Upacara bersih desa di Desa Banjarsari

Kecamatan Madiun Kabupaten Madiun
Tulus S

Tidak berbeda jauh dengan desa-desa di sekitarnya bahwa Desa Banjarsari sampai sekarang masih melaksanakn tradisi upacara bersih desa. Walau pelaku tradisi tersebut semakin berkurang. Di sisi lain beberapa tahun terakhir ini pihak masjid juga mengadakan peringatan tersebut, yaitu mengadakan pengajian pada malam Jum’at Legi yang dilaksanakan di dalam masjid.

Diawali dengan sebuah persiapan besik (besik-besik=membersihkan rumput) yaitu bersih-bersih makam oleh para ahli waris orang yang sudah meninggal. Ini merupakan sikap bakti kepada para leluhur yang telah memberi banyak hal kepada yang ditinggalkannya. Orang Jawa sering mengatakan mikul dhuwur mendem jero yaitu sebagai rasa hormat untuk meluhurkan yang telah meninggal. Bersih-bersih juga menyadarkan bagi setiap manusia yang masih hidup, bahawasanya selama masih hidup untuk selalau melakukan hal yang baik. Jika sudah meninggal tentu manusia tidak akan bisa berbuat sesuatu.

Ini juga merupakan simbol untuk mencapai nilai-nilai kesucian yaitu dengan cara membersihkan tempat-tempat tertentu, salah satunya adalah membersihkan makam. Ada ungkapan Jawa mengatakan “ mumpung isih urip sucenana badanmu kalamun mbesok mati sapa kang bakal nyuceni” (semasa masih hidup bersucilah jikalau kamu sudah mati siapa yang akan menyucikan). Perilaku ini merupakan renovasi, reformasi dan proses penyadaran manusia untuk menyadari dirinya (instropeksi diri) agar selalu ingat akan hal yang menuju pada perilaku budi luhur. Dengan begitu rasa kedekatan dengan Tuhan akan semakin erat bahwa esok akhirnya kita juga akan menghadapNya seperti para leluhur yang telah mendahuluinya.

Proses upacara tradisi bersih desa yang ada di desa Banjarsari di bagi menjadi tiga tahapan yaitu; (1) ngintun/ngirim leluhur, (2) selamatan di punden, dan (3) tayuban. (1) Ngintun leluhur merupakan upacara kirim doa di makam leluhur dengan cara nyekar (tabur bunga) dan mengadakan selamatan . Acara ini dilaksanakan hari Kamis Kliwon selepas Ashar. Para keluarga berbondong-bondong menuju makam leluhurnya masing-masing dengan membawa perlengkapan selamatan berupa tumpeng, ayam panggang beserta lauk pauknya, pisang, juga jajanan (rengginang, matahari/kue goyang, jadah, jenang) yang ditempatkan pada waskom besar. Setelah di beri doa maka sesaji selamatan dibagi-bagikan kepada yang hadir.

Doa yang dipanjatkan adalah memohonkan ampunan atas segala khilaf yang pernah dilakukan oleh para leluhurnya. Dengan begitu Tuhan akan memberikan ampunan serta menempatkannya pada yang semestinya. …….pinaringana jembar kubure, padhang papane, tinebihna nerakane saha cinelakna swargane….ini bagian doa yang mengharapkan agar para leluhur bisa kembali di sisiNya dengan tenang dan damai. Sebenarnya sesaji yang dibawa merupakan sebuah simbol siklus kehidupan manusia. Dengan cara mengadakan selamatan di tempat pemakaman maka manusia akan cepat memahami bahwa sebenarnya kehidupan itu pada suatu saaat juga akan berakhir di tempat itu.

Oleh sebab itu simbol dari sesaji telah mengajarkan kepada manusia agar di dalam menjalani kehidupannya selalu penuh kehati-hatian. Tumpeng diartikan tumuju dalan kang lempeng (menuju jalan yang lurus). Maksudnya adalah manusia selama hidup harus berjalan pada aturan main yang benar. Menjaga sikap, perilaku, etika, norma dan lain-lain adalah hal yang wajib dilakukan untuk menjaga hubungan yang baik di dunia. Tumpeng juga disebut buceng yang berarti kalbu kang kenceng (hati yang kuat), hal ini menyangkut nilai keimanan manusia. Kekuatan hati serta tekad manusia untuk mencapai kasampurnaning urip memang banyak ujian.

Ujian–ujian itulah yang mendewasakan kita untuk berpikir secara baik untuk menyelesaikan atau memecahkan ujian tersebut. Tumpeng yang berbentuk kerucut merupakan simbol pencapaian manusia pada yang lebih tinggi. Secara spiritual memang akan terseleksi bagi tiap manusia untuk mencapai puncak tersebut. Pemahaman tentang Ketuhanan memang tergambar dalam sesaji tumpeng tersebut. Sedangkan ayam panggang merupakan lambang pengorbanan dan penyerahan diri. Tak ada manusia hidup di dunia ini yang tanpa sekalipun tidak melakukan pengorbanan. Seakan apapun yang telah kita lakukan adalah sebuah wujud dari nilai pengorbanan itu sendiri.

Sebagai makhluk Tuhan tentu rasa bersandar (sumende) serta penyerahan diri (bersujud) pada Illahi tentu wajib hukumnya. Manusia tak punya daya, manusia hanya menjalankan kodrat Gusti, penyadaran ini yang akan memberi kekuatan batin manusia untuk menghadapi ujian-ujian di dalam hidupnya. Menurut Endraswara (2012;73) orang Jawa yang melaksanakan budi luhur dalam hidupnya, berarti menyadari bahwa pada awal emansi seluruh anasir hidup dalam keadaan sempurna dan suci, maka kelak jika kembali ke sangkan-paran juga harus dalam keadaan demikian. Melalui budi luhur orang Jawa terdorong terus berupaya memahami sangkan-paraning–dumadi, yaitu proses “dari”dan “menuju ke” suatu titik (dunung).

Untuk menuju dunung itu, manusia menghayati sangkan-paran dengan selalu menjaga keseimbangan kosmos. Upaya terus menerus mengendalikan nafsu, agar tecipta harmoni kosmos, didorong oleh paham kejawen bahwa Gusti ora sare. Jika demikian hidup menjadi sebuah perjalanan yang enak, ayom-ayem, penuh kedamaian. Hidup orang Jawa semakin menunjukkan titik terang menuju keselamatan hakiki. (2) Selamatan di punden ini merupakan puncak diadakannya upacara tradisi bersih desa. Mitos tentang pundhen, dhanyang, dan tradisi sedhekah bumi dalam lingkungan masyrakat pedesaan memiliki peranan penting dalam penyelamatan alam dan lingkungan. Terdapat kerangka mitos yang sistemik yang mengatur hubungan masyarakat dengan dhanyang, pundhen beserta isinya (mata air, pohon keramat, situs suci).

Kerangka sistemik ini memandu tumbuhnya gerakan sosial masyarakat untuk menjaga kelestarian alam dengan proses pewarisan tradisi dari generasi ke generasi. Mitos tentang pundhen dan dhayang menuntun perilaku masyarakat dalam membangun hubungan-hubungan spiritual dengan alam dan Tuhan, hubungan spiritual tersebut mencerminkan kesadaran ruang dimana manusia terikat dalam rangkaian yang utuh dalam peristiwa kosmis. (Prakosa;2011;1).

Menurut Hidajat (2006;32) bahwa punden sebagai tujuan untuk melakukan ngabekten yang merupakan muara dan juga segala tumpuan harapan dari masyarakat. Karena punden merupakan tempat cikal bakal. Punden adalah simbol kekuasaan ilahiah, mereka yang pada waktu jaman kuno telah bersusah payah menempa diri, tirakat, dan laku batin dengan harapan teciptanya sebuah pemukiman yang subur, aman dan tentram. Upaya ini dilakukan dengan cara-cara spiritual agar para leluhur itu menjadi salah seorang yang dekat dengan Tuhan. Kedekatan dengan Tuhan tersebut menjadikan roh-roh mereka tidak menjadi jahat, tetapi dapat melindungi segenap anak-cucu atau masyarakat yang tinggal di desanya.

Upacara selamatan bersih desa ini waktu dahulu dilakukan setelah sholat Jum’at namun sekitar sepuluh tahun terakhir ini pelaksanaanya dilakukan sebelum sholat Jum’at dengan alasan agar waktunya bisa longgar karena harus dibagi dengan acara tayuban. Hari Jum’at Legi pagi para ibu menyiapkan sesaji berupa panggang buceng (ayam panggang-tumpeng) dan lauk pauk. Lauk pauk berupa asem-asem, kering tempe, mie, tahu, krupuk udang, rempeyek dan lalapan (timun dan kacang panjang) diletakan pada takir. Kemudian para lelaki membawa dari rumah masing-masing sebagai ambengan yang di letakkan pada encek yang terbuat dari anyaman bambu berukuran satu meter persegi ditutup daun pisang menuju punden.

Bagi warga masyarakat Banjarsari yang tergolong kulen (yang mempunyai sawah lima kothak (sebau) atau lebih. Satu ha = tujuh kothak, atau satu kothak = 1400 m2) diharuskan membawa jajan pasar yang diletakkan pula pada encek (anyaman bambu) yang berukuran 1 m2 juga. Jajan pasar tersebut berupa pisang setangkep (dua sisir), jenang, wajik, madumangsa, tape ketan, rengginang, matahari (kue goyang), jadah dan lain-lain. Setelah semuanya berkumpul maka panitya memulai acara bersih desa. Sepasang encek berisi panggang –buceng dan jajan pasar diletakkan di bawah pohon besar (pohon asam yang bergandeng dengan pohon beringin tua) yang dianggap tempat bersemayamnya danyange desa atau sing mbahureksa desa.

Kemudian kepala dhuku membakar dupa dan berdoa memohon keselamatan untuk desa dan warganya. Sepasang encek lagi digunakan lagi untuk sajen bucalan (sesaji buangan) yang nantinya diperebutkan oleh anak-anak. Kemudian ambengan dalam encek yang lain dibagi kepada hadirin secara merata. Setelah itu baru diberi doa keselamatan, dan upacara selamatan bersih desa telah berakhir. (3) Tayub adalah tarian yang berkembang di masyarakat. Seperti dijelaskan di atas bahwa sebenarnya pada dasarnya tayub adalah seni tari yang bersifat sakral. Karena di dalamnya menggambarkan hubungan antara penari tayub (ledek) sebagai penjelmaan Dewi Sri dengan masyarakat. Namun perkembangan sekarang ada penilaian yang sinis terhadap penari tayub itu sendiri. Hal ini karena tak lepas dari hilangnya jati diri, norma yang seharusnya diterapkan.

Penulis sekitar tahun 2011 bersama-kawan-kawan pernah memperagakan tari tayub yang memenuhi unsur-unsur estetika dan etika. Di mana rasa menghargai, menghormati antara penari wanita dan pria berjalan sangat harmonis. Namun kembali kepada budaya masyarakat itu sendiri yang memang tidak bisa disamakan dengan sebuah pagelaran. Terlepas dari semua itu setidaknya masyarakat Jawa telah memiliki sebuah identitas sendiri yang membedakan dengan budaya lain. Langen beksan tayub diawali dengan dimulainya iringan pembuka gamelan melantunkan ldr. Eling-eling.

Dengan maksud bahwa manusia menyadari akan keberadaannya di dunia ini, sehingga rasa eling (ingat) terhadap Tuhan, terhadap sesama perlu diperhatikan dengan baik. Penyadaran manusia dengan rasa eling itulah akan membawa kepada sikap yang penuh kehati-hatian. Setelah ladrang eling-eling selesai baru dikumandangkan ldr. Pangkur untuk mengiringi keluarnya penari wanita untuk memperagakan bedayan. Bedayan adalah istilah yang dipakai masyarakat desa untuk menyebut tari gambyong. Begitu tari gambyong selesai seorang pramugari (pria yang memimpin langen beksan tayub) membawa sampur dan menari (disebut gedhog). Kemudian sampur (selendang) diserahkan kepada sesepuh, perangkat,atau tamu lainnya. Orang yang ketiban sampur (mendapat sampur) harus menari bersama ledhek (penari wanita).

Sebelum menari orang yang ketiban (mendapat) sampur disuguhi tembang Jawa (biasanya jineman;uler kambang, mijil,glathik ngglindhing dan lain-lain), secara sukarela orang yang akan menari memberikan uang pada para penarinya (ledhek). Upacara seperti ini menandai sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas anugrah yang telah diberikan. Sisi lain tradisi tayuban merupakan aktivitas sosial yang dilandasi oleh spirit guyub rukun. Spirit ini menjadi landasan mendasar terbangunnya interaksi dan integrasi masyarakat dalam bermasyarakat.

Asas guyub rukun secara mendasar tersirat pada istilah tayub, ”ditata dimen guyub”, asas ini terrefleksikan pada aktivitas estetika tari. Struktur gerak tarian tayub yang dilakukan oleh penari lebih menggambarkan rasa kebersamaan, keselarasan. Keselarasan gerakan yang dilakukan secara serempak memiliki makna signifikan bagi pengendalian ruang gerak, irama, serta ekspresi komunalnya. Menari dalam konteks ritual ini merupakan kewajiban sosial untuk menjaga integritas.

Satu hal yang terkait dalam dalam tradisi ini yang sekarang sudah punah adalah tradisi weweh/ater-ater yaitu memberi/mengirim makanan kesanak saudara dan handai taulan. Makanan berupa nasi dan lauk-pauknya, jajanan (rengginang, kue goyang, jenang, jadah. madumangsa dan lain-lain). Pelaksanaannya dilakukan sebelum hari H (Rabu atau Kamis). Karena satu keluarga bisa mengirim mencapai puluhan orang (sekitar 50 orang) maka oleh pemerintah/Muspika setempat sekitar tahun 1980-an tradisi ini dihimbau untuk dihentikan. Ada ungkapan yang mengatakan “utang tai nyaur sapi” maksudnya adalah bahwa tidak seberapa yang kita makan sewaktu menerima namun ketika mengembalikan membutuhkan dana yang cukup besar.

*) Tulus S atau Tulus Setiyadi, S.T.P. adalah alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*