DUNIA YANG LAPAR


[Pelabuhan Kampung Ujung, foto oleh Aditya Prayuga]
Taufiq Wr. Hidayat *

Stanley Kubrick membuat “The Shining”. Film yang diadaptasi secara bebas dari novel Stephen King. Dalam genre film horor, “The Shining” yang dibangun Kubrick pada tahun 1980, seakan tak tergantikan. Absurd. Mencekam. Dan ambigu. Tetapi puitis. Meski telah dibuat remake dari film tersebut berjudul “Doctor Sleep” (2019), garapan Mike Flanagan, tetap saja tak sanggup menggantikan kejeniusan senematis Kubrick yang menakjubkan dalam “The Shining”. Namun setidaknya memperpanjang deretan narasi kelam dan rawan yang tak mudah terpecahkan dalam kehidupan manusia.

Di akhir film, Kubrick menampilkan foto lama di dinding Overlook, hotel megah yang diam dan sepi di tengah pegunungan bersalju. Salah satu wajah dalam foto lama itu tak lain adalah wajah Jack Torrence. Ia hendak menyampaikan pesan, bahwa Jack pernah ada sebelumnya. Jack sendiri. Atau yang mirip dengannya. Yang kini hadir kembali sebagai orang lain, atau barangkali memang dirinya sendiri. Ia begitu karib tokoh dengan Lloyd, seorang bartender hotel yang telah meninggal. Jack sangat ringan melintas di antara perbedaan zaman atau peristiwa dalam bangunan megah tersebut. Dalam Film ini dikisahkan, jauh sebelum Jack, ada Charles Grady yang telah membantai anak dan istrinya di hotel itu pada 1970, ia merupakan perwujudan reinkarnatif dari Delbert Grady jauh sebelum 1970. Memang antara novel Stephen King dan film garapan Kubrick terdapat perbedaan. Dengan jenius, Kubrick membuat tafsir lain dari novel Stephen King dalam filmnya. Bisakah manusia terbebas dari siklus kejahatan, memutuskan keberulang-ulangan kekejian dalam sejarah yang menciptakan candu bagai alkohol atau norkoba? Mampukah ia terlepas dari dunia—sebagai ruang “hotel sejarah”, yang menyimpan peristiwa keji yang dilakukan secara brutal oleh tokoh-tokohnya? Terbebas dari labirin kekejaman sebagaimana Danny yang meloloskan diri, mengacaukan keberulang-ulangan yang terjadi dalam Hotel Overlook itu?

Horor dan teror tak pernah punya alasan yang kuat selain kesepian dan rasa takut yang menghinggapi jiwa manusia dengan kenangan-kenangannya yang kelam. Ia boleh jadi hanya peristiwa sederhana, tak heboh, dan lokalistik. Namun ia tak lain adalah hantu sejati manusia yang dibawa ke mana pun dalam hidupnya. Menggoda untuk selalu dipuaskan. Dilangsungkan. Diselenggarakan. Dengan segala kecemasan dan kesepian yang tak menemukan jalan keluar.

Ketakutan dan kejahatan bagai api dan asap. Nyaris tak ada api tanpa asap, setipis apa pun. Ketakutan akan hancurnya agama atau eksistensi kekuasaan, akan membuat orang melakukan kekejian, kejahatan atasnama agama atau kekuasaan. Tapi memang tak sesederhana itu. Seringkali keruntuhan akal sehat dalam jurang ketakutan yang curam dan gelap, menciptakan brutalitas. Ketakutan tak selalu diperhadapkan adegan darah. Sejatinya yang ia takutkan adalah dirinya sendiri yang dicekam hidup berulang-ulang tak bermakna. Rutinitas yang mengurung dalam kesepian, tanpa orang lain. “The Shining” menampakkan teror tatkala seorang istri melihat rangkaian kata kebencian suaminya yang ditulis dengan mesin ketik berulang-ulang pada ribuan helai kertas. Acapkali kejahatan dimulai dengan ujaran kebencian, caci maki, dan olok-olok gelap. Kekejian bukan horor itu sendiri, ia hanya upaya praktis dan pintas dari kehendak gila berkuasa dengan cara menakut-nakuti, mengancam, membenci, menghabisi. “Hidup tanpa konsekuensi,” ujar manusia setengah iblis dalam “Doctor Sleep” garapan Mike Flanagan.

Tapi barangkali bagi Kubrick, horor terletak dalam dada manusia. Jiwa yang kelam. Misteri dan teka-teki. Sesungguhnya penjahat yang amat sadis dan brutal, tak lain diri sendiri. Manusia harus mewaspadai diri yang lain dalam dirinya sendiri itu. Lantaran dalam dirinya, ada sosok asing yang sepenuhnya sukar dikenali dan sukar ditundukkan, namun karib, ujar Freud. Dan tak bisa dihindari. Sosok asing dan sukar dikenali itu dekat sekali bagi diri melebihi siapa pun, ke mana pun sosok itu ikut, bahkan dalam aktivitas yang sangat privat. Dalam tidur ia menjelma mimpi. Dalam sadar ia menjadi pengandaian-pengandaian atau pikiran ganjil yang tak lazim, menyimpang, liar, menakutkan. Bernyanyi riang dalam ramai. Berbisik pelan, merayu seksi di dalam sepi.

Dalam “The Shining”, Shelly Duval yang berperan sebagai istri tokoh Jack (Jack Nicholson), berwajah biasa, dengan kedua mata yang besar, tubuh ramping. Kesan seorang perempuan modern yang polos, ibu rumah tangga biasa. Ia mempunyai seorang putra (Danny Lloyd) yang berkawan dengan sosok khayalan bernama Tony. Siapakah Tony? Ia adalah sosok lain yang hidup dalam mulut seorang Danny. Tony memberitahu Danny perihal peristiwa sadis masa lalu. Dan kesadisan itu akan terulang di masa depan. Film horor tanpa “adegan horor” keji ini, tetap membuat bergidik. Terkenanglah peristiwa tak terlupakan, menghantui ingatan bagai kenangan yang selalu gagal disingkirkan. Menjadi trauma yang tak mudah diputuskan. Di situ kiranya horor terjadi, dijalin dalam rangkaian sinematografi dengan kecerdikan Kubrick yang mumpuni. “The Shining” menyadarkan, keniscayaan dari trauma akan berlanjut dan terus berlangsung meski sesudah peristiwanya usai. Karakter dan peristiwa dalam film itu, foto lama mirip Jack di akhir film, Danny dan Tony sebagai kawan imajinernya, juga kekerasan yang sama antara Grady di masa lalu dan Jack di masa kini pada anak-istrinya, menggambarkan secara tegas pengulangan dan kembalinya karakter jahat dari masa lalu yang terjadi dalam hotel megah di tengah pegunungan bersalju tersebut. Ia menyampaikan sesuatu supaya menjadi pertimbangan dan permenungan; mungkinkah manusia melepaskan diri dari warisan kejahatan? Mungkinkah pula ia menghadapi kejahatan yang terulang atau kembali dengan bentuk yang berbeda? Dalam “The Shining”, tokoh Jack mati sebelum menuntaskan kesintingan membunuh keluarganya sendiri. Lalu apakah karakter jahatnnya—orang lazim menyebut ruh atau jiwa, akan menjelma kembali di masa mendatang? Dan di tangan Kubrick, kejahatan bukan tak mungkin dienyahkan. Tokoh Jack tak bisa membunuh anak-istrinya. Sehingga siklus kekejian Hotel Overlook telah diretas. Bagaimana itu terjadi? Jawabnya: perlawanan. Istri dan anak si Jack melakukan perlawanan. Sang ibu melawan karena dimotivasi secara alamiah melindungi anaknya. Dan sang anak harus berlari dari kekejaman ayahnya yang kalap. Keduanya bertahan hidup. Danny, anak si Jack, tak mewarisi karakter jahat ayahnya. Namun trauma psikologis telah merusak sebagian besar hidupnya di masa mendatang, ini terjawab dalam film “Doctor Sleep” garapan Mike Flanagan yang dibuat juga dari novel horor Stephen King.

Dalam film “Doctor Sleep”, karakter yang dibangun Flanagan pada sosok Danny, membuatnya bertemu gadis kecil bernama Abra (Kyliegh Curran), dan dedengkot manusia setengah iblis “True Knot Rose The Hat” yang diperankan Rebecca Ferguson. Danny telah berusaha sekuat tenaga mengurung rapat atau memendam jauh trauma dan ketakutan dalam kotak-kotak imajiner dalam dirinya. Kenangan pada “The Shining” Kubrick, dibangun secara suara dan beberapa potongan peristiwa masa lalu dalam ingatan Danny. Namun paradoks, absurditas, dan kedalaman “Doctor Sleep”nya Mike Flanagan (2019), saya rasa masih belum mampu menyetarai “The Shining”nya Kubrick (1980), kecuali kualitas gambar.

Ketakterdugaan yang melahirkan horor atau kekejaman—dalam Kubrick, terjadi akibat pengaruh ingatan perihal kekejaman masa lalu, pengaruh ruang dan waktu yang membangkitkan kenangan kekejian, sebentuk siklus atau reinkarnasi kejahatan. Ada motivasi aneh dari sebuah peristiwa, mendorong keinginan liar seseorang melakukan kejahatan. Ia dirangsang suatu keadaan dari masa lalu tersebut, mengendalikan kesadaran dalam depresi. Menjelma neorotik, arogan, tak berperasaan, insting kerakusan yang menggerakkan kepintaran. Sebagaimana dunia. Penghisapan, penguasaan, pengerukan. Apa yang dicemaskan Marx dalam “Capital” yang menjadi tesis Lenin dalam “Imperialism, Higest Stage of Capitalism”, mentahbiskan bahwa perkembangan politik kapitalisme sejak seabad lampau—hingga kini, tak terlepas dari kerangka dasar yang diniscayakan: penguasaan tanpa batas.

Namun benarkah manusia mengerti; bahwa dirinya tak lain adalah sosok asing di tengah realitas hidupnya? Ia tak sepenuhnya memahami, apa sesungguhnya yang terjadi pada tempatnya berdiri. Dalam “Doctor Sleep”, Danny menegaskan hal itu pada sosok manusia setengah iblis betina yang hendak menghisap jiwanya: “kau tidak mengerti di mana kau tengah berdiri”. Akhirnya ia harus kembali hadir dalam wujud hantu, atau sosok imajiner dalam diri gadis kecil itu, dan mengatakan untuk yang kesekian kalinya: “dunia adalah tempat yang lapar”, seperti hotel megah di masa lalunya yang menelan manusia dalam kegelapan. Sehingga setitik cahaya yang menyala di dalam kegelapan itu, harus dibunuh dan dimusnahkan. Dalam gelap, hidup tak butuh konsekuensi, hanya makan teratur, katanya. Dan hidup sepanjang-panjangnya.

Tembokrejo, 2020

*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Bahasa »