Guru Tanpa Literasi?

Sutejo

Suatu hari, datanglah 4 orang guru ke rumah (tiga orang dari Bojonegoro dan seorang lagi dari Magetan), kemudian bercerita tentang pengalamannya berliterasi. Pertama, seorang guru Fisika ketika “meminjam” tulisan Yohanes Surya langsung diganti nama dirinya, kemudian menimbulkan masalah, bahkan harus “mempertanggungjawabkan” kesilapan akademiknya itu. Beliau dengan jujur mengakui kalau mengambil tulisan itu dan mengganti nama dirinya, tanpa mengerti bagaimana akibatnya. Ketika di Surabaya, sampai diminta untuk menandatangani pernyataan bermaterai untuk tidak mengulangi.

Kedua, tentang pengalaman seorang guru ketika melaksanakan program mantan Kemendikbud, Anies Baswedan, 15 menit membaca sebelum pelajaran. “Apa yang ibu lakukan?” Dia langsung menjawab tanpa merasa bersalah, “Saya suruh anak-anak membaca buku pelajaran, berkaitan dengan bidang studi saya, Pak.” Dua fenomena ini, merupakan realita unik dan ironis di dunia pendidikan kita. Padahal, program literasi sekolah sudah digemborkan Pak Menteri sejak beliau diangkat. Bahkan, tanpa mengerti jika panduan gerakan literasi sekolah itu sudah ada desain gerakan literasi sekolah berikut panduan literasi di masing-masing jenjang. Sungguh ironis.

Fenomena itu barangkali merupakan puncak gunung es dari problem literasi para guru. Idealisme kebijakan seindah apapun, tanpa pengawalan sekolah dan dinas terkait akan menjadi isapan jempol belaka. Padahal gerakan membaca menulis itu sesungguhnya baru merupakan satu sisi dari gerakan literasi sekolah yang diidealkan oleh Kemendikbud.

Jika kita menengok Desain Gerakan Literasi Sekolah (2016) yang dikeluarkan Kemendikbud maka kita akan mengenali adanya enam ragam literasi yang disasar: (i) literasi dini, (ii) literasi dasar, (iii) literasi perpustakaan, (iv) literasi media, (v) literasi teknologi, dan (vi) literasi visual. Gerakan 15 menit membaca sebelum pembelajaran itu baru merupakan gerakan literasi dasar. Dimana literasi dasar (basic literacy) hakikatnya mengamanatkan adanya kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting). Kelima kecakapan literatif ini masih dikaitkan dengan kemampuan analisis dalam memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.

Alangkah ironisnya kemudian, memahami gerakan literasi dasar dengan pola pembiasaan 15 menit di awal pelajaran, justru ditafsirkan begitu sederhana dengan membaca buku pelajaran. Bukankah salah satu kelemahan buku pelajaran itu seringkali tidak sesuai dengan kebutuhan atau kesukaan anak didik? Gerakan pembiasaan sesungguhnya bermula pada hobi dan kebebasan materi baca yang sesuai dengan selera.

Tujuannya untuk menanamkan kecintaan pada literasi dasar sehingga mereka memiliki kecerdasan literasi yang memadai. Demikian juga kasus “buta kaidah” berliterasi –sebagaimana disinggung di awal tulisan ini—sesungguhnya merupakan titik nadir dari realita ironis dunia tulis guru. Tak heran mereka sering terjebak pada jual beli karya ilmiah dan aneka ragam plagiasi. Jika kondisi demikian tidak cepat disadari para guru, apa jadinya masa depan bangsa ini? Padahal tahap pembiasaan literasi dasar itu membutuhkan keteladan guru.

Guru wajib menjadi inspirasi peserta didik. Guru dengan demikian, dalam15 menit pertama pembelajaran, menarik untuk menceritakan kisah-kisah orang sukses berbasis literasi misalnya. Atau mendiskusikan buku-buku oreantasi hidup, buku-buku fiksi dan puisi yang kontekstual dengan kehidupan peserta didik. Inilah sesungguhnya tahap menarik untuk dipersentuhkan ke hati siswa sehingga mereka memiliki pengalaman “suka” hingga tak mampu dimatrakan.

Tidak saja itu, jika menengok kebiasaan Jepang yang telah memprogramkan budaya literasi ini (10 menit sebelum pelajaran), anak-anak sudah asyik berbagi karya, mendiskusikan karya, memfragmentasikan karya fiksi, dan memusikalisasikan puisi sehingga menyatu dengan kebutuhan jiwa mereka. Kreativitas dan niat besar guru karena itu, akan menjadi jawaban untuk menghilangkan penyakit “buta literasi” ini berbasis sekolah.

Bukankah kebutuhan melek literasi dalam konteks mutakhir sungguh menjadi kunci dinamika generasi dan bangsa? Jika kita tidak ingin tergulung oleh derasnya arus informasi maka guru-guru wajib memulai dan mendampingi peserta didik dengan sejumlah kreativitas kegiatan berliterasi. Melek literasi akan mendewasakan cara berpikir, menguatkan mental, dan kemampuan merespon dengan tepat setiap informasi yang mampir.

Peta literasi versi Kemendikbud itu sesungguhnya menggambarkan demikian kompleksnya persoalan melek literasi itu. Bukan sekadar melek baca dan tulis tetapi lebih dari itu mencakupi melek teknologi dan media. Sungguh mencengangkan jika kita temukan berbagai kejahatan ciber yang akhir-akhir ini merajai Indonesia. Entah itu kejahatan penipuan, seksual, kekerasan, pemerasan, plagiasi, pencemaran nama baik, sampai terbentuknya “budaya malas” berkeluh kesah di media sosial. Hal ini terjadi, salah satu penyebabnya adalah gagalnya literasi teknologi dan literasi visual.

Kembali pada literasi dasar, maka para guru –barangkali melirik buku menarik Peter Elbow berjudul Everyone Can Write. Buku yang harus dibaca oleh setiap guru. Sehingga akan menuntun kesadaran bahwa menulis itu kodrat setiap orang di satu sisi dan di sisi lain akan menyadarkan bagaimana begitu banyak pengalaman buru menulis (bad experiences of writing) yang telah menjangkiti para guru dan siswa.

Salah satu pengalaman buruk siswa itu adalah pemahaman yang menjejali kepala anak bahwa menulis itu ditentukan oleh bakat (bawaan). Menurut Elbow, tidak. Menulis itu soal latihan berulang dan pengembangan keterampilan. Pembiasaan 15 menit sebelum pembelajaran dimulai sesungguhnya berbasis pandangan yang demikian? Untuk itu, marilah bapak dan ibu guru, kita niatkan untuk mengubah generasi bermula dan bermuara dari kekuatan literasi. Pengalaman berbagai Negara maju inilah kunci terbesarnya!
***

24 Februari 2018, Ponorogo, Jawa Timur.

One Reply to “Guru Tanpa Literasi?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *