KITAB IBLIS (2)

Taufiq Wr. Hidayat *

Dalam cerita Taufiq el-Hakim, tampak jelas bahwa agama tak dapat menghantarkan Iblis pada Allah. Semua agama samawi itu tak bersedia menerima Iblis memeluk agama, menghalanginya bertobat.

Jika benar dan diyakini agama ialah jalan atau sebentuk alat menuju Tuhan, mendapatkan kasih dan ampunan-Nya, kenapa ia tak sanggup menerima Iblis bertobat melalui agama? Pengertian ini dapat berkembang; mampukah agama memberi jalan keluar bagi penderitaan manusia yang diasingkan dalam noda dan kekejian? Apakah agama sanggup menjadi alasan fital terciptanya perdamaian dan mengubur kebencian? Bisakah agama mengayomi keputus-asaan manusia berdosa sebagaimana Iblis yang hendak bertobat lantaran penyesalannya? Ataukah agama hanya sebagai suatu dakwahan yang harus diterima siapa pun, hanya sarana melakukan penghakiman atas perbuatan manusia dengan laknat, dosa, kutukan, neraka, dan memenjarakan kebebasan manusiawi dengan ancaman? Apakah agama ajaran Tuhan atau belaka institusi yang sengaja dibentuk oleh kekuasaan guna menertibkan atau menguasai masyarakat? Apakah agama alat kemanusiaan atau alat kekuasaan manusia?

Pertanyaan-pertanyaan itu bukanlah pertanyaan-pertanyaan baru. Berabad lampau, Nabi Musa mempertanyakannya di hadapan sang ayah, yakni Fir’aun. Lalu Isa al-Masih menentang kesewenangan atasnama agama melalui institusi yang mengklaim dirinya pewaris Taurat dan Zabur. Barangkali Iblis pun tak cukup digjaya menyeret manusia dalam noda dan pengingkaran jika Iblis dipahami sebagai “makhluk lain” di luar diri manusia beserta perilaku-perilaku sejarahnya.

Dikisahkan dalam kitab suci, iblis diperintahkan Tuhan bersujud kepada Adam. Iblis menolak. Ia diusir dari surga. Alasan iblis sederhana, dia menolak bersujud pada Adam (manusia) sebab Adam diciptakan dari tanah sedang dirinya diciptakan dari api. Api lebih kuat dan mulia daripada tanah. Pembangkang! Iblis diusir.

Ada yang membela iblis dengan membuat alasan lebih menarik kenapa ia menolak sujud pada Adam. Sebab, katanya, iblis hanya mau bersujud kepada Tuhan. Tak ada sujud selain hanya kepada Tuhan semata. Tampaknya alasan ini menarik, meski iblis tak pernah mengungkapkannya. Barangkali masalahnya bukan di situ. Tetapi, pembangkangan yang berbuntut pada pengingkaran. Iblis diperintah Tuhan, dia menolak. Dia mengingkari cinta. Apa pun “yang dibutuhkan” dari jiwa yang dicintai, tentu dipenuhi sebagai wujud kesetiaan dalam “jalan cinta”. Sebentuk penempaan terhadap cinta yang dipuja-puja. Benarkah cinta itu? Apa ukuran kebenarannya?

Dalam tafsir al-Misbah, Quraish Shihab mengurai kata “sujud”. “Sujud” memiliki sejumlah pengertian. Pertama; pengakuan dan penghormatan terhadap keunggulan alamiah yang liyan sebagaimana “sujud”nya malaikat pada Adam. Kedua; kesadaran akan kealpaan dan kekurangan diri, rendah hati menghargai kebenaran atau kelebihan yang lain, sebagaimana pengakuan para penyihir Fir’aun terhadap keunggulan Nabi Musa. Ketiga; kebersediaan dengan sepenuh kesadaran menghargai, menghormati, melalui kehidupan jagat raya sebagaimana “sujud”nya semesta alam pada ketentuan-ketentuan alamiah yang ditetapkan-Nya.

Dari pengertian sujud itu, perintah sujud kepada Adam bukan pemberhalaan. Melainkan kesemestian sebagai keniscayaan agar tata sosial-kemanusiaan berjalan wajar, merawat, dan menjaga nilai-nilai yang melekat pada dirinya. Wajar jika iblis menolak, lantaran ia merasa berada di puncak status sebagai makhluk. Sehingga memandang rendah yang liyan. Superioritas yang menjadi sumber segenap kejahatan. Bukan kesetiaan. Tapi, pengingkaran terhadap cinta, yakni pembangkangan yang tumbuh dari kecongkakan dan kebakhilan. Bukankah sifat ini berada dalam diri manusia? Lalu di manakah iblis? Ia tak berada di tempat-tempat becek bernoda atau dalam kesempitan. Melainkan justru paling mungkin bercokol di dada orang-orang berkuasa, menyandang status, yang merasa lebih suci dari pelacur atau pendosa, yang merasa berada di puncak pencapaian tertinggi. Watak lebih unggul dari yang lain, memunculkan penindasan, pengerusakan alam, kebencian dan kebakhilan yang membatu. Namun, mungkinkah keiblisan itu mendapatkan ampunan?

Dalam buku klasik “Ithaf as-Sadat al-Muttaqin” karya Husain al-Zubaidi, terdapat kisah metaforis menarik. Sahdan, iblis menemui Nabi Musa. Iblis meminta Nabi Musa bertanya kepada Tuhan, apakah dirinya bisa diampuni? Tuhan menjawab pertanyaan Nabi Musa: “Ku-ampuni iblis, asalkan dia mau bersujud pada “bahan penciptaan” Adam”. Nabi Musa menyampaikan jawaban Tuhan pada iblis. Dan iblis tetap tak sudi bersujud pada tanah.

Jika iblis “bersujud” pada Adam, pada tanah, pada bumi. Maka ia telah menjaga, menjunjung tinggi, dan melestarikan nilai kemanusiaan. Suatu keniscayaan yang dapat membawanya pada ampunan, bukan? Jika tidak. Selamanya ia terkutuk. Dan iblis tak pernah tampak. Yang tampak hanya manusia. Siapakah yang terkutuk; yang tampak atau yang tak tampak? Institusi agama tak pernah menjawabnya dengan tegas, bukan?

Muncar, 2018

*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *