Kemelut Perjuangan Meraih Kemenangan

Judul Buku: Minamoto no Yoritomo; Akhir Kekuasaan Klan Taira
Penulis: Eiji Yoshikawa
Penerbit: Kansha Books
Cetakan: Pertama, Januari 2013
Tebal: 394 halaman
Peresensi: Supriyadi

Sejarah peradaban dunia dari masing-masing imperium yang berkuasa selalu mencatatkan kisah perang. Adu fisik dan kekuatan tempur tersebut selalu menjadi hal yang secara rutin terjadi dalam catatan sejarah demi kepentingan berbagai hal dan misi serta visi tertentu. Perang selalu menghiasi berbagai kisah sejarah dan akhirnya membentuk peradaban dunia hingga sekarang ini.

Perang selalu menyisakan tumpah darah dan air mata yang terus mengalir. Kekejaman, kepedihan, kekalahan, kemenangan, hingga kepahlawanan menjadi motif yang tidak bisa dilepaskan ketika perang harus benar-benar dikobarkan. Dengan demikian, perang menjadi bagian dari tingkah manusia yang memiliki ambisi besar dalam suatu fase kehidupan pada sebuah peradaban. Bisa dikatakan pula bahwa perang adalah produk peradaban manusia.

Perang pula yang mengilustrasikan Eiji Yoshikawa dalam sebuah karya apik berlatar Jepang di masa lalu yang berjudul “Minamoto no Yoritomo; Akhir Kekuasaan Klan Taira”. Dengan kisah yang sarat dengan tumpahan emosional, Eiji Yoshikawa berhasil memberikan sebuah kisah yang sangat menarik untuk disimak dan dibaca.

Kisah yang disajikannya adalah perihal kepahlawanan Minomoto no Yoritomo dalam aksinya memberontak terhadap hegemoni kekuasaan klan Taira yang menguasai Kekaisaran Jepang pada masa tersebut. Yoritomo sebagai anak sulung dari Sama no Kami Yoshitomo, seorang pemimpin klan Minamoto yang menelan kekalahan dalam Perang Hougen Heiji di Rokujo-Kawara melawan klan Taira no Kiyomori, tergugah nyalinya untuk bangkit dan meneruskan perjuangan melawan klan Taira meskipun ia sendiri sedang diasingkan secara terpisah dari ketiga adiknya.

Dengan nyali dan keberanian tersebut, Yoritomo berusaha untuk menghimpun sisa-sisa klan Minamoto yang terpencar dan terpisah. Hal itu dimaksudkan untuk memberontak hegemoni klan Taira yang menjadi musuhnya, terutama Kiyomori, pemimpin klan Taira yang membenci kaum agamawan karena menurutnya mereka hanya menyebarluaskan kebusukan demi meraih kekuasaan. Karena sangat emosional dan tak bisa menyembunyikan perasaan, Kiyomori cenderung mewujudkan kebenciannya (terhadap kalangan agamawan) dengan membuat orang sangat takut (hlm. 8).

Selain ketidaksukaan atau kebencian terhadap kalangan agamawan yang dipandangnya beragama secara salah, Kiyomori juga bertindak represif dan nepotis. Sebagai pemimpin, ia menempatkan anggota keluarganya pada posisi-posisi kekuasaan yang sangat menguntungkan di istana. Hal itulah yang pada gilirannya memunculkan sikap tidak suka terhadap perilaku klan Taira ketika itu.

Kondisi ketidaksukaan terhadap klan Taira yang represif, nepotis, dan membenci kalangan agamawan tersebut menjadi kesempatan bagi Yoritomo untuk membangkitkan semangat juang keluarganya. Rasa percaya diri Yoritomo pun semakin meningkat ketika telah mendapat surat perintah dari Pangeran Mochihito serta dukungan penuh dari veteran perang bernama Houjou Tokimasa. Dengan demikian, dimulailah pertempuran yang tidak seimbang antara klan Taira dan klan Minamoto.

Pertempuran sengit tersebut tidak seimbang karena pasukan dari klan Minamoto hanya berjumlah 300 samurai, sedangkan pasukan dari klan Taira berjumlah 3.000 samurai. Dua kekuatan yang sungguh tidak seimbang tersebut bisa dipastikan bahwa kekalahan berada di pihak klan Minamoto. Akhirnya, pasukan klan Minamoto yang tersisa dari kekalahan perang tersebut pun sebagian berhasil melarikan diri dari kejaran pasukan Taira. Mereka yang berhasil melarikan diri tersebut kemudian bersembunyi di gunung.

Di balik persembunyian tersebut, Yoritomo pun kembali menyusun kekuatan beserta pasukan klan yang tersisa. Meskipun gagal dalam pertempuran pertama, hal itu justru menjadi pemicu semangat juang untuk memenangkan pertempuran berikutnya. Kegagalan tersebut tidak menciutkan nyali perintis pemerintahan militer bernama Keshogunan Kamakura ini. Justru dia berhasil meraih kesetiaan banyak tokoh dan pasukan dari berbagai daerah.

Pasukan demi pasukan pun terhimpun menjadi banyak. Kebanyakan baju zirah dan perlengkapan perang mereka usang dan sederhana. Busur dan anak panah pun buatan sendiri, tampak kasar tapi kukuh. Ribuan atau puluhan ribu komandan serta prajurit yang berpenampilan seperti itu berjalan tanpa henti. Ibarat sungai besar merangkul aliran-aliran air di lembah dan sungai-sungai kecil di padang rumput, dalam perjalanan pasukan Yoritomo menerima orang-orang yang menyatakan kesetiaan. Saat mereka sampai di Kamakura, jumlah pasukan sudah berkembang sampai-sampai desa nelayan terpencil itu dipenuhi orang dan kuda (hlm. 167).

Setelah pasukan besar tersebut terhimpun dan menguat, pasukan pun menyerang ibukota dan melancarkan serangan demi serangan untuk mengudeta klan Taira. Sikap kepahlawanan, perjuangan pantang menyerah, dan alirah darah serta air mata pun menghiasi awan langit di atas pertempuran tersebut. Kematian dan jenazah pasukan pun memenuhi area pertempuran yang porak poranda.

Sayatan pedang dari para samurai, hentakan pukulan dari para pasukan tempur, dan serbuan anak panah pun menjadi media yang mampu menumpahkan darah dan merenggut banyak nyawa. Sementara itu, sikap-sikap kepahlawanan dan perjuangan tanpa putus asa pun menjadi hal yang sangat menonjol dalam pengisahan yang diceritakan oleh penulis kenamaan Eiji Yoshikawa dalam buku ini.

Buku setebal 394 halaman yang menyimpan pesan-pesan moral ini pun patut dijadikan referensi berkehidupan. Kekejaman dalam pembunuhan, jiwa kepahlawanan sejati, dan beberapa perlakuan baik serta jahat pun menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam buku ini yang hal itu menjadi pertimbangan tersendiri bagi pembaca dalam mencerna setiap pesan yang disampaikan dalam kisah ini.
***

https://areabuku.wordpress.com/2013/04/29/kemelut-perjuangan-meraih-kemenangan/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *