TUBUH, YANG TERLUKA, YANG BERTANYA


Taufiq Wr. Hidayat *

Sahdan seorang perempuan patah hati, berdiri di tepian kapal. Ia hendak bunuh diri! Sebelum bunuh diri, ia berkata pada dirinya sendiri atau entah kepada siapa. Bahwa dirinya tak ingin segala pemberian laki-laki yang telah mengkhianati cinta masih melekat pada dirinya.

Ia melepaskan cincin dari jarinya ke laut. Itu pemberian laki-laki yang telah berkhianat padanya. Baju. Ya baju! Ia melepaskan seluruh kain yang membungkus tubuhnya, karena semua itu adalah pemberian laki-laki si pengkhianat cinta. Tentu juga kutang dan celana dalam. Ia telanjang bulat. Ia tak ingin satu pun pemberian laki-laki pengkhianat cinta itu tersisa pada tubuhnya sebelum ia bunuh diri dengan mencebur ke laut. Diam-diam, seorang wartawan yang berbekal kamera mengintipnya dari balik tempat tersembunyi. Perempuan muda, cantik, dan seksi itu telanjang. Obyek foto dan peristiwa yang menakjubkan, bukan?

Tapi perempuan itu tahu, dirinya diintip dari balik tempat tersembunyi oleh seorang laki-laki. Perempuan muda itu menoleh ke arah laki-laki pengintip di tempat tersembunyi. Lalu sang perempuan berkata: “maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu?”

Terperanjat.

Dan laki-laki si wartawan tak ingin perempuan muda itu mati. Perempuan yang ingin mati bunuh diri itu tak ingin mati dengan membawa bekas laki-laki yang telah mengkhianati cintanya. Tak terduga, banyak orang yang juga mengintip peristiwa langka itu. Orang-orang memberikan dorongan kepada laki-laki itu supaya segera menghapus bekas bibir laki-laki pengkhianat cinta di bibir sang perempuan cantik yang terluka. Tak menyiakan keadaan. Laki-laki itu melompat sigap penuh semangat. Orang-orang lalu menutupi keduanya dengan selimut. Di dalam selimut itu, laki-laki yang entah beruntung entah malang tersebut berbisik di telinga sang perempuan: “masih adakah bekas yang lain darinya di bagian tubuhmu yang harus kuhapus dengan bagian tubuhku?”

Begitu kira-kira pengisahan ulang saya pada permulaan cerita Hamsad Rangkuti yang termashur “Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?”, yang pernah ia bacakan dalam sebuah pertunjukan monolog di samping kisah absurdnya yang lain, “Sukri Membawa Pisau Belati”. Kalau Seno Gumira Ajidarma pernah membuat “Sebuah Pertanyaan untuk Cinta”, kemudian apakah pertanyaan seputar tubuh dan cinta itu masih perlu dikemukakan pada sebidang layar yang sibuk? Dan apakah segala bekas selalu bermakna tidak suci? Kenapa perempuan harus merasa terikat dengan segala bekas pada tubuhnya, pada diri, jiwa atau ingatannya dari seorang laki-laki yang telah meninggalkannya, yang pada saat perempuan itu hendak bunuh diri—dalam cerita Hamsad, tak berada di tempat itu? Betapa sahih jika Beauvoir menyebut perempuan “the other”, yang lain. Ada kekuasaan gaib yang menguasai perempuan secara metafisik. Ia seketika tak berdaya dalam cengkeraman sudut pandang mata laki-laki padanya. Ia lalu ditegakkan dari sudut pandang mata lawan jenisnya itu. Ia hanya dapat disebut cantik dan ada lantaran yang menyematkan kecantikan itu adalah laki-laki yang bahkan tak selalu hadir atau bersamanya dalam suka-duka. Oh alanglah ganjilnya dunia, ujar seorang pengelana. Betapa kejamnya, orang menjanjikan surga, tapi nyatanya “neraka yang kauberikan,” jerit sebuah lagu dangdut yang diremixkan.

Namun kenyataan itu tetap dilawan. Dilawan dalam pertanyaan-pertanyaan panjang yang tak terpecahkan. Frida Kahlo melawan dengan lukisan-lukisannya yang pedih. Juga tubuhnya yang babak belur dihantam kenyataan. Apakah itu takdir? Pertanyaan paling naif! Nawal el-Saadawi tak menyebutnya takdir. Melainkan kesalahan waktu yang tak boleh berhenti dikoreksi. Kelamin bukan dosa. Dari mana asal dosa? Seorang kawan menjawab dengan ringannya: agama! Andai tak ada agama, maka tak perlu ada dosa. Manusia tak perlu sibuk takut atau ditakut-takuti dengan makhluk tak tampak yang bernama dosa. Ketika saya ingin menanyakan perihal itu lebih lanjut, kawan saya tadi sudah berlalu, hanya asap rokoknya tersisa di udara.

Dalam kaidah tasawuf, terdapat sebuah potensi perihal partikularitas. Sebentuk ketakterjangkauan dalam yang terjangkau. Ialah potensi satu orang yang tak sama dengan yang lainnya. Masing-masing menyimpan potensi tersebut. Tapi partikularitas itu terkandung pada tiap manusia tanpa kebersekutuannya dengan partikularitas yang lain. Ibn ‘Arabi menguraikan hal itu; Tuhan tak merepetisi tajalli-Nya bagi diri dengan diri yang lain. Manusia dengan segala potensi ketakterdugaannya itu, berada dalam ketakberhinggaan, ketakterdugaan, pun ketakterjangkauan Tuhan. Pengertian tasawuf ini, membuka peluang begitu luas kearifan terhadap realitas raung waktu, budaya dan perubahan-perubahannya. Apakah diri dan tubuh saling mengandung? Manusia menghikmati hidupnya dengan nasib. Ia bermain-main dengan nasibnya. Ada yang universal, yakni kemanusiaan itu. Tetapi realitas partikular dari diri atau keadaan mesti digali dan disadari dalam pengertian kemanusiaan. Agar yang besar dapat menghikmatkan diri pada yang kecil, yang lemah, yang teraniaya. Dalam Jalaludin Rumi—juga Ibn Arabi, “tanzih-tasbih”. Yang tak menjelma sekaligus yang menjelma. Yang di sana pun yang di sini, yang harus hadir, pun yang tak harus hadir.

Bagi Hamsad, sastrawan agung Indonesia penulis “Ketika Lampu Berwarna Merah” itu, ketertindasan kelamin tak hanya seputar pengkhianatan cinta dan ketakberdayaan perempuan atas cinta yang kerap dijadikan alat memperbudaknya. Dalam “Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah”, ada kisah lain perihal kebimbangan dan kecemasan: ke mana harus berserah. Berserah pada nasib atau pada kenyataan? Seorang perempuan muda harus menjalani absurditas tatkala ia menawarkan tubuhnya. Hamsad tak menyebutnya tubuh. Melainkan diri. Siapa yang tak menjual diri? Tanyanya. Perempuan di sebuah hotel mewah itu menawarkan diri dengan harga tertinggi. Tapi ia tak tahu, berapa harga tertinggi bagi sesuatu yang disebut diri itu. Dari satu daun pintu ke daun pintu kamar hotel yang lain, ia menolak harga yang ditawarkan padanya. Tak ada harga yang cocok. Terlalu murah. Ia ingin harga tertinggi—entah berapa harga tertinggi itu, untuk membayar dirinya. Tetapi berulang-ulang. Ia terus menerus menawarkan diri itu. Absurditas yang menyedihkan. Ia tak punya kuasa atas tubuhnya di dalam kesempitan hidup. Sehingga ia harus menjual diri. Tak ada pilihan lain. Kenyataan yang memang klise! Tetapi apa beda diri dan tubuh? Apakah tubuh adalah diri? Atau diri itu sesungguhnya hanya tubuh? Pertanyaan ini menjadi tak klise—meski absurd, ketika Hamsad membangun kisahnya dengan peristiwa berulang-ulang bagai rekaman. Rekaman kelam kemanusiaan. Ada yang terluka di sana. Ada kemungkinan lain yang acak, yang mesti dapat ditangkap dan kembali direnungkan dalam ketak-usaian yang pelik dan muskil. Dan ada pertanyaan panjang yang tak kunjung beres dipecahkan di situ. Tapi yang tak tercatat sebagai narasi besar dalam sejarah atau menjadi pembahasan genting para moralis yang gemar bersolek atasnama agama dan kemanusiaan.

Tembokrejo, 2019
*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *