Anak Klithih

Rinto Andriono *

Senja sedang kelabu, sekelabu itu pula suasana hati Bowo. Mendung sudah berat menggantung, namun hujan belum juga turun. Begitulah rupa langit semenjak siang, langit sedang bimbang, mau hujan atau tidak hujan. Hati Bowo pun sudah lama di ujung amarah, namun apa daya, dia tidak cukup benci untuk marah namun juga tidak cukup kasih untuk sabar. Hati Bowo mengeras, dia membangun cangkang, menutup segala kesan indera, sekelebat saja kesan perkelahian itu melintas, itu bisa mengubah segalanya.

Plak! Terdengar lagi suara tamparan. Seorang perempuan terdengar menangis sembari memuntahkan makian tentang segala rupa kesalahan suaminya. Mereka saling beradu makian dengan tamparan. Senja yang lembab dan pekat tidak membuat amarah mereka mereda.

“Aku tidak tahan!” gumam Bowo.

Dia berjalan keluar rumah, meraih motor. Usianya belum tujuh belas namun dia sudah lihai bermotor layaknya pria dewasa. Tangannya meraih sesuatu, sesuatu yang diyakininya akan membantu menuntaskan marahnya.

“Sumpah! Aku harus keluar!”

Hatinya tidak tahan terlalu lama menggantung amarah. Marah yang tidak kunjung meledak namun tidak pula segera mereda. Hatinya ogal-agil. Tanpa helm dia memacu motornya. Sesuatu itu terselip di dalam kaosnya. Tidak bisa menghalau angin dan tidak juga mengusir dingin. Namun itu satu-satunya perwujudan amarah yang bisa dia cetuskan. Hanya itu kanal amarah yang bisa dijangkau remaja.

Bowo jauh memacu motornya ke utara. Jalanan semakin sepi. Dia ke utara, berarti semakin menggunung hingga ke lereng Merapi. Hari semakin malam, semakin jarang orang melintas di jalanan pegunungan. Dalam sepi, seiring dengan irama tenaga motornya, hatinya semakin jumawa, langit menjadi berbinar, dunianya yang sempit menjadi semakin longgar, dan dia menjadi pongah, bahkan cukup pongah untuk untuk mengakhiri hidup seseorang.

“Aku Bowo Prakoso!” teriaknya sambil semakin laju.

Sebuah titik merah tampak jauh di depan. Itu lampu belakang sebuah motor lain yang berjalan kelelahan. Pengemudinya kuyu karena kelelahan bekerja di shift malam.

“Tidak pernah aku merasa seperti ini! Aku Bowo Prakoso!”

Ini adalah pengalaman baru bagi Bowo. Tiga jam lalu, dia masih mengembik bimbang di kamarnya yang remang. Sekarang dia merasa bagai Tuhan, yang bisa membolak-balik segala keadaan. Dia merasa begitu berkuasa. Adrenalin yang sekarang berkuasa di badannya. Keberanian yang dimotori amarah begitu mudah mengambil alih dirinya.

“Persetan dengan segala soal di rumah!”

Seiring laju motor Bowo melampaui orang itu, sebuah benda melengkung berkilat melesat keluar dari dalam kaosnya. Benda itu bergerak serasi mengikuti lingkar tulang rusuk dari punggung ke dada orang itu. Ada sedikit hambatan ketika Bowo menarik benda itu, tapi itu membuat jantungnya semakin terpacu.

“Modar!” teriaknya lepas.

Teriakan Bowo diikuti suara gedubrak motor jatuh. Seorang pekerja shift malam pabrik sarung tangan golf tersungkur roboh. Gedubrak suara motor yang jatuh itu seperti mengaktifkan sesuatu di dalam tubuh Bowo. Jantungnya berdegub semakin kencang, namun sekarang nyalinya sudah jauh menciut dibandingkan tadi. Jantung yang berlompatan dan nyali yang ciut itu adalah kombinasi yang baik untuk memeras keringat dingin.

Tiba-tiba darah mendesak kencang ke kepala Bowo. Desakan itu menghadirkan kesadaran baru.

“Aku harus kabur!” gumam Bowo sambil menahan kandung kemihnya yang menciut seolah hendak mendorong isinya keluar.

Perutnya yang masih remaja mulas tak karuan, hawa dingin mendesir menguasai tubuhnya. Dia melempar benda melengkung berlumuran darah ke sawah. Dia mengelap tangan sekenanya dengan kaosnya.

“Kemana aku harus lari?” tadi tidak ada percakapan itu di dalam benaknya. Sekarang dia benar-benar kebingungan.

Setang motornya menjadi lengket. Baunya pun anyir oleh darah yang mulai mengering. Lututnya menggigil mengapit sepeda motor yang sekarang terasa lebih berat. Tidak ada yang bisa diingatnya kecuali rumah. Dia panik! Begitulah remaja, dalam benaknya dia sering merasa sudah mampu padahal nalarnya masih tertinggal. Dia ingin menangis di hadapan bapak dan ibunya, namun apa daya hati mereka sedang tidak terbuka. Mereka sedang sibuk saling berseteru. Dia hanya bisa menyelinap diam-diam kembali ke kamarnya yang remang.

“Goblok!” maki Bowo pada dirinya sendiri.

Segala sesal runtuh dari langit-langit kamar. Bowo tertidur karena kelelahan badan seorang remaja. Perutnya lapar, dia belum makan sedari sore itu. Dia cuma bisa menggelungkan tubuhnya. Dia rindu hangat sapa bapak ibunya, yang sebenarnya mereka mungkin ada di bagian lain di rumah itu, namun mereka sedang saling beradu punggung seolah tidak saling kenal satu sama lain. Ada kebencian di antara mereka yang membuat Bowo tidak bisa lagi merasakan hangat dari mereka.
****

Mata Wulan sembab. Dini hari tadi seseorang menemukan bapaknya tersungkur di jalan pulang dari pabrik. Tubuhnya robek sepanjang tulang rusuk dari belakang ke depan. Dia pasti lebih dahulu kehilangan banyak darah sebelum dia meninggal. Jalanan tempatnya tersungkur, miring ke Selatan, sehingga darah bisa mengalir menjauhi tubuh luka dan menyeberangi aspal sebelum akhirnya meresap ke dalam bumi. Tubuh bapaknya sudah dingin ketika dia ditemukan. Mereka telah membersihkan dan menutupi memar jatuh di dahi seadanya. Mereka ingin menampilkan bapak Wulan sedamai mungkin. Sekarang dia hanya terbujur kaku di sana. Di hadapan altar kecil yang dibuat dadakan.

“Sabar ya Wul!” cuma itu kata-kata yang bisa diucap oleh kawan-kawannya.

Sungguh kata-kata penghiburan tidaklah cukup untuk menutup lubang besar yang tiba-tiba hadir di hati Wulan. Hati Wulan bagai kepompong yang telah kehilangan isinya.

“Terima kasih,” kata Wulan lirih.

Di dalam doanya pagi ini, Wulan meratap kepada Allah Bapa, “Sekarang aku merasa hanya jasad belaka, Bapa. Rohku seolah pergi bersama Bapakku.”

Wulan sangat mencintai Bapaknya. Wulan kecil lebih sering bermain bersama bapaknya karena dahulu, ketika dia berumur setahun, ibunya bekerja di jiran untuk mereka. Sepulang dua tahun bekerja di jiran, ibunya hamil adik Wulan, lalu kemudian gantian bapaknya yang bekerja sebagai operator mesin press sarung tangan golf. Ketika kecil, bapak Wulan-lah yang mengantarnya sekolah minggu. Mendampinginya berdoa bersama sebelum tidur, mendoakan diri mereka sendiri dan mendoakan ibunya yang sedang jauh di jiran.

“Diriku hanya tinggal yang zahir belaka, tolonglah hamba, Bapa, hamba takut,” lanjut Wulan dalam doa dihadapan jenazah Bapaknya.

Bagi Wulan, bapaknya adalah kawan dalam menemukan kasih Allah Bapa. Bapaknya lah yang pertama kali mengajari perwujudan kasih secara kongkrit.

Wulan selalu ingat kata bapaknya, “Kalau kau tidak ingin diperlakukan begitu oleh orang lain maka kamu jangan melakukan itu pada orang lain.”

Wulan kecil masih bingung dengan kalimat itu, “Maksudnya bagaimana?”

Kemudian bapaknya menjelaskan, “Kau mau tidak kalau ada yang merusak mainanmu?”

“Tentu tidak,” sahut Wulan.

“Maka jangan pernah engkau merusak mainan anak lain.”

“Tapi kemarin itu aku tidak sengaja menjatuhkan hape Vania?”

“Untuk itu ayok kita minta maaf ke Vania,” kata bapaknya lembut.

Minggu sore itu setelah mandi, bapaknya menemani Wulan berjalan ke rumah Vania untuk minta maaf. Peristiwa itu membuat Wulan senantiasa ingat untuk menjaga prinsip kasih itu.

Setelah Wulan besar, bapaknya selalu berpesan, “Yang utama adalah kasih, namun kau juga memiliki akal pengetahuan maka pergunakanlah.”

“Aku juga punya keinginan, cinta dan kebebasan,” kata Wulan.

“Pergunakanlah itu semua secara seimbang dengan kasih sebagai payungnya,” bapaknya selalu menegaskan tentang kasih.

“Iya,” kata Wulan.

“Hati-hatilah dengan kehendak bebasmu, suatu saat dia bisa menghadirkan kasih namun di saat lain dia juga bisa menghadirkan egomu, dendammu dan amarahmu,” pesan bapak itu senantiasa terngiang dalam hati Wulan.

“Meskipun kehendak bebas itu adalah juga karunia dari-Nya,” pungkas Wulan.

Wulan masih muda, baru saja lepas remaja, dia sedang sangat menikmati kebebasan yang diterimanya. Bapak dan ibunya cenderung membiarkannya bertumbuh kembang sebagai remaja yang sehat dan bahagia. Orang tuanya membiarkan Wulan menjelajahi segala rupa bentuk kehendak bebas yang dimilikinya, asalkan jangan sampai itu merusak kasih sebagai karunia terbesar manusia.

Ibu Wulan tak kalah bersedihnya. Dia seperti limasan kehilangan umpaknya. Seperti rumah yang dilolosi pondasinya. Selama ini bapak Wulan telah menjadi penafkah utama keluarga. Sepulang dari bekerja di jiran ibu Wulan memilih tinggal di rumah guna bergantian membesarkan dua anak. Ibu Wulan sering mengambil peran-peran sosial yang bisa dia kerjakan. Ibu Wulan bersama-sama dengan wali murid yang lain pernah rutin menyediakan camilan sehat di kantin sekolah Kanisius tempat dulu Wulan dan adiknya belajar. Sekolah itu memang memiliki kantin sehat yang tidak lagi menjual makanan instan kemasan.

Banu, adik Wulan, nampak lebih banyak diam, dia seolah memendam sesuatu guna menutupi rasa sedihnya.

“Awas, ini belum selesai!” gumam Banu.

Banu menganggap bahwa setelah ini masih harus ada perhitungan. Meskipun dia tidak tahu kepada siapa dia harus memperhitungkan semua ini. Namun amarahnya yang tetap memintanya berhitung. Amarahnya masih penuh intensi dan masih berpraduga bahwa seseorang pasti harus memperhitungkan ini.

“Kalau hilang nyawa ya harus dibayar nyawa,” begitu keyakinannya.
****

Pagi ini seperti pagi yang asing bagi Bowo. Ia bangun agak kesiangan, mentari sudah agak tinggi. Dulu, begitu bangun pagi semua masalah lepas begitu saja. Tapi pagi ini, pertama kalinya dia merasakan ada beban yang enggan terlepas setelah melalui malam hingga datang pagi lagi. Baru sekali ini remaja itu merasakan ada masalah yang begitu keras kepala menghantui. Bathinnya masih terkaget-kaget, rongga dingin di perutnya berkali-kali mengirim perasaan ngilu yang mengerikan. Ia mungkin telah membunuh seseorang.

Rumah sepi. Aktivitas rutin pagi nampak baru saja berlangsung. Motor-motor bapak ibunya sudah tidak ada. Sepatu dan sandal kedua orang tuanya sudah pergi melangkah bersama empunya. Bowo sarapan sendirian, ia betul-betul merasa kesepian pagi ini. Hatinya menjadi semakin gusar. Kali ini bukan gusar oleh amarah, namun hatinya gusar oleh ketakutan yang setia menghantui. Gusar bagai ular melilit, menjerat bahkan mencekik.

“Iki dha nang endi, to? gumamnya.

Setelah sarapan, Bowo mencoba mencuci motor untuk mengusir gusar. Ia ngeri melihat banyak percikan darah di motornya. Setangnya pun masih berbau anyir.

“Goblok!” sekali lagi ia memaki dirinya yang kali ini lebih bernada ratapan daripada makian.

Ia sudah terlalu takut untuk memaki sejantan kemarin malam. Lututnya sudah senantiasa gemetar ketakutan. Perutnya berkali-kali ngilu. Panik sudah setinggi leher.

“Bagaimana kalau aku nanti dipenjara?” tanyanya bagai anak kecil.

“Hukuman apa yang nanti akan aku dapatkan?” ia ngeri dengan cerita-cerita perpeloncoan para napi baru. Ia cuma napi kecil, bagaimana menghadapi para penjahat besar.

“Apakah bapak ibu masih mau mengunjungiku di penjara?” tiba-tiba ia membayangkan penolakan bapak-ibunya. Selama ini pun dia sudah merasa terabaikan di rumah. Mereka selalu sibuk bekerja kala hari terang dan sibuk berseteru kala bulan datang.

Mencuci motor tidak menghilangkan resah. Malah semakin banyak kekuatiran di dalam benaknya.

“Semoga yang semalam tidak mati,” berkali-kali itu dia dengungkan untuk menghibur diri saat satu kekuatiran baru muncul di dalam benaknya.

“Mati tidak mati itu tetap kriminil, goblok!” nyalinya menciut lagi lebih kecil dari sebelumnya.

Saat terpepet begini, akalnya pun enggan membantu. Pergi kemana saja dia sejak semalam.

“Ayo, pikirkanlah!” dia teringat pesan guru matematika saat dia tak berkutik menghadapi soal yang diberikannya.

Tertatih-tatih ia berhitung. Samar-samar ia mencoba mencerna peluang-peluang atas kondisinya sekarang. Kemungkinannya hanya dua, ia akan tertangkap atau ia bisa lolos karena kegagalan penyelidikan polisi. Ia berusaha keras mengingat kejadian semalam.

“Semoga tidak ada yang melihat! Apakah benar tidak ada saksi? Sepertinya tidak ada…” ia bahkan ragu dengan ketersembunyiannya semalam.

Berhitung tidak membantu menenangkan hatinya.

Ia sudah tidak bisa lagi mengharapkan perhatian dari kedua orang tuanya. Meski dia sangat menginginkan itu. Bagaimanapun jua dia masih kanak-kanak yang secara naluriah masih merindukan buaian orang tuanya. Dimana dia bisa mengais kasih sayang? Dia ingin bertemu Wulan. Wulan memang beberapa bulan ini selalu didatanginya di malam minggu. Meskipun Bowo pernah “menembaknya”, Wulan tidak pula menolak atau mengiyakan. Tidak juga mengajak “temenan” atau “kakak-adikan” sebagaimana lazim digunakan oleh “anak ABG” ketika hendak menolak cinta seseorang dengan halus.
****

Setiap pergi ke rumah Wulan, hati Bowo senantiasa bergetar. Getaran pertama adalah saat ia akan bertemu dengan perempuan yang dikaguminya. Padanya, ia rela mengiba mengharapkan balasan cinta kasih. Ia adalah isi dari zahirnya yang sedang beranjak dewasa. Ia menemukan kualitas lengkap yang tidak bisa dia dapatkan dimana pun, kekasih yang baik, teman yang akrab, pendengar yang sabar dan sekaligus ibu yang menaungi. Getaran kedua adalah karena Wulan tidak pernah secara jelas menerima cintanya. Wulan memberi kesempatan pada proses. Proses yang akan menentukan nanti apakah cinta akan tumbuh atau layu. Sementara Bowo sibuk mengais pesona dan keberaniannya untuk segera bisa mengklaim cintanya. Bagi Bowo, sikap Wulan yang seperti itu adalah sinyal bahwa dia masih harus membuktikan cintanya.

Kasih Wulan adalah kasih yang meluas, universal, tanpa pamrih dan nir-diskriminasi. Kasih seperti inilah yang pernah diajarkan bapaknya ketika Wulan menanyakan kepada bapaknya tentang Bowo yang sedang mendekatinya.

“Pak, ada cowok selalu memberi perhatian padaku,” khabar Wulan.

“Bagaimana denganmu?” tanya bapaknya, mencoba memberi ruang pada Wulan.

Wulan tidak berterus-terang dengan isi hatinya, dia malah mendeskripsikan cowok itu, “Dia aku kenal baik, kami sekolah bersama, sikapnya padaku selalu santun, dia pendengar yang baik.”

“Kalau engkau tidak terganggu dengannya biarkanlah proses yang akan menguji cinta kalian,” kata bapak Wulan.

“Aku tidak terganggu.”

“Cobalah engkau membangun kasih terlebih dahulu, jangan buru-buru membiarkan ego posesifmu.”

Wulan paham, dia harus terlebih dahulu belajar membangun kasih yang lebih universal, bukan cinta yang posesif, intensional dan emosional. Lain Wulan, lain pula Bowo. Cinta Bowo kepada Wulan bagaikan musafir kehausan. Cinta Bowo sangat intensional. Ada hasrat yang akan menjadi posesif begitu mendapatkan kesempatan. Namun Wulan yang tenang dan rasional menghalangi Bowo untuk kelewatan mengklaim cintanya. Bowo mati kutu di situ.

Dengan segala ritual yang sama, ritual burung merak jantan yang sedang birahi, Bowo berangkat ke rumah Wulan. Bowo merasa masih ada was-was yang mengikutinya jauh di belakang. Iming-iming akan bertemu Wulan membuat gelembung kebahagiaan di hati Bowo itu membesar. Gelembung ini sempat sangat menciut tadi pagi, ketika Bowo ketakutan. Gelembung kebahagiaan ini mampu sedikit memberi jarak bagi Bowo atas kekuatiran yang mengejarnya. Gelembung inilah yang membuat hatinya sedikit lebih cerah karena seolah terlingkupi sesuatu yang membuatnya kembali merasa aman.

Mendekati rumah Wulan, jalan semakin ramai. Bowo penasaran.

“Ada apa mas?” tanya Bowo sekenanya kepada anak muda yang mengatur lalu-lintas.

Sripah mas, semalam pembunuhan di jalan,” sahut si pengatur lalu-lintas sambil menggigit peluit.

Seketika gelembung kebahagiaan Bowo menciut lagi. Dia tidak berani mampir, hanya melintasi rumah Wulan lalu kembali ke rumahnya lagi beserta sejuta kutuk.

Di rumah sedang ada tamu. Bapaknya sedang marah-marah. Mata ibunya nampak sembab. Kedua tamu itu menatap menyelidik dan segera bangkit meringkus Bowo.

Seketika Bowo ingat pada celurit yang dibuang sekenanya semalam.

“Celuritku,” gumamnya.

Celurit yang dibuang sekenanya itulah yang membawa para tetamu ini segera menemukan  rumahnya. Dia ingat dia beberapa kali memamerkan benda itu di hadapan teman-temannya. Bersama teman-teman geng-nya, Bowo memang sering bertawuran dengan geng sekolah lain. Dalam tawuran yang dilakukannya, Bowo selalu berada dalam deretan para pendekar. Para pendekar inilah yang biasanya duduk di kuda perang. Bowo sebagai penyerang memegang clurit, dia membonceng kawannya yang bertugas menjadi “jongki”. Tugas Bowo adalah menghajar sebanyak mungkin lawan. Sedangkan tugas “jongki” adalah mengendarai motor sebaik mungkin untuk bisa mengambil posisi yang menguntungkan saat menyerang, menghindar dan kabur secara efisien.
****

Bowo menjadi tahanan polsek. Mereka memperlakukan Bowo kecil yang ketakutan seperti penjahat besar yang berbahaya. Mereka memborgolnya dan menginterogasinya di bawah ancaman. Mereka menempatkannya pada penjara bersama dengan tahanan kriminal lain, yang rata-rata sudah dewasa. Di dalam penjara, di antara para tahanan berlaku hierarkhi yang berkasta-kasta. Tahanan anak-anak bernama Bowo menempati kasta terendah, tugasnya adalah membersihkan botol penampungan urine tahanan senior di pagi hari. Di dalam sel tidak ada toilet, sehingga mereka berkemih di dalam botol penampungan.

Hanya semalam, nasib Bowo berubah begitu cepat. Sekarang semua memunggunginya. Sekolahnya pun buru-buru cuci tangan. Bowo sudah dikeluarkan dari sekolah. Yang Bowo tahu dari koran, Ibu kepala sekolah sudah mengembalikan dirinya untuk dididik oleh orang tuanya. Namun orang tuanya pun sangat jarang menengoknya di penjara. Bapaknya hanya sekali marah-marah di rumah, sewaktu Bowo diringkus. Ibunya pernah sekali menengok dengan tanpa melepas kacamata hitam untuk menyembunyikan lebam di matanya.

Bowo serasa hidup sendirian, hanya teman-temannya kadang datang menghibur.

“Kau tidak kangen sama Wulan?” tanya Adi yang biasa menjadi “jongki” Bowo saat sedang tawuran.

Mereka memang berteman akrab. Penyerang dan ”jongki” paling produktif di geng sekolah mereka. Banyak korban yang telah berjatuhan karena sepak terjang mereka saat berlaga di tawuran. Seolah-olah kimia persahabatan mereka terbangun dari tawuran ke tawuran. Sampai-sampai Adi pun mengetahui bahwa Bowo selalu mengiba pada cinta Wulan. Namun kali ini Bowo hanya berani merindu, memohon kasih Wulan pun sudah tidak berani, apalagi menebar pesona ke Wulan seperti dahulu lagi.

“Sudah jangan ngomong itu,” kata Bowo.

Bagi teman-teman geng tawurannya, aksi solo Bowo yang membuatnya dipenjara adalah terhormat. Mereka suka memamerkan bekas luka dan aksi-aksi heroik lainnya saat tawuran. Mereka juga memberlakukan aksi klithih mereka sebagai bagian dari membangun dominasi di geng-nya. Kalau seseorang telah berani melakukan klithih sendirian maka dia akan terhormat. Begitu kode kehormatan yang berlaku di geng mereka.

Klithih adalah kekerasan yang dilakukan secara acak di jalanan. Aksi ini merupakan langkah untuk mendapatkan posisi terhormat di geng tawuran sekolah. Bagi mereka, selain sebagai pelampiasan amarah, penghalau sebal, kithih juga diangap sebagai pembuktian keberanian bagi para pendekar geng tawuran. Korban mereka sangat acak, siapa pun yang berkendara sendiri di malam hari sangat mungkin menjadi korban. Berbeda dengan tawuran yang jelas siapa musuhnya, klithih tanpa sasaran yang jelas, semata-mata pelampiasan belaka. Pelampiasan atas kondisi buruk yang menghimpitnya. Itulah satu-satunya kanal kemarahan yang bisa diketahui oleh remaja sepertinya.
****

Bowo sekarang seperti bekicot. Keras di luar namun lunak di dalam. Di antara kawan-kawan geng tawuran di sekolahnya, kisah Bowo bagai kisah epik yang riuh dari mulut ke mulut di kalangan para pendekar. Namun hatinya sedih, ketika orang-orang yang dikasihinya malah memunggunginya. Mungkin tidak demikian dengan Wulan, namun Bowo sudah terlalu ciut untuk mengiba cinta Wulan.

“Kenapa koq pas bapaknya yang menjadi korbanku?” sesal Bowo.

“Aku kangen setengah mati.”

“Tapi bagaimana aku akan menghadapinya?”

“Salahku padanya sudah tidak termaafkan.”

“Dia hanya akan selalu menjadi bintang di langit, indah namun tidak bisa diraih.”

“Apakah aku lebih baik mati saja?”

Tahanan di polsek sudah kosong, para tahanan lain sudah dipindahkan ke LP. Tinggal Bowo sendirian yang ditahan di sana. Bowo memiliki banyak waktu untuk berpikir.

Seolah tahu isi hati Bowo, Adi menemui Wulan untuk Bowo. Adi mencoba menjadi talang wicara Bowo. Adi memberanikan dirinya untuk bertemu Wulan.

“Dia ingin minta maaf kepadamu Wul,” kata Adi.

Wulan diam saja, ia hanya menarik nafas.

“Kau tahu klithih khan? Sasarannya selalu acak dan kebetulan yang menjadi korban adalah bapakmu” kata Adi tertunduk tidak berani menatap Wulan.

Ucapan Adi tadi mengiritasi Wulan. Selama ini Wulan telah mengunci hatinya pada Bowo.

“Dia sangat menderita bathin, menunggu satu kata maaf darimu,” kata Adi mengiba.

Hati Wulan berkecamuk. Ia masih marah sama Bowo. Ruang di hatinya yang tadinya berisi Bowo sekarang sudah dia kosongkan. Diisi dengan segala kenangan bapaknya.

“Aku belum bisa memaafkan sekarang, Di,” kata Wulan, “ini terlalu berat untukku.”

Adi pulang dengan tangan hampa. Dia pamitan sambil menyembunyikan wajahnya, seolah Bowo, dirinya juga tidak berani bersitatap dengan Wulan.
****

Kawan-kawan Bowo menyanyikan chorus kidung “Ndherek Dewi Mariyah” dengan khidmat. Kidung itu menggambarkan kepasrahan yang mendalam kepada sang Ibu Penolong. Kidung ini sering dinyanyikan saat diri sedang merasa kehilangan, bersedih dan hampa. Kidung ini pula yang dulu berkumandang saat pemakaman bapak Wulan. Ibu Penolong akan selalu menerima kita, bagaimanapun keadaan kita. Sesedih apa pun kita, Ibu Penolong akan selalu meraih kita dan melindungi kita.

“Nadyan manah getera, dipun godha setan.”

“Meskipun diri gentar digoda setan.”

“Nanging batos engetnya, wonten pitulungan.”

“Namun jika hati ingat senantiasa, pasti ada pertolongan.”

“Wit sang Putri Mariyah, mangsa tega anilar.”

“Karena Putri Maria tak akan sampai hati berpaling”

“Sang Dewi, Sang Dewi mangestonana.”

“Sang Dewi, Sang Dewi, kumohon perlindungan-Mu.”

“Sang Dewi, Sang Dewi mangestonana.”

“Sang Dewi, Sang Dewi, kumohon perlindungan-Mu”

Wulan dan kawan-kawan yang tidak menyanyi dalam choir membaur bersama pelayat yang lain. Hatinya murung ikut melantunkan syair “Ndherek Dewi Mariyah”.  Wulan merasa malu kepada Bunda Maria karena dia belum sempat memaafkan Bowo. Meski jauh dihatinya ia juga lega karena bebannya sudah diambil alih. Baginya sudah cukup kematian saja yang menghukum Bowo.  Dia tidak perlu ikut menghukumnya. Biarlah Bowo lebih dahulu memilih jalan untuk menghukum dirinya. Bowo menggunakan kain sarung dan terali penjara untuk mengakhiri hidupnya semalam.

Tadinya Wulan merasa berat untuk memaafkan Bowo. Menurutnya, terlepas dari korbannya adalah bapaknya, membunuh orang lain adalah sebuah kesalahan besar. Wulan sangat terkejut bahwa dalam kemarahannya Bowo dapat melakukan perbuatan sebiadab itu. Namun pendirian Wulan akhirnya berubah. Hal itu dia sampaikan di pemakaman pada Adi setelah Bowo bunuh diri.

“Kenyataannya, Bowo sudah meminta maaf dan dia sekarang sudah pergi untuk selamanya. Sebenarnya aku juga tidak salah bila tidak memberinya maaf karena kami sekeluarga masih sangat marah.”

“Iya aku paham,” kata Adi.

“Namun aku juga sama saja kejam bila sampai saat ini aku tidak memaafkannya,” jelas Wulan di pemakaman.

“Baik, Wul,” kata Adi takjub pada kebijaksanaan Wulan.

“Aku sangat menyesalkan kematian bapakku dan aku tidak bisa lagi menerima Bowo, namun aku tidak mau ikut menjadi jahat karena menyimpan amarah berlama-lama hingga menjadi dendam,” imbuh Wulan lagi.

“Baik Wul, semoga Bowo tahu?”

“Iya,” sahut Wulan.

Hatinya mantap karena dia teringat pesan almarhum bapaknya.

“Berbahagialah orang yang berduka cita karena mereka akan dihibur oleh Allah Bapa di Surga. Kalau engkau sedang berduka berarti Allah Bapa sedang ingin memelukmu,” kata bapaknya, “berbahagialah orang yang lemah lembut karena dia akan memiliki bumi.”

Dunia ini adalah milik orang yang penuh kasih sayang, penuh cinta dan lembut hatinya. Seperti Ibu Penolong yang lembut tetap menerima dan mendoakan umatnya meski tak terhitung dosa yang telah dibuatnya.

Anak-anak menyelesaikan kidungnya. Wulan menyesal, bukan karena kepergian Bowo, namun karena ia belum sempat memaafkannya.

“Menggah saking apesnya, ngantos kelu setan.”

“Dalam hal aku malang hingga tergiur ajakan setan.”

“Boten yen ta ngantosa, klantur babar pisan.”

“Tak akan aku sampai terjerumus hingga ke ujung”

“Ugeripun nyenyuwun, ibu tansah tetulung.”

“Asalkan aku tidak lupa senantiasa memohon, Ibu akan senantiasa menolong.”

Hati Wulan terpaku menjurus pada Ibu Penolong. Dia memohon pertolongan. Mungkin begitulah hidup harus berjalan. Kasih dan amarah tidak bisa saling berdampingan, karena akan selalu saling meniadakan. Sekarang persoalannya dirinya akan berada di jalur kasih atau jalur amarah? Wulan sudah memilih jalur kasih, namun itu sudah terlambat, Bowo sudah keburu menggantung dengan sarung.

“Sang Dewi, Sang Dewi mangestonana.”

“Sang Dewi, Sang Dewi, kumohon perlindungan-Mu”

“Sang Dewi, Sang Dewi mangestonana.”

“Sang Dewi, Sang Dewi, kumohon perlindungan-Mu”

Lantun Wulan dari dalam benaknya.
****

Keterangan:

  • Lagu “Ndherek Dewi Mariyah” adalah salah satu karya arransemen ulang oleh Gregorius Djadug Feriyanto. https://youtu.be/SnxtuJrOVhw
  • Terjemahan lagu “Ndherek Dewi Maria” dilakukan dengan sangat apik oleh Valentina Clara Sri Wijiyati. https://www.facebook.com/valentina.s.wijiyati
  • ogal-agil: bimbang
  • golf: olahraga golf
  • press: penekan
  • limasan: rumah kayu
  • umpak: dudukan batu untuk rumah kayu
  • “Iki dha nang endi, to?”: “Ini semua pergi ke mana?”
  • menembaknya”: menyatakan cinta
  • temenan”: berteman saja
  • kakak-adikan”: menjadi seperti kakak dan adik
  • anak ABG”: anak baru gede
  • Sripah: prosesi kematian
  • Geng: gerombolan anak-anak
  • Jongki: joki
  • Klithih: aksi penyerangan acak
  • Chorus: bagian inti kidung
  • Choir: paduan suara
  • Ide-ide tentang spiritualitas Katholik dirujuk dari diskusi dengan Valentina Clara Sri Wijiyati.

*) Rinto Andriono adalah seorang konsultan UNDP untuk Indonesia, dulu ia adalah seorang aktivis anti korupsi yang militan di GeRAK Indonesia. Pasca terserang stroke, ia kemudian mengambil keputusan untuk belajar menulis sastra di Akademi Menulis-Dunia Sastra Kita.

2 Replies to “Anak Klithih”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *