kini aku aktif melakukan berbagai diskusi, penelitian dan wawancara dengan para budayawan setempat mengenai budaya dan berkenalan lebih jauh dengan karya-karya sastra tradisi. Menemui tua-tua adat di setiap desa dan kampung. Mencatat berbagai tuturan tentang legenda, mitos, syair-syair tua. Mencatat nama-nama tempat, pohon, tanjung, gunung. Merekam aktivitas hidup masyarakat desa. Semua itu kulakukan karena ingin memaknainya kembali ke dalam puisi. Di Talaud aku mendapatkan tuntunan dari banyak tua adat antara lain dari Gaghurang G. Ulaen, dan sahabatku Tuwongkesong. Di Sangihe aku mendapatkan arahan dan masukkan dari Gaghurang Dionesius Madonsa, Gaghurang Apolos Nikolas Moleh, Gagurang Efraim Tatimu, Gaghurang D. Manatar. Juga ada Yakang Rembran Randangkilat, dan Tuari Syahrul Ponto. Di Siau, aku berdiskusi dan mengunjungi berbagai tempat dengan Opa Hersen Anise, seorang mantan pelaut yang pernah melayari route internasional. Di Manado, aku berbagi bahasan mengenai budaya etnik Tionghoa dengan pelukis Hendrik Mamahit.

Bersama mereka aku larut dan berlayar lebih jauh ke dalam “Sasahara” dan “Sasalili” rahim budaya bahari yang mendetakkan hidup manusia Nusa Utara dari masa purba yang harusnya teringklinasi ke dalam masa kini.

Tapi, membicarakan dan menemukan kembali nilai dan semangat bahari di masa kini bukan perkara muda, kendati Indonesia adalah salah satu negara dengan konsepsi budaya maritim terbesar di dunia. Mengapa? Kejayaan bahari Bangsa Indonesia pada masa lalu, pada saat ini mengalami keredupan. Setidaknya ada dua sebab terjadinya hal ini, yaitu praktek kebaharian kolonial Belanda pada masa lalu; dan kebijakan pembangunan bahari pada masa rezim Orde Baru. Pada masa kolonial Belanda, atau sekitar abad ke -18, masyarakat Indonesia dibatasi berhubungan dengan laut, misalnya larangan berdagang selain dengan pihak Belanda. Akibatnya budaya bahari bangsa Indonesia memasuki masa suram. Kondisi ini kemudian berlanjut dengan minimnya keberpihakan rezim Orde Baru untuk membangun kembali Indonesia sebagai bangsa bahari. Pada era kolonialisme terjadi pengikisan semangat bahari Bangsa Indonesia yang dilakukan oleh kolonial dengan menggenjot masyarakat Indonesia untuk melakukan aktivitas agraris untuk kepentingan kolonial dalam perdagangan rempah-rempah ke Eropa.

Di tengah ringkih, dan redupnya semangat bahari kita itu, aku justru terhela menelusuri jejak moyangku yang kian mempesona hatiku. Aku terus membongkar berbagai catatan tua yang diserahkan kerabat ayahku Evert Tinungki, juga membaca buku-buku, esai, artikel ilmiah tentang Nusa Utara yang ditulis para sarjana, pakar, dan budayawan di antaranya yang ditulis D. Brilman, H. K. Mangumbahang dan J. E. Tatengkeng, John Rahasia, Sem Narande, Shinzo Hayase, Domingo M. Non, dan Alex J. Ulaen, Pitres Sombowadile, Max Surdirno Kaghoo, Alfian Walukow, Ivan R.B Kaunang. Menelusuri berbagai tulisan lepas yang berserakkan di blog-blog pribadi dan website pemerintah. Juga melakukan diskusi antropologi yang ajek dengan sahabatku Alfred Sambalao. Aktivitas ini kulakukan semata ingin mendapatkan informasi yang lebih jauh tentang Jejak Moyangku. Di sinilah aku merasa berhutang budi dan patut bersujud taklim dan berucap rasa terima kasih yang tulus kepada semua mereka yang namanya kutulis dan yang tidak kutulis.

Di tengah pergulatan panjang itu, aku menyadari dimana tanah dan manusia Nusa Utara sebagai sebuah komunitas kultural, dalam sejarahnya telah mengalami perjumpaan, perubahan dan transformasi. Baik itu terjadi secara sengaja maupun tidak sengaja. Bersamaan dengan itu pula, sepajang sejarahnya, Nusa Utara telah merumuskan prinsip dan identitas kulturalnya.

Kini, NUSA UTARA bagiku adalah semesta sastra. Semacam barisan ombak yang mewariskan citra kepribadian dan keunikan budaya sebuah bangsa yang mengafirmasi nilai-nilai kebaharian. Di jazirah 144 pulau ini, filosofi, impian, harapan, lekuk sejarah, tatanan nilai, kerajaan, legenda dan mite mengilhami hidup masyarakatnya sebagai manusia yang berumah di pulau dan lautnya. Semua itu tumbuh dalam rentetan relasi yang menggoda aktivitas sastrawi sejak masa lalu hingga kini yang menuntut pemaknaan kembali.

Ribuan karya sastra warisan tradisi dalam bentuk Sasalamate, Sasambo, Kakalumpang, Kakalanto, Nalang, Beke-Beke atau Mebio, yang bersumber dari rahim Budaya Laut (Sasahara) dan Budaya Pulau (Sasalili) terus ditutur dan disenandungkan hingga kini. Nuansa dan ragam karya budaya itu seakan mau mengungkap dimana setiap ladang, pohon-pohon yang rimbun berbuah lebat, laut yang berlimpah ikan, bintang dan bulan yang menandai musim, suara satwa yang berkabar pesan rahasia dari alam, cerocok dan tanjung sekeramat puncak-puncak gunung, perahu-perahu yang harus dibangun dan dilarung dari dasar ritual dan doa, waktu pasang dan surut juga kisah arus badai yang menerjemahkan gelombang ke dalam pelayaran, mau mengisahkan cerita magi masyarakatnya serta hubungan transendental dengan ilahi pencipta kehidupan. Semua itu terus tersembul seperti mata air spiritual dalam sumur sejarah peradaban bahari negeri ini.

Dalam berbagai literatur, dan sastra tutur, leluhur Nusa Utara di masa lalu adalah penjelajah dan pengarung laut yang ikut menorehkan kejayaan budaya maritim nusantara, dalam rentan 2000 tahun sejarah kebudayaan Indonesia yang mencapai masa keemasan pada tiap kurun waktu.

Sejarah mencatat kejayaan bahari bangsa Indonesia sudah lahir sebelum kemerdekaan, hal ini dibuktikan dengan adanya temuan-temuan situs prasejarah maupun sejarah yang menggambarkan bahwa nenek moyang Bangsa Indonesia merupakan bangsa pelaut. Kerajaan Sriwijaya (683 M – 1030 M) memiliki armada laut yang kuat, menguasai jalur perdagangan laut dan pengaruhnya meliputi Asia Tenggara yang mana hal ini dikuatkan oleh catatan sejarah bahwa terdapat hubungan yang erat dengan Kerajaan Campa yang terletak di antara Camboja dan Laos. Kerajaan Mataram kuno di Jawa Tengah bersama kerajaan lainnya seperti Kerajaan Tarumanegara telah membangun Candi Borobudur yang pada relief dindingnya dapat terlihat gambar perahu layar dengan tiang-tiang layar yang kokoh dan telah menggunakan layar segi empat yang lebar. Kejayaan Kerajaan Singosari di bawah kepemimpinan Raja Kertanegara telah memiliki armada kapal dagang yang mampu mengadakan hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan lintas laut. Perkembangan Kerajaan Singosari dipandang sebagai ancaman bagi Kerajaan Tiongkok dimana saat itu berkuasa Kaisar Khu Bilai Khan.

Kerajaan Majapahit (1293 M – 1478 M) selanjutnya berkembang menjadi kerajaan maritim besar yang memiliki pengaruh dan kekuasaan yang luas meliputi wilayah Nusantara. Dengan kekuatan armada lautnya, Patih Gajah Mada mampu berperang untuk memperluas wilayah kekuasaan, sekaligus menanamkan pengaruh, melaksanakan hubungan dagang dan interaksi budaya.

Pada abad ke 16 kerajaan-kerajaan di Nusa Utara, terutama Kerajaan Siau dengan Laksamana Hengkeng U Naung (Bawata Nusa) 1590-1668 dalam berbagai arena perang laut telah menunjukkan kekuatan semangat bahari kita. Bukti-bukti sejarah ini tidak bisa dielakkan bahwa kejayaan bahari Bangsa Indonesia sudah bertumbuh sejak dahulu dan memberikan nuansa ke dalam khazanah sastra kita. Dan tradisi bahari Nusa Utara bagian dari sejarah besar itu.

Nusa Utara di masa lalu membentang dari Kaidipang (Kerajaan Kaidipang di Bolmong Raya), dan Kerajaan Wowontehu yang diperkirakan berdiri di sekitar gunung Lokon, Minahasa, lalu menjadi kerajaan Bowontehu (1400-1500) saat dipindahkan ke Pulau Manado Tua, (Sebuah pulau di depan kota Manado saat ini), dan kerajaan Manado (1500-1678) hingga ke kawasan Selatan Filipina (Kerajaan Kandahar). Di kawasan inilah nenek moyang orang Nusa Utara yakni para Kulano yang dipimpin Humansadulage-Tentedengsehiwu mendirikan kerajaan-kerajaan tua baik sebelum abad 14 di daratan Utara Pulau Sulawesi, dan memasuki abad ke 15, ketika keturunannya mendirikan kerajaan-kerajaan di gugus pulau-pulau Nusa Utara.

Nusa Utara pada masa kini adalah gugus pulau-pulau yang terletak di batas paling Utara RI. Berbatasan langsung dengan Negara tetangga Filipina. Kawasan ini terdiri dari tiga gugusan pulau; gugusan pulau-pulau Siau-Tagulandang-Biaro, gugusan pulau-pulau Sangihe, dan gugusan pulau-pulau Talaud. Gugusan pulau yang memiliki luas daratan 2.263,56 Km2 dan luas lautan 44.000 Km2 ini disebut para eskader Spanyol sebagai pulau surga (Paradise), bukan saja karena keindahan alam dan budayanya, tapi juga oleh kesuburan tanahnya. Pihak Belanda pun menamainya sebagai negeri Ringgit, karena kekayaan alam rempah-rempah yang berlimpah, terutama pala. Di selatan, di tanah-tanah Minahasa, di daerah perlintasan nenek moyangku itu ada dammar, cengkeh, dan beras. Dalam beberapa sumber sejarah Minahasa, Nusa Utara disebut-sebut sebagai tanah moyang kesembilan.

Lantas dari mana asal – usul manusia Nusa Utara sesungguhnya? Seperti klan lain di Indonesia, orang Nusa Utara (Sangihe – Talaud) sebagai sebuah indigenous, dalam kurun ribuan tahun hidup dalam mite dan legenda tersendiri, yang pada akhirnya melahirkan system nilai dalam kehidupan mereka. Tapi apakah dengan demikian membedakan ke-asal-an etnik ini dengan suku bangsa lain di jazirah Nusantara? Kajian antropologi kebudayaan pada masa sebelumnya menjelaskan orang Sangihe Talaud merupakan rumpun manusia berbahasa Milanesia yang berasal dari migrasi Asia pada 40.000 tahun SM. Kemudian disusul pada masa yang lebih muda sekitar 3.000 tahun SM dari Formosa yang berbahasa Austronesia. Penemuan terbaru yang lebih mengejutkan yang berhasil mematahkan terori linguistik di atas, adalah adanya kemungkinan nenek moyang suluruh klan di Indonesia berasal dari Nias-Mentawai, dengan ciri gen dari masa yang lebih tua sebelum migrasi Formosa.

Agak berbeda dengan sejumlah anasir antropologi kebudayaan, hasil peneletian gen manusia saat ini memberikan cerita tentang pengembaraan panjang leluhur manusia di seluruh dunia yang disebut berasal dari Afrika sejak 50.000 tahun silam yang berekspansi ke Eurasia. Perhitungan para paleoantropolog dan pakar genetika menyebutkan homo sapiens ini berasal dari 200.000 tahun silam dan berhasil mengembangkan keturunan sebanyak enam setengah miliar jiwa. Hal ini dibuktikan dengan pemetaan gen yang menunjukkan 99,9 persen kesamaan kode-kode genetika atau genom manusia di seluruh dunia. Sisanya 1 persen hanya menegaskan perbedaan individual seperti warna mata atau resiko penyakit. Perjalanan panjang itu pun telah membawa sejumlah perubahan lain seperti mutasi neurologist yang menciptakan perbedaan bahasa lisan dan juga sebuah perubahan wajah dan ras baru.

Lalu, benarkah setiap manusia yang pernah hidup di bumi berasal dari seorang ibu Hawa Mitokondrial dan ayah Adam Kromosom Y yang hidup pada 150.000 tahun silam di Afrika, seperti yang ditulis dalam sebuah artikel di majalah National Geografi? Pertanyaan ini masih membuahkan kegelisahan para ahli untuk mengungkap jawaban yang memuaskan. Yang pasti sejumlah artefak masa lalu, menunjukkan adanya migrasi umat manusia dari suatu tempat ketempat yang lain. Dan setiap klan atau etnik telah hidup dalam milenia pada sebuah tempat hingga mengalami sujumlah mutasi budaya dan tunduk pada masing-masing dewa serta melahirkan mite-mite baru dalam kehidupan kelompok masing-masing.

Bila masuk lebih dalam menelisik aneka budaya lisan di masyarakat Sangihe Talaud, kita dipertemu dengan cerita jejak nenek moyang lebih unik dan menarik seperti pengakuan adanya para pendatang (homo sapiens) yang dalam bahasa setempat disebut sebagai Ampuang (manusia biasa). Selain para pendatang ini juga ada dua jenis manusia lain yang telah ada di sana dari masa sebelumnya yaitu Ansuang (raksasa) dan Apapuhang (manusia kerdil). Untuk dua jenis manusia terakhir itu, hingga kini belum bisa dibuktikan secara ilmiah. Rujukkan terhadap keberadaan mereka masih terbatas pada kepercayaan adanya beberapa artefak seperti bekas kaki dalam ukuran besar yang terpahat di bebatuan yang bisa saja tercipta akibat fenomena alam. Apakah mereka merupakan penyimpangan genetika pada masa itu kemudian diabadikan dalam sejumlah mite dan legenda? Ini masih sebuah pertanyaan.

Sejumlah legenda pun ikut memperkaya kesimpangsiuran jejak asal muasal manusia di Nusa Utara. Dari kepercayaan turun-temurun. Pulau-pulau Sangihe Talaud konon tercipta dari air mata seorang bidadari. Dari bidadari inilah manusia Sangihe dilahirkan. Ini sebabnya nama Sangihe itu berasal dari kata Sangi (Tagis). Di pulau-pulaud Talaud, penyebutan Porodisa untuk kawasan itu justru dikaitkan dengan anggapan dimana manusia Talaud adalah keturunan Wando Ruata, yaitu seorang manusia gaib yang berasal dari Surga. Padahal kata Porodisa menurut teori linguistic justru merupakan mutasi neurologist bahasa lisan dari bahasa Spanyol: Paradiso (surga). Kata Sangi di Sangihe sendiri merupakan mutasi dari kata Melayu: tangis. Mite lainnya bercerita tentang manusia yang berasal dari telur buaya. Ada juga yang beranggapan terjadi dari evolusi pelepah pisang secara mistis menjadi manusia.

Kepercayaan terhadap dewa dewi dan system nilai budaya orang Sangihe Talaud ini menujukan adanya persinggung dengan system nilai di tempat lain seperti teori keseimbangan alam, memiliki kesamaan dengan teori Fun She dan Esho Funi dalam pemahaman Hindu kuno. Kepercayaan “Manna” atau kepercayaan terhadap adanya kekuatan mekanis dalam alam yang mempengaruhi peri kehidupan manusia, bukan tidak mungkin merupakan interpretasi lain akibat mutasi dari pemahaman kaum semitik akan Tuhan. Demikian pula dengan budaya ritual persembahan kurban yang mengunakan symbol darah Manusia yang di pukul sampai mati.

Manusia Sangihe Talaud sejak masa purba, juga mengakui adanya zat suci pencipta alam semesta dan manusia yang di sebut “Doeata, Ruata”, juga dinamakan ”Ghenggona”. Di bawahnya, bertahta banyak roh Ompung (Roh penguasa laut), dan Empung (roh penguasa Pulau). Dewa-dewi ini berhadirat di gunung dan lembah-lembah, di laut, di sehamparan karang. Di cerocok dan tanjung. Di pohon, dan dalam angin. Di cahya, bahkan bisikan bayu. Di segala tempat, ruang, dan suasana.

Kendati begitu, eksplorasi yang lebih ilmiah terhadap asal usul manusia Sangihe Talaud, yang telah ada saat ini baru sebatas dari masa abad ke 14. Bermula pada periode Migrasi Kerajaan Bowontehu 1399-1500. Disusul periode Kerajaan Manado 1500-1678. Dan terakhir periode kerajaan-kerajaan Sangihe Talaud dari 1425-1951: 1). Kerajaan Tagulandang berdiri 1570 dipimpin Ratu pertama Lohoraung. 2). Kerajaan Siau berdiri 1510 dipimpin Raja pertama Lokongbanua. 3) Kerajaan Kauhis –Manganitu berdiri 1600 dipimpin Raja pertama Tolosang. 4). Kerajaan Kendahe – Tahuna (1580) dipimpin Raja pertama Tatehe Woba, yang kemudian cucunya yang bernama Mahegalangi mendirikan kerajaan Tahuna. 5). Kerajaan Tabukan dipimpim Kulano tertua Gumansalangi 1425 yang disebut Raja Tampung Lawo atau Upung Dellu.

Gumansalangi (Upung Dellu) sebagai Kulano tertua kerajaan Tabukan atau Tampunglawo, yang bermukim di gunung Sahendarumang bersama Ondoasa (Sangiang Killa), istrinya, adalah keturunan dari Humansandulage bersama istrinya Tendensehiwu, yang mendarat di Bowontehu pada awal mula migrasi Bowontehu, Desember 1399. Mereka melakukan pelayaran dari Molibagu melalui Pulau Ruang, Tagulandang, Biaro, Siau terus ke Mangindano (Mindanau-Filipina), kemudian balik ke pulau Sangir – Kauhis dan mendaki gunung Sahendarumang, dimana mereka dan para pengikut mendirikan kedatuan Tampunglawo sebagai kerajaan tertua di Tabukan, yang pada periode kemudian melebar hingga ke seluruh kawasan kepulauan Sangihe dan Talaud.

Sementara Bulango bermigrasi dari Bowontehu pada 1570 menuju Tagulandang dimana anaknya bernama ratu Lohoraung mendirikan kerajaan Tagulandang di pulau itu bersama para pengikutnya.

Bulango adalah saudara dari Lokongbanua, raja pertama kerajaan Siau. Keduanya adalah keturunan dari raja Mokodoludut dengan istrinya Abunia dari kerajaan Bowontehu. Sedangkan Raja Bolaang Mangondow pertama, Yayubongkai, adalah juga keturunan Mokoduludut. Ini sebabnya ada kesamaan budaya dan marga antara orang Bolaang Mangondow dan orang Sangihe Talaud. Perubahan budaya di kedua etnik ini lebih dipengaruhi oleh alkulturasi pasca masuknya agama-agama semitik, (Kristen-Islam) di kedua kawasan etnik itu.

Untuk wilayah Kauhis-Manganitu, semuanya berasal dari keturunan Gumansalangi hingga keturunannya bernama Tolosang pada 1600 mendirikan kerajaan Kauhis- Manganitu. Demikian pula di Tahuna pada 1580 Tatehe Woba mendirikan kerajaan di sana, juga di Kendahe yang didirikan oleh Mehegelangi. Raja Kendahe ini anak dari Syarif Mansur dan istrinya Taupanglawo. Sebelum periode migrasi Bowontehu (Manado Tua) pada 1399, kawasan itu telah dihuni manusia selama enam generasi.

Di tengah pergulatan yang mengasyikkan menggali mendalami jejak-jejak mayong ini, kian terasa betapa kaya dan berharganya nilai budaya bahari kita. Seperti seseorang yang berperahu di atas samudera syair ilahi yang luas. Kian ke sana, kian terasa baru sedikit saja yang kuketahui. Tapi, sebagai penulis puisi, aku ingin merayakan kehidupan di tengah pengetahuan yang sedikit itu. Sambil menyadari dalam menjalani kehidupan selalu ada yang patut dikritisi, dan ada pula yang patut dimuliakan. Ada yang patut dikenang, ada yang patut dibarukan. Dengan seluruh kegembiraan kumiliki, aku menumpahkan perasaan-perasaan itu ke dalam puisi. Dalam menulis aku berusaha dengan caraku sendiri, dengan bahasa kumengerti, dalam suasana akrab dalam keseharian kujalani. Aku berusaha keluar dari romantisme sejarah, dengan kesadaran bahwa masa lalu tak mungkin dihadirkan ke dalam kini secara persis. Disinilah tafsir dan pemaknaan kembali menjadi penting.

Sejak tahun 1980 aku sudah memulai menulis puisi-puisi dengan latar manusia, alam, sejarah, dan budaya Nusa Utara. Puisi-puisi itu bertebaran di berbagai antologi bersama dan buku puisi karyaku yang terbit di bawah tahun 2016.

Barangkali ini sekadar secuwil catatan proses kreatifitasku yang sejatinya ingin kupersembahkan kepada sidang pembaca. Moga bermakna. “Dumaleng ia dumaleng, Lumempang ia lumempang”, (Berjalan aku berjalan, melangkah aku melangkah).

http://iverdixontinungki.blogspot.co.id/2016/03/aku-dan-puisiku-sekilas-catatan-proses.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *