ORANG SEHARI-HARI

Taufiq Wr. Hidayat *

Seorang perempuan dalam film “Gone Girl” (2014), menghilang. Kehilangan misterius itu membuat suaminya merasa bersalah karena telah menyia-nyiakannya dengan perselingkuhan. Siapa duga, kehilangan itu telah direncanakan dengan serapi-rapinya oleh korban. Amy korban atas dirinya sendiri. Meski ia harus mengorbankan orang lain guna menutup jejak kehilangan yang dilakukannya sendiri. Ia memang keji, namun ia dapat memaafkan suaminya. Alangkah rapuh dan rawannya jiwa. Tetapi juga menyimpan kekokohan dan keluasan.

Film thriller psikologis garapan David Fincher—diangkat dari novel Gillian Flynn itu, menarik. Barangkali secara halus ia menyinggung nasib agung manusia sehari-hari. Betapa manusia gemar menyakiti, tapi tak sedikit pun mau disakiti. Ia membunuh, tanpa ingin mati atau tak mau dibunuh. Kelucuan yang kelam dan gelap. Alangkah ganjil jiwa. Jiwa yang diterjemah daya pikir yang rumit. Ia menciptakan atau merencanakan suatu keadaan dan peristiwa yang pelik dan muskil. Merahasiakan sesuatu yang bahkan Tuhan pun tak boleh tahu. Tapi siapa yang dilihat dan siapa yang melihat? Keniscayaan yang masih saja mendiami ceruk terjauh jiwa dan pikiran-pikiran. Dan pada dunia yang beraneka, orang tertawan kehendak-kehendaknya sendiri. Ada yang tak pernah selesai diuraikan. Sebagaimana ada yang tak pernah beres dibereskan. Dan ruang-ruang dalam dada itu selalu gulita. Pada suatu keadaan, ia tak membutuhkan cahaya terang benderang. Karena cahaya yang terang benderang itu hanya merusak kegelapan yang tersembunyi begitu jauh dan dalam. Ia mungkin hanya butuh secercah cahaya saja. Secercah cahaya yang tak menjangkau seluruhnya, yang kegelapan tetap lebih meliputi daripada cahaya. Atau keremangan yang tak boleh dipecahkan sinar gemilang. Ia yang dicintai pun yang dibenci. Sosok pahlawan yang juga keji. Manusia yang menderita sekaligus yang lucu. Seperti Joker. Paradoks yang tak pernah berhasil seimbang. Badut yang menghibur, tapi menjadi kejam dalam tekanan kehidupan yang tak tertangguhkan. Ia yang mengagumi dirinya sendiri dengan foto-foto atau audio-visual. Sahwat kelezatan melihat diri sendiri. Baginya memang tak ada yang lain selain dirinya sendiri itu. Atau tak boleh ada selain dirinya. Tapi ia yang kesepian tanpa siapa-siapa. Jiwa juga kehendak-kehendak yang selalu tak terduga.

Dalam cerita Tolstoy, Ivan Ilych telah menemukan jawaban pasti buat apa manusia hidup dan kenapa manusia mati. Namun ia menemukan jawaban itu tepat tatkala ia mati. Sehingga ia tak dapat menjelaskan jawaban pasti itu pada siapa pun. Jawaban itu bisu bersama kematiannya. Tolstoy tak berkhotbah. Ia hanya menyampaikan pertanyaan yang tak terucapkan, yang menggema selalu pada abad-abad yang jauh. Apa sesungguhnya yang berarti sehingga manusia merasa hidupnya penting? Lantaran tanpa itu, hidup ini apa? Orang hanya mengulang-ulang derita dan bahagia yang jenak. Buat apa harta dan jiwa-raga jika cuma membahagiakan diri sendiri? Kematian Ivan Ilych dalam Tolstoy tak perlu menyebutkan ayat suci guna menemukan “manusia ilahiah” atau manusia yang bersedia berbagi meringankan beban sesama dan menderma demi membuktikan pada hidupnya, bahwa dirinya berarti bagi kawan, saudara, handai tolan. Tapi kematian Ivan Ilych cukup sebagai pengertian yang tak sibuk diuraikan dengan khotbah atau doktrin-doktrin. Tanpa memiliki arti bagi yang liyan, hidup hanya rekaman yang jenak, lalu dilupakan. Derita keseolah-olahan. Derita keberulang-ulangan tak terelakkan.

Suatu ketika seseorang memerlukan kepastian buat memaknai penantian. Entah apa. Orang menyebut cinta. Mungkin harapan. Atau kenangan yang ingin dikembalikan. Tapi tatkala makna ditemukan, penantian tak lagi hikmat dan lezat. Terkadang manusia menemukan kebahagiaan dalam derita-derita panjang yang tak bertepi. Kehilangan demi kehilangan yang melelahkan. Tak butuh lagi makna. Juga ada yang menjadi angkuh, lantaran tak bersedia berhikmat pada penderitaan di luar dirinya. Ia terpenjara pada apa yang Umberto Eco tengarai dalam novelnya, ialah “iman yang tidak tersenyum. Dan kebenaran yang tanpa keragu-raguan.”

Dalam khasanah Jawa, meskipun Semar (memilih) sebagai rakyat jelata, pelayan raja, tapi ia bukanlah budak. Ia memainkan perannya yang kompleks, harmonis, jujur. Meski kesaktian Semar tak tertandingi segala dewa, ia tak lantas memusnahkan tiap tokoh dalam Mahabharata supaya tak ada perang dan kematian yang menyakitkan. Sehingga kisah mengalir sampai akhir. Semar adalah sosok kawan atau saudara sejati, yang posisinya mulia sebab peran dan fungsinya yang tepat, memantulkan sifat-sifat-Nya dengan cerdik dan mumpuni. Walau sekadar ‘carangan’, namun lakon akbar Mahabharata akan kehilangan kewajaran tanpa sosoknya. Orang biasa yang dewa. Ia menandakan tak ada pahlawan suci. Ia tak melihat baik dan buruk adalah sesuatu yang gampang disederhanakan, atau yang selalu harus berhadap-hadapan. Ia rakyat jelata yang memegang kedaulatan. Paradoks unik dan amat subordinatif. Kata orang Jawa “gemuyu nangis ning nangis gemuyu”. Jika tertawa, ia menangis—seperti orang yang sedang menangis. Jika menangis, ia tertawa—atau tampak seolah tertawa-tawa. Jika ia didalami, ia memesona melebihi Arjuna atau Basudewa, Kunti atau Gandari—bahkan aliran kisah itu sendiri. Semar begitu mutlak. Tapi tidak bagi Bagong! Ia melakukan autokritik dengan cerdik. Ia menyadari kefanaan dan kedaifan.

“Dunia ini panggung sandiwara,” kata lagu. Sandiwara yang dimainkan setengah hati tak akan menarik dibandingkan film-film barat yang tampak nyata. Orang mencari sesuatu yang tak pasti untuk menyelesaikan perkara-perkara yang pelik dan tak sanggup diselesaikan—yang sesungguhnya pun tak pasti. Ada “hidup yang tergadai, pikiran yang dipabrikkan, dan masyarakat yang diternakkan,” kata WS. Rendra. Tepat di saat gelap menyergap semesta, derita dan bahagia berlalu sebagai peristiwa. Ada suara sebagaimana dalam kisah Tolstoy itu; apa arti dalam jenak hidup. Sebelum segalanya berlalu. Bisu. Dan lampau.

Tembokrejo, 2019

*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *