SASTRA POSTMITOS: INSTITUSI, EMANSIPASI, REVOLUSI

(Orasi Budaya Anugerah Sastra Sutasoma, Balai Bahasa Jawa Timur, 17 Oktober 2019)


S. Jai

Bapak-Ibu, Saudara-Saudara, dan kawan-kawan sekalian,
Sebenarnya saya cukup kikuk berbicara dengan tagline Orasi Budaya, karena wilayah ini kerapkali dan memang semestinya dalam lingkup para orator, peneliti, pemikir, atau setidaknya kritikus—mereka yang fasih membincang aktualitas. Sementara saya lebih banyak berjibaku selaku pengarang—yang kerap bergulat, bergelut dengan realitas. Jikapun mengulik dalam kritik, saya pilih berkendara esai-esai yang terang tak memerlukan simpulan-simpulan, pendapat, opini, sikap atau solusi-solusi yang kokoh, keras dan tegas tanpa saya harus meminta maaf. Sebagai pengarang saya lebih percaya apa kata Jorge Luis Borges; ‘yang menyalin kebingungannya sendiri dan memindahkan sistem kebingungan yang dengan hormat kita sebut filsafat itu ke dalam bentuk sastra.’ Sementara dengan berkendara esai, sebagaimana ujaran Ignas Kleden, kekuatannya ‘bukan terletak pada argumen yang dikandungnya, melainkan pada lukisan pikiran-pikiran dan gagasan.’

Sastra adalah dunia yang sepi, sunyi. Tersebab itu, mahapenting pada kesempatan ini, saya sampaikan terimakasih pada institusi Balai Bahasa Jawa Timur yang telah memberikan perhatian pada sastra—dunia sepi itu. Anugerah Sotasoma adalah support dunia sepi yang dalam takdir kesepiannya senantiasa mencoba bersuara, berbunyi, bahkan berteriak apakah dalam meneguhkan diri sebagai “hiburan,” atas nama keadilan, ataukah demi kemanusiaan. Dalam pandangan saya, pada konteks ini apa yang dilakukan Balai Bahasa Jawa Timur adalah bentuk lain dari kritik pada sastra, karena di situ ada penilaian, apresiasi dan penghargaan.

Selamat bagi para penerima penghargaan Anugerah Sotasoma, tahun ini.

Bapak-ibu, saudara-saudara dan kawan-kawan sekalian,
Saya senang sekali mengutip kalimat dua orang besar dalam sastra dunia. Haruki Murakami dan Milan Kundera. “Tidak ada kalimat yang sempurna. Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna,” demikian kata Murakami. Kemudian, “Manusia berpikir, Tuhan tertawa,” begitu kata Kundera yang konon kalimat itu dinukil dari pepatah Yahudi, dan oleh sebab ini itu saya senantiasa memberi tanda petik tiap kali membincang hiburan dalam sastra.

Dengan kata-kata di baris pertama novelnya Dengarlah Suara Angin itu, sepertinya Murakami hendak menegaskan; realitas harus terus dibahasakan, dituliskan (dituturkan) sekalipun tak pernah sempurna. Justru disitulah takdir dan ikhtiar manusia baik dalam pengertian aktualitas (yang benar terjadi) maupun realitasnya (yang bisa terjadi). Keputusasaanpun demikian adanya; menyisakan harkat diri bagi serendah-rendahnya manusia justru karena diri sebagai makhluk paling sempurna. Dengan kata lain, manusia harus terus berikhtiar menciptakan realitas dengan bahasa-bahasa, sekalipun, mustahil bisa menangkap realitas sebenarnya akibat ketergantungannya pada bahasa-bahasa yang tercipta.

Tersebab itulah menciptakan realitas dengan bahasa bukanlah monopoli penyair, pengarang, pendongeng, seniman, melainkan tugas semua khalifah di bumi tanpa terkecuali. Pada titik simpul antara tugas semua khalifah dan bahasa ini, apa yang dikatakan filosof Muhammad Iqbal tak terbantahkan; bahwa sumber satu-satunya pengetahuan adalah pengalaman batin. Baru kemudian dua sumber pengetahuan lainnya adalah alam dan sejarah. Maka jelas, sastra adalah nenek moyang segala pengetahuan. Sastra adalah pengetahuan paling tua. Setua manusia dan bahasa itu sendiri. Maka jelas pula, kita tak bisa begitu saja abai pada para pendahulu pencipta bahasa kita—sastra kita. Betapa rendahnya martabat kita bila tak memberi hormat setinggi-tingginya. Pertanyaannya, bagaimana kita musti memberi hormat secara bermartabat?

Bapak-ibu, saudara-saudara dan kawan-kawan sekalian,
Pengetahuan batin, alam dan sejarah tempat bahasa tumbuh dan hidup. Mari kita tengok sejarah bahasa kita. Tanpa menafikan masa sebelumnya, dan prasejarah di seantero Nusantara, sejarah bahasa kita—yang bisa dijangkau sebatas Abad ke-7 ketika Jawa Kuna sebagai bahasa lingua franca—diciptakan bukan oleh pujangga, melainkan oleh denyut hidup, gerak dan barangkali pergolakan masyarakat pada masanya. Suatu gerak yang kemudian berlanjut penggunaan aksara Dewanagari dan kalender saka. Lalu, sekitar Abad ke-11 atau ke-13 bahasa Melayu terlibat dalam gerak dan denyut sejarah pergaulan masyarakat bahasa. Kurang lebih seabad kemudian mulai dikenal huruf Arab Pegon dengan tarikh Islam dan mulailah muncul kesadaran sastra di seantero Nusantara—sastra Aceh, Jawa (Kakawin) Sunda, Bali (Kidung), Bugis (La Galigo yang masyhur itu), Batak, Minang. Sastra Melayu mulai dikenal luas dari Aceh abad ke-17. Hamzah Fanzuri dengan Syair Perahu, Syair Burung Pungguk dan lainnya adalah pencipta genre syair dan disebut-sebut sebagai pionir syair Indonesia. Pencipta genre prosa (hikayat-hikayat) mulai dikenal abad ke-18 melalui karya-karya Abdulllah bin Abdul Kadir Munsyi—seorang guru bahasa Melayu, penyusun Sejarah Melayu dan penerjemah kitab injil. Abad ke- 19, Raja Ali Haji—sastrawan keturunan Yang Dipertuan Muda IV dari Kesultanan Lingga, Riau—dikenal dengan Gurindam Duabelas dan syair-syair lainnya, juga penyusun Sejarah Melayu, peletak tata bahasa Kitab Pengetahuan Bahasa, atau Kamus Lhogat Melayu Johor-Pahang-Riau-Lingga.

Pendek kata, tak ada alasan sama sekali bagi kita untuk tidak menghormati bahasa (berikut pengalaman batin, alam, dan sejarahnya), apalagi abai, membonsai, dan merusaknya. Bukan saja bagi penyair, pengarang, pendongeng, ahli bahasa, tetapi juga seluruh masyarakat pengguna dan pencipta bahasa, tanpa kecuali, tanpa peduli suku, agama, golongan, kelompok, ras. Bahwa bahasa adalah daya hidup kita berbangsa. Bahwa bahasa kita adalah perjuangan bangsa. Pertanyaannya, pernahkah kita abai, membonsai apalagi merusak (kakek) nenek moyang segala ilmu kita ini—bahasa?

Kita patut berterimakasih pada Belanda yang pada abad ke-18 mengirimkan seorang bernama Melchior Leijdecker menata bahasa melayu. Seorang yang mengenalkan kalender Gregorian. Seorang yang pertama kali mengajar huruf latin dalam pengajaran bahasa Melayu. Leijdecker mula-mula ditugaskan oleh VOC menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Melayu. Dialah pencipta kata Tuhan yang berakar dari kata Tuan itu. Dialah yang berjasa atas terselenggaranya bahasa Indonesia dalam huruf latin, yang kemudian lantaran terjemahannya dinilai berbahasa Melayu Tinggi, lantas menerjemahkan ulang beraksara Arab dengan bahasa Melayu Pasar.

Tak hanya itu, sekitar pertengahan abad ke-19, Belanda juga mengirimkan seorang mantan masinis kapal bernama H.C. Klinkert, yang kemudian bekerja keras belajar dan menguasai bahasa Melayu dan huruf Arab Pegon, menerjemahkan Alkitab dengan huruf Arab Pegon, dan turut mendirikan Slompret Melajoe, surat kabar mingguan berbahasa Melayu yang pertama terbit di Semarang, 1860. Kita lihat, bahasa pasar juga yang digunakan para pesastra peranakan Cina dan peranakan Indo-Eropa di pertengahan dan akhir abad ke-19, yang umumnya mereka menulis sastra Prosa. Bila prosa Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi adalah sastra perjalanan (sejenis Babad dalam sastra Jawa), maka sastra keturunan Cina dan Indo-Eropa ini sudah berbentuk novel: Bintang Toedjoeh (Lie Kim Hok), Nyai Dasima (G. Francis) Cerita Siti Aisyah (H.F.R Kommer), Hikayat Siti Mariah (Hadji Moekti). Semarak sekali pertumbuhan sastra masa ini bak jamur tumbuh di musim hujan. Sampai ejaan pembakuan ejaan bahasa pun kali pertama dilakukan seorang Belanda, Prof. Charles van Ophuijsen 1901. Serta penertiban buku-buku sastra terbitan Balai Pustaka yang merupakan kepanjangan tangan pemerintah kolonial pada masanya.

Berikutnya, sudah barangtentu penghormatan tinggi juga atas ikhtiar Chairil Anwar, Idrus, Pramoedya Ananta Toer dan kawanannya di Kritiek en Opbouw, Gema Suasana, Orientatie kendati pada satu sisi bersiteguh pada ‘tanggungjawab penuh integritas seniman/intelektual secara individual’ pada sisi lain bersikeras ‘sebagai usaha memperjuangkan kebebasan dari penjajahan.’ Pendeknya, betapa bahasa adalah gerak dan denyut jantung masyarakat, medan perjuangan, pertaruhan, pertarungan justru dalam perannya sebagai apa yang disebut Ferdinand Saussure bertabiat arbitrary—sewenang wenang, bergantung pada konvensi sosialnya itu. Sementara pihak, juga dikatakannya, ‘dalam bahasa hanya ada perbedaan-perbedaan dimana identitas kata dibentuk oleh dari melakukan perbedaan-perbedaan di dalamnya.’ Katakanlah saling ketergantungan antara teks dan konteks, sastra dan penafsir, karya dan pembaca-kritikus.

Bapak-ibu, saudara-saudara dan kawan-kawan sekalian,
Perbedaan tak sama dengan “pembedaan.” Perbedaan adalah fitrah sebagaimana fitrah sastra bagi manusia. Sementara “pembedaan” tak lain pengalaman dan kenyataan sejarah. Mengingatkan saya pada dua novel karya penulis berkebangsaan Belanda kelahiran Surabaya, Szekely-Lulofs, Koeli—saksi pembedaan dari sudut mata batin seorang istri Tuan Kebun dari keseharian buruh-buruh perkebunan di Deli. Demikian pula dalam Max Havelaar, novel Multatuli—seorang penjudi di negerinya sendiri namun seorang yang tak sampai hati melihat “pembedaan,” pemerasan terjadi di Lebak Rangkasbitung oleh Bupati Lebak dan para pejabatnya dengan meminta hasil bumi dan ternak kepada rakyatnya. Pemerasan adalah fakta yang gamblang sebagaimana ditulis dalam karangan yang mencapai 100 tulisan di Soerabaia Courant di pertengahan abad ke-19 oleh AM Courier Dit Dubekart, seorang pegawai berkebangsaan Belanda yang kaya, dan uniknya, memilih menjadi seorang Jawa, dan hidup di pedesaan sekitar Blitar dan Kediri—tentu saja bersama orang-orang desa pada umumnya. Dia mendidik sendiri anak-anaknya membaca dan menulis sambil menggembalakan lembu-lembu. Walau mengaku tak membaca Max Havelar namun Dubekart rajin menulis di koran dan justru tulisan-tulisannya menjadi referensi penting Multatuli kelak di kemudian hari.

Dua novel tersebut adalah contoh, bahwa sekalipun sastra ditepikan, disepikan, disunyikan, dalam kesepiannya pun akhirnya terdengar bunyinya, suaranya, teriakannya bahkan dari dalam tempat paling dekat dengan dirinya—kekuasaan yang digugat oleh bangsa penguasa. Di situlah sastra sebagai pengetahuan sebagai ilmu bersumber satu-satunya dari pengalaman batin manusia. Dalam kosa kata Emha Ainun Nadjib; sastra itu bukan hanya benda, materi atau sesuatu demensi. Tetapi sastra juga sebuah thariqah, sebuah metodologi, sebuah getaran. Dia adalah sesuatu yang mengalir, dia bukan airnya. Dia alirannya. Dia bukan udaranya, dia sapuannya. Dia bukan lautnya, dia gelombangnya. Itulah sastra. Maka karya sastra hanya salah satu alat untuk mengantarkan manusia pada sastra.

Dua novel pengarang Belanda tersebut adalah suara dari suatu bangsa yang ditinggal jauh oleh zaman. Meski akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 teknologi industri sudah modern dengan mesin-mesin, namun demikian kepentingannya guna mempertahankan ondernaming dengan menghisap buruh-buruh perkebunan menyebabkan menjadi sebuah bangsa yang tak sepenuhnya ‘Bumi Manusia.’ Masyarakat tak dijunjung tinggi harkatnya atas pendidikan dan masalah-masalah humaniora. Barangkali saat itulah pengalaman pertama sebagai bangsa terjadinya kejutan-kejutan budaya, dan kehilangan-kehilangan bahkan kematian-kematian orientasi hidup, dan tak pernah benar-benar ditemukannya kembali, tak pernah dihidupkan kembali. Sebuah tata kelola pemerintahan yang dijalankan oleh Kumpeni alias Kongsi Dagang. Rendra menyebutnya era itu sebagai “Pendidikan menara gading. Tidak ada dialog yang tuntas dengan ilmu pengetahuan modern.” Memang ada lembaga pendidikan tinggi, namun demikian tidak ada riset fakta apa yang benar-benar terjadi dan dibutuhkan masyarakat. Era yang membutakan keingintahuan akan sejarah guna membangun kesadaran baru, cara baru, memandang hal-hal yang lama.

Dengan kata lain tak adanya kesiapan menghadapi kenyataan sejarah dunia dalam institusi, tradisi demi tradisi, emansipasi-demi emansipasi serta revolusi demi revolusi. Alhasil, pewarisannya abadi dan hanya berganti paras—pembangunan, korupsi, korporasi global, primordialisme, oportunisme—bagaikan bangunan tua yang belum terbongkar, juga belum dijadikan museum-museum riset atas nama masa depan. Mitos-mitos menumpuk dan menimbun kita, dengan nihilnya institusi-institusi yang menopang usaha mendekonstruksi, mengkonstruksi, menganalisa, menyambung seluruh data, fakta, dan narasi berbangsa secara sehat produktif, kreatif, kritis. Sementara, membangun kesadaran baru, cara baru dalam memandang hal-hal yang lama, adalah syarat mutlak suatu sejarah peradaban. Jikapun tersedia, kita harus mengeluarkan biaya, waktu, dan tenaga besar untuk mendapatkan data atau fakta, pada saatnya menyusun narasi baru kita kehabisan daya.

Bapak-ibu, saudara-saudara dan kawan-kawan sekalian,
Pelbagai revolusi dalam sejarah peradaban melahirkan tradisi-tradisi, emansipasi-emansipasi. Termasuk di lapangan sastra. Barangkali sastra sebagai pengalaman batin tidak atau belum bergerak baik dalam spirit, fungsi, visi maupun subtansinya. Benarkah? Ini pertanyaan bagi kita semua. Namun demikian alam dan sejarah terus berubah dan berpacu. Lantas apa jawabannya, ketika kita sama-sama percaya apa kata Kundera yang saya kutip di atas. “Manusia berpikir, Tuhan tertawa”? Yakni ketika spirit sastra itu ambiguitas dan kompleksitas. Bahwa musuh utama sastra adalah agelaste—orang yang tidak pernah tertawa, alias kebenaran tunggal. Bahwa sastra adalah karnaval keragaman suara; permainan yang ramai antar pelbagai bahasa, pelbagai wacana, yang mempersoalkan realitas, memparodikan, menggugat, dan bahkan bermain-main terhadapnya. Yaitu, ketika semakin manusia berpikir justru menjauh dari kebenaran, sastralah takdir medium yang paling tepat menyingkap denyut, gerak tubuh, dalam kerinduannya pada kemungkinan, ketakterdugaan: warna hidup yang tidak menuju pada suatu telos tertentu pasti—sebagaimana tujuan tiap kitab suci.

Saya perlu tegaskan lagi bahwa sastra adalah dunia yang sepi, sunyi, yang dalam takdir kesepiannya senantiasa mencoba bersuara, berbunyi, bahkan berteriak. Jika spirit sastra dari zaman ke zaman adalah membongkar tabu, membongkar mitos, dan apabila mitos adalah sebagaimana Barthes katakan, ‘sistem penandaan yang melibatkan ideologi di dalamnya,’ ‘sistem komunikasi dan wacana yang di dalamnya terdapat pesan,’ dan ‘semua hal bisa menjadi mitos,’ maka sastra bukan saja sebaiknya menjauhi pesan (dan pesanan) tetapi juga menimbang suatu cara bersastra. Bagaimana cara bersastra yang membongkar mitos? Ini pertanyaan kita semua, tersebab sastra pun berpeluang bebas untuk kemudian menjadikan dirinya mitos pula. Suatu ikhtiar bersastra yang mendekonstruksi sekaligus mengkonstruksi. Saya sendiri berpandangan, jarak antara keduanya mendekonstruksi dan mengkonstruksi kembali mitos-mitos dalam sastra sebagai pengalaman batin, itu dijaga oleh semacam profesi, karakter pesastra dengan visinya sebagaimana definisi Ibnu Chaldun “Jiwa menatap kilatan dari berbagai citra realitas. Melalui tatapan itu jiwa mendapatkan pengetahuan mengenai hal-hal mendatang yang ia rindukan.”

Dengan kata lain, bila spirit sastra tak berubah, lalu konteks alam dan sejarah sastra pun belum berganti—Seno Gumira Ajidarma malah menengarai sastra kita masih sibuk pada romantik, estetik, keindahan, baik-buruk, sastra atau bukan, dan hal-hal elementer lainnya—mengandung arti, katakan bahwa tantangan sejak revolusi teknologi dari zaman mesin uap, listrik, komputeriasi hingga digital-milenial, tidaklah sama sekali baru. Bahkan masih yang itu-itu juga. Sastra sekadar butuh karakter profesional dengan etika pengabdi humanisme yang anti klise, anti jargon, dan selalu sanggup masuk pada (ruang kosong) emansipasi guna menarasikan, mengolah, menjaga, menyesuaikan setiap perubahan zaman dalam kaitannya dengan realitas berbangsa. Sejarah menunjukkan perubahan adalah peradaban itu sendiri. Sastra bekerja dengan caranya sendiri dan sastrawan sebagai penarasi bangsa kendati jalannya sunyi, namun senantiasa menjadi oasis di tengah padang pasir dalam setiap periode revolusi teknologi. Lantas sebuah pertanyaan untuk sastra dan sejarah: mana yang berubah, dan mana yang stagnan?

“Manusia berpikir, Tuhan tertawa,” menjadi semacam ironi atas pemujaan pada rasio, bahkan pada revolusi teknologi-industri segala zaman. Juga sinisme. Bagi pemikir Jurgen Habermas sebagai suatu kritik (atas ideologi) melalui apa yang disebut emansipasi. Bahwa emansipasi bukan saja atas perbudakan, kolonialisme, kekuasaan, tapi juga “ruang kosong” atau “ketidaktahuan” dari pengetahuan rasio yang telah dipraktikkan ilmu pengetahuan selama ratusan tahun. Habermas terang-terangan menolak pengasingan rasio dari kehidupan dan ia mempertimbangkan refleksi agama, moral, dan budaya, termasuk sastra. Pendeknya, mengabdi pada humanisme-kemanusiaan, mengandung pengertian refleksi diri, memahami posisi diri sendiri, menyadari kepentingan untuk membebaskan diri dari kungkungan ideologi, memiliki kemampuan untuk mencapai otonomi dan tanggung jawab atau pendewasaan. Yakni, individu dalam apa yang disebut masyarakat komunikatif. Masyarakat komunikatif bukanlah masyarakat yang melakukan kritik melalui revolusi atau kekeresan, tetapi melalui argumentasi. Tepatnya dua macam argumentasi, yaitu: perbincangan dan kritik.

Bapak-ibu, saudara-saudara dan kawan-kawan sekalian,
Dalam pandangan (dan pengalaman) saya, masyarakat komunikatif cukup efektif diterapkan dalam suatu pemberdayaan masyarakat yang berfungsi mendidik, yakni ketika proses pendidikan berjalan bagi seluruh anggota masyarakat melalui interaksi keseharian. Kerap disebut masyarakat pembelajar yaitu, masyarakat yang memiliki semangat, kesadaran dan tradisi untuk terus mencari, menemukan dan menciptakan pengetahuan. Dua kata kuncinya, pertama, sifatnya horisontal, inklusif, partisipatif. Kedua, dibangun di atas landasan komunikasi yang baik dengan memanfaatkan teknologi komunikasi. Sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi etika perlakuan terhadap sesama, komitmen terhadap nilai-nilai (idealisme), kepekaan terhadap kebutuhan orang lain (empati), mengembangkan potensi kemanusiaan, sabar, tekun.

Mari kita kembali lihat kaitan bahasa, sastra, masyarakat komunikatif dengan suatu era revolusi—utamanya apa yang kita sebut milenial-digital ini. Sastra menjadi lebih efektif, ketika sebagai pengalaman batin, semua orang bisa bersastra, semua orang bisa terlibat dalam revolusi ini dan narasi-narasi sastra bisa begitu leluasa ambil bagian. Pertanyaannya adalah; sudahkah etika masyarakat komunikatif dalam lapangan sastra bekerja secara ideal, sehat, kritis, kreatif sehingga mengukuhkan karakter-karakter profesional di dalamnya pada apa yang kini kerap disebut orang; seniman, sastrawan, pensyair (?), budayawan? Sudahkan ruang maya, internet, digital, benar-benar dijadikan ruang diskusi sebagai learning society—untuk mewujudkan tumbuh kembang sastra yang lebih berkualitas? Katakan media sosial, sudahkah menjadi ruang publik yang tidak terikat dengan kepentingan pasar maupun politik, berfungsi baik—tempat diskusi dan argumentasi, sebagaimana ruang perbincangan dan kritik? Ketika momentum era baru milenium ini, butuh warga bangsa yang sehat, generasi yang genuine, kritis, produktif dengan bekal pengetahuan kebangsaaan yang lengkap, sudahkah sastra aktif ambil bagian dalam meruntuhkan jargon-jargon klise yang bertebaran, mitos-mitos yang bagaikan tembok besar di hadapan kita?

Sebaiknya kita ingat, jika budaya itu sistem simbol dari berbagai sistem tanda, padahal penanda bersifat arbriter, maka kebudayaan sebagai konvensi sosial menjadi mitos, menjadi arena pertarungan kuasa ideologi. Di lapangan sastra, jelas masa depan sastra ada di generasi sekarang dan yang akan datang. Namun demikian sudahkah diskusi bergulir di tengah kultur penggemar, kebudayaan tanpa etika, di semarak media sosial yang cenderung menolak diskusi dan meneguhkan chauvinisme, narsisisme, primordialisme dan bahkan fasisme? Dalam keadaan demikian, terus terang saya angkat topi terhadap apa yang dilakukan kawan-kawan di sejumlah daerah; Ruang Sastra Gresik, Kelas Sastra di Surabaya yang diinisiasi Ribut Wijoto, Candra Kirana Lamongan, Purnama Sastra Bojonegoro, Madura dan daerah lain yang menciptakan ruang perbincangan, diskusi, kritik, yang memungkinkan pula penciptaan-penciptaan ruang publik sastra. Suatu ruang guna meneguhkan diri, pada sisi lain, mengenali ruang-ruang psikis, menggali, meneguhkan eksistensi diri pada setiap individu pesastra. Bukankah menemukan identitas diri itu, bisa ditempuh dengan laku: kebebasan, keberanian, kesadaran dan juga aspirasi? Saya sering teringat kalimat; tak ada satupun laku manusia yang lebih dramatis dan menyakinkan ketimbang laku kita sendiri. Ini bukanlah bentuk narsisme, melainkan kesadaran untuk membuka ruang psikis akan menumbuhkan sikap emansipasi. Dan kita menjadi tidak perlu alergi pada kata-kata ideologis oleh karena sejak belum lahir pun kita telah berbaju ideologi. Manusia telah dan akan terus terbenam dalam ideologi, sejak sebelum jadi bayi hingga mati

Bapak-ibu, saudara-saudara dan kawan-kawan sekalian,
Kita punya pengalaman Orde Baru, ketika narasi-narasi dikuasai negara, era listrik, komputerisasi, satelit, televisi. Zaman ketika institusi data dan fakta dikuasai oleh pemerintah dan seluruh narasi menjadi seragam dan tunggal. Masyarakat tidak bebas menarasikan dirinya sendiri, dan tak punya penangkal membanjirnya isme-isme dan masuknya kebudayaan asing. Mengapa? Karena tak ada karakter utama, etika-etika profesi dibenamkan atas nama stabilitas keamanan, politik dan ekonomi. Setiap perubahan zaman dikalahkan itu. Akibatnya, nilai-nilai publik tak punya daya tawar. Yang ada hanyalah eforia-eforia. Tak terkecuali di lapangan sastra. Pencapaian-pencapaian sastra hilang begitu saja. Pencapaian-pecapaian karya-karya Budi Darma, Iwan Simatupang, Kuntowijoyo, Putu Wijaya, yang sepertinya sahut menyahut itu; terhenti. Goenawan Mohamad, Umar Kayam,Taufiq Ismail. Siapa yang bisa menjamin mereka bersih dari politik sastra? Pencapaian budaya popular pun yang sudah bagus tenggelam pula; Majalah Aktuil, Badai Pasti Berlalu (novel,musik,film), Puisi Mbeling, Cintaku di Kampus Biru. Sebuah pencapaian yang berujung krisis. Setiap pencapaian, pada saat terjadi perubahan, cepat sekali krisis dan terjadi kematian-kematian yang cepat pula kita lupakan. Sejarah kemudian mengulang-ulang kembali dengan kelupaan-kelupaan. Saya teringat dengan pencapaian Danarto, yang kemudian tertimbun oleh booming sastra Amerika Latin di sini. Kita jadi sedikit tahu jawabannya, kenapa bisa demikian. Karena kita diwarisi kematian-kematian karakter bangsa, budaya baca sejarah yang rendah, eforia, dan yang jelas karena tak punya strategi bersastra—cara cara berpikir, bertindak dan bereaksi dalam dunia baru. Ketergantungan kita tinggi setiap kali ada perubahan sejak Industri mesin uap, listrik, robotik dan kini internet, yang dengan kata lain; tidak siap.

Bapak-ibu, saudara-saudara dan kawan-kawan sekalian,
Dalam perjalanan sastra Jawa Timur, saya pribadi mengagumi pencapaian Mardiluhung, F Aziz Manna, Mashdar Zainal, Mashuri, Zoya Herawati, Muna Masyari, Nanda Alifya Rahmah—menyebut sedikit orang yang menjadi oasis dari suatu padang sastra yang sumuk kekeringan, terlebih akibat badai dari sastra satu alenia di facebook, twitter dan media sosial lainnya, karena mereka tidak mampu dengan serius melakukan pendobrakan-pendobrakan atas warisan yang tadi saya sebutkan. Demikianlah oasis sastra kita ke depan bergantung pada daya dobrak atas jargon-jargon, tabu, dan mitos-mitos kebudayaan kita di masa silam, di waktu kini, dan masa-masa kelak di kemudian hari. Pendeknya, yang utama bagi para pesastra, adalah masalah etika yakni tanggungjawab intelektual yang terintegrasi dengan pengalaman-pengalaman baru yang paling dekat dengan dirinya yang dalam bahasa Franz Magnis Suseno “dapat mempertanggung-jawabkan sikap-sikapnya terhadap pengalaman-pengalaman baru,” dan refleksi diri, bahwa moralitasnya berhadapan dengan kebebasan orang lain, ketakutannya, keterbatasannya. Pendek kata, karakter pesastra dalam menciptakan karya.

Pada detik ini, saya teringat pada tema “Redefinisi Identitas Jawa Timur,” yang digelar Dewan Kesenian Jatim 2017. Saya kira cukup menarik karena didasari pikiran sastra sebagai medium pembentuk identitas. Jelas, visinya terkait dengan perkembangan dan perubahan­perubahan di Jawa Timur. Bahwa sastra sebagai alat mengkritisi fenomena, bisa dipandang sebagai kritik terhadap persoalan kemanusiaan, lingkungan, politik, dan berbagai isu lainnya. Setidaknya memantik kritik dalam pengertian komunikasi.

Dalam diri saya pribadi terbit pertanyaan dalam konteks Jawa Timur, adakah hal ini terhubung dengan karakter masyarakat Jawa Timur telah jamak kita tahu ada Mataraman, Arek, Madura Pulau, dan Pandalungan. Sedangkan tlatah yang kecil terdiri atas Jawa Panoragan, Osing, Tengger, Madura Bawean, Madura Kangean, dan Samin (Sedulur Sikep)? Mungkin ada gunanya merasa diri berkarakter khas—punya semangat juang tinggi, terbuka, mudah beradaptasi, nekat (bonek), agraris-egaliter, bekerja keras, agresif, ekspansif—tetapi mungkin juga tidak, bila tak memiliki kesadaran pendobrak.[]

Ngimbang, 11 September 2019

S. Jai. Lahir di Kediri, 4 Pebruari 1973. Pengarang sejumlah novel—diantaranya, Tanah Api (LKiS 2005); Tanha—Kekasih yang Terlupa (Jogja Media Utama 2011, Pagan Press,2017); Khutbah di Bawah Lembah (Najah 2012, Diva Press). Novelnya Kumara—Hikayat Sang Kekasih memenangkan sayembara novel Dewan Kesenian Jawa Timur 2012 dan diterbitkan lembaga tersebut pada Desember 2013, dan terbit ulang Pagan Press, 2017. Cerpennya Rembulan Terperangkap Ranting Dahan, terpilih sebagai pemenang utama sayembara cerpen berdasarkan Cerita Panji oleh lembaga yang sama bersama penulis-penulis kenamaan; Gunawan Maryanto, Widodo Basuki dan Ratna Indraswari Ibrahim (2010). Pada tahun 2013 sebuah esainya Romantika, Tradisi Tutur dan Moral Intelektual (perihal film Romy dan Yuli dari Cikeusik) dinobatkan sebagai salah satu tulisan terpilih Yayasan Denny JA untuk Indonesia Tanpa Diskriminasi. Novelnya yang lain Tirai, Desember 2014 diterbitkan Penerbit Garudhawaca, Jogjakarta. Serta sebuah buku proses kreatifnya berjudul Melawan Kematian—sebuah otobiografi estetis terbit pada April, 2015. Tahun yang sama, novelnya GURAH—Tak Sempat Dikubur diterbitkan Penerbit Pagan Press. SIRRI dan kisah cinta lainnya adalah kumpulan cerpennya yang terbit pada 2016. Kumpulan puisinya diterbitkan Pagan Press di bawah judul Upa Jiwa, Hikayat Perjalanan Ke Belakang (2017). Buku kumpulan esainya Postmitos terbit tahun 2018 dan meraih penghargaan Anugerah Sotasoma dari Balai Bahasa Jawa Timur untuk bidang kritik sastra pada tahun 2019. Pada tahun ini pula (2019) kembali menerbitkan novel berjudul Ngrong. Penerima anugerah penghargaan seni dari Gubernur Jawa Timur tahun 2015 ini kini tinggal di dusun Tanjungwetan, Kecamatan Ngimbang, Lamongan dan mengelola penerbit Pagan Press. Sehari-hari bisa dihubungi di 081-335-682-158 atau S. JAI (@jaitanha) on Twitter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *