TUBUH, DAN YANG TERPEDAYA

Taufiq Wr. Hidayat *

Film “Jism 2” (2012) mengisahkan seorang mantan aktris porno. Film itu tak menarik, lantaran sinemanya dangkal, kisahnya klise sebagaimana lazim film-film India. Film-film India punya kelebihan pada dialog-dialognya yang dramatis dan puitis, kerapkali bikin nangis ibu-ibu, bapak-bapak juga nangis diam-diam. Hanya yang menarik dalam film itu pemerannya, seorang perempuan eks bintang porno Sunny Leone. Bintang porno yang konon telah bertaubat nasuha.

Tubuh Leone yang halus dan eksotis terlentang nyaris tanpa busana. Akhir kisah, Leone tewas. Tubuh yang ranum dan empuk itu terkapar tak bernyawa. Sebagai bintang porno dengan peran menggoda dan agresif, ia bertanya apakah dirinya dapat dimaafkan, dimasukkan surga atau dipanggang api neraka? Pertanyaan tak dijawab dalam film tersebut. Tapi digambarkan, mantan bintang porno yang berperan sebagai Izna itu berjumpa sang kekasih setelah kematiannya. Apakah perjumpaan terjadi di surga ataukah dalam neraka? Apakah surga dan neraka ialah sebuah tempat yang harus dituju orang yang memercayainya? Ah! Lupakan film “Jism 2” dengan kisah yang bertele-tele itu.

Pada keadaan tertentu, tatkala lemah dan dalam ketakberdayaan, manusia merasa dirinya memang bukan Tuhan. Bukan apa-apa. Ia hanya tubuh yang minta dikasihani. Ia pikiran yang memerlukan pencerahan. Pada keadaan yang paling busuk, ia tetap tak ingin menjadi iblis. Tapi ia gemar bermain-main dengan nasibnya sendiri. Tubuh baginya cuma sebatas yang dipermaikan oleh kehendak dan persepsi. Kemudian mata dan pikiran tertipu tubuh, terpedaya, lalu tubuh itu pula yang terjerembab ke dalam nasib sial yang diciptakan oleh kehendak dan pikirannya sendiri. Atas peran tubuhlah, sejarah terjadi. Tubuh telah berperan utama atas terjadinya perilaku. Tanpanya, tak pernah ada yang disebut peristiwa.

Sahdan Al-Hallaj disalib dan tubuhnya dipasak. Bagian-bagian tubuhnya dimutilasi. Darah menderas. Begitu tubuh—bagi al-Hallaj, yang menjalani penyucian dari sebab-akibat, ia menyebutnya “izaalatul tartib wat tawqif”. Tubuhnya yang dicincang tetap tenang dan tersenyum. Ia terus bicara seolah meracau entah apa. Datanglah kawan karibnya, seorang yang disebut kekasih Tuhan dan guru agung tasawuf, as-Syibli. Ia bertanya pada al-Hallaj, pada tubuh yang tak mungkin diutuhkan lagi.

“Kawanku, apakah sesungguhnya tasawuf?” tanya as-Syibli.

“Yang tengah kau saksikan sekarang cuma tingkatan paling rendah dari apa yang disebut tasawuf itu, as-Syibli,” jawab al-Hallaj.

“Jika demikian, lantas apakah tingkatan puncak tasawuf?”

“As-Syibli, kau tak akan pernah tiba pada tingkatan puncak itu. Tapi besok, setelah berakhir kemartiranku ini, kau dapat menyaksikan. Di dalam kerahasiaan-Nya, aku bersaksi ada-Nya. Tetapi kamu as-Syibli, tidak akan pernah menjadi penyaksi!”

As-Syibli tertunduk. Ia merasakan sakit dengan tubuh yang segar-bugar dan mujur. Ia merasa “jalan ruhani” diraihnya ditandai sebatas pengakuan makhluk. Apa yang didalilkan al-Hallaj di tiang penyiksaan lantaran perlawanannya yang sengit terhadap penindasan kekuasaan, sejatinya hendak menegaskan supaya siapa saja mawas diri ketika menamai—bahkan mengaku, dengan segala ungkapan perihal tasawuf. Ia bukan wilayah main-main, walau di sana seorang pejalan dapat bermain-main gembira dengan esensinya sendiri. Itulah “jalan derita” dan “peniadaan eksistensi”. Ia bukan perkara tampilan kejeniusan dan kesalehan. Kerendahatian, ketabahan, teguh, dan sabar adalah jantungnya. Dilakukan hingga titik yang paling mustahil dalam kehidupan manusia. Amat langka orang memperoleh karunia untuk mampu menempuh jalan derita dan peniadaan diri itu. Yang tampak hanya “mustaswif”, ialah orang-orang yang seolah menempuh jalan itu (suluk), tapi jiwanya tak teguh di sana.

Menjadi jelaslah, kesalehan tak selalu identik dengan yang tampak. Ia perilaku. Dan keteguhan yang disebut iman itu, sesungguhnya perilaku yang tak memanjakan tubuh. Agar ruhani menyaksikan dan merasakan derita. Sebab dalam penderitaan, ia menemukan kelezatan kebahagiaan yang tersembunyi sebagai penyaksi (syahadat). Orang Jawa menyebut “laku perihatin”. Sebentuk sikap istikomah (terus-menerus) yang tak menghitung keuntungan dan kenyamanan bagi diri sendiri belaka. Maka ruhani sanggup bertahta atas tubuh lantaran kehendak-kehendak ditundukkan dalam sujud, dalam kasih, dan mengorbankan diri mengentaskan atau meringankan penderitaan bagi sesama, bagi tubuh yang masih terpenjara dalam derita dan malapetaka. Ruhani yang menubuhkan diri. Bukanlah menubuhkan ruhani, sehingga harus tampak saleh, tapi bajingan. Dan penyembah berhala bentuk.

Dalam pornografi, tubuh dipuja. Tubuh dipermainkan, dinikmati, penuh gairah, dan pura-pura. Apakah ia bukan korban dari suatu keadaan? Bukankah ia martir? Apa atau siapa gerangan menciptakannya? Barangkali hasrat dan kehendak berkuasa yang diselenggaran pada bangunan sistem dan kepintaran. Kita pun membeli, kemudian menikmatinya sambil makan kacang.

Tembokrejo, 2019
*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *