Memeriksa Klaim Pelopor Sastra NTT, Apa Benar Gerson Poyk Pelopornya?

Gusty Fahik *
Pos Kupang, 21 Nov 2017

Perdebatan menarik terjadi di sebuah grup media sosial berlabel Komunitas Sastra NTT. Salah satu topik perdebatan adalah pertanyaan tentang siapa pelopor sastra NTT?

Sebelumnya, Yohanes Sehandi (selanjutnya disingkat YS) mempublikasikan hasil penelusurannya, dimana YS menyimpulkan bahwa pelopor sastra NTT adalah Gerson Poyk (GP).

Dalam artikelnya berjudul “55 Tahun Orang NTT di Panggung Sastra” YS secara eksplisit menulis demikian “Berdasarkan penelusuran terhadap berbagai data dan dokumentasi yang ada, baik di NTT maupun di luar NTT, saya akhirnya menemukan orang NTT pertama yang menggeluti dunia sastra. Dia adalah Gerson Poyk.

Gerson Poyk menulis dan publikasikan karya-karya sastranya lewat media cetak bertaraf nasional sejak Oktober 1961. Gerson Poyk patut diberi penghormatan dengan sebutan sebagai “perintis sastra NTT.”

Dari keterangan ini dapat dilihat bahwa YS telah melakukan semacam penelusuran mendalam yang melibatkan berbagai sumber historis sebelum kemudian memunculkan kesimpulannya. Benarkah demikian?

Dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan Komunitas Leko Kupang dan Komunitas Sastra Filokalia baru-baru ini (29/10/2017), Berto Tukan, peneliti dan penulis, mengemukakan “penemuan” lain yang bertentangan dengan temuan YS.

Berdasarkan dokumen yang tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin ada seorang NTT bernama Virga Belan yang mempublikasikan karya berupa cerita pendek berjudul “Kisah Akhir Tahun” di majalah Kebudayaan Indonesia, pada tahun 1959, atau dua tahun lebih dulu dari GP.

Bahkan pada tahun 1962 Virga Belan (VB) menerima penghargaan dari Majalah Sastra yang diasuh HB Jassin, untuk cerpennya “Pangeran Jakarta.”
***

Virga menolak penghargaan ini dengan alasan ideologis, yakni majalah Sastra dianggap kontraproduktif terhadap revolusi yang digemakan Soekarno. Surat penolakan Virga bisa dilihat di blog online Denny JA.

Menelusuri Virga Belan

Menurut keterangan sejarahwan sekaligus jurnalis senior, Peter A. Rohi, Virga Belan bukan nama sebenarnya. Virga diambil dari zodiak Virgo, sementara Belan diambil dari dua suku kata terakhir marga Saubelan. Sosok VB adalah Soekarnois sejati.

Tahun 1960-an awal, VB sudah menduduki posisi wakil ketua Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) yang diketuai Sitor Situmorang. LKN adalah “underbow” Partai Nasional Indonesia (PNI) yang dibentuk untuk mengimbangi sepak terjang Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), “underbow” PKI.

Jika memperhadapkan posisi VB dan GP pada masa ini, maka akan terlihat secara politik, VB lebih unggul posisinya dibanding GP, sebab LKN ada di bawah PNI yang merupakan partai pendukung utama Soekarno. Posisi PNI boleh dibilang mirip PDIP saat ini.

Persis di sini pula VB berbeda posisi dengan GP, sebab GP ada dalam kubu, sekaligus penandatangan Manifesto Kebudayaan (Manikebu). Hal ini kelak akan berpengaruh pula pada perjalanan karier kedua tokoh ini.

Setelah Soekarno lengser oleh peristiwa September 1965, Manikebu seakan-akan keluar sebagai pemenang dalam perseteruan dengan Lekra dan LKN. Rezim Orde Baru kemudian merepresi tokoh-tokoh yang bernaung di bawah Lekra dan LKN.

Nama-nama besar seperti Sitor Situmorang (LKN) dan Pramoedya Ananta Toer (Lekra) kemudian hilang selama beberapa waktu oleh represi yang dilakukan rezim Orde Baru. Kenyataan ini bertolak belakang dengan apa yang dialami mereka yang bernaung di bawah Manikebu seperti Gerson Poyk.
***

Virga Belan turut merintis berdirinya surat kabar Harian Merdeka. Menurut Peter A. Rohi, ada ratusan Tajuk Rencana yang ia tulis selama jadi redaktur di Harian Merdeka. Ironisnya, ia dipecat dari Harian Merdeka atas permintaan langsung dari Presiden Soeharto yang marah akibat salah satu Tajuk Rencana yang ditulis VB.

Gambaran singkat mengenai latar sejarah dan konteks politik di atas kiranya menjelaskan mengapa nama VB seperti hilang dari kepenulisan sastra, sementara nama GP lebih bersinar.

Meski demikian, saya tidak bermaksud mengangkat seorang tokoh dan memojokkan yang lain. Saya hanya bermaksud menunjukkan konteks sejarah dan politik zaman itu agar kita miliki pandangan yang lebih jelas mengenai kedua tokoh NTT ini, sebagai dasar pijak untuk memeriksa klaim YS.

Mengoreksi Simpulan Ahistoris YS

Kemunculan nama Virga Belan dan dokumentasi karyanya yang masih tersimpan di PDS HB Jassin seperti “ditemukan” Berto Tukan, hemat saya menjadi koreksi atas simpulan yang lebih dulu dibuat YS.

Jika koreksi ini diterima maka gelar “pelopor sastra NTT” yang disematkan YS pada GP perlu diperiksa kembali relevansinya. Saya mencatatnya dalam beberapa poin.

Pertama, simpulan YS terbukti ahistoris atau bertentangan dengan catatan sejarah. Dengan demikian, keterangan YS bahwa simpulannya berlandaskan pada berbagai data baik yang ada di NTT maupun di luar NTT patut dicurigai kebenarannya.

Atau, jika benar YS melakukan penelusuran sampai ke luar NTT, bisa saja penelusurannya tidak maksimal sebab apa yang tersimpan di PDS HB Jassin tidak terjamah. Bukankah PDS HB Jassin jadi rujukan terpercaya bagi penelitian-penelitian sastra di tanah air? Sayang jika penelusuran YS yang oleh sebagian kalangan dijuluki Paus Sastra NTT itu tidak sampai ke sana.

Kedua, selain data yang ditemukan Berto Tukan, pernyataan bahwa orang NTT baru 55 tahun berkiprah di dunia sastra perlu diperiksa kembali. Hal ini tentu saja dapat dilakukan dengan terlebih dahulu memeriksa apa yang dimaksud dunia sastra menurut YS.
***

Dari artikel YS hampir pasti bahwa yang dimaksud dunia sastra menurut YS adalah sastra dengan lingkup nasional. Karena itu seseorang baru dianggap bergelut dalam dunia sastra kalau karyanya sudah termuat di media nasional.

Apa yang dilakukan YS ini mematikan geliat sastra di daerah dan mengesampingkan secara sepihak tokoh-tokoh lain yang bisa saja bergelut di bidang sasra tetapi karyanya tidak pernah dipublikasikan di media nasional.

Poin kedua di atas menjadi catatan tersendiri, sebab menurut penelitian Van Klinken dalam bukunya The Making of Middle Indonesia (2015), pada tahun 1933 di Kupang sudah ada tidak kurang dari 9 surat kabar lokal.

Pada September 1933, salah satu surat kabar lokal yakni Fadjar, menerbitkan seluruh edisinya dalam bentuk syair dalam rangka perayaan ulang tahun Ratu Belanda, yang diperingati pada 31 Agustus (Van Klinken, 2015: 118). Menulis seluruh edisi dalam bentuk syair jelas merupakan sebuah karya sastra. Sayangnya arsip dari surat kabar-surat kabar itu kini hanya ada di Perpustakaan Nasional RI di Jakarta.

Jika geliat sastra di daerah yang terjadi jauh sebelum Republik Indonesia berdiri turut diperhitungkan maka bisa saja bukan Gerson Poyk atau Virga Belan yang layak menyandang gelar pelopor sastra NTT.

Sayangnya, geliat itu terjadi ketika republik ini belum merdeka dan NTT belum terbentuk sebagai provinsi, bagian dari Indonesia merdeka.

Ketiga, bisa saja penelusuran YS memang dilakukan dalam keterbatasan atau minim dukungan. Namun, melakukan penelitian menyangkut sastra dengan tidak menyentuh arsip-arsip di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin maupun Perpustakaan Nasional RI jelas sebuah kelalaian yang harusnya sudah diantisipasi oleh YS.

Dengan demikian YS tidak buru-buru membuat kesimpulan, atau menerbitkan sebuah buku untuk dibaca umum, karena bisa berakibat pada penyebaran kekeliruan secara masif. Hemat saya penemuan Berto Tukan telah melampaui, sekaligus menyempurnakan keterbatasan penelitian yang dilakukan YS.

Keempat, jika kita mau jujur pada sejarah yang bertautan dengan tokoh-tokoh dari daerah kita sendiri, secara khusus dalam bidang sastra, apa yang ditulis YS harus direvisi atau ditinjau kembali. Ini menuntut kerendahan hati akademis dari YS sebagai dosen untuk mengakui keterbatasan penelitiannya terdahulu.

Tidak ada yang benar-benar sempurna, bahkan sebuah teori bisa saja dibatalkan dan dibarui teori baru yang muncul kemudian.

Pada sisi lain, ini juga menjadi semacam motivasi bagi para akademisi kita untuk terus berkarya menghasilkan penelitian baru yang kelak akan berguna dan menjadi pegangan bagi generasi mendatang. Kita tidak bisa memberikan sesuatu yang keliru atau ahistoris untuk generasi penerus.

*) Penulis Buku Membaca Jejak Kekuasaan, bergiat di Komunitas Pustaka Leko Kupang.
http://kupang.tribunnews.com/2017/11/21/memeriksa-klaim-pelopor-sastra-ntt-apa-benar-gerson-poyk-pelopornya?page=4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *